Night Call

”Hallo, Seonghwa, maaf mengganggu—“

Hongjoong tidak menyangka ia akan membuat panggilan telepon pada Seonghwa di tengah malam. Dua maniknya pandangin pemandangan di luar kaca jendela. Di bawah sana hanyalah jalan yang masih ramai walau pagi bisa menjemput kapan saja. Kepalanya penuh, mentalnya lelah, ia butuh berlabuh sebentar saja. Tidak meminta lebih dan menghubungi Seonghwa adalah pilihannya.

Hongjoong?” Seonghwa memanggil namanya dengan tanda tanya, seolah terkejut siapa yang menghubungi di puncak malam.

“Apa kau tertidur?” Hongjoong memainkan batang rokok tak berapi dengan ujungnya yang bebas.

Tidak. Jika iya, maka aku tidak akan menjawabmu.” Seonghwa terkekeh di akhir jawabnya. Hongjoong dapat membayangkan lelaki itu tengah tertidur di ranjangnya, memandang langit-langitnya di tengah kegelapan malam. Seonghwa akan memeluk boneka beruang yang diberikan Hongjoong ketika perayaan hari jadi mereka yang kelima.

Kenapa menelpon?” Seonghwa bertanya.

Hongjoong alihkan pandang pada tangannya yang kini mengapit rokok di sela jemarinya, “Aku sedang lelah.”

Seonghwa mengumbang panjang, mencoba mendengar lebih suara Hongjoong. Menantinya untuk menceritakan lebih banyak hal.

“Aku ... aku lelah dengan beban yang diberikan. Aku tidak bisa, Seonghwa. Aku benci terlihat lemah.” Suaranya tak gentar, tapi untuk mengucapnya jelas Hongjoong butuh usaha lebih.

Aku benci terlihat lemah juga ucapan yang berlaku jika ia berhadapan dengan Seonghwa. Ingin rasanya menghambur pada Seonghwa, tidak ingin berucap hanya ingin sebuah rengkuhan dan meluruhkan seluruh air matanya pada dada pemuda yang satu.

Hongjoong... “ panggil Seonghwa.

Hongjoong menunggu.

“Sebenarnya aku tidak tahu harus membalas apa. Kamu ingin aku menjawab apa?” tanya Seonghwa, tahu betul terkadang kata-kata penyemangat bukanlah yang Hongjoong butuhkan. Hongjoong memang sudah lelah dengan kata-kata semua akan berlalu pada waktunya. Lelah dengan waktu yang nampak tak berhilal, tak memilik ujung terkecuali ajal menjemput.

“Distraksi, kau bisa berceritakan tentang harimu, Hwa.”

Hongjoong dapat melihat seringai pada wajah Seonghwa, Hongjoong tahu betul Seonghwa.

“Memang kau tertarik untuk mendengarkan ceritaku yang membosankan, Kim Hongjoong?” Hongjoong tertawa kecil, kenapa selalu Seonghwa merendah soal hidupnya yang luar biasa pada Hongjoong?

Park Seonghwa, 27 tahun, seorang manajer marketing di perusahaan e-commerce terkenal. Bertemu dengan banyak orang, dicintai banyak orang, dikelilingi orang yang mengenalnya. Semua orang tahu siapa dia. Hongjoong bukan apa-apa jika harus disandingkan dengan Seonghwa, lucu juga jika Seonghwa terus memilih Hongjoong berkali-kali.

“Mungkin sesuatu yang membosankan bagimu adalah hal yang menarik untukku,” tukas Hongjoong.

Seonghwa kemudian memulai ceritanya. Bagaimana ia melihat orang-orang berjalan dengan pakaian putih. Terkadang hewan-hewan juga berkeliaran dengan bebas. Seonghwa berkata, ia hari ini memiliki teman kucing hitam yang mengingatnya dengan Hongjoong, dengan rumahnya. Hongjoong yang mendengarkannya, beranjak dari tempatnya dan menaruh rokok di atas meja. Dirinya kemudian berpindah duduk ke tepi ranjang. Diusap-usapnya permukaan kasur yang berkerut.

“Lalu? Kau namai siapa kucing itu?” Agar tak membosankan, sesekali Hongjoong memberi respon atas cerita yang diberikan.

