Good Morning

Bangun pagi tidak pernah indah bagi ia masih memiliki tanggungan hidup untuk dipikirkan. Begitu juga dengan Choi Jongho yang harus menyambut diri dengan sekolah. Ia masih harus pergi ke neraka (“Benar, sekolah ada neraka.”), mengikuti pelajaran yang tidak mungkin masuk ke otaknya selama delapan jam lamanya, pula dibanjiri tugas yang mungkin tak akan disentuhnya hingga deadline menjemput.

Choi Jongho, pekerjaan siswa menengah atas, umur delapan belas tahun.

Ia hanyalah siswa tingkat akhir di sekolahnya, yang harusnya sudah siap mengurusi apa yang akan dilakukannya sekelarnya sekolah. Menjadi mahasiswa untuk ambil gelar, lalu bekerja? Melelahkan, kenapa hidup manusia begitu monoton?

Jongho kerap bertanya, hidupnya terlalu monoton apabila tidak ada orang di sebelahnya, yang telah menghilang dengan tinggalkan bekas kusut di atas kasurnya.

Jongho menghela napas, satu hari lagi ia harus pikirkan realitas dulu. Beranjak untuk membersihkan diri untuk sekolah, jam dinding sudah tunjukkan pukul enam pagi, masih ada dua jam hingga ia masuk kelas. Berbalut seragam putih yang ia kenakan, ia pergi keluar dari kamarnya untuk menyambut wangi roti bakar yang menyeruak.

“Selamat pagi!” Sebuah sapa buat diri tersenyum.

“Pagi, Sayang.” Jongho menyambut, beri sebuah pelukan pada pinggang lelaki yang sibuk mempersiapkan sarapan dari belakang.

Sejauh ini, presensi lelaki dalam dekapan adalah yang membuatnya sanggup untuk terus menyapa mentari di pagi hari. Kim Hongjoong, pemuda berumur dua puluh tahun adalah tunangannya atas perjodohan yang dilakukan keluarganya.

Terima kasih, Tuhan, setidaknya ia mendapatkan lelaki yang terbaik dari yang terbaik.

Jongho melepaskan pegangannya, tidak ingin mengganggu kegiatan yang menghambat Hongjoong dari urusan rumah tangga. Tiga bulan terakhir memang mereka dipaksakan untuk tinggal bersama, beruntung tidak ada kata keberatan di antara keduanya dan keadaan rumah selalu terlihat seperti ini.

Jongho yang sibuk dengan sekolahnya, pergi dan pulangnya selalu disambut Hongjoong yang mengurusi rumah tangga di sela-sela kegiatan kuliah dengan jadwalnya tidak menentu. Dirinya tidak tidak pernah memimpikan ini dalam daftar keinginan, tapi yang telah terjadi dan biarlah terjadi.

Tidak menyesal, malah bersyukur.

Hongjoong memberikan piring di depan Jongho yang tengah bertopang dagu di atas meja, netra tak pernah lepas dari sosoknya.

“Makan dulu, jangan bengong.” Hongjoong perlu mencubit gemas pipi milik tunangannya.

Jongho memajukan bibir bawahnya, beri kode ia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil─bercanda, ia menyukainya ketika Hongjoong beri perhatian lebih.

“Terima kasih.” Menyuapi diri dengan roti.

Hongjoong anggukan dengan semangat─hingga Jongho harus bertanya, yang anak kecil dirinya atau pemuda yang duduk di seberangnya?

Berapa juta watt senyumanmu, wahai oknum Kim Hongjoong?

Tak peduli, Hongjoong adalah miliknya untuk saat ini. Senyum itu miliknya dan akan terus menjadi miliknya.

“Habis ini kita berangkat, aku antar ya?” ajak Hongjoong, memperhatikan Jongho yang selalu menyukai apa pun yang dibuatnya.

“Tentu, masa menolak?”

Begitulah mengapa Jongho berada di parkiran sekolahnya dengan Hongjoong di kursi pengemudi. Keduanya melepaskan sabuk pengamannya.

“Dompetnya sudah? Ponselmu sudah?” Hongjoong bertanya pada Jongho yang baru saja beranjak dari tempat, pintu mobil sudah terbuka seperempat.

Manik tatap roman yang lain, sebelum terperanjat kaget bersamaan dengan tangan yang terangkat di depan mulutnya, “Astaga aku melupakan sesuatu!”

Hongjoong lantas panik, mengikuti alur permainan Jongho, “Lupa apa? Lupa apa?”

Tangan sudah ada di kunci yang masih tersangkut di tempatnya, siap untuk menyalakan mesin kembali.

Jongho ulurkan tangan pada belakang kepala Hongjoong, menariknya untuk menepis jarak antara kursi pengemudi dan penumpang sebelahnya, “Bercanda.”

Diberikan kecup singkat pada pipi Hongjoong dengan bonus pemandangan pipi yang merona yang dipersembahkan oleh Hongjoong yang nampak bingung dengan situasi.

“Jadi ... ?”

“Yang ketinggalan itu daily cheek kiss!” Lepaskan kekehan yang membuat jantung Hongjoong tak berhenti berdegup kencang, belum lepas rasa paniknya, sekarang panik akan hal lain.

“Astaga. Nakal, ih.” Hongjoong menggoyangkan kasar tubuh Jongho, sang tunangan tak berhentikan tawanya yang nampak puas. Hongjoong membalas berikan kecupan singkat pada bibir Jongho, barulah pemuda itu diam.

“Balas dendam, ha!”

Jongho jadi membatu di tempat, karena ... itu ciuman pertamanya.

“Hongjoong. That's my first kiss─

Good,” ucap Hongjoong, menjulurkan lidahnya, “and I'll be your last kiss too!”

Jongho jadi gemas, lihat durja yang bersemi di tengah musim gugur.

“Terima kasih.” Ingin rasanya meraih Hongjoong, sekali lagi beri kecupan pada bibir gemasnya. Kalau saja bel sekolah tidak berbunyi nyaring hingga kagetkan ia yang baru saja mendekatkan diri pada Hongjoong.

“Brengsek, telat.” Jongho keluar dari mobil segera, kali ini sungguh panik. Senang melihat Jongho kesusahaan di tempat merapikan pakaiannya, sosok murid teladan sekali.

“Sampai bertemu lagi.” Hongjoong juga ikut keluar dari mobil, semilir angin dingin menerpa wajahnya yang masih tatapi sosok Jongho.

“Ya, sampai jumpa lagi, Pak Guru.” Jongho berlari, kejar kelasnya yang berada di lantai tiga─pagi-pagi sudah diberi cobaan untuk berlari agar tidak telat.

Hongjoong melambaikan tangan pada punggung yang menjauh, berlari kencang mengejar keterlambatan. Berbisik dirinya pada angin, “Benar, sampai jumpa di kelas.”

Kim Hongjoong, pekerjaan mahasiswa jurusan Pendidikan, pekerjaan lain menjadi guru magang pelajaran Fisika, umur dua puluh tahun.