Like A Movie
“Papa.”
Seseorang mengguncangkan bahunya San yang tengah tertidur, tapi tak bisa terelakkan. Dalam posisi tidur, San membuka matanya dan gunakan siku untuk membangunnya terbangun.
“Kenapa, Byul?” San bertanya, melihat sosok anaknya di depan.
Anak lelaki berumur empat belas tahun itu hanya berkacak pinggang, gelengkan kepala lihat kelakuan orang tuanya yang pukul delapan pagi saja masih bergelung dengan selimut.
“Bangun.” Sang anak menarik selimut putih yang digunakan San untuk menutupi sebagian badannya dari dinginnya udara, “Kau janji hari ini membawaku untuk ke cafe yang baru buka minggu lalu bukan?”
San menguap lebar, adakah janji yang ia lupakan lagi?
Byul gelengkan kepalanya lagi-lagi. Mungkin, ia harus sedikit memaklumi sang ayah karena pekerjaan yang berat. Ya, bekerja sebagai budak korporat jua orang tua tunggal adalah pekerjaan berat. Semenjak sang Ibunda meninggalkannya dan juga Papa dalam keadaan tidak baik, mau tak mau pria berumur tiga puluh tahun itu harus mengurusi semuanya; rumah, pekerjaan, dan dirinya. Terkadang lupa, bahwa dirinya juga perlu istirahat.
“Cuci muka, Pa. Aku tidak membuat sarapan, karena kau berjanji untuk membawaku hari ini.”
Byul meninggalkan kamar San.
Dibandingkan berjalan bersama anak, San acapkali disangka kakak dari si kecil─tinggi mereka berbeda jauh sekarang. Menganggumi bahwa Choi Byul, anak yang ia besarkan sendirian, hampir menyusul tingginya sekarang.
Keduanya memasuki cafe yang dimaksudkan─konsepnya sederhana, tipikal bangunan industrial. Dengan beberapa tanaman hijau yang asri sebagai penghias dan penyejuk suasana. San menemukan cafe ini dalam perjalanannya dari rumah ke kantor, hanya sekadar melewati, belum sempat singgah. Maka dari itu, gunakan akhir pekannya untuk ajak sang anak sedikit beristirahat dari penatnya dunia.
Yang lebih tua merangkul buah hatinya, mengajaknya untuk memesan sebelum mengambil duduk. Dilihat, tak ada yang berjaga di balik kasir. Demikian, San dan Byul berdiskusi perihal apa yang ingin mereka makan dari daftar yang menggantung di langit-langit.
“Maaf menunggu lama.”
San terdiam ketika dengar suara yang masuk ke dalam rungu, pegangan pada bahu Byul mengencang─kukunya bisa saja menembus jaket yang digunakan. Menurunkan pandang hingga melihat siapa penjaga kasir yang sedikit mengguncang jiwanya.
“Kenapa sih, Pa?” Lantas Byul bertanya, sakit dirasa pundaknya. Lalu, menatap aneh di antara San dan si penjaga kasir.
San belum berkata, hanya baru membuka mulut karena tak sanggup berkata.
“Ah, selamat datang, San. Lama tak berjumpa.”
Park Seonghwa.
Seonghwa.
Orang yang dicintainya selama ini, akhirnya menampakkan dirinya. Setelah pernikahan San dan sang istri, ia tidak pernah melihat lelaki Park itu lagi. Sekonyong-konyong, Tuhan pertemukan mereka kembali.
Lima belas tahun lamanya.
San tidak tahu harus membalas apa senyuman yang diberikan Seonghwa kepadanya.
San lari meninggalkan cafe, begitu pula tinggalkan anaknya yang tengah bingung dengan sikap sang ayah. Seonghwa sebagai kasir hanya dapat memandangi punggung si wira yang pergi, lagi-lagi Seonghwa membiarkan San lari tanpa berusaha mengejarnya.
Kenapa ia berhenti di tempat? Kenapa ia tidak mengejarnya?
