曼珠沙華

flower of the heavens

INTRO : TARUHAN

Bandung, April 2019.

“Apa-apaan ini?” Gebrakan meja jelas menjadikan ruang yang diisi delapan orang menjadi pusat perhatian yang lain. Burger King Buah Batu jelas dijauhkan dari kata sepi dan kedelapan orang ini sudah membuat suasana semakin sesak.

Sorry.” Pemuda yang sama akhirnya duduk di tempatnya kembali ketika sadar semua mata tertuju kepada dirinya.

Namanya Ganesha, masih berumur 20 tahun dan seorang pengangguran. Keadaannya adalah ia menghadiri acara ulang tahun kawannya, Ardhi, dan pula ia bertemu salah satu musuh bebuyutannya semasa sekolah menengah atas. Kebetulannya adalah mereka berada di lingkar pertemanan yang sama.

“Sudahlah, Nes. Ini 'kan demi ulang tahun A' Ardhi.” Temannya yang lain, Prama, berucap. Seringai terdapat di wajah lelaki yang memiliki paras seperti kucing, lesung pipi merupakan daya tarik dari pemuda itu.

“Lagian, siapa tahu kalian musuhan begitu bakal jadian.” Raka menambahi, semata-mata mengompori keadaan.

Baik Prama dan Raka memang seperti itu.

Ganesha melirik Cahya, si musuh bebuyutan, juga nampak tak senang dengan keberadaannya. Hanya saja, mau bagaimana lagi. Ulang tahun hanya berulang satu tahun sekali dan ketika delapan orang bisa berkumpul dalam satu waktu yang sama adalah hal yang sulit.

Ardhi terkekeh akhirnya, coba cairkan suasana.

“Sudah, sudah, gimana kalau pada makan dulu.” Disuguhkan apa yang sudah dibelinya, Ardhi membiarkan ketujuh kawannya untuk menikmati traktirannya. Ia tidak membutuhkan sebuah kejutan, ketika melihat ketujuh temannya berada dalam satu ruangan dan berdiskusi hal remeh, itu sudah cukup sebagai hadiah.

Akhirnya Ganesha mau tak mau membuang muka, bersamaan dengan Pandu, ia mengambil makanan yang telah disediakan. Mencoba distraksikan diri dengan berbicara kepada Prama juga Pandu perihal walkthrough game yang akhir-akhir ini ramai. Tapi, sudut matanya tak pernah berhenti untuk melirik Cahya yang berbicara pada Arsya dan Ardhi.

Sedikit rumit memang bagaimana keduanya bermusuhan dan harus menjadi teman satu lingkaran, ketika Ganesha sama sekali tidak kepikiran untuk bertemu Cahya kembali. Mungkin, singkatnya adalah Ganesha sudah berteman lama dengan Prama, keduanya adalah anak dari rekan bisnis di usaha yang saling membantu. Sedangkan Pandu, merupakan anak dari supir pribadi keluarga Prama. Bertiga mereka menjadi teman akrab karena mengikuti sekolah yang sama dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama, sedang masa SMA-nya harus berpisah karena Prama dan Pandu mengikuti sekolah swasta.

Awal mulanya seperti itu, hingga Prama dan Pandu memasuki universitas swasta di Kabupaten Bandung. Mengambil jurusan Sistem Informasi yang kata mereka adalah hasil hoki nembak rapor, begitulah Prama dan Pandu terjebak di jurusan bersama Cahya dan Raka. Mereka adalah teman satu jurusan, walau berbeda kelas, entah bagaimana keempatnya bisa bertemu.

Kalau Ardhi dan Arsya ... jangan ditanya. Ardhi ini sepupu dari Prama ( “Terima kasih, Prama. Kamu seperti pemersatu bangsa ya?” Ganesha menyindir halus. ), sedangkan Arsya ini adalah senior yang sangat dekat dengan Ardhi. Terlalu dekat, saking dekatnya, keenam anak lainnya akan menghanguskan diri sendiri dibandingkan terjebak menjadi setan kalau Ardhi dan Arsya bersama ( “Tolong, aku sudah pernah di posisi ini, sangat tidak direkomendasikan!” Prama mengeluh. ).

Yang terakhir si bungsu gemas, Dhanu, yang juga junior di jurusan yang sama. Saking gemasnya, Pandu tidak tahan ingin menghajar laki-laki itu ( “Tunggu sampai Dhanu bukan member VIP dari gym di lantai atas PVJ,” komentar Raka. ). Usut punya usut, ada alasan kenapa Pandu tidak bisa akur dengan Dhanu yang nampak tenang seperti permukaan danau. Keduanya adalah mantan─alasan putusnya masih rahasia, walau Prama dan Ganesha tahu jelas apa. Yah, perselisihan Dhanu dan Pandu tidaklah seintens Ganesha dan Cahya yang ingin baku hantam tiap detik, Dhanu terlihat dewasa ketika menghadapi ucapan Pandu, kadang ia memilih untuk mengangkat bahu dengar sinisan lelaki yang lebih tua.

Berdelapan, entah bagaimana, bisa menjadi teman bermain. Ganesha yang pengangguran, bukan anak jurusan mereka, tidak tahu kenapa ia harus duduk manis bersama yang lain. Sebenarnya ia cukup bersyukur, ia menemukan teman yang mirip dengannya─yang cukup aneh dengan kelakuan ajaib luar binasa.

Tidak singkat ternyata, tapi begitulah. Yah, walau pertemanan ini baru bertahan sekitar setahun ... ia cukup menikmatinya, ini sih jujur-jujur saja. Memang sesekali, Ganesha sudah siap meninju wajah Cahya dan begitu juga sebaliknya. Untuk sampai saat ini, sayangnya, belum ada baku hantam. Padahal sudah dikompori Pandu, Prama, dan Raka ( “Memang mereka trio kompor, gak usah ditanya.” Ardhi menyesap tehnya. ).

Ganesha menghela napas, menyelesaikan makanannya. Sedikit lucu bagaimana ia bisa bertengkar dengan Cahya semasa SMA. Oh ayolah, Ganesha sangat terkenal semasa SMA-nya ... sebagai tukang baku hantam─kalau ini beneran, suer. Bukan karena ia orang kaya raya, jadi semena-mena, sebagaimana film-film menggambarkan orang kaya yang sombong dengan harta kekayaannya. Bukan, Ganesha sama sekali tidak pernah menyombongkan kekayaannya, kecuali terdesak ( “Seperti ketika ia tanpa sadar keluar naik motor gak pake helm dan gak bawa dompet, terus diberhentikan polisi,” ungkap Arsya. ). Ganesha hanya sedikit ... sedikit pembangkang, benar, ia berada di fase anak berandal sayang Mama.

Ganesha semasa SMA terkenal karena ketika masa orientasi ia selalu tidak mengikuti ucapan senior, sehingga jadi bahan omongan seantero sekolah. Sisanya, tidak ada yang menarik, kecuali matanya yang memberikan aura intimidasi─yang sebenarnya mata mengantuk─jadi alasan kenapa ia sering diajak berkelahi, entah sama senior, teman seangkatan, junior ... begitulah kenapa ia juga bisa bertengkar dengan Cahya, karena Ganesha pernah, sekali, mengurusi urusan Cahya yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

Menyebalkan? Jelas, bagi Cahya itu sangat menyebalkan karena melanggar batas privasi. Cuma ... Cahya tidak pernah membicarakan secara detail apa yang dipermasalahkannya dengan Ganesha, begitu juga Ganesha. Ganesha, secara sederhana, tidak mengusik Cahya. Semuanya memang kelar, kalau saja Cahya juga tidak punya tendensi untuk melakukan hal yang menyebalkan, seperti menyindir Ganesha tanpa habis.

Mana keduanya harus melewati sekolah selama 3 tahun, tanpa berpindah kelas. Di kelas MIPA 2-lah, keduanya terjebak dalam hubungan yang rumit, musuh. Ya, hancurlah dunia persilatan.

“Eh, habis ini mau kemana?” Ganesha menggelengkan kepalanya, memberhentikan diri untuk mengulang memori setelah dengar Raka bertanya.

“Karaoke gak?” Arsya memberikan saran, mencelupkan kentang gorengnya ke es krim milik Ardhi─membuat yang berulang tahun mengeluarkan kata-kata yang tak pantas, seperti, “Anjing.”

“Gas-in sih.” Urusan karaoke, paling oke memang ada Dhanu, si dangdut kondang nomor satu. Salah, tapi Dhanu ini jago nyanyi, apalagi lagu-lagu band lawas semasa SD yang membuat nostalgia betapa fucked up-nya anak-anak SD itu tumbuh menjadi sad boy sekarang.

“Oke, berarti satu naik mobil Prama, satu naik mobil Ganesha gitu?” tanya Dhanu. Siapa lagi yang memiliki mobil atas nama sendiri, kecuali si (calon) pemilik perusahaan─gini nih kalau punya teman kaya raya.

Akhirnya mereka setuju untuk singgah ke Happy Puppy di Buah Batu, yang tidak jauh dari Burger King yang sedang mereka duduki. Ganesha mengangkut Dhanu, Ardhi, dan Arsya. Mobil yang satu membawa Cahya, Raka, dan Pandu. Mereka berangkat beriringan, agak memakan waktu walau dekat─orang Bandung, pasti tahu seberapa macetnya Buah Batu di akhir pekan, jangan dicoba.

“Ganesh,” panggil Ardhi, ketika masih di dalam mobil menuju Happy Puppy. Sedikit condongkan badan ke arah supir dari bangku penumpang tepat di belakang si supir, “Lu sama Cahya kenapa sih? Aa penasaran.”

Ah, mulai lagi.

Padahal sudah setahun berteman, kenapa pertanyaan tentang Ganesha dan Cahya selalu tuai penasaran.

“Gak ada apa-apa, itu mah dianya saja yang nyari masalah.” Ganesha menjawab, mencebikkan bibir sesudahnya. Nampak kesal, apalagi Dhanu terkekeh.

“Kenapa gak ada yang nanya soal Dhanu dan Pandu sih?” Yang terpanggil jadi berhentikan tawanya, memberikan cubitan keras pada lengan atas Ganesha, “Iya, ampun, Dhanu!”

“Kalau gua sih, semua udah tahu kalau gua mantan sama Pandu. Ngapain dibahas?”

“Tapi gak ada yang tahu alasan kalian putus 'kan? Gua tahu sih.”

“Hm, diputusin sepihak, gua juga gak tahu salah gua apa.” Dhanu menambahi. Terdengar suara 'wow' dari kursi belakang, jelas antara Ardhi atau Arsya yang nampak menjadi pendengar setia kedua adik mereka bertengkar.

“Makanya ... ” Ganesha tersenyum tipis, “ ... peka dikit jadi orang.”

Ganesha tidak bermaksud buruk, ia tahu persis kenapa ia berkata demikian. Ia berteman dengan Pandu terlalu lama, sehingga sedikit memihak urusan Dhanu dan Pandu, tapi ia sendiri tahu, Dhanu tidak begitu salah ketika berhubungan dengan Pandu. Mereka hanyalah dua orang yang tidak bisa bersatu, di satu sisi, tapi dinamiknya memang menarik.

Oke, skip, soal Dhanu dan Pandu bisa disimpan di cerita lain.

Ganesha memberhentikan mobil di depan Richeese Factory, yang tempatnya bersebrangan dengan Happy Puppy Buah Batu. Ya, sengaja memang, habis karaoke makan lagi─bercanda, sebenarnya ia malas memutar untuk parkir di depan Happy Puppy yang tidak memiliki ruang luas untuk menaruh mobil Fortuner hitamnya.

Akhirnya, bokong kembali menyentuh sofa di dalam ruang karaoke. Setelah setidaknya lima belas menit, kedelapan orang dewasa itu sedikit meramaikan meja resepsionis.

“Gua mau milih lagu!!!” Pandu berteriak ketika memasuki ruang remang-remang, meraih layar kendali dan langsung sibuk mencari lagu yang ia ingin.

“Sekalian dong.” Dhanu mengambil duduk di sebelah Pandu, berdekur semua yang lain lihat Dhanu mengambil inisiatif duduk di sebelah Pandu. Lelaki mungil itu cuma memutar bola matanya, gusar, tapi ia membiarkan Dhanu juga memilih lagu yang ia inginkan.

“Jangan yang sedih-sedih dong.” Cahya berteriak dari tempatnya, jauh dari Ganesha.

“Baru putus ya?” Arsya terbahak, sedikit menggoda junior himpunannya itu. Cahya tidak memberikan jawab, tapi Ganesha sedikit tertarik jika itu menyangkut Cahya dan kekasihnya─maaf, mantan.

“Sama yang kemarin?” tanya Arsya.

Terdengar instrumen lagu Pelangi dari HiVi, sudah pasti ini request-an milik Pandu yang hobinya mengejar pensi-pensi untuk melihat artis hits.

“Yah, putusnya sudah lewat lama sih,” jawab Cahya, mengusap tengkuknya. Ia selalu canggung ketika membicarakan mantan kekasihnya, seorang gadis yang ia kencani semenjak sekolah menengah pertama. Ganesha tahu, karena mereka berada di sekolah yang sama ketika SMA.

Cukup lama juga, Ganesha berpikir, membutuhkan waktu tujuh tahun untuk Cahya sadar. Yah, kekasihnya Cahya memang yang membuat ia bertengkar hebat juga dengan lelaki itu. Tidak banyak yang mengetahui, tapi selengkapnya mungkin diceritakan di lain waktu. Ganesha juga sudah lupa sepenuhnya dengan eksistensi gadis itu, gadis dengan rambut panjang sepinggang, parfum yang tak jelas wanginya apa, serta tawanya yang buat sakit kuping─lagi-lagi diungkit kembali.

Cahya berbicara pada Arsya dan Ardhi, Ganesha tidak begitu mendengar. Kepalanya mendadak kosong, sedangkan empat orang lainnya sibuk berdendang dengan lagu acak. Dari lagu K-pop sampai Pamer Bojo milik Didi Kempot, semua ada.

Ia hanya tersadar ketika Dhanu mengambil alih, satu mik lagi ada di Pandu yang membatu di tempat.

'Cause you know what they say. If you love somebody, gotta set them free...”

Bisa-bisanya Dhanu mengambil lagu ini, apa sengaja buat Pandu ketar-ketir di tempat? Ganesha alihkan pandang ke arah Cahya yang ikut terdiam, seperti menghayati lagu Pamungkas yang berjudul I Love You But I'm Letting Go.

And from now on I will hold my own hand. Until one day you'll hold my lonely hand.” Dhanu menyudahi lagunya, sedangkan Pandu yang memegang satu mik lagi masih terdiam.

“Anjing, anak orang lu apain, Nu?” Pandu akhirnya duduk kembali di tempat, memberikan miknya pada Prama yang mengoceh pada Dhanu, tapi keduanya terkekeh. Walau dalam keadaan remang, nyaris gelap, hanya cahaya televisi yang menampilkan lirik, Ganesha dapat melihat wajah Pandu yang memerah─malu?

Ganesha beri tepukan pada punggung pemuda itu.

Lagu TWICE berjudul Cheer Up akhirnya menggantikan suasana sedikit menjadi terang, ya, melihat Prama dan Ardhi antusias menarikan gerakan girlband kesukaan mereka tanpa malu.

“Eh, gengs.” Prama mengambil atensi di tengah kegiatannya, padahal Ardhi masih dengan riang mengangkat kedua tangan ketika Cheer Up, baby.

“Gua ada challenge nih.” Suara Prama menggema di seluruh ruangan, sepertinya ada hal aneh yang akan dibicarakan lelaki ular─salah, lelaki berlesung pipi yang seperti ular kelakuannya.

“Jangan aneh-aneh deh.” Ardhi memukul belakang kepala Prama, tapi tidak menghentikan perbuatan Prama dan ide jahatnya. Senyum lebar, deretan gigi sudah terlihat─oh, oh, tidak ada jalan keluar lagi.

“Ayolah, kehidupan kita terlalu biasa─” Ganesha ingin menertawai.

Mereka biasa? Gimana mendeskripsikan tujuh manusia abstrak, empat di antaranya terbukti melakukan hubungan homoseksual, dua lagi masih berada pertengkaran batin untuk saling kembali, dan satu orang mengaku tidak tertarik percintaan, terakhir satu hetero─mereka jauh dari biasa.

