曼珠沙華

flower of the heavens

Fallingforyou


Yunho datang, membuka pintu kamar Mingi dengan lebar dan kasar. Sedikit ikut mendobrak kewarasan lelaki Song yang tengah mengerjakan tugas kuliahnya yang mepet dengan batas pengumpulan. Mingi hanya menatap Yunho, memberikan tatapan penuh tanda tanya sebab yang dilihatnya adalah lelaki berambut biru dengan pipi yang basah dan memerah. Cukup berbeda dengan lelaki yang ia lihat pagi ini, yang bersemangat mengatakan Seonghwa ini, Seonghwa itu sambil melompat kecil di depannya semenjak seminggu lalu.

Mingi menghampiri Yunho yang sudah ambil tepi ranjangnya tanpa berkata, mencoba membantu ia yang belum melepaskan sepatunya dan meninggalkan jejak kotor di atas lantai polivinilnya. Menghela napas, ia bisa membersihkan itu nanti. Yang di kepala adalah ia harus membersihkan Yunho terlebih dahulu, ia nampak berantakan─tidak seperti biasanya.

“Kenapa?” Mingi beri tanya dengan tangan coba usap pipi merah pemuda di depannya. Menghapus air mata yang membekas dan sedikit lendir dari hidungnya dengan tisu.

“Pergi senang, pulang nangis.” Mingi melanjutkan omelannya, tak biasanya ia melihat Yunho dalam keadaan seperti ini─terakhir, ia menangis karena ikan cupang biru yang dipeliharanya raib oleh Byeol, kucing kesayangan San.

“Seonghwa ... ” Yunho coba jawab, tapi terhenti dengan cepat. Mungkin ia mencari kata yang tepat, Mingi berpikir demikian sambil menyisir rambut Yunho dengan kedua tangannya.

” ... selama ini dia sudah berpacaran dengan Hongjoong.” Tangannya berhenti, terperanjat di tempat dengan ucapan Yunho selanjutnya─tak menyangka, firasatnya tentang Seonghwa dan Hongjoong memang benar.

Atau mungkin Yunho denial perihal itu?

Si wira yang lebih tinggi tertawa, terpaksa─Mingi dapat mendengarnya dengan jelas. Suara tawa yang mengiris hatinya sedikit, sebagai teman ... atau lebih tepatnya sebagai seseorang yang mengamati, menyukai Yunho dalam diamnya, melihat orang yang terkasih sakit tentu ada rasa yang mengikuti.

“Mungkin seharusnya aku lebih pintar gak sih?” tanya Yunho, berharap Mingi mengeluarkan sarkasmenya atau membuatnya semakin sedih karena kebodohannya.

Nihil, Mingi hanya meremas kedua tangannya, berikan sesuatu yang Yunho sendiri tidak dapat pecahkan dari kedua mata di balik kacamata itu. Mingi di lain sisi tahu rasanya ... ah─sebenarnya mereka sama-sama bodoh tidak sih? Seperti cinta Yunho yang tak terbalaskan oleh Seonghwa dan dirinya sendiri kepada Yunho? Lebih bodoh dirinya, karena ia menyukai Yunho sejak lama ... mengalahkan lamanya Yunho membicarakan rasa sukanya pada Seonghwa yang baru-baru ini menjadi teman satu klub di kampusnya.

Dunia itu rumit ... kalau ada cinta.

“Ming?” Yunho memanggil, melambaikan satu tangan di depan wajah temannya yang asyik tenggelam dalam pikirannya.

Mingi tersadar dari lamunannya dan hanya balik bertanya, “Oh, ya udah, terus kamu mau gimana?”

“Entah, meratapi kesedihan?” Mingi tersenyum simpul dengar jawabannya diikuti tepukan pada bahu. Mungkin ini saatnya? Saatnya ia mengambil kesempatan ini?

Apakah ini tidak masalah?, Mingi bertanya pada dirinya sendiri, Memanfaatkan rasa kesedihan orang lain, huh?

Mingi lagi-lagi menggelengkan kepala, lepaskan dirinya dari angan-angan kebodohannya. Fokusnya adalah untuk membahagiakan Yunho terlebih dulu, soal dirinya bisa nanti. Setidaknya, menyingkirkan Seonghwa perlahan dari kawannya.

“Lebih baik kau ikut denganku. Minggu malam ada acara yang ingin kuhadiri,” ajaknya, “band-nya Wooyoung dan Yeosang akan tampil di pusat kota.”

