Underwater Love
Hongjoong pernah bahagia. Menjejaki hamparan pasir putih di pinggir pantai dengan kaki telanjang, deburan ombak ramai di telinga dengan iringan tawa dari dua orang; dirinya dan ia yang kini tak menemaninya. Ia pernah menatap dirinya dan bulan sabit pada wajahnya yang menggelap sebab punggung menghadap sang surya yang terbenam.
Hongjoong selalu bahagia.
Bersamanya ia selalu bahagia.
Bahkan, Hongjoong sendiri tidak tahu hidupnya seperti apa tanpa dia. Bagai mimpi memang, Hongjoong tak pernah sedikit pun memikirkan kehidupan sebelum bertemu dengannya, yang di kepala adalah bagaimana jika esok hari dirinya tak ada bersamanya?
Memang mimpi.
Orang-orang kerap bertanya padanya, “Siapa orang yang selalu kau ceritakan?”
Hongjoong akan menjawab dengan antusias, beri semangat di setiap kata-katanya, tapi tak sepatah kata pun yang akhirnya keluar dari bibir ranumnya. Hanya sebuah senyum dan tatapan penuh arti pada yang bertanya, berharap penuh agar orang lain mengerti ... terkadang ada sesuatu yang ingin banyak diceritakan, sayang, jikalau orang mendengar ceritanya akan menjawab, “Kau bercanda?”
Ia tidak mungkin bercanda.
Persepektif orang lain yang berujar demikian, seolah mengejek bahwa presensinya hanyalah mimpi, imajinasi, sebuah halusinasi sebab Hongjoong pernah kehilangan cinta pertamanya. Jika dirinya bersumpah untuk tidak pernah membual, setidaknya untuk semua tentangnya, Hongjoong akan mengiyakan tanpa ragu.
“Lalu, siapa namanya?”
Hongjoong mungkin tidak tahu namanya, tapi untuk cerita, ia mengetahui secara rinci. Bagaimana tangan hangat yang basah karena air menggiringnya menuju daratan, untuk tetap berdiri tegap dengan kedua kaki yang membantu Hongjoong memikul beban, mengingatkan hidup yang bergantung pada kedua paru sangatlah berharga.
Hongjoong memang pernah ada di batas ambang hidup dan mati, darat dan lautan. Hongjoong pernah berteriak di ujung tebing yang mengasihinya sebuah pemandangan lautan luas tanpa ujung, Hongjoong pernah berteriak, setengah memohon untuk ombak agar menelannya, melenyapkannya sebagaimana orang yang ia cintai menghapus dirinya dalam kehidupan mereka, memunculkan krisis nilai eksistensinya.
Doanya pernah terkabul.
Ucapan benar nyatanya adalah doa.
Dengan kedua tangan mencapai permukaan yang nihil keberadaannya, tengah lautanlah yang merenggut nyawanya. Pikirnya begitu, kalau tidak ada tangannya yang meraih dirinya, membawanya hingga menepi dan menyadarkan semuanya bukan mimpi.
Rasa tak tahu hanya buat perasaan lain muncul, penasaran memuncak. Tanpa ragu, sempatkan diri untuk berlari di tepi pantai untuk memastikan apa dan siapa yang menolongnya. Hongjoong jelas tahu surai biru bak warna langit cerah dimiliki penolongnya, tapi untuk sisanya ... ia tak memiliki petunjuk.
Hongjoong berteriak sekali lagi, tapi bukan pada tepi tebing. Separuh badannya basah karena air, ombak tak segan untuk menghempasnya. Kaki sigap untuk tetap berdiri, tak lagi-lagi untuk rasakan terombang-ambing terbawa arus.
“Pada siapa pun kamu!” “Terima kasih!”
Terima kasih sudah menyelamatkannya dari kebodohan.
Begitulah yang ia lakukan di hari itu, hari esoknya, hingga hari-hari yang tak dapat ia hitung lagi. Hongjoong terbiasa habiskan seperempat harinya untuk menatap mentari terbenam hingga sosok bulan yang malu-malu datang menggantung di langit malam , memaksakan diri untuk selesaikan pekerjaan di hari yang sama. Dilabelinya Hongjoong yang bukan lagi suka menunda-nunda dari rekan kerjanya.
Bercerita dirinya pada lautan yang tak memiliki telinga untuk mendengarkan seluruh ceritanya, yang semula dari sebuah teriakan ucapan terima kasih, Hongjoong jadi menceritakan bagaimana harinya. Harap-harap, orang yang menolongnya mungkin akan mendengarkannya. Walau tahu, itu mustahil.