“Gapapa, gua mau buat taruhan saja.” Prama menaruh satu tangan di pinggang, membusungkan dada.

Suasana jadi tegang, udaranya sedikit mencekat. Raka hanya memijat pelipis lihat kelakuan orang yang disukanya─belum pacar sih kayaknya?─yang lain masih menunggu lanjutan dari pembicaraan Prama, seperti seru, juga menakutkan.

“Taruhan apa?” Arsya yang bersandar pada kursinya merasa tertangan.

Oh, tidak dengan Arsya dan sikap kompetitifnya Skorpio, tidak.

Terpenuhi sudah ego si tuan muda Kusuma, tawanya menggelegar seperti villain pada film aksi heroik, “Pertanyaan yang bagus, Bung Arsya.”

“Gimana kalau kita taruhan ... “ “ ... buat Ganesha sama Cahya pura-pura jadian selama delapan bulan?”

Hening.

“Kita taruhan siapa yang suka duluan.”

Ganesha dan Cahya beri tatap, baru hari ini mereka setuju untuk melawan Prama.

“Kok jadi kita sih?” Bersamaan duo tiang bangkit dari tempat, lagi-lagi dapat sorakan dari yang lain. Hanya saja, entah itu sorakan untuk menyetujui taruhan yang diberikan atau melihat kelakuan Ganesha dan Cahya yang sinkron.

“Lu harusnya minta izin ke kita dulu dong?” Ganesha menambahi akhirnya, menunjukkan jarinya ke arah Cahya dan dirinya. Lagi, Cahya dan Ganesha beradu tatap, tapi mengalihkannya seolah tidak suka presensi satu sama lain.

“Kalian takut saling suka?” Prama menaikkan satu alisnya, licik memang caranya agar mengubah pemikiran Ganesha dan Cahya yang mudah tersulut; komporin.

“Ah─gak asik.” Setan, Pandu juga sama saja. “Gua yakin sih, kalian sebenarnya saling suka─”

KAGAK!” Berteriak keduanya.

Ganesha kembali duduk, “Gua yakin Cahya sebenarnya suka sama gua. Cuma dia malu saja.”

“Ya gak mungkinlah.” Cahya balik juga ke tempatnya, “Gua yakin lu suka sama gua.”

Raka mengangkat tangannya, sehingga semua orang menoleh, “Kayaknya seru bukan? Melihat kalian ... yang ga suka, tapi ada yang suka ternyata?”

“Gak, gak.” Ganesha menggelengkan kepala, menolak dengan taruhan yang ia anggap bodoh. Tidak akan tertipu, lelah dengan segala hal-hal yang mengompori harga dirinya. Ya kali, jadian sama Cahya? Mau mati?

“Gini, gini.” Prama menengahi kembali, “Gimana kalau gini. Kalian pacaran tiga bulan, bercanda saja. Kalau kalian saling suka, atau salah satunya suka ... artinya kalian yang kalah. Kalau kalian emang ga berakhir oke ... kita yang kalah?”

Ganesha mengulum bibir, tangan ada di depan dada. Masih ingin menolak, tapi Cahya bangkit, “Ok, gua bisa buktiin ke kalian kalau gua gak akan suka sama Ganesha.”

Hening lagi.

“Goblok, Cahya, gak gitu─”

Cahya melirik, beri tatapan yang tak dapat Ganesha artikan, “Lu takut kalau lu bakal suka sama gua?”

Ganesha ingin rasanya melemparkan sepatu yang ia gunakan, kalau saja bukan hasil tabungannya atau membayar biaya perbaikan wajah apik milik Cahya.

“Gak lah, gak mungkin gua takut. Cuman─”

“Gak ada cuman.” Lagi-lagi Prama menginterupsi, tangan yang semula ada di pinggang, ia naikkan. Memangnya ini acara debat?

Deal gak?” Prama bertanya soal taruhannya, tangannya diturunkan untuk mengulur pada Cahya.

“Tergantung dari hadiahnya,” jawab Cahya, “gua mau tahu hadiah apa yang Tuan Muda Prama tawarkan untuk gua dan ... Ganesha.”

“Hm.” Prama berpikir sejenak, ternyata ia memang iseng saja, tidak memikirkan soal hadiah apa yang akan diberikannya, “Liburan ke Singapura, biaya ditanggung gua (terbaca:ditanggung perusahaan bokap). Tapi, kalau kita yang kalah─alias kalau enam orang yang lain, kita cuma minta traktir Pizza Hut mungkin?”

“Deal.” Cahya menjabat tangan yang terulur, suara Ganesha mengeluh tak didengarkannya. Kalau sudah seperti ini, tidak ada jalan untuk kembali ke rumah, ke Tuhan sih iya.

Ganesha akhirnya menyerah, menjabat tangan Prama dengan kepala yang menatap lantai, tak terangkat.

“Puji Tuhan.” Raka bertepuk tangan, antusias juga ternyata dalam diamnya melihat keadaan kawan-kawannya yang tersiksa─cuma Ganesha dan Cahya saja sih.

“Kapan mulainya?” Cahya balik ke tempat duduknya untuk kesekian kalinya.

“Hari ini, setelah kita pulang dari sini.”

Ganesha meremas kuat-kuat tangan Prama yang masih dijabatnya, “Bajingan ya lu.”

Prama menyengir lebar, kesakitan, tapi tidak apa-apa. Taruhan itu hanya permainan.

Taruhan itu permainan berbahaya, tidak ada jalan kembali.

Dengan begitu, riuh ricuh kembali menghiasi ruang karaoke. Sedangkan tak nyaman, Ganesha saling lirik pada Cahya. Kalau ini animasi, sudah terpercik kilatan cahaya neon di antara keduanya. Tak ingin mengalah soal permainan yang diberikan.

───────── Bersambung.


Night Call

”Hallo, Seonghwa, maaf mengganggu—“

Hongjoong tidak menyangka ia akan membuat panggilan telepon pada Seonghwa di tengah malam. Dua maniknya pandangin pemandangan di luar kaca jendela. Di bawah sana hanyalah jalan yang masih ramai walau pagi bisa menjemput kapan saja. Kepalanya penuh, mentalnya lelah, ia butuh berlabuh sebentar saja. Tidak meminta lebih dan menghubungi Seonghwa adalah pilihannya.

Hongjoong?” Seonghwa memanggil namanya dengan tanda tanya, seolah terkejut siapa yang menghubungi di puncak malam.

“Apa kau tertidur?” Hongjoong memainkan batang rokok tak berapi dengan ujungnya yang bebas.

Tidak. Jika iya, maka aku tidak akan menjawabmu.” Seonghwa terkekeh di akhir jawabnya. Hongjoong dapat membayangkan lelaki itu tengah tertidur di ranjangnya, memandang langit-langitnya di tengah kegelapan malam. Seonghwa akan memeluk boneka beruang yang diberikan Hongjoong ketika perayaan hari jadi mereka yang kelima.

Kenapa menelpon?” Seonghwa bertanya.

Hongjoong alihkan pandang pada tangannya yang kini mengapit rokok di sela jemarinya, “Aku sedang lelah.”

Seonghwa mengumbang panjang, mencoba mendengar lebih suara Hongjoong. Menantinya untuk menceritakan lebih banyak hal.

“Aku ... aku lelah dengan beban yang diberikan. Aku tidak bisa, Seonghwa. Aku benci terlihat lemah.” Suaranya tak gentar, tapi untuk mengucapnya jelas Hongjoong butuh usaha lebih.

Aku benci terlihat lemah juga ucapan yang berlaku jika ia berhadapan dengan Seonghwa. Ingin rasanya menghambur pada Seonghwa, tidak ingin berucap hanya ingin sebuah rengkuhan dan meluruhkan seluruh air matanya pada dada pemuda yang satu.

Hongjoong... “ panggil Seonghwa.

Hongjoong menunggu.

“Sebenarnya aku tidak tahu harus membalas apa. Kamu ingin aku menjawab apa?” tanya Seonghwa, tahu betul terkadang kata-kata penyemangat bukanlah yang Hongjoong butuhkan. Hongjoong memang sudah lelah dengan kata-kata semua akan berlalu pada waktunya. Lelah dengan waktu yang nampak tak berhilal, tak memilik ujung terkecuali ajal menjemput.

“Distraksi, kau bisa berceritakan tentang harimu, Hwa.”

Hongjoong dapat melihat seringai pada wajah Seonghwa, Hongjoong tahu betul Seonghwa.

“Memang kau tertarik untuk mendengarkan ceritaku yang membosankan, Kim Hongjoong?” Hongjoong tertawa kecil, kenapa selalu Seonghwa merendah soal hidupnya yang luar biasa pada Hongjoong?

Park Seonghwa, 27 tahun, seorang manajer marketing di perusahaan e-commerce terkenal. Bertemu dengan banyak orang, dicintai banyak orang, dikelilingi orang yang mengenalnya. Semua orang tahu siapa dia. Hongjoong bukan apa-apa jika harus disandingkan dengan Seonghwa, lucu juga jika Seonghwa terus memilih Hongjoong berkali-kali.

“Mungkin sesuatu yang membosankan bagimu adalah hal yang menarik untukku,” tukas Hongjoong.

Seonghwa kemudian memulai ceritanya. Bagaimana ia melihat orang-orang berjalan dengan pakaian putih. Terkadang hewan-hewan juga berkeliaran dengan bebas. Seonghwa berkata, ia hari ini memiliki teman kucing hitam yang mengingatnya dengan Hongjoong, dengan rumahnya. Hongjoong yang mendengarkannya, beranjak dari tempatnya dan menaruh rokok di atas meja. Dirinya kemudian berpindah duduk ke tepi ranjang. Diusap-usapnya permukaan kasur yang berkerut.

“Lalu? Kau namai siapa kucing itu?” Agar tak membosankan, sesekali Hongjoong memberi respon atas cerita yang diberikan.

“Kunamai Hongjoong dan kucing ini tidak menyukainya. Katanya ia punya nama! San!” Seonghwa jawab dengan serius, mengundang gelak tawa dari Hongjoong seolah ia membayangkan Seonghwa berbicara dengan binatang kecil itu.

Seperti dulu.

Hongjoong memandangi nakasnya, rungu masih mendengar celoteh pemuda yang lebih tua. Di atas sana terdapat bingkai yang sengaja ia tutupi gambarnya, kemudian tangannya yang bebas mengulur untuk membenarkan posisi bingkai. Kini, terlihat foto Seongwa di ladang bakung lelabah merah. Jepang nampak asri kala itu, Hongjoong tak pernah bosan untuk abadi Seonghwa dalam bentuk gambar.

Tak terasa, waktu sudah tunjukkan pukul tiga pagi. Matahari terbit kapan saja, tapi Hongjoong tak membiarkan panggilannya terputus.

Hongjoong, sudah mau pagi.

Pagi selalu menjengkelkan. Hongjoong harus melakukan hal repetitif, bergelut dengan kewajiban, dan dihajar realita menyakitkan. Hongjoong membenci pagi, tapi tidak dengan mentari terbit. Hongjoong menyukai siluet yang hitam yang memudar biru seperti gelap berganti pilu, seolah menyadarkan ia harus kembali memangku beban yang ada.

“Sedikit lagi, Hwa. Sebentar lagi, aku mohon.”

Bisa terdengar Seonghwa menghela napas, dilema antara ingin tetap menemani atau menyuruh Hongjoong untuk tertidur barang sebentar saja. Hongjoong lagi-lagi tahu, Seonghwa akan mengomelinya, membuatnya harus mendengarkan ocehan tentang kehidupannya yang tidak sehat.

Baiklah, lima menit lagi akan ditutup.

Hongjoong mengangguk, ia tahu Seonghwa tak akan melihat senyum tipis yang terpasang di romannya yang telah lelah.

“Hwa, kali ini biarkan aku yang berbicara.”

“Aku ... ” Hongjoong menjeda, “ ... sangat berterima kasih kamu selalu mengangkat teleponku ketika semua itu hal yang tak mungkin.”

Seonghwa terdiam, maka Hongjoong melanjutkan ucapannya.

“Terima kasih sudah menemaniku beberapa hari terakhir. Rasanya berat, Seonghwa. Berat sekali di sini, aku tahu aku bisa. Aku ... aku lelah dengan asumsi orang terhadapku.”

“Aku ingin istirahat, tapi pikiranku berkata tidak dan aku merasa, semua itu lebih baik ketika aku mendengarkan suaramu.”

Hening.

Tak disadari suara di luar sana sangatlah berisik jika tak ada suaranya, maupun suara Seonghwa juga. Benar-benar sungguh bisingnya ibukota dan Hongjoong baru menyadarinya, karena selama ini selalu merasa sepi.

Hongjoong.

“Seonghwa, aku berterima kasih ... “ “ ... aku mencintaimu ... “ “ ... dan aku minta—”

Klik.

“—maaf.”

Hongjoong belum sempat menyelesaikan perkataannya, panggilannya telah terputus. Ia memandang layar ponselnya, sebelum menaruhnya di atas nakas bersebelahan dengan bingkai foto.

I hope this time will last forever. I hope it’ll last forever, I hope you’ll be happy.


“Hongjoong menelpon siapa selarut ini?” Mingi bertanya pada Yunho, keduanya adalah teman satu kamar apartemen Hongjoong. Yunho yang tengah terduduk di ruang tengah, mematikan televisinya ketika melihat kepulangan Mingi.

“Seonghwa.” Suaranya pelan ketika menjawab, seolah nama itu ingin tidak terdengar siapa pun. Mingi jadi bertanya-tanya, kenapa Yunho harus mengecilkan suaranya.

“Siapa?” Mingi mengambil duduk di sebelah Yunho, melonggarkan dasi yang mengerat pada lehernya.

“Mantan kekasih Hongjoong ... “ “ ... yang meninggal setahun lalu.”


Underwater Love

Hongjoong pernah bahagia. Menjejaki hamparan pasir putih di pinggir pantai dengan kaki telanjang, deburan ombak ramai di telinga dengan iringan tawa dari dua orang; dirinya dan ia yang kini tak menemaninya. Ia pernah menatap dirinya dan bulan sabit pada wajahnya yang menggelap sebab punggung menghadap sang surya yang terbenam.

Hongjoong selalu bahagia.

Bersamanya ia selalu bahagia.

Bahkan, Hongjoong sendiri tidak tahu hidupnya seperti apa tanpa dia. Bagai mimpi memang, Hongjoong tak pernah sedikit pun memikirkan kehidupan sebelum bertemu dengannya, yang di kepala adalah bagaimana jika esok hari dirinya tak ada bersamanya?

Memang mimpi.

Orang-orang kerap bertanya padanya, “Siapa orang yang selalu kau ceritakan?”

Hongjoong akan menjawab dengan antusias, beri semangat di setiap kata-katanya, tapi tak sepatah kata pun yang akhirnya keluar dari bibir ranumnya. Hanya sebuah senyum dan tatapan penuh arti pada yang bertanya, berharap penuh agar orang lain mengerti ... terkadang ada sesuatu yang ingin banyak diceritakan, sayang, jikalau orang mendengar ceritanya akan menjawab, “Kau bercanda?”

Ia tidak mungkin bercanda.

Persepektif orang lain yang berujar demikian, seolah mengejek bahwa presensinya hanyalah mimpi, imajinasi, sebuah halusinasi sebab Hongjoong pernah kehilangan cinta pertamanya. Jika dirinya bersumpah untuk tidak pernah membual, setidaknya untuk semua tentangnya, Hongjoong akan mengiyakan tanpa ragu.

“Lalu, siapa namanya?”

Hongjoong mungkin tidak tahu namanya, tapi untuk cerita, ia mengetahui secara rinci. Bagaimana tangan hangat yang basah karena air menggiringnya menuju daratan, untuk tetap berdiri tegap dengan kedua kaki yang membantu Hongjoong memikul beban, mengingatkan hidup yang bergantung pada kedua paru sangatlah berharga.