Pikirnya, mengajak Yunho untuk pergi setidaknya ide yang bagus. Menjauhkan dari kegiatan yang bersangkutan dengan Park Seonghwa. Menjauhkan dari pikiran yang membuat Yunho kembali ke orang yang salah.

Tahu darimana Seonghwa orang yang salah. Mimpi saja kamu, Gi.

Mendengar nama Wooyoung dan Yeosang, Yunho mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Wooyoung dan Yeosang ini masih satu lingkar pertemanan dengan mereka. Sayangnya, dua sejoli ini berbeda fakultas dengan jadwal yang berbeda pula, rengganglah interaksi mereka di tahun ketiga. Kesempatan untuk bertemu keduanya, tentu tidak akan disia-siakan.

Berseri dirinya, tebarkan satu senyum lagi pada sang kawan, “Baiklah. Sekarang ayo kita makan malam dulu.”


Akhir pekan datang begitu cepat bagi Mingi, tidak bagi Yunho yang meratapi tiap langkahnya dengan Seonghwa dalam benak. Mingi lagi-lagi jadi bahu sandaran pada malam yang buatnya tak bisa tertidur untuk temani ia yang kehilangan, kehilangan kesempatan, kehilangan orang yang disukanya.

Ini demi Yunho, sekali lagi ia meyakinkan dirinya lebih kuat.

Mingi siap dengan pakaiannya yang disengajakan terlihat lebih rapi dari biasanya. Ketika Yunho datang, ia cukup menggunakan sepatunya dan berangkat pergi ke tempat yang dituju.

Acara yang dihadiri sebenarnya hanyalah acara fakultas Wooyoung dan Yeosang, Fakultas Sastra dan Budaya. Pantas ramai, acara ini memang seperti acara tahunan dengan segudang artis yang dijadikan tamu penampilan. Tiket yang diberikan cuma-cuma serasa patut disyukuri Mingi dan Yunho, tak perlulah mereka mengantre pada tempat pembelian tiket yang luar biasa panjangnya.

“Terima kasih, Ming.” Mingi menengok ke arah Yunho ketika masuk ke dalam area terbuka, tepat di depan panggung. Seulas senyum diarahkan kepadanya buat bersemu secara instan, tapi mencoba untuk tak memperlihatkannya.

Beruntung keadaannya remang.

Keduanya pun memutuskan untuk berkeliling sejenak sebelum acara utamanya mulai dan bagi Mingi, ada untungnya ia mengajak Yunho untuk keluar di Minggu malam. Tiga bulan Yunho menyukai Seonghwa ... bisa dirasakan sedikit kontak mereka menyurut yang tidak diikuti dengan surutnya perasaan Mingi pada Yunho.

Hanya lagi, Yunho datang kepadanya ketika ingin membicarakan Seonghwa saja. Apakah ini pemanfaatan atas perasaannya? Yunho tidak tahu perasaannya, mana mungkin ia dimanfaatkan.

Benarkan?


Mingi dan Yunho kembali ke panggung utama, sedikit mengambil jarak untuk hindari huru-hara. Mingi tahu, Yunho membenci suara bising berlebihan dan mengajak lelaki itu dekat dengan pengeras suara hanya akan membuatnya dibenci seumur hidup.

Yunho menaruh perhatian lebih pada penampilan yang disuguhkan, tidak dengan Mingi yang lebih memilih memperhatikan lelaki di sampingnya bereaksi. Ketika Yunho berikan senyum dan tepuk tangan, tak bisa hentikan Mingi untuk refleks melakukan hal yang sama, tapi netranya ... tak pernah melepas dari roman yang ia kagumi.

Ketika Wooyoung dan Yeosang naik di atas panggung mendapatkan giliran pun, Mingi tak berikan atensinya. Seluruhnya dicuri oleh pemuda Jeong yang masih setia di sebelahnya. Padahal, Wooyoung sudah berjanji bawakan lagu khusus untuknya─lagu yang mungkin bisa membantu Mingi untuk nyatakan perasaannya kepada pemuda yang setidaknya ia sukai sejak usianya tujuh belas, lima tahun lamanya, lima tahun penantiannya, lima tahun ia merasakan bagaimana ia harus menghidari semua topik percintaan yang dilontarkan, lima tahun ia sakiti orang yang menyukai dan memilih Yunho lagi dan lagi.