Seonghwa menggelengkan kepala, hapus pemikiran yang berlebihan. Fokuskan diri pada pelanggan yang ada di hadapannya, “Mau pesan apa?”
Byul menatap laki-laki itu lekat, nampak familiar, tapi tak yakin dengan siapa ia berbicara.
“Fettucine carbonara, satu.” Seonghwa akhirnya berfokus pada mesin di depannya, untuk mencatat pesanan pelanggan.
Byul kembali menyebutkan apa yang telah didiskusikan dengan San yang telah kabur, “Cheese pizza, satu. Strawberries smoothie, satu dan terakhir americano, satu.”
“Ah─” Seonghwa melirik kepada Byul yang menaruh kedua siku di meja kasir, “─Apakah San masih menyukai strawberries smoothie hingga sekarang?”
“Tidak, itu untukku.” Byul terkesima sejenak, “Oh! And kenal papa?”
Pertanyaan itu cukup juga membalikkan keadaan, kini giliran Seonghwa yang nampak kaget dengan sosok yang berdiri di depannya. Byul, Byul adalah anak Choi San. Seonghwa tidak pernah tahu itu sebelumnya, mungkin bukan sepenuhnya salah San. Ia sendiri yang menarik dirinya dari lingkar pertemanan mereka, mencari jati diri sebelum kembali ke Namhae dan dirikan cafe di mana ia sebagai pemilik juga pekerja.
“Ya, kami cukup dekat.” Seonghwa dengan singkatnya menjawab.
Mereka pernah sedekat nadi yang melintang, sedekat kulit menyentuh kulit, sedekat bibir yang tak luput doanya pada Yang Kuasa.
“Ada lagi?” Seonghwa menghindari pertanyaan lain yang mungkin akan dilontarkan dan Byul menggelengkan kepala.
“Hm, bolehkah aku membayar ketika papaku datang?” Berbinar kedua netra obsidian Byul yang membuat Seonghwa tidak dapat menolaknya dan mengiyakan begitu saja.
“Baiklah, tunggu di tempatmu.” Seonghwa tak memberikan alat pemanggil otomatis pada Byul, tetapi bocah empat belas tahun itu pun mencari tempat duduknya ...
... dan Seonghwa kembali melayani pengunjung yang lain.
Seonghwa tidak pernah menyangka, kepulangannya ke Namhae akan membuahkan hasil secepat itu. Terakhir kali ia berada di pulau yang menjadi tempat ia tumbuh setelah tinggalkan Jinju adalah tepat acara pernikahaan San. Setelahnya ia menetap di Seoul untuk mencari sertifikasi sebagai barista ahli untuk menetapkan gelar sarjananya.
Niatnya memang ia membangun kedai kopi di kota tercinta. Bersama, ia dan Mingi kumpulkan niat dan dana untuk membangunnya. Mingi tak sepenuhnya ada di tempat, semenjak pekerjaan utama sang sahabat adalah pemilik perusahaan yang didapat dari kedua orang tua, selain itu Mingi keluarga yang diam-diam ia bangun bersama Yeosang.
Seonghwa menghela napas panjang, San lari darinya setelah dirinya kembali. Biarlah, Seonghwa juga pernah ada di posisi San sebelumnya. Bahkan, lima belas tahun lamanya. Kini, San sudah memiliki anak dan Seonghwa tetap bahagia dalam keadaan membujangnya.
Cukup berbeda.
Seonghwa menyuruh salah satu pegawainya untuk mengambil alih pekerjaan di balik meja kasir. Dengan kedua tangan membawa baki makanan untuk diantarkan, Seonghwa kembali bertemu Byul yang nampak dongkol tatapi layar gawai pintarnya.
Seonghwa menaruh baki itu di atas meja, curi atensi Byul dari ponselnya.
“Terima kasih,” ucap Byul, taruh ponsel di atas mejanya, “Ah! Maukah Anda duduk di sebelah saya?”