Hongjoong memang pernah ada di batas ambang hidup dan mati, darat dan lautan. Hongjoong pernah berteriak di ujung tebing yang mengasihinya sebuah pemandangan lautan luas tanpa ujung, Hongjoong pernah berteriak, setengah memohon untuk ombak agar menelannya, melenyapkannya sebagaimana orang yang ia cintai menghapus dirinya dalam kehidupan mereka, memunculkan krisis nilai eksistensinya.

Doanya pernah terkabul.

Ucapan benar nyatanya adalah doa.

Dengan kedua tangan mencapai permukaan yang nihil keberadaannya, tengah lautanlah yang merenggut nyawanya. Pikirnya begitu, kalau tidak ada tangannya yang meraih dirinya, membawanya hingga menepi dan menyadarkan semuanya bukan mimpi.

Rasa tak tahu hanya buat perasaan lain muncul, penasaran memuncak. Tanpa ragu, sempatkan diri untuk berlari di tepi pantai untuk memastikan apa dan siapa yang menolongnya. Hongjoong jelas tahu surai biru bak warna langit cerah dimiliki penolongnya, tapi untuk sisanya ... ia tak memiliki petunjuk.

Hongjoong berteriak sekali lagi, tapi bukan pada tepi tebing. Separuh badannya basah karena air, ombak tak segan untuk menghempasnya. Kaki sigap untuk tetap berdiri, tak lagi-lagi untuk rasakan terombang-ambing terbawa arus.

“Pada siapa pun kamu!” “Terima kasih!”

Terima kasih sudah menyelamatkannya dari kebodohan.

Begitulah yang ia lakukan di hari itu, hari esoknya, hingga hari-hari yang tak dapat ia hitung lagi. Hongjoong terbiasa habiskan seperempat harinya untuk menatap mentari terbenam hingga sosok bulan yang malu-malu datang menggantung di langit malam , memaksakan diri untuk selesaikan pekerjaan di hari yang sama. Dilabelinya Hongjoong yang bukan lagi suka menunda-nunda dari rekan kerjanya.

Bercerita dirinya pada lautan yang tak memiliki telinga untuk mendengarkan seluruh ceritanya, yang semula dari sebuah teriakan ucapan terima kasih, Hongjoong jadi menceritakan bagaimana harinya. Harap-harap, orang yang menolongnya mungkin akan mendengarkannya. Walau tahu, itu mustahil.

Lagi-lagi asumsinya terpatahkan.

Hongjoong tidak pernah tahu jika legenda itu nyata hingga satu keajaibannya hadir di depan mata. Seolah menunggunya, seolah menjemputnya dengan senyum lebar yang hangat. Tangan itu terulur, siap menerima Hongjoong dalam rangkulan bersahabat.

Orang itu tak berkata apa-apa, tapi Hongjoong tahu, ingat betul tangan itu adalah tangan yang sama dengan penolongnya.

“Siapa namamu?” Acapkali Hongjoong beri tanya, tak buahkan hasil.

“Apa pun, panggil aku dengan apa pun yang kau inginkan.”

Hongjoong tak beri nama dan kerap memanggil kamu. Nama adalah doa dan Hongjoong tidak punya kekuatan untuk memberkahi orang lain, tak punya bakat, terlalu sial hidupnya. Tapi, bersamanya, ia selalu tersadar ada hal yang patut disyukuri.

Terlalu dini dikatakan cinta, Hongjoong terlalu takut untuk terjatuh kesekian kalinya. Terlalu sering hidupnya digunakan seperti boneka, dibuang semaunya setelah orang bosan terhadapnya.

“Aku datang bukan untuk mencintaimu.” “Aku datang agar kamu mencintai dirimu sendiri.”

Klise.

Hongjoong akan menyanggah dengan tawa, tanpa sadar hatinya singgah di tiap kata-kata manis yang dibuaikan oleh lelaki yang lain.

Hongjoong bertanya di suatu hari, “Bagaimana jika aku mencintaimu?”

“Memang kamu sudah mencintai dirimu sendiri?”

Belum.

Hongjoong ingin menjawab.

Sejak kapan manusia mencintai diri sendiri tanpa rasa takut mengejar?

“Jangan takut.” “Mana rasa percaya dirimu ketika terjun dari tebing tanpa mengedipkan mata?”

Hingga sekarang, Hongjoong tak enggan menjawab tanya itu. Membiarkannya berlalu dengan semilir angin yang mengacak rambut keduanya.

“Kamu ini sebenarnya apa?” Hongjoong alihkan tanya pada hal lain.

“Apa kamu percaya pada legenda?” “Jika aku katakan diriku adalah salah satunya?”

Siren adalah legenda.

Itulah dirinya.

Untuk apa seorang siren menolong anak manusia, sedangkan tugasnya adalah menenggelamkan mereka yang melewati batas kekuasaannya. Hongjoong melewati batas itu, tapi kenapa dia ada di sana mengulurkan tangan?

“Legenda tidak sejahat itu ... “ “ ... maka dari itu mereka dikatakan legenda.”

Bibir tipisnya tuai senyum, seolah ada sesuatu yang ia ingin siratkan dari senyum itu.

Orang tidak akan percaya jika tidak melihat, merasakannya langsung. Memang manusia.

“Lalu, untuk apa kau menolongku?”

Jika Hongjoong memiliki hak untuk tidak menjawab tanyanya, maka hal itu berbalik kepadanya. Dia tidak menjawab, hanya menebar senyum dan alihkan pandang pada rumahnya yang menggelap sebab malam tiba.

“Sederhana.” “Tidak ingin kehilangan tawamu.”

Sederhana katanya.

Tidak tahu bahwa alasan sederhana kadang tepat kena di hati, tepat menaikkan ego yang sempat hilang, menaikkan harga diri yang selalu dirundung tanya, “Apakah diri ini berhak mendapatkannya?”

Hongjoong benamkan wajah yang tersipu pada dia lututnya, tangan setia memeluk kaki untuk usir rasa dingin.

“Memang kau tahu siapa aku?”

Lagi, senyum penuh arti adalah jawabnya, tapi tak ada sepatah kata apa pun untuk berikan petunjuk. Hongjoong hilang arah dan jawab, tak dapat pecahkan kode yang diberikan lelaki di sebelahnya yang menatap langit yang kian menggelap, tak lagi seperti warna rambutnya yang mencolok, biru langit.

“Suatu hari kamu akan tahu jawabanku, tanpa perlu bertanya lagi.”

Tapi, kapan?

Hongjoong tak bertanya lagi.

Hanya terhanyut pada suara deburan ombak yang menghantam batu karang tanpa ragu.

Begitulah, kehidupan mereka berdua. Lelaki yang lebih tinggi selalu di pinggir pantai lebih dulu, duduk tanpa alas dan membiarkan pakaian yang dikenakannya kotor karena pasir yang menepel dengan lekat. Hongjoong terbiasa untuk disambut oleh dia, pula dengan bau laut menyengat dan memabukkan. Anehnya, Hongjoong tidak merasa mual, melainkan merasakan aman. Jika dibandingkan dinginnya air laut, bau yang diberikan lebih mengingatkannya pada rumah.

Sejak kapan Hongjoong dapat jauh-jauh dari laut? Masa kecilnya pun besar di pinggir pantai sebagaimana kedua orang tuanya adalah nelayan setempat. Memang memuakkan dan suntuk untuk tetap bertahan di kampung halamannya, tetap saja ia mencari kota besar pinggir pantai untuk menstabilkan hidup.

Hongjoong acap bertanya hal-hal yang membuatnya bingung dengan dirinya. Seperti bagaimana anak adam yang satu ini dapatkan pakaian manusia, bagaimana ia memahami bahasa manusia, dan hal-hal yang terkadang tak dapat jawaban yang memenuhi ekspektasinya.

“Semua itu magis.”

Benar, apalagi keberadaannya juga magis. Magis bagi hidupnya.

Mereka membicarakan banyak hal, di hari lain mereka bisa diselimuti keheningan yang nyaman bagi keduanya. Hongjoong pernah mengajaknya untuk ikut ke tempat ia menetap, tapi ditolak jelas. Siren tak bisa jauh-jauh dari laut, katanya. Maka, Hongjoong tak meminta lebih lanjut.

Setiap tidurnya, Hongjoong selalu memikirkan apa yang harus ia lakukan ketika bertemu kembali. Ternyata lebih melelahkan untuk memutar otak agar ia dapat membahagiakan sosok yang lain.

“Kau tidak perlu susah-susah melakukan hal ini.

“Aku melakukannya karena ... ” aku menyukaimu. “ ... aku bahagia bersamamu.”

“Apakah dengan membahagiakanku, kamu mencintai dirimu sendiri?”

Hongjoong mengangguk pelan dengan kedua ujung bibirnya terangkat lebar, “Aku sedang berusaha!”

Semangat dijawabnya. Meskipun sempat lupa bagian ia menunggu Hongjoong untuk mencintai dirinya sendiri. Hongjoong sadar kebahagiaannya juga menjadi prioritasnya untuk beberapa waktu terakhir, kebahagiaannya pulalah yang membuatnya sadar kalau hidupnya tidak sia-sia di alam semesta ini.

Kalau kata orang lebih baik pikirkan kebahagiaan kita sendiri, tanpa disadari kebahagiaan kita kadang bergantung pada kebahagiaan orang lain. Begitulah Hongjoong, bisa-bisanya juga ia tanpa takut membiarkan kata-kata itu ia serap tanpa memaknai lebih lanjut.

Ia percaya apabila bahagianya bisa bertahan lama.

Sayangnya tidak semudah itu. Semesta tidak bermurah hati segampang itu.

Hongjoong bahkan belum mencintai diri sendiri sepenuhnya, perpisahan sudah menyambut. Tak dapat dipungkiri, sedih merundungnya. Air mata tak dapat dibendung.

“Besok aku akan pergi.”

Hongjoong tak beri tanya kemana bocah lanang itu akan pergi.

“Tidak jauh.” Seperti dapat membaca air mukanya, ia berujar.

Diberikan sebuah cincin dengan satu batu berwarna biru yang mengingatkannya pada surai pemberinya. Dibantu dirinya pula dipasangkan di jari manis Hongjoong, bergetar tangan itu untuk menerimanya. Tangisannya mengguncang seluruh badannya, tak terima Tuhan memisahkannya dengan orang yang sudah ia coba sayangi dan pertahankan.

Mempertahankan orang saja tak becus.

“Ini bukan salahmu, Joong.” “Ini bukan perpisahan.” “Aku belum ucapkan selamat tinggal bukan?”

Hongjoong mengadah pandang hingga maniknya bertemu manik yang lain, menyorotinya hangat berikan kepastian jika apa yang dilaluinya bukanlah sebuah perpisahan.

“Aku hanya pergi.” “Memang tak berjangka, hanya saja semua itu sementara.”

Seperti pertemuan kita yang sementara, huh?

Hongjoong tak kuasa melakukan apa pun selain memberikan anggukan kepala, mempercayai ucapan dia tanpa ragu. Apakah sifat yang mudah taruh rasa percaya inilah yang membuatnya mudah dipermainkan?

“Berjanji padaku, Joong.” Diacungkan jari kelingking kanan olehnya.

Tak paham, Hongjoong pandangi dengan penuh tanda tanya.

“Ketika kita bertemu kembali, kamu sudah mencintai dirimu sendiri.”

Kembali ragu, tapi Hongjoong menautkan kelingkingnya pula.

“Aku berjanji.”

Dan esok harinya, tak ada lagi yang membuatnya menunggu di pinggir segara yang tak pernah berhenti untuk membasahi bentangan pasir putih.

. . .

Hongjoong tentu menepati janji. Ia adalah orang memegang penuh semua janji, berpegang teguh jika suatu hari memang akan ditagih oleh yang bersangkutan. Memang sepenuhnya mencintai diri sendiri tidak akan sepenuhnya, setidaknya tak ada lagi sosoknya yang harus dirundung rasa sedih.

Tak ada lagi kata, “Kalau kata orang lebih baik pikirkan kebahagiaan kita sendiri, tanpa disadari kebahagiaan kita kadang bergantung pada kebahagiaan orang lain.”

Sedikit, ia mengubah bagaimana cara pandangnya, “Kalau kita sudah bahagia dengan diri kita sendiri, maka berbagilah bahagiamu dengan orang lain.”

Yang terpenting kebahagiaan diri sendiri terlebih dulu.

Dalam posisinya yang sekarang, sudah lima tahun berlalu. Dirinya belum juga tumbuh satu senti pun, tapi kini jabatan manajer ada di tangan. Bagaimana ia menemukan orang baru untuk dipekerjakan tiap harinya, juga orang yang hadir menemani hari-harinya.

Hongjoong masih memikirkan bagaimana kehidupannya sekarang.

“Pak, sudah dengar anak magang di divisi sebelah?” Jongho, salah satu bawahannya membuka pertanyaan, sekadar basa-basi yang senang dilakukan keduanya.

“Di tempat Yeosang?” Jongho mengangguk, “Siapa namanya? Sepertinya akhir-akhir ini aku menetap di bilikku saja.”

“Jeong Yunho. Orang bilang tampan sekali dan itu benar,” jawab Jongho sembari berikan sebuah kedipan mata pada atasannya, isyaratkan sesuatu. Hongjoong memutar bola matanya, ia tahu kemana percakapan ini akan bermuara.

“Lebih baik kita membuat kopi, sebelum ucapanmu tambah ngawur.” Beranjak keduanya, beriringan menuju pantri. Hendak keduanya berbelok untuk masuk ke dalam pantri, tempat itu sudah dipenuhi dengan banyak rekan wanita yang tak dikenalnya. Beramai-ramai mengerubungi seseorang bagai semut yang berlomba-lomba mengejar gula.

“Permisi, saya harus kembali kerja.” Sebuah suara menarik atensi Hongjoong, suara itu tak asing. Dari pandangannya, ia tak dapat melihat siapa yang berucap karena wanita-wanita yang menghalangi jalannya. Orang itu berambut kecoklatan, menyebarkan wangi khas laut yang terpapar sinar mentari─Hongjoong menarik napasnya.

“Oh! Jeong Yunho!” sapa Jongho.

Yang terpanggil menengok dan napas Hongjoong terhenti.

Dia ada di depannya dengan setelan pakaian rapi, surai yang menggelap coklat, dan senyum yang tak pernah berubah. Setelah lima tahun, wajahnya lelaki itu masih sama.

“Oh ... ” Lelaki itu kini berdiri di antara dua Hongjoong.

“Yunho.” Hongjoong memanggil. Masih tak dapat bernapas dengan baik.

Pemuda yang memiliki nama Yunho itu tersenyum lebar, lahirkan tanya pada Jongho yang menemani Hongjoong, “Halo, Hongjoong.”

Hongjoong tanpa ragu memberikan pelukan pada Yunho, erat tak ingin lepas. Jongho mendengus, mengutuk sesuatu. Meninggalkan keduanya dan mengusir kumpulan rekan kerja yang lain. Tersisa Yunho dan Hongjoong di pantri dengan Hongjoong yang berjinjit agar kepala dapat berlabuh pada ceruk leher lelaki yang kini melingkarkan tangan pada pinggangnya.

“Apakah sekarang aku boleh mencintamu?”

Dan Yunho membisikkan sesuatu untuk berikan jawaban.

. . .


Writer's note:

Jadi sebenarnya ini hanya dari perspektif HJ, disengajakan banyak sesuatu yang hilang agar kalian bisa mengimajinasikannya sendiri (walau sebenarnya si saya juga sedang tidak ada otak untuk merangkai kata apalagi alur cerita, jadi kalau memang gak nyambung dan tidak jelas, itu terverifikasi.)

Good Morning

Bangun pagi tidak pernah indah bagi ia masih memiliki tanggungan hidup untuk dipikirkan. Begitu juga dengan Choi Jongho yang harus menyambut diri dengan sekolah. Ia masih harus pergi ke neraka (“Benar, sekolah ada neraka.”), mengikuti pelajaran yang tidak mungkin masuk ke otaknya selama delapan jam lamanya, pula dibanjiri tugas yang mungkin tak akan disentuhnya hingga deadline menjemput.

Choi Jongho, pekerjaan siswa menengah atas, umur delapan belas tahun.