Apa yang sebenarnya membuat ia menyukainya? Apa yang sebenarnya membuat ia terus bertahan pada sesuatu yang tak pasti? Apa yang membuatnya rela untuk menemani ia yang menyukai orang lain, menemani ia di kala sedih bukan untuknya, menemani ia yang tersenyum bukan kepadanya?

Kadang, sebuah tanya tak perlu jawab.

Atau kita tahu jawabnya, tapi tak mengindahkannya?

Sumber pencahayaan kini hanya dari panggung, buat suasana semakin syahdu dengan gaduhnya sorak-sorai dari pengunjung lainnya. Ketika suara gitar yang Yeosang pegang mengawali, barulah orang terdiam untuk nikmati penampilan yang ditawarkan.

Lagu yang dibawakan tentu saja lagu yang dibanggakan Yeosang, lagu dari band The 1975 yang sudah setahunan ini menjadi bahan pembicaraannya. Heart Out adalah lagu pembuka, jujur, Mingi cukup menyukainya pula nikmati─terkadang, ingin memuji selera musik Yeosang yang berbeda jauh dengannya, bisa-bisanya ia menemukan lagu seperti ini.

It's just you and I tonight. Why don't you figure my heart out?” Sang vokalis, yang tak salah ia ingat bernama Choi Jongho─Jongho, patut diacungi jempol kemampuannya.

Lirik dan atmosfer mengguncangkan pikiran Mingi, Oh ini lagu yang dimaksudkan Wooyoung untukku?

Mingi membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, tapi tak ada. Tercekat di antara pita suara dan sel-sel otaknya.

Tidak sekarang.

Ia kembali menunggu, terlalu awal untuk mengucapkannya. Yunho juga terlihat lebih fokus pada penampilan, Mingi tidak ingin mengganggunya dan membiarkan lagu berikutnya dibawakan sang penghibur acara.

“Berikutnya adalah lagu untuk Choi San yang di sebelah sana!” Wooyoung berteriak pada pengeras suara di depannya, menunjuk-nunjuk posisi yang tak jauh dari tempatnya─oh, ternyata Choi San juga datang bersama orang yang tak begitu dikenalnya.

Sepertinya Wooyoung memang menerima banyak permintaan titipan lagu. Apakah acara ini memang ajang untuk mengutarakan perasaan?

I know I'll fall in love with you, baby. And that's just what I'll do.

Lagi-lagi lagu yang tidak pernah ia telusuri, The Neighbourhood berjudul Cry Baby. Penasaran dengan selera lagu Yeosang dan Wooyoung di titik ini, wajar jika memang band mereka banyak disukai. Selain sediakan tampang yang mencuci mata, semuanya sangat bertalenta dengan selera musik yang patut dipertanyakan.

“Lagunya bagus ya?” Yunho akhirnya membuka topik pembicaraan, menunjukan satu jarinya ke arah panggung, “Gak sangka Yeosang dan Wooyoung membangun grup band untuk menyanyikan lagu begini.”

Dengan balasan anggukan dan kekehan kecil, sepertinya memang Yunho pun berpikiran sama. Memandang Yunho lama, hingga Yunho lagi-lagi menengok ke arahnya. Mengerjapkan mata penuh arti padanya, tapi Mingi menghiraukan.

“Aku suka ... ” kamu

“Hah?”

“Suka lagunya. Lagunya kayak buat orang jatuh cinta, tapi versi gaul.”

Lagi-lagi, bukan waktunya.

Dimana keberanianmu, Mingi?

Tak terasa lagu pun usai dan lagi-lagi Wooyoung merebut atensi dengan pekik bahagia tak terukur, “Ini lagu terakhir!”

Seruan pun dielu-elukan para penggemarnya (“Ya, sepertinya semua menyukainya.”). Yunho ikut bersorak dengan kedua tangan teracung ke atas, beri dukungan. Lantas Mingi mengikuti, tak ada yang bisa ia lakukan ... dibandingkan mati kutu, ya tidak?

“Lagu terakhir ini buat Song Mingi!” Dalam suara yang menggetarkan area, Mingi harus menutup wajahnya karena namanya diucapkan begitu kerasnya. Yunho tertawa ke arahnya, hingga ia jadi rebut atensi lain dari orang di sekitarnya.

“Lagu ini juga akan menjadi penutup bagi kami! Song Mingi, ucapkan sebelum terlambat!”