“Kunamai Hongjoong dan kucing ini tidak menyukainya. Katanya ia punya nama! San!” Seonghwa jawab dengan serius, mengundang gelak tawa dari Hongjoong seolah ia membayangkan Seonghwa berbicara dengan binatang kecil itu.

Seperti dulu.

Hongjoong memandangi nakasnya, rungu masih mendengar celoteh pemuda yang lebih tua. Di atas sana terdapat bingkai yang sengaja ia tutupi gambarnya, kemudian tangannya yang bebas mengulur untuk membenarkan posisi bingkai. Kini, terlihat foto Seongwa di ladang bakung lelabah merah. Jepang nampak asri kala itu, Hongjoong tak pernah bosan untuk abadi Seonghwa dalam bentuk gambar.

Tak terasa, waktu sudah tunjukkan pukul tiga pagi. Matahari terbit kapan saja, tapi Hongjoong tak membiarkan panggilannya terputus.

Hongjoong, sudah mau pagi.

Pagi selalu menjengkelkan. Hongjoong harus melakukan hal repetitif, bergelut dengan kewajiban, dan dihajar realita menyakitkan. Hongjoong membenci pagi, tapi tidak dengan mentari terbit. Hongjoong menyukai siluet yang hitam yang memudar biru seperti gelap berganti pilu, seolah menyadarkan ia harus kembali memangku beban yang ada.

“Sedikit lagi, Hwa. Sebentar lagi, aku mohon.”

Bisa terdengar Seonghwa menghela napas, dilema antara ingin tetap menemani atau menyuruh Hongjoong untuk tertidur barang sebentar saja. Hongjoong lagi-lagi tahu, Seonghwa akan mengomelinya, membuatnya harus mendengarkan ocehan tentang kehidupannya yang tidak sehat.

Baiklah, lima menit lagi akan ditutup.

Hongjoong mengangguk, ia tahu Seonghwa tak akan melihat senyum tipis yang terpasang di romannya yang telah lelah.

“Hwa, kali ini biarkan aku yang berbicara.”

“Aku ... ” Hongjoong menjeda, “ ... sangat berterima kasih kamu selalu mengangkat teleponku ketika semua itu hal yang tak mungkin.”

Seonghwa terdiam, maka Hongjoong melanjutkan ucapannya.

“Terima kasih sudah menemaniku beberapa hari terakhir. Rasanya berat, Seonghwa. Berat sekali di sini, aku tahu aku bisa. Aku ... aku lelah dengan asumsi orang terhadapku.”

“Aku ingin istirahat, tapi pikiranku berkata tidak dan aku merasa, semua itu lebih baik ketika aku mendengarkan suaramu.”

Hening.

Tak disadari suara di luar sana sangatlah berisik jika tak ada suaranya, maupun suara Seonghwa juga. Benar-benar sungguh bisingnya ibukota dan Hongjoong baru menyadarinya, karena selama ini selalu merasa sepi.

Hongjoong.

“Seonghwa, aku berterima kasih ... “ “ ... aku mencintaimu ... “ “ ... dan aku minta—”

Klik.

“—maaf.”

Hongjoong belum sempat menyelesaikan perkataannya, panggilannya telah terputus. Ia memandang layar ponselnya, sebelum menaruhnya di atas nakas bersebelahan dengan bingkai foto.

I hope this time will last forever. I hope it’ll last forever, I hope you’ll be happy.


“Hongjoong menelpon siapa selarut ini?” Mingi bertanya pada Yunho, keduanya adalah teman satu kamar apartemen Hongjoong. Yunho yang tengah terduduk di ruang tengah, mematikan televisinya ketika melihat kepulangan Mingi.

“Seonghwa.” Suaranya pelan ketika menjawab, seolah nama itu ingin tidak terdengar siapa pun. Mingi jadi bertanya-tanya, kenapa Yunho harus mengecilkan suaranya.

“Siapa?” Mingi mengambil duduk di sebelah Yunho, melonggarkan dasi yang mengerat pada lehernya.

“Mantan kekasih Hongjoong ... “ “ ... yang meninggal setahun lalu.”