Ia hanyalah siswa tingkat akhir di sekolahnya, yang harusnya sudah siap mengurusi apa yang akan dilakukannya sekelarnya sekolah. Menjadi mahasiswa untuk ambil gelar, lalu bekerja? Melelahkan, kenapa hidup manusia begitu monoton?

Jongho kerap bertanya, hidupnya terlalu monoton apabila tidak ada orang di sebelahnya, yang telah menghilang dengan tinggalkan bekas kusut di atas kasurnya.

Jongho menghela napas, satu hari lagi ia harus pikirkan realitas dulu. Beranjak untuk membersihkan diri untuk sekolah, jam dinding sudah tunjukkan pukul enam pagi, masih ada dua jam hingga ia masuk kelas. Berbalut seragam putih yang ia kenakan, ia pergi keluar dari kamarnya untuk menyambut wangi roti bakar yang menyeruak.

“Selamat pagi!” Sebuah sapa buat diri tersenyum.

“Pagi, Sayang.” Jongho menyambut, beri sebuah pelukan pada pinggang lelaki yang sibuk mempersiapkan sarapan dari belakang.

Sejauh ini, presensi lelaki dalam dekapan adalah yang membuatnya sanggup untuk terus menyapa mentari di pagi hari. Kim Hongjoong, pemuda berumur dua puluh tahun adalah tunangannya atas perjodohan yang dilakukan keluarganya.

Terima kasih, Tuhan, setidaknya ia mendapatkan lelaki yang terbaik dari yang terbaik.

Jongho melepaskan pegangannya, tidak ingin mengganggu kegiatan yang menghambat Hongjoong dari urusan rumah tangga. Tiga bulan terakhir memang mereka dipaksakan untuk tinggal bersama, beruntung tidak ada kata keberatan di antara keduanya dan keadaan rumah selalu terlihat seperti ini.

Jongho yang sibuk dengan sekolahnya, pergi dan pulangnya selalu disambut Hongjoong yang mengurusi rumah tangga di sela-sela kegiatan kuliah dengan jadwalnya tidak menentu. Dirinya tidak tidak pernah memimpikan ini dalam daftar keinginan, tapi yang telah terjadi dan biarlah terjadi.

Tidak menyesal, malah bersyukur.

Hongjoong memberikan piring di depan Jongho yang tengah bertopang dagu di atas meja, netra tak pernah lepas dari sosoknya.

“Makan dulu, jangan bengong.” Hongjoong perlu mencubit gemas pipi milik tunangannya.

Jongho memajukan bibir bawahnya, beri kode ia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil─bercanda, ia menyukainya ketika Hongjoong beri perhatian lebih.

“Terima kasih.” Menyuapi diri dengan roti.

Hongjoong anggukan dengan semangat─hingga Jongho harus bertanya, yang anak kecil dirinya atau pemuda yang duduk di seberangnya?

Berapa juta watt senyumanmu, wahai oknum Kim Hongjoong?

Tak peduli, Hongjoong adalah miliknya untuk saat ini. Senyum itu miliknya dan akan terus menjadi miliknya.

“Habis ini kita berangkat, aku antar ya?” ajak Hongjoong, memperhatikan Jongho yang selalu menyukai apa pun yang dibuatnya.

“Tentu, masa menolak?”

Begitulah mengapa Jongho berada di parkiran sekolahnya dengan Hongjoong di kursi pengemudi. Keduanya melepaskan sabuk pengamannya.

“Dompetnya sudah? Ponselmu sudah?” Hongjoong bertanya pada Jongho yang baru saja beranjak dari tempat, pintu mobil sudah terbuka seperempat.

Manik tatap roman yang lain, sebelum terperanjat kaget bersamaan dengan tangan yang terangkat di depan mulutnya, “Astaga aku melupakan sesuatu!”

Hongjoong lantas panik, mengikuti alur permainan Jongho, “Lupa apa? Lupa apa?”

Tangan sudah ada di kunci yang masih tersangkut di tempatnya, siap untuk menyalakan mesin kembali.

Jongho ulurkan tangan pada belakang kepala Hongjoong, menariknya untuk menepis jarak antara kursi pengemudi dan penumpang sebelahnya, “Bercanda.”

Diberikan kecup singkat pada pipi Hongjoong dengan bonus pemandangan pipi yang merona yang dipersembahkan oleh Hongjoong yang nampak bingung dengan situasi.

“Jadi ... ?”

“Yang ketinggalan itu daily cheek kiss!” Lepaskan kekehan yang membuat jantung Hongjoong tak berhenti berdegup kencang, belum lepas rasa paniknya, sekarang panik akan hal lain.

“Astaga. Nakal, ih.” Hongjoong menggoyangkan kasar tubuh Jongho, sang tunangan tak berhentikan tawanya yang nampak puas. Hongjoong membalas berikan kecupan singkat pada bibir Jongho, barulah pemuda itu diam.

“Balas dendam, ha!”

Jongho jadi membatu di tempat, karena ... itu ciuman pertamanya.

“Hongjoong. That's my first kiss─

Good,” ucap Hongjoong, menjulurkan lidahnya, “and I'll be your last kiss too!”

Jongho jadi gemas, lihat durja yang bersemi di tengah musim gugur.

“Terima kasih.” Ingin rasanya meraih Hongjoong, sekali lagi beri kecupan pada bibir gemasnya. Kalau saja bel sekolah tidak berbunyi nyaring hingga kagetkan ia yang baru saja mendekatkan diri pada Hongjoong.

“Brengsek, telat.” Jongho keluar dari mobil segera, kali ini sungguh panik. Senang melihat Jongho kesusahaan di tempat merapikan pakaiannya, sosok murid teladan sekali.

“Sampai bertemu lagi.” Hongjoong juga ikut keluar dari mobil, semilir angin dingin menerpa wajahnya yang masih tatapi sosok Jongho.

“Ya, sampai jumpa lagi, Pak Guru.” Jongho berlari, kejar kelasnya yang berada di lantai tiga─pagi-pagi sudah diberi cobaan untuk berlari agar tidak telat.

Hongjoong melambaikan tangan pada punggung yang menjauh, berlari kencang mengejar keterlambatan. Berbisik dirinya pada angin, “Benar, sampai jumpa di kelas.”

Kim Hongjoong, pekerjaan mahasiswa jurusan Pendidikan, pekerjaan lain menjadi guru magang pelajaran Fisika, umur dua puluh tahun.

Things I Could Never Say to You

Namanya Hongjoong, usianya dua puluh tiga tahun ketika ia kehilangan orang yang dicintainya.

Namun, orang itu bukan miliknya.

Kata bukan, pernah menginjak kata belum.

Hongjoong pernah ada di posisi belum memillikinya.

Hongjoong terlalu mendedikasi hidupnya kepada deretan hitam dan putih bermelodi, hingga lupa bahwa ia juga memiliki perasaan yang perlu diutarakan.

“Itu bisa nanti, Yun. Aku harus jadi pianis terkenal dulu.”

Ia masih ingat mengabaikan ribuan janji kepada orang itu. Hongjoong ingin menyebut namanya, tapi apa ia memiliki hak untuk memanggilnya? Setelah banyaknya rencana yang telah disusun matang-matang, bersama, hangus begitu saja atas keegoisannya?

Hongjoong tidak tahu.

Tidak tahu berapa maaf, berapa sujud agar ia bisa memaafkan dirinya sendiri. Sungguh bodoh, jika Hongjoong yang dikatakan sebagai pianis jenius di masanya, semua itu bohong. Hongjoong mengakui dirinya sebagai penakut, pembohong, dan ... egois, benar, itu dirinya.


Usianya tujuh tahun ketika mengenal orang itu.

Park Seonghwa.

Benar, namanya Park Seonghwa, seseorang yang ia kenal dari sekolahnya hingga mereka beranjak dewasa. Berdua, mereka terkenal sebagai DJ Radio sekolah ketika waktu rehat tiba. Walau identik dengan si kembar siam, yang menempel siang dan malam, semua yang terlihat di permukaan tidak sama dengan apa yang dialami keduanya.

Hingga di usia dua puluh tahun, ketika Hongjoong sibuk mengejar cita-citanya sebagai pianis. Di satu sisi, Seonghwa hanya ingin menjadi tenaga pengajar. Walau berbeda minat, kedua masih bersama, kedua masih berpegangan satu sama lain. Tapi Hongjoong, memiliki kesibukannya sendiri hingga lupa bahwa punggungnya membutuhkan topangan dari pemuda yang lain, selalu, Hongjoong selalu membutuhkan Seonghwa.

Usia dua puluh satu tahun, Hongjoong sepenuhnya lupa bahwa ia memiliki Seonghwa di sisinya sebagai teman. Disibukkan dengan kepergiannya untuk mengumbar kemampuannya memainkan piano, mencari teman baru, relasi baru, semua terasa baru. Hongjoong merasa seperti orang lain, menjadi sesuatu yang berbeda, bukan lagi Hongjoong yang harus bergantung pada Seonghwa.

Lalu, kemana Hongjoong ketika Seonghwa membutuhkannya?

Hongjoong tidak ada di sana, ketika di usia yang sama, Seonghwa didiagnosa kanker hati.

“Hongjoong, aku ingin sesekali kita main, aku rindu,” ucap Seonghwa melalui panggilan telepon.

“Maaf, Hwa, mungkin lain kali. Aku masih sibuk mengurusi kepergianku ke Jepang.”

Ia menolak, menolak ajakan Seonghwa yang jelas-jelas merindukannya. Apakah ia merindukan Seonghwa? Rasa itu tak pernah muncul, sebelumnya. Yang ada di kepalanya adalah tepuk tangan bangga yang menyuapi keegoisannya.

Hingga Hongjoong harus melepas pegangannya pada Seonghwa ketika semuanya terlambat.

“Hongjoong.” Sebuah panggilan datang ketika ia merayakan lagi kemenangannya.

Suara itu bukan Seonghwa, walau pada layar jelas tertera nama sang sahabat.

“Seonghwa sudah tidak ada. Operasinya gagal.”

Hongjoong menjatuhkan ponselnya.

Hongjoong bahkan tidak tahu keadaan Seonghwa, yang dilakukannya hanya menatapi dan meratapi peti hitam yang tertutup di depan matanya ketika usianya dua puluh tiga tahun.

Gelap, padamlah sudah hidupnya.

“Seonghwa, apa kamu tidak takut gelap di sana ... bahkan, di bawah sinar matahari pun, aku takut kalau tanpamu.”

Hongjoong kehilangan rasi bintang arah pulangnya.

I know, I have to let go you. You are not the one for me. That hurts to know.


Usia menginjak tiga puluh tahun, ketika ia pindah ke rumah di sudut kota untuk memulai hidup baru. Setelah keluar dari rumah keluarga dan cukup stabil atas ekonominya sendiri, Hongjoong akhirnya dapat memiliki ruangnya sendiri.

Hongjoong pernah bermimpi. Jikalau hidupnya akan indah dengan membeli rumah besar dan tinggal bersama Seonghwa. Menghabiskan sisa hidupnya sebagai sepasang sahabat yang ingin membangun panti asuhan atau tempat kursus piano. Semua indah dulu, berharap cepat benar terjadi ketika mereka tumbuh besar nanti dan kini hanya indah dalam mimpi, tak terkabul sebab terkubur bersama jasad sang sahabat.


Hongjoong selalu terpana pada bagaimana Seonghwa menatapnya. Selalu jatuh bagaimana manik yang miliki gemerlap bak obsidian, cemerlang seperti cahaya mentari, dan bersorot sangat hidup. Bagaimana Hongjoong tak melabuhkan hatinya pada Seonghwa.

Tapi, ia selalu mengulur perasaannya.

Hingga ia benar-benar lupa, perasaan itu ada.

Ada, sementara pelabuhannya telah tiada.

Last night I cried while looking at the stars. They remind me so much of your eyes.

Hongjoong memainkan Cantoluna pada pianonya, seharusnya ia mempersembahkannya pada penonton, pada penggemarnya yang menanti dentingan apik yang dibawakannya. Lalu, kenapa air mata membasahi wajahnya ketika ia memainkannya di dalam rumahnya sendiri, apalagi setelah Seonghwa menghantui mimpinya. Kenapa? Kenapa ia tidak merelakan kepergian Seonghwa? Setelah sepuluh tahun, bayangkan sepuluh tahun, Hongjoong tidak pernah menemui titik ikhlas untuk sadar bahwasannya Seonghwa tak ada.

I have to let go but I still find myself looking for you in the crowd.

Sambutan yang diberikannya, hanya merekahkan senyum palsu. Di antara lautan manusia, ia tidak bisa temukan Seonghwa. Untuk apa ia masih mencarinya?

Hongjoong baru menyadari, alasan Seonghwa selalu menolak ajakannya untuk menghadiri recital ... karena pemuda itu tak bisa tinggalkan rumah sakit.

Kenapa Hongjoong tidak menyadari lebih cepat?

Jarak tertipis manusia adalah perihal kepintaran dan kebodohan itu sendiri.

Foolish of me to long for something that was never gonna be mine from the start in the first place.

Hongjoong mencintai Seonghwa.

Terlambat, ia terlambat.

“Aku mencintaimu Park Seonghwa.” Yang bisa ia lakukan hanyalah mengaku pada batu nisan di tengah pemakaman. Hongjoong bawakan bunga mawar, yang tak pernah sempat ia berikan semasa hidupnya pada siapa pun, bahkan pada Seonghwa sekali pun.

“Doakan aku,” ucapnya, “aku membuat satu lagu untukmu yang akan kubawakan ke recital nanti di Paris.”

Hongjoong mengambil duduk di depan batu dengan nama Seonghwa di sana, seolah si pemiliknya duduk di depannya dan mendengarkan keluh kesalnya.

“Kau ingat, kita selalu menanti Paris.”

Tergelak.

“Lucu, kau bercanda akan melamarku di sana dan aku tak pernah percaya pada hal itu.”

Mengambil napas, sebelum menghepaskannya perlahan.

“Tapi, kali ini ... giliranku yang menyatakan cintaku padamu. Walau kau tiada, aku tahu kamu masih ada. Kau masih bisa kucintai, kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mencintai siapa pun selain kamu.”

But you don't have to worry. Because I'm too scared to fallin' love anyway. You don't have to run away. Because I'm too scared to fallin' love anyway.

Dolphin

TAGS ─ male x male relationship, tooth-rotting fluff because i'm noob, self-indulgent abo verse because i am noob, listen i am noob, attempt to make this kinda humor, sanghong or whatever you name it, sang centric, i don't know how to make an ending, send help.


Yeosang adalah seorang alpha, semua orang tahu itu dan semua menginginkannya. Mendramatisir cerita ini, Yeosang memang dilahirkan dengan banyak kelebihan. Kekayaan? Tentu, ia adalah anak tunggal keluarga Kang yang bergerak di bidang teknologi industri, sedangkan Ibunya pula memiliki agensi model─tempat ia bekerja sekarang. Tampang? Jangan ditanyakan, 10 Out of 10 seperti lagu 2PM.

Yang mungkin ada satu kekurangan yang mungkin ya atau mungkin tidak disadari orang lain.

Mate.

Belahan jiwa, bahasa lucunya─atau bahasa terlalu bakunya?

Yeosang terlalu sibuk bekerja sebagai model, hingga lupa bahwa ia juga perlu merasa dicintai dan mencintai. Seonghwa, salah satu seniornya di agensi model, adalah orang yang selalu mengingatkannya betapa miris hidupnya tanpa pasangan.

Semua salah Seonghwa.

Semua salah Seonghwa, Yeosang selalu menyalahkan Seonghwa yang bisa-bisanya ia berpacaran di depannya, hampir, hampir setiap hari. Melakukan kegiatan layaknya sepasang kekasih tanpa beban hidup bersama Mingi, bersama Song Mingi, junior dalam agensi model mereka yang baru saja datang sekitar setengah tahun lalu.

Yeosang memijat pelipisnya, lelah. Lagi-lagi, pergoki Seonghwa dan Mingi berbagi minum mereka di depannya (“Iya, yang satu gelas ada dua sedotan. Anak-anak, ayo sayangi bumi, jangan gunakan sedotan.”).