Seonghwa berakhir duduk di sebelah, karena tak enak untuk menolak. Byul mengambil strawberries smoothie dan menyesapnya, Seonghwa tak bisa berkata apa-apa selain secara mental mengatakan anak di depannya terlihat gemas.
Sungguh mirip dengan San.
Bentuk mata, bentuk hidung, bentuk bibirnya. Seonghwa tahu betul bagaimana wajah Choi San semasa kecilnya, benar-benar jiplakan yang sempurna kecuali tubuh tingginya─San selalu terlihat kecil di matanya.
“Jadi siapa namamu?” Byul bertanya, mengingat mereka belum berkenalan secara resmi selain mengetahui nama pria di depannya adalah Seonghwa.
“Seonghwa, Park Seonghwa dan kamu?”
“Choi Byul, Byul,” jawabnya, pamerkan deretan giginya yang terpasang kawat.
Seonghwa tidak tahu harus membalas apa lagi, karena terasa canggung, tapi anak laki-laki itu seperti menyukai presensinya. Padahal mereka adalah dua orang asing yang kurang dari sejam pertemuan mereka.
“Jadi kau siapanya papa?” tanya Byul, mengganti gelas dengan piring pasta.
“Teman lama. Kami berdua tetangga, kamu pasti tidak tahu.”
Teman, teman apanya teman. Seonghwa selalu menaruh San tepat di hatinya, bahkan ketika pertanyaan kedua orang tua San yang menyakitinya, jelas di ada di sebelah San. Masih menemani dan selalu akan menemani, itu yang Seonghwa janjikan kepada San sebelum huru-hara pernikahan lelaki yang lebih muda.
“Umur Anda berapa? Apa seumur dengan papa?” Seonghwa merasa ia sedang diinterograsi oleh anak yang kemungkinan dua puluh tahun berbeda dengannya.
“Tahun ini genap tiga puluh enam.”
“Ah, jadi Anda ini hyung-nya papa. Usiaku empat belas tahun jika Anda bertanya.” Seonghwa mengangguk terima informasi yang diberikan, perhatikan si bocah merasakan makanan buatannya.
“Ah! Ini enak sekali!” puji Byul.
Seonghwa tanpa disadari menutup rahang Byul dengan pelan, “Makan dulu, baru berbicara.”
Salah satu kebiasaannya kepada San. Kenapa dirinya juga jadi melakukan hal yang sama pada Byul, apakah ia teringat si lelaki Choi yang lain?
Seonghwa menarik kembali tangannya kembali, beruntung Byul tidak mempermasalahkannya. Malah tersenyum, lanjutkan diri nikmati hidangannya. Seonghwa menghela napas, hanya memperhatikannya dengan bertopang dagu.
Satu sosok datang beberapa menit, terengah memegangi kedua lututnya. Seonghwa menengok, netra menangkap sosok San yang basah karena keringat. Lelaki itu lari sejauh apa sih? Buat tanda tanya pada Seonghwa.
Seonghwa menarik satu kursi lagi dan menepuk-nepukan tangannya, “Duduk dulu, San.”
Tidak bermaksud buruk, menemui mantan kekasih seharusnya tidak seburuk ini. San mengambil duduk dalam ragunya, mengucapkan rasa terima kasihnya dalam volume terkecil. Seonghwa refleks ambilkan tisu dan mengelap keringat yang mengucur dari pelipis.
“Perhatikan wajahmu,” sahut Seonghwa, San hanya menutup kedua matanya karena Seonghwa coba hapus keringat yang hendak melewati mata, “berantakan. Kau lari sejauh apa?”
“Berisik, Hyung juga pergi jauh selama ini 'kan?” tanya San masih menikmati perlakuan Seonghwa yang nampak biasa baginya, ternyata ia tetap luluh dengan semua yang dilakukan lelaki yang lebih tua.