Lagi-lagi asumsinya terpatahkan.
Hongjoong tidak pernah tahu jika legenda itu nyata hingga satu keajaibannya hadir di depan mata. Seolah menunggunya, seolah menjemputnya dengan senyum lebar yang hangat. Tangan itu terulur, siap menerima Hongjoong dalam rangkulan bersahabat.
Orang itu tak berkata apa-apa, tapi Hongjoong tahu, ingat betul tangan itu adalah tangan yang sama dengan penolongnya.
“Siapa namamu?” Acapkali Hongjoong beri tanya, tak buahkan hasil.
“Apa pun, panggil aku dengan apa pun yang kau inginkan.”
Hongjoong tak beri nama dan kerap memanggil kamu. Nama adalah doa dan Hongjoong tidak punya kekuatan untuk memberkahi orang lain, tak punya bakat, terlalu sial hidupnya. Tapi, bersamanya, ia selalu tersadar ada hal yang patut disyukuri.
Terlalu dini dikatakan cinta, Hongjoong terlalu takut untuk terjatuh kesekian kalinya. Terlalu sering hidupnya digunakan seperti boneka, dibuang semaunya setelah orang bosan terhadapnya.
“Aku datang bukan untuk mencintaimu.” “Aku datang agar kamu mencintai dirimu sendiri.”
Klise.
Hongjoong akan menyanggah dengan tawa, tanpa sadar hatinya singgah di tiap kata-kata manis yang dibuaikan oleh lelaki yang lain.
Hongjoong bertanya di suatu hari, “Bagaimana jika aku mencintaimu?”
“Memang kamu sudah mencintai dirimu sendiri?”
Belum.
Hongjoong ingin menjawab.
Sejak kapan manusia mencintai diri sendiri tanpa rasa takut mengejar?
“Jangan takut.” “Mana rasa percaya dirimu ketika terjun dari tebing tanpa mengedipkan mata?”
Hingga sekarang, Hongjoong tak enggan menjawab tanya itu. Membiarkannya berlalu dengan semilir angin yang mengacak rambut keduanya.
“Kamu ini sebenarnya apa?” Hongjoong alihkan tanya pada hal lain.
“Apa kamu percaya pada legenda?” “Jika aku katakan diriku adalah salah satunya?”
Siren adalah legenda.
Itulah dirinya.
Untuk apa seorang siren menolong anak manusia, sedangkan tugasnya adalah menenggelamkan mereka yang melewati batas kekuasaannya. Hongjoong melewati batas itu, tapi kenapa dia ada di sana mengulurkan tangan?
“Legenda tidak sejahat itu ... “ “ ... maka dari itu mereka dikatakan legenda.”
Bibir tipisnya tuai senyum, seolah ada sesuatu yang ia ingin siratkan dari senyum itu.
Orang tidak akan percaya jika tidak melihat, merasakannya langsung. Memang manusia.
“Lalu, untuk apa kau menolongku?”
Jika Hongjoong memiliki hak untuk tidak menjawab tanyanya, maka hal itu berbalik kepadanya. Dia tidak menjawab, hanya menebar senyum dan alihkan pandang pada rumahnya yang menggelap sebab malam tiba.
“Sederhana.” “Tidak ingin kehilangan tawamu.”
Sederhana katanya.
Tidak tahu bahwa alasan sederhana kadang tepat kena di hati, tepat menaikkan ego yang sempat hilang, menaikkan harga diri yang selalu dirundung tanya, “Apakah diri ini berhak mendapatkannya?”
Hongjoong benamkan wajah yang tersipu pada dia lututnya, tangan setia memeluk kaki untuk usir rasa dingin.
“Memang kau tahu siapa aku?”
Lagi, senyum penuh arti adalah jawabnya, tapi tak ada sepatah kata apa pun untuk berikan petunjuk. Hongjoong hilang arah dan jawab, tak dapat pecahkan kode yang diberikan lelaki di sebelahnya yang menatap langit yang kian menggelap, tak lagi seperti warna rambutnya yang mencolok, biru langit.
“Suatu hari kamu akan tahu jawabanku, tanpa perlu bertanya lagi.”
Tapi, kapan?
Hongjoong tak bertanya lagi.
Hanya terhanyut pada suara deburan ombak yang menghantam batu karang tanpa ragu.