“Brengsek, Wooyoung.” Meruntuk dirinya, bersembunyi pada lengan bajunya penuh malu, tapi Yunho berikan sebuah tepukan ringan pada punggungnya untuk kembali pada lagu yang dihindangkan.

Lagu untuknya tak disangka bertempo lebih lambat dibandingkan dua lagu sebelumnya. Cahaya lampu berubah menjadi cahaya putih yang hangat, mengutarakan sebuah kesedihan─atau itu perasaannya saja?

Don't you see me I, I think I'm falling, I'm falling for you.

Dan pada pertengahan lagu, iringan drum ditemani dentuman. Hampir ia terjatuh di tempat, karena tak menyangka lagu penutup diberikan untuknya dengan sebuah hadiah kembang api menemani. Bising yang dihasilkan percikan jadi beradu dengan suara Jongho yang tetap bernyanyi. Sontak Yunho menganggumi bunga percikan api di atasnya, tetap Mingi berpikir tak ada yang mengalahkan binar dwinetra orang yang dipujanya.

Mingi acuhkan kebisingan serasa dunia berhenti. Detak jantungnya berpacu cepat dan mulutnya terbuka untuk kesekian kalinya, tapi kali ini ia berbicara ... mengutarakan apa yang ada di hati dan pikirannya.

I don't want to be your friend, I want to kiss your neck.

“Yunho, aku suka kamu.” Walau lemah dan dipastikan tidak terdengar karena kalah saing dengan ricuhnya kembang api dalam gaduhnya suasana, setidaknya ia sudah menyatakan.

Merekah, kedua ujung bibirnya tertarik ke atas hanya untuk Yunho yang bahkan tak memberikan barang sedetik perhatiannya. Maka, Mingi pun memutuskan untuk tetap diam dan berpikir rasa memang seharusnya tak perlu diutarakan. Mengalihkan pandang pada gelapnya permukaan yang ia pijaki.

“Mingi tadi kamu bilang apa?” Yunho bertanya dan memegang pergelangan tangannya seketika.

“Hah?”

“Hah, hah, mulu!” Yunho kini menghadap ke arahnya, sepenuhnya mata itu menusuk ke arahnya. Eratkan pegangan, tidak ingin Mingi kabur dalam waktu dekat, karena Yunho butuh jawaban, bukan sebuah pelarian dari tanya yang ia beri.

“Tadi kamu bilang apa?”

“Gak bilang apa─”

“Kamu suka aku─?”

Mingi membatu di tempat. Harap cemas, tanah di bawahnya melahapnya. Tapi, sudah bukan saatnya ia kabur dari situasi. Siapa tahu, memang ini kesempatannya. Siapa tahu, Yunho akan ...

“Iya.”

“Maaf, Mingi, tapi─”

... tidak, Yunho tidak memberikannya sebuah kesempatan. Detik berikutnya, ketika bagian akhir lagu dinyanyikan. Yunho melepaskan pegangannya dan berlari. Mingi tak mengejar, hanya menatap punggung yang kian menjauh. Mata pun tak lagi sempat bertemu, Mingi tahu ... menyukai orang yang menganggapmu teman, sepenuhnya sia-sia.

Ketika perasaan dinyatakan, kesempatan untuk merengkuh dan melepas ada di jarak tertipis. Mingi tahu, merengkuh Yunho adalah sesuatu yang tak mungkin, ia tidak selevel dengan Park Seonghwa, mana mungkin ia mengalahkan lelaki yang menyusupi pikiran sang kawan, mana mungkin. Mingi tahu, melepas pasalnya akan lebih mudah.

On this night, and in this light. I think I'm falling ... “ “ ... I think I'm falling ... “ “ ... I'm falling for you ... “ “ ... And maybe you, change your mind.

Dengan hilangnya Yunho dari pandang, Mingi tahu. Sesuatu yang tertahan, lebih baik terbebas dan mengikhlaskan ia yang tak ingin, lebih baik untuk memudahkannya berlalu.


@hwasaurus on twt, 2020.

this is basically word vomit and cringey, i don't know. i feel sorry for everyone who read this, but leave me your thought.

Untuk Hari yang Bahagia

Seonghwa menghentikan langkahnya untuk melirik cermin pada sudut dinding lorong gedung. Dwinetra di balik kacamatanya menatap lekat sosok yang terpantul di sana. Memandangi dirinya yang gunakan setelan jas hitam lengkap dengan celana senada memeluk kakinya erat. Tak ada senyum pada romannya yang terhiasi oleh dandanan tipis, sendu tatapan sang bayangan mengusik hati kecilnya.