Byul memperhatikan di tempat, dengan garpu bertengger di belah bibirnya. Dua maniknya menatap kedua orang dewasa di depannya, seperti berasumsi sesuatu, tapi ia tak mengutarakannya. Dirinya tak pernah mendapati pemandangannya di depan, ia tak pernah merasa sang ibunda mengurus suaminya dengan baik. Tentu saja, ia asing dengan atmosfer yang diberikan Seonghwa dan San yang sepertinya lupa akan kehadirannya.
Seonghwa dan San terus berbicara secara komikal, seperti biasa memang begitu. Byul harus berdeham untuk mengingatkan presensinya, bahkan pasta dan strawberries smoothie-nya sudah raib, dimakan perutnya.
“Oh, Byul.” San menyapa anaknya, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Pa, kamu berutang kepada dia.”
San menengok kembali pada Seonghwa yang duduk manis di tempat, tebar senyum yang tak luntur semenjak ia menetapkan tatapannya padanya.
“Akan kubayar saat pulang, Hyung.” San mengambil gelas berisi americano yang setengah esnya telah mencair.
Seonghwa mengangguk dan kembali memberikan topik pembicaraan, kali ini Byul dibawa ke dalamnya.
San dan Byul sampai di rumah kecil mereka. Seonghwa berikan beberapa camilan, katanya untuk dicoba dan sebagai hadiah pembukaan cafe-nya. Ah, San berpikir seharusnya ia yang membawakan hadiah pada Seonghwa.
Byul tidak berbicara banyak, tidak seperti biasanya. San menaruh curiga pada anak semata wayangnya.
“Kau tahu, kamu bisa bicarakan sesuatu padaku,” ucap San pada akhirnya sambil menaruh kue-kue yang diberikan Seonghwa ke dalam kulkas. Perutnya sudah penuh diisi dengan kudapan lain yang diberikan di cafe, Seonghwa menyuapinya banyak pancake. San tidak bisa menolak, karena tahu semua makanan yang dibuat Seonghwa akan berakhir di perutnya.
“Pa, apa Papa ada sesuatu dengan Seonghwa-hyung?” Seonghwa mengizinkan si kecil untuk memanggilnya demikian, karena Seonghwa merasa dirinya masih muda (“Haha, hyung, kau harus sadar umur,” ejek San ketika mendengarnya).
“Kenapa?” San balik bertanya, tapi Byul hanya senderkan punggung pada meja dapur, masih memicingkan mata penuh tanya pada sang ayah.
“Entah.” San mengangkat bahunya, “Kau tahu, aku bisa mencium sesuatu di antara kalian berdua. Jadi aku menyimpulkannya demikian.”
“Tidak kau tidak perlu tahu itu.” San menutup pintu kulkas, lalu bersama ia berdiri di sebelah anaknya. Keduanya jadi sama-sama menatap lantai kayu mereka.
“Pa, kau tahu ... ” Akhirnya Byul menghadapkan diri pada San, “ ... kalau memang ada sesuatu di antara kalian, aku selalu mendukungmu.”
Tentu. Byul akan membela San, bukan sekadar karena ia anaknya─mungkin sedikit, tapi Byul selalu saksikan bagaimana sang ibunda memperlakukan San buruk. Walau tahu memang hubungan mereka bukan dasar suka dan suka, perjodohan memang adalah hal yang paling bodoh. Beruntunglah wanita itu telah tinggalkan rumah, lebih baik. Byul tidak pernah ingin mengingat bagaimana bentuk wajah wanita itu. Sesekali, ia juga berpikir dirinya sangat menjijikan, karena darah wanita mengalir dalam tubuhnya. Beruntung, sebagian lagi adalah darah sang ayah, berdua mereka sudah melalui banyak hal.
“Pa, kau tahu, Seonghwa-hyung menatapmu seperti itu. Aku sebagai anak berumur empat belas tahun pun tahu ada sesuatu di antara kalian berdua. Kenapa orang dewasa tak bisa membuat semuanya menjadi lebih mudah saja sih?” Kedua tangan diacungkan ke atas, untuk tunjukan rasa frustasi.