“Kau iri bukan?” goda Seonghwa, wangi mentol menyeruak, menusuk hidungnya. Kuasa tutup hidung segera, berharap bau itu cepat menghilang. Yeosang selalu lupa (“Iya, selalu.”), kalau seniornya yang satu ini juga seorang alpha─jelas, baunya hanya mengancam jiwa-jiwa dan mengusik dominansi.

“Mana ada iri?” Tangan dilipat di atas meja, kesal.

Bisa-bisanya, Seonghwa yang menoreh luka, pula yang menabur garam, perasan lemon, dan segala yang memparah luka itu.

“Ngomong-ngomong ... ” Mingi menengahi di pertengkaran dua alpha di depannya, “ ... apa kalian tahu besok akan ada make up artist baru?”

Yeosang mengerjapkan mata, sejak kapan agensi mereka menerima make up artist baru? Biasanya sang Ibunda selalu meminta sarannya untuk menerima orang baru yang dipekerjakan, kenapa kali ini tidak?

“Belum, aku tidak tahu soal itu.” Yeosang mengaduk-aduk kopi susunya dengan sedotan, mencoba berikan perhatian lebih pada topik yang dibawakan Mingi.

“Kau kemana saja, Kang Yeosang? Sibuk mencari pacar pasti yang tak akan pernah bertemu!” Rundungan Seonghwa adalah karma, sebenarnya. Yeosang selalu menjahili Seonghwa di masa-masa terpuruknya pasca putus dengan ... Yeosang jadi tidak ingat namanya siapa dan sekarang, Seonghwa meledeknya sebagai balasan─abaikan, mereka berdua akan selalu menjadi dua model yang memiliki love hate relationship dengan tagar #nohomo #justbro.

“Dia make up artist yang dirujuk dari make up artist lain. Biasanya ia perias bebas, tapi sepertinya ia membutuhkan pekerjaan tetap untuk bertahan hidup.” Mingi melanjutkan ucapannya sambil melerai dua senior di hadapannya dengan menjauhkan jarak keduanya─terbiasa melerai, tapi ia menikmati pertengkaran mereka diam-diam.

“Lalu, kapan aku bisa menjahilinya?” tanya Yeosang dengan seringai lebar. Ini sebuah informasi sedikit jahat, Yeosang selalu menjahili pegawai baru agensi untuk kesenangan pribadi. Kepribadiannya sering menjadi bahan teguran dari pemilik agensi, tentu ibu dari Kang Yeosang sendiri.

“Bodoh, dia masih muda, tak akan tertipu dengan semua perangkapmu,” komentar Seonghwa dan dibalas Yeosang dengan memicingkan matanya.

“Besok ia akan ikut pemotretan di pantai.” Mingi menambahkan.

Ah, berarti orang itu akan ikut pemotretan musim panas bersamanya. Yeosang tidak menyangkan akan bertemu si perias baru dengan cepat. Di kepalanya sudah penuh dengan berbagai cara untuk membuat perias itu dongkol. Begitulah, begitulah kepala Gemini dengan segala hal kekanak-kanakan mereka (“Lagi-lagi disangkut pautkan dengan zodiak.”).

“Jangan berbuat aneh,” ancam Seonghwa, memukul belakang kepala Yeosang.

“Tenang saja.” Melambaikan tangan, tapi senyum jahil tak lepas dari sang durja, “Jadi siapa namanya?”

Mingi membuka mulutnya, “Namanya ... “

. . .

” ... Kim Hongjoong.” Lelaki berambut biru itu memperkenalkan dirinya, Yeosang melirik dengan mata elangnya 'tuk memperhatikan sosok asing yang mampir. Tingginya tak beda jauh dengannya, hanya saja rambutnya yang mencolok membuatnya terasa berbeda. Bulu matanya panjang, ok, bagus, lalu hidung mancung, bagus, bagus, bibirnya ...

“Kang Yeosang!” teriak Seonghwa, mengagetkan dirinya.

“Ah, ya, Kang Yeosang.” Tak disadari Hongjoong mengulurkan tangannya sedari tadi, tapi ia terlalu larut dalam pikirannya. Dirinya pun menjabat tangan itu dengan senyum bisnis yang biasa ia gunakan menghiasi wajahnya. Dalam lima detik, Hongjoong sudah kembali mengambil tangannya, meninggalkan rasa hangat yang membekas di telapak tangan milik si tunggal Kang.

Beta.

Satu dipikirannya, Kim Hongjoong adalah seorang beta─tidak ada wangi khas yang tercium darinya, sudah dipastikan beta. Lagi, jika ia memang terkenal dengan sosok pekerja keras, tentu identik dengan kepribadian beta. Semua hal-hal stereotip beta sangat cocok untuk mendeskripsikan lelaki kecil itu (“Yah, sebenarnya dia tidak kecil-kecil banget.”). Kecuali, rambut biru yang nyentrik─entahlah, Yeosang berpikir itu yang membuat si beta kecil ini berbeda dari beta-beta sebelumnya.

“Yeosang, lagi-lagi kau melamun.” Si empu nama menengok ke arah sumber suara, Seonghwa memiliki senyum jahil di wajahnya seolah bisa menembus pemikiran Yeosang yang penuh dengan Kim Hongjoong.

Yeosang tengah menunggu gilirannya untuk dirias dan bagian dirinya memang mendapatkan Hongjoong sebagai perias, tapi untuk sebelumnya lelaki itu terlebih dahulu melayani Mingi di ruang lain.

“Aku sedang berpikir ingin makan apa nanti,” jawabnya, tak ingin mengutarakan isi kepalanya yang sedikit kusut (“Sekarang aku akan menyalahkan Kim Hongjoong soal itu.”).

“Kang Yeosang-ssi.” Yeosang menengok ke arah belakangnya, orang lain yang memanggilnya kali ini adalah si pencuri isi kepalanya, Hongjoong.

Senyum lebar dan tangan terayun, menghanyutkan dirinya. Dengan langkah semangat, Yeosang bangkit dari posisi duduknya dan berlalu pergi mengikuti ke mana si surai biru membawanya. Dipersilakannya ia duduk di salah satu bangku rias, di depannya disajikan banyak palet berwarna-warni.

Yeosang sudah terbiasa melihat berbagai alat rias, menjadi model di usia muda memang mengenalkannya pada banyak hal. Hongjoong memulai aksinya dari membersihkan muka sang model, tangannya hangat dibandingkan dinginnya pendingin ruangan dan dalam jarak mereka sekarang, Yeosang bisa memperhatikan kedua manik obsidian Hongjoong dan kelopak mata yang indah dihiasi dengan warna merah muda sedikit jingga pula eyeliner yang berkilau, glitter.

“Matamu indah.”

Bodoh.

Yeosang baru saja memuji Hongjoong, sehingga membuat gerakan Hongjoong terhenti dari meratakan foundation di wajahnya. Mulutnya terbuka seolah mencerna apa yang dikatakan Yeosang dan Yeosang sendiri sedang dilanda krisis, entah krisis kasih sayang apa krisis rasa malu, tidak ada beda.

“Terima kasih, matamu juga cantik.” Pujian yang berbalik bisa membuat Yeosang tersipu malu, tampilkan semburat merah di tulang pipinya. Dirasa, panasnya musim panas di luar kalah dengan panasnya atmosfer di dalam ruang rias.

Mau kubur diri saja. Tuhan, kabulkan aku menjadi biji wijen saja di kehidupan selanjutnya.

Kemudian, keduanya kembali hening. Tidak bisa dikatakan udaranya canggung, tapi Yeosang bisa merasakan sesuatu yang lain.

Urgensi mencium Kim Hongjoong. Kapan membutuhukannya? Sekarang.

Tapi, ia menahan diri. Hanya berterima kasih pada Hongjoong dengan memberikan anggukan kecil dan senyum tipis, sebelum beralih ke ruang ganti.


Walau ia lahir di musim panas, ia sangat membenci panasnya terik mentari tepat di atas kepalanya. Beruntung sesi pemotretan sudah selesai dan kini gilirannya untuk beristirahat di pinggir pantai. Kacamata hitam memang bertengger di hidung, halau cahaya mentari, tapi tidak dengan cahaya pada netra Kim Hongjoong yang menyipit ketika air laut mengenai wajahnya. Lelaki itu nampak bahagia, bermain dengan pegawai agensi lainnya.

Terpujilah siapa pun yang memberikan pekerjaan komersil di pantai, ia jadi bisa melihat figur Hongjoong yang berlari-lari komikal. Terlihat lucu, baginya.

“Aku tahu, kau menyukai pada pandangan pertama.” Satu siku diarahkan pada tulang rusuknya, dilihat Mingi mengambil duduk di sebelahnya.

Yeosang sedikit menurunkan kacamatanya, untuk memperlihat kedua matanya menatap dongkol pada lelaki yang lain.

“Ayolah, masa Kang Yeosang, dua puluh satu tahun, seorang model terkenal sana-sini, single? Single seperti keju,” komentar Mingi. Yeosang melemparkan segenggam pasir pantai pada Mingi, seolah-olah ingin mengusir presensi lelaki itu kembali ke neraka (“Pantas.”).

Yeosang tidak tahu rasa apa yang menjalar, apakah sekadar rasa penasaran 'kah? Atau menganggumi? Apa lebih-lebih ingin memiliki? Yeosang tidak ingin mengambil langkah terburu-buru, ia hanya ingin memastikan. Toh, perjalanan masih panjang bukan? Lagi pula alpha dalam dirinya tidak memberikan tanda apa pun.

Menghela napas adalah jalan ninjanya.

“Baiklah, tidak usah terburu-buru.” Puncak kepalanya ditepuki pelan oleh Mingi, senyum simpati diberikan pula. Memang sedikit mengasihani si pemuda yang tak pernah mengenal cinta sebelumnya.

Yeosang mengangguk lemah, memeluk kedua lututnya sedikit membenamkan wajahnya. Karena diingatkan oleh Mingi, sekarang ia jadi bingung sendiri atas perasaannya. Memang cuma Mingi seorang yang suka membuatnya tenggelam dalam pemikiran yang seharusnya tidak usah ia pikirkan.

(“Sekarang semua salah Song Mingi.”)

. . .

Hongjoong menghampiri pantai, setelah puas bermain air. Tawa tak kunjung sirna dari bibirnya, Yeosang bersumpah ia rela untuk dengarkan tawa Kim Hongjoong seharian. Tanpa disadari, Yeosang bertumpu pada kedua kaki dan hampiri Hongjoong, menjatuhkan handuk di atas rambut biru pemuda itu.

“Jangan sampai sakit.” Tak bermaksud mengucapkannya dengan datar, tapi hanya itu yang sanggup keluar.

Siulan datang dari yang lain, tapi dihiraukannya karena pandangannya hanya tertuju pada Hongjoong yang sibuk mengeringkan kepalanya. Seperti ia juga lupa mereka sedang berada di ruang terbuka dengan banyak orang mengelilingi keduanya.

“Tidak janji,” balasnya, mencebikkan bibir.

Tuhan, ini ujian atas karma yang mana?

“Hm.” Yeosang mengangkat bahu, “Jangan buat aku khawatir.”

Hongjoong mengedipkan berulang kali matanya, menatap bingung pada sang model, “Baiklah.”

Ditarik kedua ujung bibirnya untuk sebuah senyum, “Bagus. Good boy.” Yeosang mengacak rambut biru Hongjoong yang sudah sedikit kering karena handuk yang diberinya, secara refleks.

“Kalau mau pacaran jangan di sini!” Bisa didengar Seonghwa berteriak, tapi kembali Yeosang tak mengindahkannya.

Yeosang benar-benar tidak waras di level ini.


Makan malam diakhiri dengan sedikit pesta, tapi Yeosang tidak begitu menyukai keramaian setelah bekerja. Satu kaleng soda di tangannya dan bersiap undur diri ambil angin di luar. Niatnya memang sendiri, tapi jika ditemani Hongjoong bukan sesuatu yang bisa ditolaknya.

“Mencari angin?” Yeosang bertanya pada figur Hongjoong yang mengapit rokok di belah bibirnya.

Lalu, ia memindahkan rokok itu di sela jemari, “Ya, ingin menemani?”

Yeosang mengiyakan dan mulai berjalan menyusuri area villa, tempat mereka semua menginap. Hongjoong nampak berbeda tanpa riasan, tapi ia tetap terlihat ... menarik bagi Yeosang. Tak terbiasa dengan asap rokok pun juga dihiraukan, padahal jika dalam keadaan biasa, Yeosang bisa terbatuk-batuk. Tapi, entahlah untuk yang satu ini.

“Baru kali ini aku melihat model sebaik kau.” Dalam keheningan, Hongjoong-lah yang memulai pembicaraan.

“Maksudmu?” balas ia bertanya, menendangi kerikil yang menghalangi jalannya.

“Ya, sepertinya agensi model tempatku bekerja ... kau tahu, sedikit bermasalah dengan sikap mereka.”

Keduanya berhenti di pinggir kolam renang, Hongjoong mengambil duduk di sana tanpa takut pakaiannya basah. Yeosang hanya mengikuti buaian lelaki itu, kakinya dicelupkan ke dalam air, berikan sensasi dingin di tengah panasnya malam musim panas.

“Oh, berikan teh terbaikmu.” Kekehan lolos dari Hongjoong, membebaskan asap rokok yang sedikit halangi Yeosang dari memperhatikan rupa Hongjoong.

Yeosang memanjangkan tangannya untuk menyisir rambut Hongjoong yang mengenai telinga dan Hongjoong nampak menyukai, sebelum siap untuk menyebarkan apa yang ia tahu, “Terlalu banyak jika kusebutkan dan menjadi korban ... sudah tidak bisa menjadikanku tetap bertahan di sana.”

“Hm.” Yeosang mendengarkan baik-baik, nada sedih yang diberikan sedikit mengganggu empatinya, “Aku turut berduka cita soal itu.”

“Sudahlah.” Hongjoong lambaikan tangannya, “Sudah lalu, tidak perlu diungkit. Beruntung Ibumu merekrutku.”

“Beruntung agensiku memilikimu.”

Hongjoong bungkam, matanya berkaca-kaca buat Yeosang panik seketika. Tangannya kini menangkup wajah Hongjoong, ujung jarinya ia gunakan untuk mengusap-usap tulang pipinya, coba tenangkan.

“Maaf, maaf, sepertinya aku tidak pernah dipuji orang lain, jadi sedikit─”

Yeosang gelengkan kepalanya. “You deserve it, Joong. You deserve the whole world.

Yeosang memastikan itu, Yeosang memastikan bahwa Hongjoong pantas mendapatkan dunianya, atau setidaknya dirinya─ha.

Panik luntur, terbitlah senyum.

“Terima kasih, Yeosang.”

Yeosang mengembalikan kedua tangan ke sisinya, tak enak berlama-lama untuk lakukan kontak dengan orang yang baru saja ia kenal dalam sehari saja. Sedikit terkejut jikalau gender sekundernya meraung-raung untuk tetap berikan kontak, seperti sudah merindu pada ia masih ada di depannya.

“Anu─Hongjoong,” panggilnya, Hongjoong menengok kembali hisap rokoknya, “will you go out with me?”

Yeosang tidak tahu apa yang merasukinya ketika lempar tanya seperti itu pada Hongjoong, tapi ia ... ingin mencoba. Sedikit rakus jika perasaan memiliki muncul, tapi ia ingin memulai sesuatu dari hal remeh terlebih dahulu.

Walau ia tak yakin Hongjoong akan menjawab ...

Yes, in a heartbeat.

... ya.

“Hah?” Yeosang terperanjat di tempat, “Kamu bohong?! Bercanda ya?! Pasti ini ulah─”

Hongjoong mengayunkan tangan pada permukaan air, mencipratkan air kolam pada wajah lawan bicaranya. Kini yang ditakutkan Yeosang berdiam di bibir kolam terjadi, bajunya kuyup seketika, ia mengusap-usap wajahnya yang basah.

“Aku menerima ajakanmu, Kang Yeosang.” Lagi Hongjoong coba basahi Yeosang, ia nampak menikmati tampang berantakan dari sang model.

Berbunga hatinya tak terbendung, seperti ada gendang yang bantu detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, mulutnya terbuka untuk bereaksi, tapi Hongjoong sudah dulu beri aksi. Ia mendorong leher belakang milik Yeosang, memangkas jarak, dan membawanya dalam satu pagutan singkat.