Apa-apaan dengan wajahmu? Senyum, Seonghwa.

Lantas, si pemuda Park langsung menarik ujung bibirnya, mengulas senyum palsu yang dipaksakan.

“Bukankah ini lebih baik?” Dalam suara lembutnya, ia bergumam pada dirinya sendiri.

Ia lanjutkan berjalan dan alihkan pandang pada arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.

“Sepertinya terlalu lama di sini.” Ia lanjutkan langkah dengan kedua tangannya memegang nampan berisi makanan kecil, menuju ruangan pengantin pria.


San memandangi dirinya di cermin. Dirinya duduk di kursi rias, bersandar dengan rasa kalut menemani. Tangannya terkepal erat, membuat celana yang digunakannya kusut.

Kusut seperti pikirannya.

Putihnya pakaian yang dikenakannya, nampak berbeda dengan isi kepalanya yang gelap bak badai, berputar tanpa henti.

Lebih tepatnya tidak bisa berhenti.

Hanya sebuah ketukan ringan pada pintu yang membuatnya tersadar sejenak. Menengadahkan pandang ke arah cermin, lihat sosok yang membuka pintu dari sana. Matanya bertemu pandang pada sosok baru yang mengawani bayangannya sekarang.

Seonghwa di sana, membawakannya makanan dengan bonus senyum yang ia rindukan. Hangat yang terpancar, selalu yang ia cari, tak pernah meminta lebih. San tidak pernah sanggup untuk meminta lebih.

Lelaki bermarga Park itu menaruh nampan berisi makanan di atas meja rias, dirinya sungguh dekat dengan si pengantin pria. Hingga desah frustasi dapat ditangkap dengan baik oleh telinganya.

“Ada apa?” tanya Seonghwa, senyum tak luntur dari wajahnya.

Jemarinya menyisiri surai gelap lelaki yang tengah duduk. San menyukainya, San menyukai ketika Seonghwa berikan gestur-gestur ringan. Gestur yang mungkin tidak lagi ia dapati setelah acara ini selesai.

“Hyung.” San memanggil, giliran jemarinya meraih pergelangan tangan pemuda yang lebih tua. Mengayunkan dengan kecil, buat Seonghwa terkekeh lihat kelakuan teman masa kecilnya itu.

“Aku tidak mau melakukan ini,” ungkapnya.

Kemana lagi ia harus mengadu? Tuhan tak akan mengabuli.

“San-ah.” Seonghwa menekuk lutut, samakan tinggi dengan lawan bicaranya. Sehingga mata bertemu mata, dan napas keduanya dapat terasa satu sama lain.

“Kita sudah pernah membicarakan ini.”

Benar, ratusan, ribuan, entah berapa malam hari yang mereka habiskan bersama, kini hanya akan tersimpan dalam album di kalbu. Diakhiri dengan malam sebelum hari pernikahan San dan calon istrinya, hari di mana ia dijodohkan dengan wanita yang asing baginya, di mana ia harus melepaskan sesuatu yang ia genggam erat-erat dalam satu jentikan jari. Malam di mana, baik Seonghwa dan San membicarakan banyak hal, terlalu banyak, hingga titik di akhir benar menjadi perpisahan mereka.

Tidak selamanya, mereka masih hidup. Bernapas dengan bebas, tapi rasa kebersamaan yang terjaga oleh dinding bernama pernikahaan. Di kala keduanya berjanji, satu sama lain, ketika janji tinggalah janji.

Janji dibuat untuk diingkari.

Semua nampak semu seketika. Dalam hati San bertanya, apa yang membuat Seonghwa begitu tenang? Apa yang membuat Seonghwa tidak ingin mempertahankannya?

“San-ah.” Lagi dipanggil namanya, tak akan ada lagi suara itu mengiringi awal hari harinya, atau untuk mengucapkan selamat malam yang membuatnya tertidur tenang dalam rasa aman.

San bertanya, apakah hari esok hanyalah realita yang sebenarnya sudah sejak awal ada di sana? Tapi, keduanya terlalai, terbuai oleh presensi masing-masing?

“San-ah.” Diguncangkannya pundak oleh cengkraman yang diberikan Seonghwa. Lelaki itu nampak khawatir, sepertinya ia terlalu larut dalam kesedihannya, hingga lupa yang memberikan bahagianya ada di depan.