Ia hanya ingin San bahagia, tidak lebih, karena San pantas mendapatkannya. Berapa banyak rasa sakit yang ditanggung pria berumur tiga puluh lima tahun itu selama ini? Untuk kali ini, walau San menyukai sesama lelaki yang menyalahi norma yang berlaku di masyarakat pun, Byul rela. Urusan dirinya bisa disisihkan lain hari, lain waktu, San sudah berkorban banyak untuknya selama empat belas tahun terakhir, mengorbankan banyak kebahagiaannya hanya untuk dipandang pantas di masyarakat.
Umurnya memang empat belas tahun, tapi San cukup terkesima dengan ucapan anak lelakinya. Berbangga hati karena ia menciptakan anak sebaik Byul, pemikirannya dewasa dibandingkan teman sebayanya, kalau diingat-ingat, di umur empat belas tahunnya saja masih menempel dan bergantung pada Seonghwa seorang.
“Mungkin kau benar.” San menghela napas.
“Papa tahu ... ” San bertemu manik yang serupa dengannya, sejak kapan Byul begitu terlihat dewasa baginya yang jauh lebih tua, “ ... aku tidak masalah menambah satu papa lagi di sini. Aku bisa memanggilnya Ayah.”
San dan Byul menjadi pengunjung setia di cafe yang dimiliki Seonghwa dan ia tentu menyambutnya dengan hangat, menyuguhi dengan makanan hangat, tak lupa senyum yang tak kunjung luntur.
Seonghwa senang, setidaknya ia bisa bertemu San dan Byul. Ia tidak mengharapkan banyak hal, toh, ia memang menyukai keduanya. Eksistensi keduanya sudah buat hati berbunga-bunga bukan main.
San dan Seonghwa juga telah menyelesaikan permasalahan mereka yang telah lalu. San selalu memaafkan dan Seonghwa selalu tepati janji.
Janji untuk selalu kembali.
Sudah cukup lima belas tahun ia berkelana.
“Jarak itu hanyalah digit pemisah digit.” “Pulang tetaplah pulang.“ “Kalau begitu, selamat datang kembali ke rumah, Seonghwa-hyung.“
Seonghwa diterima di kembali ke rumahnya, ke pelukan San seorang dan Seonghwa tidak bisa meminta lebih kepada Tuhan. Apa pun status mereka, sebagai teman pun, Seonghwa menerimanya. Untuk urusan itu, Seonghwa tidak banyak bertanya. Status tidak penting, katanya.
Hari itu, Byul yang datang, masih gunakan pakaian sekolahnya. Terlihat gaya Choi San semasa sekolah yang kental dengan aura mengintimidasinya, benar-benar hubungan mendarah daging.
Cafe cukup padat dengan anak sekolahan lainnya. Byul harus menunggu beberapa orang, sebelum Seonghwa melayani pesanan pemuda Choi itu.
“Selamat datang, Byul,” sapa Seonghwa, “mau pesan apa hari ini?”
Byul menggelengkan kepalanya, “Sebenarnya aku ke sini mau mengundang Hyung.”
Ucapannya buat Seonghwa memiringkan kepalanya untuk tatap jelas roman Byul yang nampak serius, “Jangan bilang Papa.”
Seonghwa mengangguk, berarti ada sesuatu yang perlu ia jaga. Seonghwa membiarkan Byul lanjutkan bicaranya, sebelum ia menghujani pemuda itu dengan tanya.
“Hm, aku mengundang Hyung untuk makan malam bersama di rumah. Mungkin Hyung ingin mengatakan sesuatu pada Papa?”
Oh.
Oh.
OH.
“Aku pesan lemonade dibawa pulang saja, Hyung.” Berakhir dengan Byul memesan sebuah lemonde dan Seonghwa pun memasukkan pesananan pada mesin kasirnya.
“Pukul berapa?”
“Hah?”
“Pukul berapa aku harus ke rumahmu?” Senyum merekah pada wajah Byul, semangatnya buat ia melompat-lompat kecil di balik meja kasir.