Begitulah, kehidupan mereka berdua. Lelaki yang lebih tinggi selalu di pinggir pantai lebih dulu, duduk tanpa alas dan membiarkan pakaian yang dikenakannya kotor karena pasir yang menepel dengan lekat. Hongjoong terbiasa untuk disambut oleh dia, pula dengan bau laut menyengat dan memabukkan. Anehnya, Hongjoong tidak merasa mual, melainkan merasakan aman. Jika dibandingkan dinginnya air laut, bau yang diberikan lebih mengingatkannya pada rumah.
Sejak kapan Hongjoong dapat jauh-jauh dari laut? Masa kecilnya pun besar di pinggir pantai sebagaimana kedua orang tuanya adalah nelayan setempat. Memang memuakkan dan suntuk untuk tetap bertahan di kampung halamannya, tetap saja ia mencari kota besar pinggir pantai untuk menstabilkan hidup.
Hongjoong acap bertanya hal-hal yang membuatnya bingung dengan dirinya. Seperti bagaimana anak adam yang satu ini dapatkan pakaian manusia, bagaimana ia memahami bahasa manusia, dan hal-hal yang terkadang tak dapat jawaban yang memenuhi ekspektasinya.
“Semua itu magis.”
Benar, apalagi keberadaannya juga magis. Magis bagi hidupnya.
Mereka membicarakan banyak hal, di hari lain mereka bisa diselimuti keheningan yang nyaman bagi keduanya. Hongjoong pernah mengajaknya untuk ikut ke tempat ia menetap, tapi ditolak jelas. Siren tak bisa jauh-jauh dari laut, katanya. Maka, Hongjoong tak meminta lebih lanjut.
Setiap tidurnya, Hongjoong selalu memikirkan apa yang harus ia lakukan ketika bertemu kembali. Ternyata lebih melelahkan untuk memutar otak agar ia dapat membahagiakan sosok yang lain.
“Kau tidak perlu susah-susah melakukan hal ini.“
“Aku melakukannya karena ... ” aku menyukaimu. “ ... aku bahagia bersamamu.”
“Apakah dengan membahagiakanku, kamu mencintai dirimu sendiri?”
Hongjoong mengangguk pelan dengan kedua ujung bibirnya terangkat lebar, “Aku sedang berusaha!”
Semangat dijawabnya. Meskipun sempat lupa bagian ia menunggu Hongjoong untuk mencintai dirinya sendiri. Hongjoong sadar kebahagiaannya juga menjadi prioritasnya untuk beberapa waktu terakhir, kebahagiaannya pulalah yang membuatnya sadar kalau hidupnya tidak sia-sia di alam semesta ini.
Kalau kata orang lebih baik pikirkan kebahagiaan kita sendiri, tanpa disadari kebahagiaan kita kadang bergantung pada kebahagiaan orang lain. Begitulah Hongjoong, bisa-bisanya juga ia tanpa takut membiarkan kata-kata itu ia serap tanpa memaknai lebih lanjut.
Ia percaya apabila bahagianya bisa bertahan lama.
Sayangnya tidak semudah itu. Semesta tidak bermurah hati segampang itu.
Hongjoong bahkan belum mencintai diri sendiri sepenuhnya, perpisahan sudah menyambut. Tak dapat dipungkiri, sedih merundungnya. Air mata tak dapat dibendung.
“Besok aku akan pergi.”
Hongjoong tak beri tanya kemana bocah lanang itu akan pergi.
“Tidak jauh.” Seperti dapat membaca air mukanya, ia berujar.
Diberikan sebuah cincin dengan satu batu berwarna biru yang mengingatkannya pada surai pemberinya. Dibantu dirinya pula dipasangkan di jari manis Hongjoong, bergetar tangan itu untuk menerimanya. Tangisannya mengguncang seluruh badannya, tak terima Tuhan memisahkannya dengan orang yang sudah ia coba sayangi dan pertahankan.
Mempertahankan orang saja tak becus.
“Ini bukan salahmu, Joong.” “Ini bukan perpisahan.” “Aku belum ucapkan selamat tinggal bukan?”
Hongjoong mengadah pandang hingga maniknya bertemu manik yang lain, menyorotinya hangat berikan kepastian jika apa yang dilaluinya bukanlah sebuah perpisahan.
“Aku hanya pergi.” “Memang tak berjangka, hanya saja semua itu sementara.”
Seperti pertemuan kita yang sementara, huh?
Hongjoong tak kuasa melakukan apa pun selain memberikan anggukan kepala, mempercayai ucapan dia tanpa ragu. Apakah sifat yang mudah taruh rasa percaya inilah yang membuatnya mudah dipermainkan?
“Berjanji padaku, Joong.” Diacungkan jari kelingking kanan olehnya.
Tak paham, Hongjoong pandangi dengan penuh tanda tanya.