Yang esok hari akan hilang.

Ketukan lain membuat keduanya menengok ke arah pintu, tak ada yang membukanya. Hanya saut dari sang Ibunda pemuda Choi yang menginginkannya untuk segera bersiap, “Waktunya sudah tiba, ayo cepat, San!”

Seonghwa menarik napas, dalam. Menarik San untuk berdiri dengan kedua kakinya.

“Kau selalu tampak indah. Aku rindu senyummu.” Gemas dicubitnya pipi San, sebelum berganti menjadi usapan lembut pada tulang pipinya.

Memandangi sosok Choi San, yang dua puluh tahun lalu masih mengejarnya. Yang menangisi dirinya jika tak memberi atensi dan afeksi, yang menangis jika ia sakit, yang menangis untuknya.

Hanya untuknya.

Tapi Seonghwa tidak boleh egois. Ia tak ingin egois, karena Tuhan tidak menyukainya. Sudah cukup hina hubungan mereka yang dijalankan di belakang semua orang, sudah cukup laknat peluh yang mereka bagi, naif sudah rutinitas cumbu yang mereka lakoni, dan semua rahasia yang mereka tutup rapat-rapat.

Ia tak ingin sesuatu terjadi pada San.

Ah, pada akhirnya dirinya egois dalam bentuk yang berbeda.

Seonghwa bantu merapikan dasi hitam yang dikenakan San, mengecangkan, menepuk-nepuk pakaian hingga kusut pun raib dari setelan putih yang dikenakan yang tercinta.

“Hyung, permintaanku yang terakhir. Bolehkah kamu mengabulkan?” Sedikit cemas, jemarinya bertaut, hampir membuat kusut datangi pakaiannya kembali.

“Tentu, San-ah. Tentu.” Oh, Seonghwa tidak dapat menolak, memang dirinya siapa?

“Hyung.” San menarik napas, “Yakini diriku, semua akan baik-baik saja.”

Tak meminta banyak, karena tahu kapasitasnya. San tidak ingin membebani pemuda yang berdiri di hadapannya dengan banyak hal, dengan banyak harap yang tak mungkin terpenuhi. Ia hanya ingin semuanya baik-baik saja.

Baik bagi dirinya, baik bagi Seonghwa itu sendiri.

Seonghwa kembali menaruh kedua tangan pada dua sisi wajahnya, kiri dan kanan.

“Semua baik-baik saja.” Seonghwa beri kecup pada keningnya, lalu berpindah pada hidung, kedua pipinya yang bersemu merah, dan terakhir kepada bibirnya.

Walau cepat, terasa singkat, baginya semesta berhenti dan ia ingin, ingin sekali benar berhenti. Yang tersisa hanya dirinya dan pemuda yang mendiami hati dan pikirannya selama ini.

“Semua baik-baik saja.”

Dengan mantab, walau ragu masih merundungi, keduanya melangkah keluar dari ruangan.


Dari altar dengan janji palsu yang ia ucapkan, netranya tak pernah lepas dari sosok yang menemaninya. Seonghwa selalu menjadi pendamping, sayang, hanya pendamping pengantin pria.

Padahal yang ia inginkan adalah Seonghwa bersanding dengannya, menjadi pendamping pria yang sumpahnya tak terpatahkan olehnya. Ia yang satu, yang berhak mendapatkan seluruh hidup dan matinya.

Seonghwa ikut bertepuk tangan.

Sorak sorai pun mulai terdengar. Kedua telinganya ingin pecah rasanya, pening kepala. Karena kepalsuan yang ia jaga, nampak begitu sesak.

Sampai kapan ia harus berpura-pura?

San tidak tahu, San ingin lari.


Seonghwa diberi izin untuk memberikan sedikit pesan, tapi ia menolak. Malu katanya, padahal ia tak mampu. Mengutarakan kata demi kata, hanya akan membuat dinding pertahanan yang mati-matian ia jaga hancur dalam kedipan mata.

Seonghwa coba tolak, tapi mic yang ia pegang dan tak ada kata kembali. Ia memohon dengan dalih San adalah sahabatnya, sudah bosan pasti bocah ingusan itu menerima petuahnya selama dua puluh tahun lamanya, itu lagi itu lagi.