“Pukul enam? Papa pulang pukul tujuh.” Dengan cepat Seonghwa berikan plastik berisi pesanan si kecil.
“Baiklah, aku akan datang.”
Dengan lemonade di tangan, Byul pulang dengan keadaan senang bukan main. Seseorang akan hadir di rumah mereka, kini kata berdua, akan lebih baik menjadi bertiga. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Seonghwa izin untuk meninggalkan cafe lebih awal, walau sebagai pemilik seharusnya ia tidak perlu bersusah-susah payah, tapi tanggung jawabnya itu adalah kesukaan para rekan kerja. Ia yang apik dan tekun atas kerjanya, tidak diragukan lagi, siapa yang tidak menyukainya?
Seonghwa datang setelah gunakan pakaian yang apik dan tentu sempat bersihkan diri, sebelum mengetuk pintu rumah yang nampak asing baginya. Sebelumnya, ia tidak pernah menginjakkan kakinya pada rumah keluarga Choi. Pertemuan mereka selalu berakhir di tempat kerjanya, beruntung, ia pemilik, tak ada yang berani menegur tempatnya adalah lapak ia bertukar kasih pada San.
Belum Seonghwa menekan bel, Byul sudah memunculkan diri, bukakan pintu. Merekah senyum di wajahnya tak lagi dapat ditahan, Byul mempersilakan lelaki yang lebih tua untuk melepas sepatunya dan memberikan sendal rumah.
“Aku sengaja membelikkannya yang serupa dengan Papa,” celotehnya.
Seonghwa gemas sekali pada Byul, diam-diam memang sudah menganggap bocah berumur empat belas tahun sebagai anaknya sendiri. Mulanya juga, si bocah mulai menggodanya tentang hubungan San dengan dirinya, sesekali juga menguji mentalnya dengan memanggilnya dengan sebutan Ayah dengan manja, benar-benar fotokopi San yang baik.
Seonghwa lemah terhadap San, tentu ia akan lemah terhadap Byul yang jelas mirip dengan orang yang membesarkannya.
Seonghwa membawakan beberapa bunga mawar yang dijual oleh salah satu kawannya, Jung Wooyoung. Wooyoung memberikannya terlalu banyak dari yang ia rencanakan, pemuda itu tahu sepertinya ia akan memberikannya pada San.
Beginilah jika lingkar pertemananmu serupa, semua tahu apa yang dilakukan.
Byul bantu membawakan banyak barang yang dibawa Seonghwa. Jam dinding di rumah tunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit, mungkin lebih awal dari yang Byul pinta, tapi lebih awal lebih baik pikirnya.
Dari mulai membantu Seonghwa memasakkan makan malam mereka, Byul benar-benar menginginkan sosok Seonghwa ada di rumah. Bukan sebagai tambahan yang bisa pergi kapan saja, tapi pelengkap, sehingga tidak ada kehadirannya akan terasa kurang. Ia benar-benar menyukai Seonghwa, tentu seperti ia mencintai San, ayahnya. Sosok Seonghwa berbeda jauh dengan ibunya yang membekas buruk hingga hanya buat sakit kepala ketika ingat.
Sedangkan bersama Seonghwa? Jangan ditanyakan, ia seperti keluarga baginya. Seonghwa banyak mengajarinya banyak hal, seperti cara membuat pasta yang enak, memang sesekali ia menyelinap ke dapur untuk membuat kegaduhan. Seonghwa membiarkannya, sesekali melemparkan pujian perihal apa yang ia lakukan. Benar-benar sosok yang beri afimarsi yang dibutuhkannya.
Meja makan kini ditemani tiga kursi, di atasnya terdapat sup daging yang dibuat Seonghwa bersama Byul. Kini satu lagi resep yang dikuasainya, dipuji perihal keahliannya memotong wortel sedikit buat hidungnya memanjang, bangga.