Ok, Yeosang, kamu bisa tenggelam sekarang. Kolam sudah siap di depan mata.

Yeosang membatu di tempat, tapi ia tetap membalas ciuman yang diberikan. Rasa kecut dari rokok, dipadukan dengan rasa pelembab bibir rasa stroberi─sangat Hongjoong sekali. Hongjoong melepaskan dirinya dari Yeosang untuk mengambil napas, tapi gaya gravitasi di antara keduanya memberat dan kembali mereka bercumbu ditemani semilir angin malam pantai. Samar-samar, wangi basah hujan musim gugur merasuk hidungnya, ah─tanpa tahu wangi ini berasal, ia tahu wangi ini adalah wangi Hongjoong, terasa seperti rumah. Mengingatkan rasa tenang ketika deras hujan mengguyur bumi, mukjizat.

Yeosang tahu, ia memilih Hongjoong.

Ia sudah menetapkan hati pada Hongjoong.

Ya, sebelum keduanya terjatuh ke kolam renang karena ulah yang orang lain. Yeosang menggapai-gapai permukaan air, membutuhkan waktu beberapa detik ia dapat berdiri pada kedua kakinya. Pakaiannya basah, gelegar tawa mendengung pada rungu, ugh, tahu benar suara tawa ini. Gusar dan kasar, Yeosang mengusap wajahnya untuk menghilangkan air yang ganggu penglihatannya.

“SONG MINGI! PARK SEONGHWA!” Yeosang berteriak keras, memanggil kedua temannya berdiri di pinggir kolam sedang melakukan transaksi pertukaran uang di depan matanya, di depan matanya.

Hongjoong hanya ikut tertawa. Pengalaman yang lucu, mungkin.

“Ha! Aku menang, Seonghwa bertaruh kau tidak punya nyali untuk mengajak Hongjoong keluar.” Mingi berkecak pinggang setelah menerima uang yang diberikan sang kekasih, ia bangga memenangi pertaruhan yang dibuatnya.

Yeosang dan Hongjoong saling menatap, tidak tahu bereaksi apa menjadi bahan taruhan.

Dan dari tatap, mereka tahu apa yang mereka lakukan selanjutnya dengan anggukan kecil dilakukan keduanya.

Menarik Seonghwa dan Mingi masuk ke dalam kolam.

. . .

Yeosang baru kali ini harus berterima kasih pada Seonghwa dan Mingi yang membuatnya merasa kesepian selama ini (“Karena ini semua salah mereka.”), tapi itulah perasaan yang membuat berani untuk ia menghampiri Kim Hongjoong. Terlalu bahagia dan terlarut dalam pesona, padahal niat pertamanya agar membuat pemuda yang lain kesal dengan pekerjaannya.

Persetan dengan tipikal alpha harus dengan omega atau stereotipe masyarakat.

Persetan dengan hidup.

Persetan Seonghwa dan Mingi (“Yang ini sudah pasti.”).

Persetan.

Yang pasti kekosongan hatinya kini sudah terisi dengan eksistensi Kim Hongjoong. Sudah penuh, sudah terokupasi dengan Kim Hongjoong seorang.

Dan Yeosang kini tidak memiliki keinginan lain karena semua yang ia butuhkan sudah dipaketkan dalam rupa Kim Hongjoong.

(“Tetap sih aku membutuhkan dominansi terhadap dunia.”)


hwasaurus's notes : weird ending, salahkan jiwa aquariusku and their weird jokes.

Like A Movie

“Papa.”

Seseorang mengguncangkan bahunya San yang tengah tertidur, tapi tak bisa terelakkan. Dalam posisi tidur, San membuka matanya dan gunakan siku untuk membangunnya terbangun.

“Kenapa, Byul?” San bertanya, melihat sosok anaknya di depan.

Anak lelaki berumur empat belas tahun itu hanya berkacak pinggang, gelengkan kepala lihat kelakuan orang tuanya yang pukul delapan pagi saja masih bergelung dengan selimut.

“Bangun.” Sang anak menarik selimut putih yang digunakan San untuk menutupi sebagian badannya dari dinginnya udara, “Kau janji hari ini membawaku untuk ke cafe yang baru buka minggu lalu bukan?”

San menguap lebar, adakah janji yang ia lupakan lagi?

Byul gelengkan kepalanya lagi-lagi. Mungkin, ia harus sedikit memaklumi sang ayah karena pekerjaan yang berat. Ya, bekerja sebagai budak korporat jua orang tua tunggal adalah pekerjaan berat. Semenjak sang Ibunda meninggalkannya dan juga Papa dalam keadaan tidak baik, mau tak mau pria berumur tiga puluh tahun itu harus mengurusi semuanya; rumah, pekerjaan, dan dirinya. Terkadang lupa, bahwa dirinya juga perlu istirahat.

“Cuci muka, Pa. Aku tidak membuat sarapan, karena kau berjanji untuk membawaku hari ini.”

Byul meninggalkan kamar San.


Dibandingkan berjalan bersama anak, San acapkali disangka kakak dari si kecil─tinggi mereka berbeda jauh sekarang. Menganggumi bahwa Choi Byul, anak yang ia besarkan sendirian, hampir menyusul tingginya sekarang.

Keduanya memasuki cafe yang dimaksudkan─konsepnya sederhana, tipikal bangunan industrial. Dengan beberapa tanaman hijau yang asri sebagai penghias dan penyejuk suasana. San menemukan cafe ini dalam perjalanannya dari rumah ke kantor, hanya sekadar melewati, belum sempat singgah. Maka dari itu, gunakan akhir pekannya untuk ajak sang anak sedikit beristirahat dari penatnya dunia.

Yang lebih tua merangkul buah hatinya, mengajaknya untuk memesan sebelum mengambil duduk. Dilihat, tak ada yang berjaga di balik kasir. Demikian, San dan Byul berdiskusi perihal apa yang ingin mereka makan dari daftar yang menggantung di langit-langit.

“Maaf menunggu lama.”

San terdiam ketika dengar suara yang masuk ke dalam rungu, pegangan pada bahu Byul mengencang─kukunya bisa saja menembus jaket yang digunakan. Menurunkan pandang hingga melihat siapa penjaga kasir yang sedikit mengguncang jiwanya.

“Kenapa sih, Pa?” Lantas Byul bertanya, sakit dirasa pundaknya. Lalu, menatap aneh di antara San dan si penjaga kasir.

San belum berkata, hanya baru membuka mulut karena tak sanggup berkata.

“Ah, selamat datang, San. Lama tak berjumpa.”

Park Seonghwa.

Seonghwa.

Orang yang dicintainya selama ini, akhirnya menampakkan dirinya. Setelah pernikahan San dan sang istri, ia tidak pernah melihat lelaki Park itu lagi. Sekonyong-konyong, Tuhan pertemukan mereka kembali.

Lima belas tahun lamanya.

San tidak tahu harus membalas apa senyuman yang diberikan Seonghwa kepadanya.


San lari meninggalkan cafe, begitu pula tinggalkan anaknya yang tengah bingung dengan sikap sang ayah. Seonghwa sebagai kasir hanya dapat memandangi punggung si wira yang pergi, lagi-lagi Seonghwa membiarkan San lari tanpa berusaha mengejarnya.

Kenapa ia berhenti di tempat? Kenapa ia tidak mengejarnya?

Seonghwa menggelengkan kepala, hapus pemikiran yang berlebihan. Fokuskan diri pada pelanggan yang ada di hadapannya, “Mau pesan apa?”

Byul menatap laki-laki itu lekat, nampak familiar, tapi tak yakin dengan siapa ia berbicara.

Fettucine carbonara, satu.” Seonghwa akhirnya berfokus pada mesin di depannya, untuk mencatat pesanan pelanggan.

Byul kembali menyebutkan apa yang telah didiskusikan dengan San yang telah kabur, “Cheese pizza, satu. Strawberries smoothie, satu dan terakhir americano, satu.”

“Ah─” Seonghwa melirik kepada Byul yang menaruh kedua siku di meja kasir, “─Apakah San masih menyukai strawberries smoothie hingga sekarang?”

“Tidak, itu untukku.” Byul terkesima sejenak, “Oh! And kenal papa?”

Pertanyaan itu cukup juga membalikkan keadaan, kini giliran Seonghwa yang nampak kaget dengan sosok yang berdiri di depannya. Byul, Byul adalah anak Choi San. Seonghwa tidak pernah tahu itu sebelumnya, mungkin bukan sepenuhnya salah San. Ia sendiri yang menarik dirinya dari lingkar pertemanan mereka, mencari jati diri sebelum kembali ke Namhae dan dirikan cafe di mana ia sebagai pemilik juga pekerja.

“Ya, kami cukup dekat.” Seonghwa dengan singkatnya menjawab.

Mereka pernah sedekat nadi yang melintang, sedekat kulit menyentuh kulit, sedekat bibir yang tak luput doanya pada Yang Kuasa.

“Ada lagi?” Seonghwa menghindari pertanyaan lain yang mungkin akan dilontarkan dan Byul menggelengkan kepala.

“Hm, bolehkah aku membayar ketika papaku datang?” Berbinar kedua netra obsidian Byul yang membuat Seonghwa tidak dapat menolaknya dan mengiyakan begitu saja.

“Baiklah, tunggu di tempatmu.” Seonghwa tak memberikan alat pemanggil otomatis pada Byul, tetapi bocah empat belas tahun itu pun mencari tempat duduknya ...

... dan Seonghwa kembali melayani pengunjung yang lain.


Seonghwa tidak pernah menyangka, kepulangannya ke Namhae akan membuahkan hasil secepat itu. Terakhir kali ia berada di pulau yang menjadi tempat ia tumbuh setelah tinggalkan Jinju adalah tepat acara pernikahaan San. Setelahnya ia menetap di Seoul untuk mencari sertifikasi sebagai barista ahli untuk menetapkan gelar sarjananya.

Niatnya memang ia membangun kedai kopi di kota tercinta. Bersama, ia dan Mingi kumpulkan niat dan dana untuk membangunnya. Mingi tak sepenuhnya ada di tempat, semenjak pekerjaan utama sang sahabat adalah pemilik perusahaan yang didapat dari kedua orang tua, selain itu Mingi keluarga yang diam-diam ia bangun bersama Yeosang.

Seonghwa menghela napas panjang, San lari darinya setelah dirinya kembali. Biarlah, Seonghwa juga pernah ada di posisi San sebelumnya. Bahkan, lima belas tahun lamanya. Kini, San sudah memiliki anak dan Seonghwa tetap bahagia dalam keadaan membujangnya.

Cukup berbeda.

Seonghwa menyuruh salah satu pegawainya untuk mengambil alih pekerjaan di balik meja kasir. Dengan kedua tangan membawa baki makanan untuk diantarkan, Seonghwa kembali bertemu Byul yang nampak dongkol tatapi layar gawai pintarnya.

Seonghwa menaruh baki itu di atas meja, curi atensi Byul dari ponselnya.

“Terima kasih,” ucap Byul, taruh ponsel di atas mejanya, “Ah! Maukah Anda duduk di sebelah saya?”

Seonghwa berakhir duduk di sebelah, karena tak enak untuk menolak. Byul mengambil strawberries smoothie dan menyesapnya, Seonghwa tak bisa berkata apa-apa selain secara mental mengatakan anak di depannya terlihat gemas.

Sungguh mirip dengan San.

Bentuk mata, bentuk hidung, bentuk bibirnya. Seonghwa tahu betul bagaimana wajah Choi San semasa kecilnya, benar-benar jiplakan yang sempurna kecuali tubuh tingginya─San selalu terlihat kecil di matanya.

“Jadi siapa namamu?” Byul bertanya, mengingat mereka belum berkenalan secara resmi selain mengetahui nama pria di depannya adalah Seonghwa.

“Seonghwa, Park Seonghwa dan kamu?”

“Choi Byul, Byul,” jawabnya, pamerkan deretan giginya yang terpasang kawat.

Seonghwa tidak tahu harus membalas apa lagi, karena terasa canggung, tapi anak laki-laki itu seperti menyukai presensinya. Padahal mereka adalah dua orang asing yang kurang dari sejam pertemuan mereka.

“Jadi kau siapanya papa?” tanya Byul, mengganti gelas dengan piring pasta.

“Teman lama. Kami berdua tetangga, kamu pasti tidak tahu.”

Teman, teman apanya teman. Seonghwa selalu menaruh San tepat di hatinya, bahkan ketika pertanyaan kedua orang tua San yang menyakitinya, jelas di ada di sebelah San. Masih menemani dan selalu akan menemani, itu yang Seonghwa janjikan kepada San sebelum huru-hara pernikahan lelaki yang lebih muda.

“Umur Anda berapa? Apa seumur dengan papa?” Seonghwa merasa ia sedang diinterograsi oleh anak yang kemungkinan dua puluh tahun berbeda dengannya.

“Tahun ini genap tiga puluh enam.”

“Ah, jadi Anda ini hyung-nya papa. Usiaku empat belas tahun jika Anda bertanya.” Seonghwa mengangguk terima informasi yang diberikan, perhatikan si bocah merasakan makanan buatannya.

“Ah! Ini enak sekali!” puji Byul.

Seonghwa tanpa disadari menutup rahang Byul dengan pelan, “Makan dulu, baru berbicara.”

Salah satu kebiasaannya kepada San. Kenapa dirinya juga jadi melakukan hal yang sama pada Byul, apakah ia teringat si lelaki Choi yang lain?

Seonghwa menarik kembali tangannya kembali, beruntung Byul tidak mempermasalahkannya. Malah tersenyum, lanjutkan diri nikmati hidangannya. Seonghwa menghela napas, hanya memperhatikannya dengan bertopang dagu.

Satu sosok datang beberapa menit, terengah memegangi kedua lututnya. Seonghwa menengok, netra menangkap sosok San yang basah karena keringat. Lelaki itu lari sejauh apa sih? Buat tanda tanya pada Seonghwa.

Seonghwa menarik satu kursi lagi dan menepuk-nepukan tangannya, “Duduk dulu, San.”

Tidak bermaksud buruk, menemui mantan kekasih seharusnya tidak seburuk ini. San mengambil duduk dalam ragunya, mengucapkan rasa terima kasihnya dalam volume terkecil. Seonghwa refleks ambilkan tisu dan mengelap keringat yang mengucur dari pelipis.

“Perhatikan wajahmu,” sahut Seonghwa, San hanya menutup kedua matanya karena Seonghwa coba hapus keringat yang hendak melewati mata, “berantakan. Kau lari sejauh apa?”

“Berisik, Hyung juga pergi jauh selama ini 'kan?” tanya San masih menikmati perlakuan Seonghwa yang nampak biasa baginya, ternyata ia tetap luluh dengan semua yang dilakukan lelaki yang lebih tua.

Byul memperhatikan di tempat, dengan garpu bertengger di belah bibirnya. Dua maniknya menatap kedua orang dewasa di depannya, seperti berasumsi sesuatu, tapi ia tak mengutarakannya. Dirinya tak pernah mendapati pemandangannya di depan, ia tak pernah merasa sang ibunda mengurus suaminya dengan baik. Tentu saja, ia asing dengan atmosfer yang diberikan Seonghwa dan San yang sepertinya lupa akan kehadirannya.

Seonghwa dan San terus berbicara secara komikal, seperti biasa memang begitu. Byul harus berdeham untuk mengingatkan presensinya, bahkan pasta dan strawberries smoothie-nya sudah raib, dimakan perutnya.

“Oh, Byul.” San menyapa anaknya, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Pa, kamu berutang kepada dia.”

San menengok kembali pada Seonghwa yang duduk manis di tempat, tebar senyum yang tak luntur semenjak ia menetapkan tatapannya padanya.

“Akan kubayar saat pulang, Hyung.” San mengambil gelas berisi americano yang setengah esnya telah mencair.

Seonghwa mengangguk dan kembali memberikan topik pembicaraan, kali ini Byul dibawa ke dalamnya.


San dan Byul sampai di rumah kecil mereka. Seonghwa berikan beberapa camilan, katanya untuk dicoba dan sebagai hadiah pembukaan cafe-nya. Ah, San berpikir seharusnya ia yang membawakan hadiah pada Seonghwa.