Semua orang tak mendengarkan keluhannya, tapi meminta dirinya setidaknya ucapkan satu atau dua kata. Hongjoong, salah satu sahabat keduanya, memberikan saran, “Bagaimana kalau kau bernyanyi saja.”

Gelagapan, karena tidak tahu. Bingung, menyanyikan lagu apa? Menyanyikan lagu selamat atas kebahagiaan yang berselimut kelancungan?

Tapi apalah daya, akhirnya Seonghwa mengiyakan untuk bernyanyi.

Dan begitulah bagaimana Seonghwa terduduk pada kursi dengan gitar pada pangkuan.

Ada satu lagu, satu lagu yang mungkin baiknya tak ada orang yang tahu.

“Saya Park Seonghwa, ingin menyanyikan lagu yang saya persembahkan untuk sahabat saya dari kecil. Si bocah ingusan Choi San,” mulainya, diikuti dengan tawa dari pada hadirin.

“Lagu ini, lagu kenangan .... ” Dirinya memandangi San sedetik, sebelum kembali memasang topeng yang apik di depan orang-orang.

“Lagu berbahasa Indonesia,” lanjutnya, “yang saya pelajari ketika saya dan San berlibur ke Bali.”

“Judulnya ... “

“Ikat Aku di Tulang Belikatmu.”


Ikat aku di tulang belikatmu. Biar kurebah dan teduh, sambil dengar ceritamu, ceritaku ... tentang bagaimana kutemukan rasi bintang di matamu agar aku tahu kemana aku harus pulang.

Dari Sebuah Mimpi Buruk

Hongjoong tidak tahu, tidak tahu sudah berapa lama ia menunggu kehadiran sang suami. Ia terduduk di ruang tamu, memutar benda yang melingkar pada jari manis kirinya. Benda yang mengikat dirinya dengan orang yang ia tunggu.

Erat.

Erat.

Erat.

Erat hingga membuat dirinya sesak, tak berdaya. Napas tersengal mengingat apa yang terlintas dalam benak. Hongjoong terisak dengan kedua tangan kini menutupi wajah kecilnya. Ia yang dulu bersinar, kini redup dalam kegelapan, dalam mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri.

Atau mimpi buruk itu kini menjadi kenyataan?

Dalam tangisnya, ia sulit membedakan mana realita dan mana yang sekadar khayalannya. Hongjoong memohon entah pada siapa, bahkan Tuhan nampak tak nyata baginya. Karena sebanyak apa pun ia berdoa, seberapa banyak ia memohon, dan tak terhitung banyaknya ia bersujud kepada eksistensiNya, tak ada satu pun yang terbalas.

Apa Tuhan senang mempermainkannya?

Hongjoong menghapus air matanya segera, ketika bunyi dari arah pintu depan masuk ke kedua rungu. Beranjak, berusaha setegar mungkin dengan menutupi segala keraguan dalam senyumnya.

Di depannya, Seonghwa berdiri.

Pria itu tak pernah berubah. Ia tetap Seonghwa yang ia kenal. Seonghwa yang berdiri gagah, tampang rupawan tiada tara, dan segala hal yang sulit ia lihat pada laki-laki lain. Itulah kelebihan sang suami yang ia kultus dalam tiap bulir darah, dalam tiap udara yang ia hirup.

Yang berubah hanyalah satu, hati.

Hongjoong menyambut dalam duka yang tersembunyi, memeluk pria yang membentangkan tangan untuk dirinya.

Bukan untuk dirinya seorang lagi.

Hongjoong tak dapat bersanding dengan Seonghwa, tak begitu istimewa. Ia bukan apa-apa, ia tak dapat disamakan dengan lelaki lain yang menggandeng mesra suaminya di belakang.

Kenapa dirinya harus melihat hal yang seharusnya ia tak tahu?

Hongjoong tak ingin menjawab kala dalam pelukan lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu. Biarkan, biarkan ia nikmati tiap detik kehancuran hatinya.

Lemah, hatinya lemah, melebur dalam kehangatan semu yang mungkin dibagi oleh lelaki lain.

Bahkan di atas meja makan, dalam sunyi dentingan peralatan makan yang dipegangnya, Hongjoong tak dapat lepaskan dua netra pada orang di hadapannya.

Bertanya, apakah hatimu sudah beralih pada yang lain? Bertanya, apakah ada yang salah pada diriku? Bertanya, apakah memang aku tidak pantas untukmu?

Jawab, Park Seonghwa!