Pukul tujuh tepat, memang San sudah membunyikan bel. Dua orang yang sedang asyik bermain catur di lantai, harus bergegas, sambut pria yang baru saja pulang membawa letih sebagai oleh-oleh.
“Papa pu─” Perkataannya harus terhenti, ketika dwinetra di balik kacamata lihat figur di balik Byul yang tengah membuka pintu. San hampir jatuhkan tas dalam genggaman, tapi Byul tertawa. Sepertinya ini memang rencana berdua, huh?
“Selamat datang, Pa!” Byul jarang berikan afeksi, tapi kali ini menghadiahi San dengan sebuah peluk erat. Berbisik, “Pa, inilah saatnya.”
Dengan itu Byul tersenyum penuh arti, mengedipkan satu matanya dan kabur berlari ke arah ruang makan. San masih terdiam di tempat, disadarkan oleh Seonghwa yang memegang pergelangan tangannya, menariknya masuk ke dalam rumahnya sendiri. San tidak berdaya, ia mengalir bersama permainan yang dibawakan─kali ini sayangnya tidak main-main, Seonghwa nampak serius.
Byul menarik satu kursi dan Seonghwa melepaskan pegangannya, memberikan arahan pada San untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan Byul padanya.
“Ayo makan, San. Byul sudah memasakkan ini.” Seonghwa duduk bersebrangan dengannya, bisa jelas sekali San tatap romannya dan buat wajahnya memanas seketika. Berharap tidak merah, tapi dari kekehan yang lolos dari Seonghwa, sudah tahu kebalikan dari yang ia minta pada Tuhan.
Mereka bertiga pun makan bersama. Tidak ada lagi rasa canggung, beruntungnya. Sudah jauh-jauh rasa cemas yang mengukir dalam hati, San selalu memimpikan keadaan ini dirasa takutnya, tahu tidak mungkin akan terjadi. Bermimpi ia dan Seonghwa, bersama anak mereka nanti di masa depan akan nikmati makan malam bersama penuh canda tawa. Tapi, ini sudah bukan lagi mimpi. Ini realita, ini realita. Berulang kali kata-kata itu terputar bagai radio rusak di kepalanya, terngiang-ngiang.
“San?” Seonghwa berikan pijatan untuk tenangkan San yang nampaknya tidak memijakan pikirannya ke tanah.
“Maaf, hyung.” Tak terasa ia meneteskan air mata, jatuhi pipinya dan membuat pandangannya kabur.
“Astaga, Papa!” “Choi San!”
Baik Byul dan Seonghwa menghampiri San, keduanya mendekatkan diri mereka untuk tatap pemuda Choi itu menangis, menutupi wajahnya dengan kedua telapaknya. Semburat merah kini juga ikut menghiasi pipinya yang menegas termakan umur dan rasa lelah.
“Ada apa, San?” Seonghwa kembali bertanya, membutuhkan jawaban dari San yang kini sudah redakan tangisannya, walau air mata masih deras di mata.
“Tidak apa-apa, aku ... ” Menarik napas, “ ... aku merasa bahagia.”
Benar, bahagianya San adalah yang dibutuhkan Byul, begitu juga Seonghwa. Berdua, mereka akan melakukan apa pun untuk melihat San bahagia.
“Papa harusnya jangan nangis, 'kan jadi panik.” Byul taruh satu tangan di dadanya, tapi sebenarnya ia sendiri bahagia. Akhirnya, akhirnya ia bisa membahagiakan San, sang ayah, yang pantas untuk mendapatkannya.
“San, San lihat sini.” Seonghwa menarik dagu San, agar lelaki itu menatapnya. Jelas, karena Seonghwa akan menariknya dalam pembicaraan serius.
Netra milik Seonghwa sempat melirik Byul. Anak laki-laki itu mengangguk dan bergegas entah kemana, San tidak tahu. Kepala pusing, penuh dengan banyak benang kusut, tak tahu harus beri reaksi apa.