Byul tidak berbicara banyak, tidak seperti biasanya. San menaruh curiga pada anak semata wayangnya.

“Kau tahu, kamu bisa bicarakan sesuatu padaku,” ucap San pada akhirnya sambil menaruh kue-kue yang diberikan Seonghwa ke dalam kulkas. Perutnya sudah penuh diisi dengan kudapan lain yang diberikan di cafe, Seonghwa menyuapinya banyak pancake. San tidak bisa menolak, karena tahu semua makanan yang dibuat Seonghwa akan berakhir di perutnya.

“Pa, apa Papa ada sesuatu dengan Seonghwa-hyung?” Seonghwa mengizinkan si kecil untuk memanggilnya demikian, karena Seonghwa merasa dirinya masih muda (“Haha, hyung, kau harus sadar umur,” ejek San ketika mendengarnya).

“Kenapa?” San balik bertanya, tapi Byul hanya senderkan punggung pada meja dapur, masih memicingkan mata penuh tanya pada sang ayah.

“Entah.” San mengangkat bahunya, “Kau tahu, aku bisa mencium sesuatu di antara kalian berdua. Jadi aku menyimpulkannya demikian.”

“Tidak kau tidak perlu tahu itu.” San menutup pintu kulkas, lalu bersama ia berdiri di sebelah anaknya. Keduanya jadi sama-sama menatap lantai kayu mereka.

“Pa, kau tahu ... ” Akhirnya Byul menghadapkan diri pada San, “ ... kalau memang ada sesuatu di antara kalian, aku selalu mendukungmu.”

Tentu. Byul akan membela San, bukan sekadar karena ia anaknya─mungkin sedikit, tapi Byul selalu saksikan bagaimana sang ibunda memperlakukan San buruk. Walau tahu memang hubungan mereka bukan dasar suka dan suka, perjodohan memang adalah hal yang paling bodoh. Beruntunglah wanita itu telah tinggalkan rumah, lebih baik. Byul tidak pernah ingin mengingat bagaimana bentuk wajah wanita itu. Sesekali, ia juga berpikir dirinya sangat menjijikan, karena darah wanita mengalir dalam tubuhnya. Beruntung, sebagian lagi adalah darah sang ayah, berdua mereka sudah melalui banyak hal.

“Pa, kau tahu, Seonghwa-hyung menatapmu seperti itu. Aku sebagai anak berumur empat belas tahun pun tahu ada sesuatu di antara kalian berdua. Kenapa orang dewasa tak bisa membuat semuanya menjadi lebih mudah saja sih?” Kedua tangan diacungkan ke atas, untuk tunjukan rasa frustasi.

Ia hanya ingin San bahagia, tidak lebih, karena San pantas mendapatkannya. Berapa banyak rasa sakit yang ditanggung pria berumur tiga puluh lima tahun itu selama ini? Untuk kali ini, walau San menyukai sesama lelaki yang menyalahi norma yang berlaku di masyarakat pun, Byul rela. Urusan dirinya bisa disisihkan lain hari, lain waktu, San sudah berkorban banyak untuknya selama empat belas tahun terakhir, mengorbankan banyak kebahagiaannya hanya untuk dipandang pantas di masyarakat.

Umurnya memang empat belas tahun, tapi San cukup terkesima dengan ucapan anak lelakinya. Berbangga hati karena ia menciptakan anak sebaik Byul, pemikirannya dewasa dibandingkan teman sebayanya, kalau diingat-ingat, di umur empat belas tahunnya saja masih menempel dan bergantung pada Seonghwa seorang.

“Mungkin kau benar.” San menghela napas.

“Papa tahu ... ” San bertemu manik yang serupa dengannya, sejak kapan Byul begitu terlihat dewasa baginya yang jauh lebih tua, “ ... aku tidak masalah menambah satu papa lagi di sini. Aku bisa memanggilnya Ayah.”


San dan Byul menjadi pengunjung setia di cafe yang dimiliki Seonghwa dan ia tentu menyambutnya dengan hangat, menyuguhi dengan makanan hangat, tak lupa senyum yang tak kunjung luntur.

Seonghwa senang, setidaknya ia bisa bertemu San dan Byul. Ia tidak mengharapkan banyak hal, toh, ia memang menyukai keduanya. Eksistensi keduanya sudah buat hati berbunga-bunga bukan main.

San dan Seonghwa juga telah menyelesaikan permasalahan mereka yang telah lalu. San selalu memaafkan dan Seonghwa selalu tepati janji.

Janji untuk selalu kembali.

Sudah cukup lima belas tahun ia berkelana.

Jarak itu hanyalah digit pemisah digit.” “Pulang tetaplah pulang.“ “Kalau begitu, selamat datang kembali ke rumah, Seonghwa-hyung.

Seonghwa diterima di kembali ke rumahnya, ke pelukan San seorang dan Seonghwa tidak bisa meminta lebih kepada Tuhan. Apa pun status mereka, sebagai teman pun, Seonghwa menerimanya. Untuk urusan itu, Seonghwa tidak banyak bertanya. Status tidak penting, katanya.

Hari itu, Byul yang datang, masih gunakan pakaian sekolahnya. Terlihat gaya Choi San semasa sekolah yang kental dengan aura mengintimidasinya, benar-benar hubungan mendarah daging.

Cafe cukup padat dengan anak sekolahan lainnya. Byul harus menunggu beberapa orang, sebelum Seonghwa melayani pesanan pemuda Choi itu.

“Selamat datang, Byul,” sapa Seonghwa, “mau pesan apa hari ini?”

Byul menggelengkan kepalanya, “Sebenarnya aku ke sini mau mengundang Hyung.”

Ucapannya buat Seonghwa memiringkan kepalanya untuk tatap jelas roman Byul yang nampak serius, “Jangan bilang Papa.”

Seonghwa mengangguk, berarti ada sesuatu yang perlu ia jaga. Seonghwa membiarkan Byul lanjutkan bicaranya, sebelum ia menghujani pemuda itu dengan tanya.

“Hm, aku mengundang Hyung untuk makan malam bersama di rumah. Mungkin Hyung ingin mengatakan sesuatu pada Papa?”

Oh.

Oh.

OH.

“Aku pesan lemonade dibawa pulang saja, Hyung.” Berakhir dengan Byul memesan sebuah lemonde dan Seonghwa pun memasukkan pesananan pada mesin kasirnya.

“Pukul berapa?”

“Hah?”

“Pukul berapa aku harus ke rumahmu?” Senyum merekah pada wajah Byul, semangatnya buat ia melompat-lompat kecil di balik meja kasir.

“Pukul enam? Papa pulang pukul tujuh.” Dengan cepat Seonghwa berikan plastik berisi pesanan si kecil.

“Baiklah, aku akan datang.”

Dengan lemonade di tangan, Byul pulang dengan keadaan senang bukan main. Seseorang akan hadir di rumah mereka, kini kata berdua, akan lebih baik menjadi bertiga. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Seonghwa izin untuk meninggalkan cafe lebih awal, walau sebagai pemilik seharusnya ia tidak perlu bersusah-susah payah, tapi tanggung jawabnya itu adalah kesukaan para rekan kerja. Ia yang apik dan tekun atas kerjanya, tidak diragukan lagi, siapa yang tidak menyukainya?

Seonghwa datang setelah gunakan pakaian yang apik dan tentu sempat bersihkan diri, sebelum mengetuk pintu rumah yang nampak asing baginya. Sebelumnya, ia tidak pernah menginjakkan kakinya pada rumah keluarga Choi. Pertemuan mereka selalu berakhir di tempat kerjanya, beruntung, ia pemilik, tak ada yang berani menegur tempatnya adalah lapak ia bertukar kasih pada San.

Belum Seonghwa menekan bel, Byul sudah memunculkan diri, bukakan pintu. Merekah senyum di wajahnya tak lagi dapat ditahan, Byul mempersilakan lelaki yang lebih tua untuk melepas sepatunya dan memberikan sendal rumah.

“Aku sengaja membelikkannya yang serupa dengan Papa,” celotehnya.

Seonghwa gemas sekali pada Byul, diam-diam memang sudah menganggap bocah berumur empat belas tahun sebagai anaknya sendiri. Mulanya juga, si bocah mulai menggodanya tentang hubungan San dengan dirinya, sesekali juga menguji mentalnya dengan memanggilnya dengan sebutan Ayah dengan manja, benar-benar fotokopi San yang baik.

Seonghwa lemah terhadap San, tentu ia akan lemah terhadap Byul yang jelas mirip dengan orang yang membesarkannya.

Seonghwa membawakan beberapa bunga mawar yang dijual oleh salah satu kawannya, Jung Wooyoung. Wooyoung memberikannya terlalu banyak dari yang ia rencanakan, pemuda itu tahu sepertinya ia akan memberikannya pada San.

Beginilah jika lingkar pertemananmu serupa, semua tahu apa yang dilakukan.

Byul bantu membawakan banyak barang yang dibawa Seonghwa. Jam dinding di rumah tunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit, mungkin lebih awal dari yang Byul pinta, tapi lebih awal lebih baik pikirnya.

Dari mulai membantu Seonghwa memasakkan makan malam mereka, Byul benar-benar menginginkan sosok Seonghwa ada di rumah. Bukan sebagai tambahan yang bisa pergi kapan saja, tapi pelengkap, sehingga tidak ada kehadirannya akan terasa kurang. Ia benar-benar menyukai Seonghwa, tentu seperti ia mencintai San, ayahnya. Sosok Seonghwa berbeda jauh dengan ibunya yang membekas buruk hingga hanya buat sakit kepala ketika ingat.

Sedangkan bersama Seonghwa? Jangan ditanyakan, ia seperti keluarga baginya. Seonghwa banyak mengajarinya banyak hal, seperti cara membuat pasta yang enak, memang sesekali ia menyelinap ke dapur untuk membuat kegaduhan. Seonghwa membiarkannya, sesekali melemparkan pujian perihal apa yang ia lakukan. Benar-benar sosok yang beri afimarsi yang dibutuhkannya.

Meja makan kini ditemani tiga kursi, di atasnya terdapat sup daging yang dibuat Seonghwa bersama Byul. Kini satu lagi resep yang dikuasainya, dipuji perihal keahliannya memotong wortel sedikit buat hidungnya memanjang, bangga.

Pukul tujuh tepat, memang San sudah membunyikan bel. Dua orang yang sedang asyik bermain catur di lantai, harus bergegas, sambut pria yang baru saja pulang membawa letih sebagai oleh-oleh.

“Papa pu─” Perkataannya harus terhenti, ketika dwinetra di balik kacamata lihat figur di balik Byul yang tengah membuka pintu. San hampir jatuhkan tas dalam genggaman, tapi Byul tertawa. Sepertinya ini memang rencana berdua, huh?

“Selamat datang, Pa!” Byul jarang berikan afeksi, tapi kali ini menghadiahi San dengan sebuah peluk erat. Berbisik, “Pa, inilah saatnya.”

Dengan itu Byul tersenyum penuh arti, mengedipkan satu matanya dan kabur berlari ke arah ruang makan. San masih terdiam di tempat, disadarkan oleh Seonghwa yang memegang pergelangan tangannya, menariknya masuk ke dalam rumahnya sendiri. San tidak berdaya, ia mengalir bersama permainan yang dibawakan─kali ini sayangnya tidak main-main, Seonghwa nampak serius.

Byul menarik satu kursi dan Seonghwa melepaskan pegangannya, memberikan arahan pada San untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan Byul padanya.

“Ayo makan, San. Byul sudah memasakkan ini.” Seonghwa duduk bersebrangan dengannya, bisa jelas sekali San tatap romannya dan buat wajahnya memanas seketika. Berharap tidak merah, tapi dari kekehan yang lolos dari Seonghwa, sudah tahu kebalikan dari yang ia minta pada Tuhan.

Mereka bertiga pun makan bersama. Tidak ada lagi rasa canggung, beruntungnya. Sudah jauh-jauh rasa cemas yang mengukir dalam hati, San selalu memimpikan keadaan ini dirasa takutnya, tahu tidak mungkin akan terjadi. Bermimpi ia dan Seonghwa, bersama anak mereka nanti di masa depan akan nikmati makan malam bersama penuh canda tawa. Tapi, ini sudah bukan lagi mimpi. Ini realita, ini realita. Berulang kali kata-kata itu terputar bagai radio rusak di kepalanya, terngiang-ngiang.

“San?” Seonghwa berikan pijatan untuk tenangkan San yang nampaknya tidak memijakan pikirannya ke tanah.

“Maaf, hyung.” Tak terasa ia meneteskan air mata, jatuhi pipinya dan membuat pandangannya kabur.

“Astaga, Papa!” “Choi San!”

Baik Byul dan Seonghwa menghampiri San, keduanya mendekatkan diri mereka untuk tatap pemuda Choi itu menangis, menutupi wajahnya dengan kedua telapaknya. Semburat merah kini juga ikut menghiasi pipinya yang menegas termakan umur dan rasa lelah.

“Ada apa, San?” Seonghwa kembali bertanya, membutuhkan jawaban dari San yang kini sudah redakan tangisannya, walau air mata masih deras di mata.

“Tidak apa-apa, aku ... ” Menarik napas, “ ... aku merasa bahagia.”

Benar, bahagianya San adalah yang dibutuhkan Byul, begitu juga Seonghwa. Berdua, mereka akan melakukan apa pun untuk melihat San bahagia.

“Papa harusnya jangan nangis, 'kan jadi panik.” Byul taruh satu tangan di dadanya, tapi sebenarnya ia sendiri bahagia. Akhirnya, akhirnya ia bisa membahagiakan San, sang ayah, yang pantas untuk mendapatkannya.

“San, San lihat sini.” Seonghwa menarik dagu San, agar lelaki itu menatapnya. Jelas, karena Seonghwa akan menariknya dalam pembicaraan serius.

Netra milik Seonghwa sempat melirik Byul. Anak laki-laki itu mengangguk dan bergegas entah kemana, San tidak tahu. Kepala pusing, penuh dengan banyak benang kusut, tak tahu harus beri reaksi apa.

Seonghwa merogoh sakunya, mengeluarkan kotak belundru berwarna merah. Tanpa aba-aba, Seonghwa berlutut dengan satu kaki. Membuka kotak itu, tanpa menunggu respon dari pemuda yang lain.

“Choi San,” panggilnya, memperlihatkan isi dari kotak itu.

San sudah tahu apa yang akan datang, tapi tetap mengapa ia tidak bisa memberhentikan air matanya agar tidak turun? Kenapa ia masih tidak percaya apa yang terjadi di depannya?

“Aku, Park Seonghwa, mengambil engkau menjadi suamiku ... ” Seonghwa memasangkan satu cincin pada jemari manis San.

” ... untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.”

Setelah selesai memasangkan cincin, Seonghwa berikan satu cincin di atas telapak tangan orang mengikat hatinya, “San. Maukah menikah denganku?”

San mengangguk antusias di tengah tangisannya, masih tak kuasa untuk berucap sebab kata-kata terjebak di lehernya. Tangannya bergetar ketika ia memasangkan cincin pada tangannya di si manis milik Seonghwa dan menyatukan tangannya setelahnya. Kedua bersatu kini.

“Jawab dulu?”

“Aku, Choi San, menerimamu, Park Seonghwa, sebagai suamiku. Aku berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Aku akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya.”

Dor.

San terjatuh dari kursinya, ketika sebuah bunyi ledakan kecil tepat di telinga. Seonghwa menangkap San, membuat keduanya terhuyung ke lantai dengan keadaan San berada dalam pangkuan sang calon suaminya. Keduanya dihujani kertas berwarna-warni, pelakunya sudah pasti Byul yang menebaki mereka dengan konfeti.

“─selamat?” Seringai terpampang jelas pada anak lelaki itu.

Lupakan konfeti, ia menghambur beri pelukan pada dua orang dewasanya. Kini bertiga berpelukan di atas lantai, Seonghwa harus menangkap kedua-dua, kali ini tidak akan membiarkan siapa pun lepas dari genggaman.

Seonghwa, San, dan Byul tertawa.

Bertiga tertawa, bahagia.

“Kalau begitu, aku pulang ke rumah.”