“Ketika kita bertemu kembali, kamu sudah mencintai dirimu sendiri.”
Kembali ragu, tapi Hongjoong menautkan kelingkingnya pula.
“Aku berjanji.”
Dan esok harinya, tak ada lagi yang membuatnya menunggu di pinggir segara yang tak pernah berhenti untuk membasahi bentangan pasir putih.
. . .
Hongjoong tentu menepati janji. Ia adalah orang memegang penuh semua janji, berpegang teguh jika suatu hari memang akan ditagih oleh yang bersangkutan. Memang sepenuhnya mencintai diri sendiri tidak akan sepenuhnya, setidaknya tak ada lagi sosoknya yang harus dirundung rasa sedih.
Tak ada lagi kata, “Kalau kata orang lebih baik pikirkan kebahagiaan kita sendiri, tanpa disadari kebahagiaan kita kadang bergantung pada kebahagiaan orang lain.”
Sedikit, ia mengubah bagaimana cara pandangnya, “Kalau kita sudah bahagia dengan diri kita sendiri, maka berbagilah bahagiamu dengan orang lain.”
Yang terpenting kebahagiaan diri sendiri terlebih dulu.
Dalam posisinya yang sekarang, sudah lima tahun berlalu. Dirinya belum juga tumbuh satu senti pun, tapi kini jabatan manajer ada di tangan. Bagaimana ia menemukan orang baru untuk dipekerjakan tiap harinya, juga orang yang hadir menemani hari-harinya.
Hongjoong masih memikirkan bagaimana kehidupannya sekarang.
“Pak, sudah dengar anak magang di divisi sebelah?” Jongho, salah satu bawahannya membuka pertanyaan, sekadar basa-basi yang senang dilakukan keduanya.
“Di tempat Yeosang?” Jongho mengangguk, “Siapa namanya? Sepertinya akhir-akhir ini aku menetap di bilikku saja.”
“Jeong Yunho. Orang bilang tampan sekali dan itu benar,” jawab Jongho sembari berikan sebuah kedipan mata pada atasannya, isyaratkan sesuatu. Hongjoong memutar bola matanya, ia tahu kemana percakapan ini akan bermuara.
“Lebih baik kita membuat kopi, sebelum ucapanmu tambah ngawur.” Beranjak keduanya, beriringan menuju pantri. Hendak keduanya berbelok untuk masuk ke dalam pantri, tempat itu sudah dipenuhi dengan banyak rekan wanita yang tak dikenalnya. Beramai-ramai mengerubungi seseorang bagai semut yang berlomba-lomba mengejar gula.
“Permisi, saya harus kembali kerja.” Sebuah suara menarik atensi Hongjoong, suara itu tak asing. Dari pandangannya, ia tak dapat melihat siapa yang berucap karena wanita-wanita yang menghalangi jalannya. Orang itu berambut kecoklatan, menyebarkan wangi khas laut yang terpapar sinar mentari─Hongjoong menarik napasnya.
“Oh! Jeong Yunho!” sapa Jongho.
Yang terpanggil menengok dan napas Hongjoong terhenti.
Dia ada di depannya dengan setelan pakaian rapi, surai yang menggelap coklat, dan senyum yang tak pernah berubah. Setelah lima tahun, wajahnya lelaki itu masih sama.
“Oh ... ” Lelaki itu kini berdiri di antara dua Hongjoong.
“Yunho.” Hongjoong memanggil. Masih tak dapat bernapas dengan baik.
Pemuda yang memiliki nama Yunho itu tersenyum lebar, lahirkan tanya pada Jongho yang menemani Hongjoong, “Halo, Hongjoong.”
Hongjoong tanpa ragu memberikan pelukan pada Yunho, erat tak ingin lepas. Jongho mendengus, mengutuk sesuatu. Meninggalkan keduanya dan mengusir kumpulan rekan kerja yang lain. Tersisa Yunho dan Hongjoong di pantri dengan Hongjoong yang berjinjit agar kepala dapat berlabuh pada ceruk leher lelaki yang kini melingkarkan tangan pada pinggangnya.
“Apakah sekarang aku boleh mencintamu?”
Dan Yunho membisikkan sesuatu untuk berikan jawaban.
. . .
Writer's note:
Jadi sebenarnya ini hanya dari perspektif HJ, disengajakan banyak sesuatu yang hilang agar kalian bisa mengimajinasikannya sendiri (walau sebenarnya si saya juga sedang tidak ada otak untuk merangkai kata apalagi alur cerita, jadi kalau memang gak nyambung dan tidak jelas, itu terverifikasi.)