Seonghwa merogoh sakunya, mengeluarkan kotak belundru berwarna merah. Tanpa aba-aba, Seonghwa berlutut dengan satu kaki. Membuka kotak itu, tanpa menunggu respon dari pemuda yang lain.
“Choi San,” panggilnya, memperlihatkan isi dari kotak itu.
San sudah tahu apa yang akan datang, tapi tetap mengapa ia tidak bisa memberhentikan air matanya agar tidak turun? Kenapa ia masih tidak percaya apa yang terjadi di depannya?
“Aku, Park Seonghwa, mengambil engkau menjadi suamiku ... ” Seonghwa memasangkan satu cincin pada jemari manis San.
” ... untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.”
Setelah selesai memasangkan cincin, Seonghwa berikan satu cincin di atas telapak tangan orang mengikat hatinya, “San. Maukah menikah denganku?”
San mengangguk antusias di tengah tangisannya, masih tak kuasa untuk berucap sebab kata-kata terjebak di lehernya. Tangannya bergetar ketika ia memasangkan cincin pada tangannya di si manis milik Seonghwa dan menyatukan tangannya setelahnya. Kedua bersatu kini.
“Jawab dulu?”
“Aku, Choi San, menerimamu, Park Seonghwa, sebagai suamiku. Aku berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Aku akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya.”
Dor.
San terjatuh dari kursinya, ketika sebuah bunyi ledakan kecil tepat di telinga. Seonghwa menangkap San, membuat keduanya terhuyung ke lantai dengan keadaan San berada dalam pangkuan sang calon suaminya. Keduanya dihujani kertas berwarna-warni, pelakunya sudah pasti Byul yang menebaki mereka dengan konfeti.
“─selamat?” Seringai terpampang jelas pada anak lelaki itu.
Lupakan konfeti, ia menghambur beri pelukan pada dua orang dewasanya. Kini bertiga berpelukan di atas lantai, Seonghwa harus menangkap kedua-dua, kali ini tidak akan membiarkan siapa pun lepas dari genggaman.
Seonghwa, San, dan Byul tertawa.
Bertiga tertawa, bahagia.
“Kalau begitu, aku pulang ke rumah.”
San dan Byul beradu tatapan, durja berbagi mesem dan kembali berikan binar manik obsidian mereka pada Seonghwa, “Selamat datang, Ayah.”
Like a movie, like a lie. I’m holding your hand right now. Like a child, I desperately wanted. This moment that I dreamed of, you and I.
Walau menunggu lima belas tahun lamanya, San selalu menerima Seonghwa. Mimpi yang sempat terkubur, kembali datang ke permukaan dengan harapan nyata. Semua perasaan yang tertutup untuk sosok sempurna yang ia hadirkan kepada orang tua, sudah ia tinggalkan.
San tidak menyesali, walau menunggu lima belas tahun.
Menunggu tiga puluh tahun.
Menunggu lima puluh tahun.
Menunggu ajal pun ia akan lakukan.
Untuk bersama Seonghwa, ia lakukan.
Tanpa ragu, Seonghwa akan melakukan hal yang sama.
Dan Byul, akan mempertahankan kebahagiaan keduanya.
Bertiga, melawan dunia, sekali lagi.
@hwasaurus's notes Terima kasih sebelumnya sudah sempatkan membaca cerita ini. Saya agak ragu bagaimana mengakhiri cerita ini. Sebelumnya, ada alasan mengapa saya memilih lagu Ikat Aku di Tulang Belikatmu. Ketika Seonghwa menyanyikan lagu ini pernikahan San, sebagai hadiah, sebenarnya lagu itu adalah sebagai tanda hubungan mereka memang tidak akan berakhir bahagia walau kemana-mana berdua, seperti arti dari lirik dari lagu yang saya gunakan. Tapi, sedikit saya ingin berikan kebahagiaan, sudahi dulu sedihnya.
Semoga kalian tidak lelah dengan cerita yang saya suguhkan. Boleh berikan kritik dan saran pada secreto yang tertera di bio, atau quote.