San dan Byul beradu tatapan, durja berbagi mesem dan kembali berikan binar manik obsidian mereka pada Seonghwa, “Selamat datang, Ayah.”

Like a movie, like a lie. I’m holding your hand right now. Like a child, I desperately wanted. This moment that I dreamed of, you and I.

Walau menunggu lima belas tahun lamanya, San selalu menerima Seonghwa. Mimpi yang sempat terkubur, kembali datang ke permukaan dengan harapan nyata. Semua perasaan yang tertutup untuk sosok sempurna yang ia hadirkan kepada orang tua, sudah ia tinggalkan.

San tidak menyesali, walau menunggu lima belas tahun.

Menunggu tiga puluh tahun.

Menunggu lima puluh tahun.

Menunggu ajal pun ia akan lakukan.

Untuk bersama Seonghwa, ia lakukan.

Tanpa ragu, Seonghwa akan melakukan hal yang sama.

Dan Byul, akan mempertahankan kebahagiaan keduanya.

Bertiga, melawan dunia, sekali lagi.


@hwasaurus's notes Terima kasih sebelumnya sudah sempatkan membaca cerita ini. Saya agak ragu bagaimana mengakhiri cerita ini. Sebelumnya, ada alasan mengapa saya memilih lagu Ikat Aku di Tulang Belikatmu. Ketika Seonghwa menyanyikan lagu ini pernikahan San, sebagai hadiah, sebenarnya lagu itu adalah sebagai tanda hubungan mereka memang tidak akan berakhir bahagia walau kemana-mana berdua, seperti arti dari lirik dari lagu yang saya gunakan. Tapi, sedikit saya ingin berikan kebahagiaan, sudahi dulu sedihnya.

Semoga kalian tidak lelah dengan cerita yang saya suguhkan. Boleh berikan kritik dan saran pada secreto yang tertera di bio, atau quote.

Lensa kontak.

Mingi tak pernah menggunakan lensa kontak sebelumnya. Selama ini, kacamata selalu menggantung di atas hidungnya, membantu ia yang mengalami rabun jauh pula silinder. Yah dan begitulah hidup Mingi yang tak bisa jauh-jauh dari alat yang mendukung penglihatannya.

Tapi ... hari ini memberanikan diri untuk membeli satu sebab acara wisuda telah tiba. Sedikit biar keren, katanya. Dan begitulah bagaimana ia terjebak di kamarnya dengan kotak lensa kontak berwarna biru. Ia kebingungan, tak tahu bagaimana cara gunakannya, walau sudah melihat tutorial melalui aplikasi pemutar video.

“Brengsek,” kutuknya.

Tak ingin lama-lama dalam kesengsaraan, ia menghubungi Yeosang. Salah satu temannya yang tak pernah luput gunakan lensa kontak di kesehariannya. Mungkin Yeosang tahu, mungkin Yeosang bisa membantu. Yeosang menyetujuinya dengan suapan makan malam jika berhasil membantu Mingi gunakan lensa kontaknya.

Pemuda Kang itu datang sejam setelahnya dan berkacak pinggang tatap kawan jangkungnya dengan malas.

“Mana lensa kontakmu?” Menengadah tangannya dan dalam takutnya, Mingi memberikan kotak berwarna kebiruan pada lelaki kawannya.

Yeosang mengamati, sebelum akhirnya membuka isinya dengan cukup kasar. Ia mengambil sesuatu dalam tasnya, yakni capit lensa kontak untuk mengambil si lensa dan ditaruh di ujung telunjuk kanannya.

Dalam keadaan Mingi duduk di tepi ranjang, Yeosang berdiri dengan kaki Mingi mengapit dua sisinya. Tangan yang satu masih pegangi lensa kontak, tangan yang bebas digunakannya untuk membuka mata Mingi lebar-lebar.

“Jangan bergerak, gua pukul lu,” ancam Yeosang, buat Mingi bergidik ngeri.

Perlahan Yeosang memasukkan satu lensa di mata kanan. Meskipun ketakutan di tempat, bahkan Mingi hingga memegang pinggang Yeosang erat, dengan mudah Yeosang memasangkannya. Tak ada rasa sakit, tetap sedikit mengganjal.

“Wajar kalau aneh rasanya, baru pertama kali.” Tanpa Mingi harus mengatakannya, Yeosang sudah tahu apa yang dirasakan lawan bicaranya.

Mingi harus mengerjap sesekali, agar lensa kontak menyesuaikan dengan matanya dengan benar. Barulah terasa, satu matanya tidak lagi memiliki pandangan kabur. Ia mengangguk kepada Yeosang, beri kepastian bahwa ia bisa memasangkan di mata yang satu lagi.

Dengan cara dan posisi yang sama, Yeosang kembali coba menyelipkan lensa kontak pada netra yang satu. Baru disadari, Yeosang nampak serius dan begitu dekat. Hingga Mingi sendiri dapat merasakan napas yang lain tepat di wajahnya. Tanpa sadar ia menutup matanya, juga wajahnya diyakin memerah.

“Buka matanya, astaga.” Yeosang jentikkan jarinya pada dahi, buat ia meringis, bekasnya tak kalah merah mungkin dengan semburat merah hiasi wajahnya.

Mingi coba tenangi diri dan beri Yeosang aba-aba untuk lanjutkan aktivitasnya. Jantungnya masih berdebar kencang bukan main, harap Yeosang tak punya kekuatan super untuk mendengarnya dengan baik. Toh, Yeosang nampak fokus coba memasukkan kontak lensa pada ...

“─Aaaaaaaa!!!” Mingi memekik, memegangi matanya.

Yeosang tidak sengaja─atau sengaja?─menusuk matanya.

“Mingi, sorry─!” Yeosang menangkup wajahnya, sedangkan Mingi belum berani membuka mata.

Perih sekali, Bung.

Dirasa selanjutnya, kecupan hujani kelopak mata kirinya.

“Gua ... ” Satu kecup.

”... minta ... “ dua kecup.

”... maaf.” tiga kecup.

Barulah, Mingi dapat membuka matanya dan lihat temannya sedang terkekeh. Sepertinya, memang sengaja, ya? Mingi menarik Yeosang untuk ikut bersamanya di kasur, berakhir ia menggelitik si pemuda Kang sebagai cara balas dendam.

“Kamu sengaja ya?”

“─Iya, Mingi, ampun─” Yeosang memohon, tapi tawanya belum berhenti sebelum Mingi melepaskan jemari dari pinggang yang lain.

“Beraninya.” Mencebikkan bibir, Mingi melipat kedua tangannya di dada.

Yeosang beri senyum dan satu cium, kali ini di bibirnya.

Cukup singkat, tapi rasanya membekas bahkan setelah Yeosang menarik diri kembali.

“Jangan ngambek. Ayo pergi ke wisuda bareng?”

Oh ... dan siapa Mingi menolak ajakan itu?

Desiderium

Lagu pengiring latar ─ Dealova, oleh Once


Seonghwa tidak tahu sudah berapa lama ia berada di dunia tanpa kaki yang berpijak pada tanah. Dirinya sendiri pun tak pernah mengerti, mengapa ia terjebak di dunia, di sebuah rumah sudut jalan dengan pohon wisteria hiasi pekarangan yang mengetuk jendela ketika tersapu angin. Seonghwa selalu berjalan di rumah tak berpenghuni, seolah Tuhan menginginkan ia mencari jawabannya di sana sendirian.

Seonghwa tidak tahu jawaban apa yang diinginkan, entah untuk dirinya sendiri atau harus mengikuti kualifikasi dari Tuhan yang pada dasarnya ia tidak percaya.

Ia sadar, dirinya telah mati. Ia sadar, dirinya tak lagi meninggalkan bayangan pada cermin atau kaca jendela. Ia sadar, bahwasannya ia tidak bisa dilihat orang awam hanya membuatnya sulit mencari jawaban yang dibutuhkan.

Hampa selalu dirasa untuk ia yang tak lagi memiliki hati, hingga rumah yang sepi kini telah dipenuhi oleh tumpukan barang di sana dan di sini. Kehampaan itu berganti menjadi rasa bimbang yang mengusik kejiwaannya yang seharusnya hilang bersama nyawanya.

Seorang pemuda baru saja menempati tempat yang ditungguinya. Lelaki dengan rambut merah menyala, terlalu nyentrik untuk ukuran kesukaannya. Ia lebih pendek beberapa senti dari Seonghwa, terlihat manis ketika ia berbicara dengan orang-orang yang membantunya memindahkan barang.

Rumah yang penuh dengan sarang laba-laba dan decit sepi, kini ramai dengan langkah kaki atau denting piano di setiap malamnya. Seonghwa tidak tahu apakah ini pertanda baik atau buruk, apakah pemuda yang kini temani harinya menjadikan pelancar atau penghalang dirinya untuk menemui titik akhir kehidupan yang lebih hampa lagi.

“Hongjoong.”

Nama sang wira, Seonghwa mendengarkan orang-orang memanggilnya demikian. Roman tak pernah luput dari senyum, dua manik obsidian tak pernah hilang cahayanya. Ia hangat, Seonghwa menyukainya ketimbang rasa dingin yang baru disadari setelah Hongjoong hadir dalam hidup ...

... dan Seonghwa tidak menyangka ia menginginkan Hongjoong lebih dari yang ia kira.

Seonghwa, seseorang yang berada di ambang surga dan neraka, tidak tahu bahwa ia menyukai keberadaan lelaki yang mahir gunakan piano yang terletak di ruang tengah.

Tiap malam ada saja lagu yang membuatnya takjub. Sebagai seseorang yang tidak mengerti musik di masa hidupnya, Seonghwa hanya dapat memandangi dari sudut ruangan agar dapat menatap wajah laki-laki yang nampak begitu serius geluti partitur dan deretan hitam putih, tempat jemari-jemarinya dengan lihai berdansa.

Kegiatannya di malam hari pun berubah, begitu juga perasaannya.

Semula hanya penasaran yang datang, hingga menganggumi pun muncul.

Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh. Aku ingin kau tahu bahwa 'ku selalu memujamu.

Seonghwa tidak tahu kenapa perasaan seperti itu muncul. Ia tidak ingin terjebak dengan perasaan dengan seorang manusia yang nyatanya tak bisa menyentuhnya. Ah, jangankan menyentuh, untuk melihat, menyadari keberadaannya pun nihil kesempatannya.

Di malam yang lain, Hongjoong menangis. Raungan terdengar dengan iringan Cantoluna yang apik tak seperti apa yang menyayat hati si rambut merah. Seonghwa berharap, ia bisa menggapai dan mendekap, apa pun ia akan lakukan demi senyum sang mentari. Lagi-lagi, tangannya hanya menembus sosok solid sang manusia.

Angan tetaplah angan, bagi ia yang tak hidup.

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu. Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu.

Di siang hari, biasanya Hongjoong akan pergi. Meninggalkan Seonghwa kembali dalam sepinya. Hampa kini berganti menjadi merindu, menganggumi menjadi ingin memiliki. Kenapa dalam matinya pun bimbang mengikuti.

Hongjoong akan kembali ketika hari menjelang malam, lalu sibuk dengan partiturnya. Lupakan makan malam atau tumpukan cucian piring wastafel dapur. Kini, ia tidak lagi dengan pianonya, tapi pada partitur dan pensil. Garis-garis horizontal yang semula kosong, kini dipenuhi dengan barisan notasi balok yang tak dipahaminya.

“Apa yang kau kerjakan?” Walau Hongjoong tak bisa mendengarnya, ia tetap bertanya.

Untuk siapa Hongjoong menulis? Untuk siapa lagu itu akan dipersembahkan?

Seonghwa ingin tahu.

Menyesakkan.

Seonghwa tak begitu menyukai rasa gatal yang usik dirinya. Apakah ia cemburu? Apakah Seonghwa tidak siap untuk kembali ke kehampaan? Apa malah, ia tidak ingin kembali ke pangkuan Tuhan sebenarnya?

Lalu, Seonghwa terdiam di tempat, masih tatapi durja yang merutuk.

Tanpamu sepinya waktu merantai hati.

Seonghwa kembali bertemu dengan sepi.

Hongjoong tak lagi habiskan waktu di rumah, baik di pagi dan malamnya. Hangat kembali menjadi dingin, lagi-lagi hanya ditemani dengan semilir angin yang menyusup di ventilasi udara. Salahkan dirinya yang tak tertidur, dua puluh empat jam terasa lebih panjang dari biasanya tanpa kehadiran sang lelaki yang dirindu.

Kenapa ia merasa sakit padahal jantung tak lagi bersembunyi di dada kiri?

Seonghwa kembali lagi ditinggalkan dalam tanda tanya.

Hongjoong tiba di suatu pagi dengan rambut yang menggelap. Koper yang diseret, ditinggalkan begitu saja bersama sepatu yang dilepas di depan pintu. Kali ini, ia mengambil sebuah foto yang disimpannya dalam lemari. Tarik atensi Seonghwa, sebab senyum simpul terukir jelas pada lelaki yang lain, setelah sekian lama tak pernah mampir pada tampang rupawannya.

Hongjoong menaruh foto itu pada sebuah bingkai persegi yang diambilnya di lemari yang lain. Kemudian, diletakkan tepat pada di atas pianonya sembari ambil duduk di depannya. Lama Hongjoong tatapi foto itu di sana, hingga jemarinya kembali bertemu dengan kunci dan senyum tak lagi luntur.

Kegembiraan juga datang kepada Seonghwa yang kini berdiri di belakang Hongjoong yang tengah memainkan sebuah lagu, tak ada partitur di hadapannya, hanya bingkai dengan foto yang membuat rasa khawatirnya luruh seketika.

Satu pertanyaan terjawab.

. . .

“Hongjoong-hyung, Hongjoong-hyung.”

Nama yang menggema di lorong gedung, buat si pemiliknya menengok ke arah sumber suara. Terengah ia yang menghampiri, buat Hongjoong memiringkan kepalanya dan menaikan satu alis sebagai pertanyaan tak terlontar untuk lelaki yang mengejarnya.

“Hyung, kamu baru saja menolak ajakan kencan Kang Yeosang! Dia itu violinis terkenal!”

Hongjoong tertawa keras lihat juniornya merengek, lucu juga.

“Yunho, kau tahu aku tidak akan menerima ajakan kencan siapa pun 'kan?”

Yunho menghela napas kasar, jengkel.

“Dia lagi? Sudah sepuluh tahun, kau tahu.”

“Siapa lagi memangnya?” Hongjoong lanjutkan langkahnya, diikuti Yunho yang coba imbangi ritme berjalan sang senior.

“Tidak ada. Park Seonghwa seorang bukan?”

Constellation.

TAGS : Zodiac Mark Soulmate!AU

Setiap orang memiliki banyak macam cara untuk berjumpa dengan yang dicinta. Tuhan berikan pertanda, memudahkan semua kembali ke rumah yang tepat. Semua orang memiliki keunikan mereka sendiri sebagai pembeda dari yang lain, yang akan mengantarkan mereka kepada pemberhentian hati terakhir ...

... dan Yeosang pun tidak terkecuali.


Di usia kedua puluhnya, Kang Yeosang mendapatkan apa yang ia tunggu sejak dulu. Sebuah tanda yang akan menunjukkannya kepada orang yang akan menjadi belahan jiwanya, seseorang yang akan habiskan waktu bersamanya di sisa hari dalam hidupnya.

Yeosang pikir, semua itu romantis.

Klasik.

Nyatanya, realita tidak seindah rekaan yang selalu bersembunyi di dalam kepala.

Bagaimana kalau cinta itu serumit soal Kimia Organik? Bagaimana kalau Tuhan bercanda perihal memberikan pertanda itu kepada umatNya?

Yeosang terbangun hanya untuk mendapati konstelasi Aries hiasi tangan kanannya, tepat di atas kulit di mana urat nadinya menjalar. Pula, ia menemukan dua orang dengan konstelasi Gemini di hari yang sama.

Park Seonghwa─Seonghwa yang miliki tandanya di leher belakang ...

... atau Jeong Yunho─Yunho miliki tanda di lengan kirinya.

Siapa yang benar-benar pelabuhan terakhir baginya? Apakah Seonghwa, si asisten praktikum yang baik hati atau Yunho, si pemain basket yang disayangi seantero kampus?