Dalam teguk air yang melewati faring, tetaplah kering yang ia terima. Ah, kini air pun tak dapat menghapus pilunya.

Imajinasinya semakin liar, menatap lelaki yang kini berbaring di sebelahnya. Mata indah yang acapkali lihat dirinya dengan binar, tak lagi sama. Pancaran bintang pada mata obsidiannya hilang, Hongjoong tak lagi menerimanya dan mencari pun seperti sia-sia sekarang.

Hongjoong mengeratkan selimut yang ia gunakan, walau lagi-lagi percuma. Sebuah selimut tak dapat tutupi rasa teguh yang telah runtuh dalam diri.

Lagi ia hanya sanggup meratapi nasib, tanda tanya penuhi kepalanya, bisingnya kalah dengan lalu lintas di balik jendela kamar mereka. Bisik-bisik buruk terdengar dalam kelarutan malam, ketika seharusnya ia tertidur lelap.

Lemah, dirinya lemah.

Untuk bangun pun, antusias nihil. Merengkuh Seonghwa erat, berharap lelaki itu tak pergi.

“Jangan pergi.” Jika Tuhan pun tak dapat menolongnya, kepada siapa lagi selain Seonghwa ia meminta?

“Hongjoong-ah, aku harus bekerja.” Kecupan hanya mendarat pada puncak kepalanya, tak guna sebab tak bisa hapus cemas.

Dilepaskan, apakah benar ini saatnya ia melepas Seonghwa?

Lalu, kembali dingin yang menyapa bagai kawan lama yang tak ingin ditemuinya. Meringkuk dirinya, semakin kecil raganya, semakin kecil pula nyalinya.

Berita terkini, aktor Park Seonghwa terlihat bersama dengan aktor Kang Yeosang.

Hongjoong berdansa di ruang tamu, kakinya asyik membawanya ke tiap sudut ruangan. Langkahnya diiringi dengan lagu yang ia buat untuk ulang tahun pernikahannya, hanya terdengar berbeda kali ini.

Rasa senang absen, digantikan presensi lara tiada ampun.

Diketahui keduanya memadu kasih, mesra. Apakah kepergian mereka ke Saipan adalah bulan madu mereka?

Tertawa keras, bersamaan dengan tetes air mata yang tak jua berhenti. Tak ada alasan untuk menghentikannya sekarang. Biarlah membasahi pipinya, harap-harap juga dapat menghapus semua ingatan yang berbalut ketidakyakinan.

Apakah cinta yang kuterima hanya akting belaka? Apakah dirimu terpaksa mencintaiku, Seonghwa?

Dering telepon tak dapat menghentikan langkahnya. Dansa yang nampak anggun, hanya sebatas gambaran angsa hitam. Benar, dirinya bukan angsa putih yang indah seperti Kang Yeosang.

Bandingkan terus, bandingkan.

Lelah terasa pun tak membuatnya berhenti. Semilir angin menerpa dingin durja muram yang bersimbah air mata, dingin seperti bentala yang tak lagi eksis untuknya.

Terhenti langkahnya hanya ketika dirinya menatap mentari terbenam. Erat genggaman pada pagar balkon, sedangkan diri coba mendudukinya. Kedua tungkai berayun di ketinggian, lalu menatap sendu ke dalam rumah yang ditinggalinya.

Ditinggalinya?

Kini rumahnya hanya menjadi rumah yang ditinggalkannya bersama memori.

Setidaknya, ia bersyukur pernah bahagia. Walau sesaat. Walau itu tidak nyata.

Ketika pintu terbuka dengan derap langkah, tanpa perlu tengoki siapa yang membukanya, Hongjoong tahu. Dirinya tahu siapa yang kini memandang dirinya di balik jendela besar yang menghalangi keduanya.

“Hongjoong, Hongjoong jangan!” Kini meja pun berputar, bersamaan dengan dunianya.

Kini, Seonghwa-lah yang memohon kepada dirinya.

Teruslah berdoa, Seonghwa.

Hongjoong melepaskan pegangannya pada pagar, membiarkan dirinya disambut oleh gravitasi yang menarik punggungnya.

Runtuh.

Tak sempat kedua tangan itu menggapainya, tak sempat.

Maafkan aku. Aku benci diriku yang tak sanggup bebani dirimu dengan dendam. Maka lepaskanlah, lepas. Bahagia.

Dan mentari menggelap, padam bersamanya.


@pengkultusan, 2020.