INTRO : TARUHAN

Bandung, April 2019.

“Apa-apaan ini?” Gebrakan meja jelas menjadikan ruang yang diisi delapan orang menjadi pusat perhatian yang lain. Burger King Buah Batu jelas dijauhkan dari kata sepi dan kedelapan orang ini sudah membuat suasana semakin sesak.

Sorry.” Pemuda yang sama akhirnya duduk di tempatnya kembali ketika sadar semua mata tertuju kepada dirinya.

Namanya Ganesha, masih berumur 20 tahun dan seorang pengangguran. Keadaannya adalah ia menghadiri acara ulang tahun kawannya, Ardhi, dan pula ia bertemu salah satu musuh bebuyutannya semasa sekolah menengah atas. Kebetulannya adalah mereka berada di lingkar pertemanan yang sama.

“Sudahlah, Nes. Ini 'kan demi ulang tahun A' Ardhi.” Temannya yang lain, Prama, berucap. Seringai terdapat di wajah lelaki yang memiliki paras seperti kucing, lesung pipi merupakan daya tarik dari pemuda itu.

“Lagian, siapa tahu kalian musuhan begitu bakal jadian.” Raka menambahi, semata-mata mengompori keadaan.

Baik Prama dan Raka memang seperti itu.

Ganesha melirik Cahya, si musuh bebuyutan, juga nampak tak senang dengan keberadaannya. Hanya saja, mau bagaimana lagi. Ulang tahun hanya berulang satu tahun sekali dan ketika delapan orang bisa berkumpul dalam satu waktu yang sama adalah hal yang sulit.

Ardhi terkekeh akhirnya, coba cairkan suasana.

“Sudah, sudah, gimana kalau pada makan dulu.” Disuguhkan apa yang sudah dibelinya, Ardhi membiarkan ketujuh kawannya untuk menikmati traktirannya. Ia tidak membutuhkan sebuah kejutan, ketika melihat ketujuh temannya berada dalam satu ruangan dan berdiskusi hal remeh, itu sudah cukup sebagai hadiah.

Akhirnya Ganesha mau tak mau membuang muka, bersamaan dengan Pandu, ia mengambil makanan yang telah disediakan. Mencoba distraksikan diri dengan berbicara kepada Prama juga Pandu perihal walkthrough game yang akhir-akhir ini ramai. Tapi, sudut matanya tak pernah berhenti untuk melirik Cahya yang berbicara pada Arsya dan Ardhi.

Sedikit rumit memang bagaimana keduanya bermusuhan dan harus menjadi teman satu lingkaran, ketika Ganesha sama sekali tidak kepikiran untuk bertemu Cahya kembali. Mungkin, singkatnya adalah Ganesha sudah berteman lama dengan Prama, keduanya adalah anak dari rekan bisnis di usaha yang saling membantu. Sedangkan Pandu, merupakan anak dari supir pribadi keluarga Prama. Bertiga mereka menjadi teman akrab karena mengikuti sekolah yang sama dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama, sedang masa SMA-nya harus berpisah karena Prama dan Pandu mengikuti sekolah swasta.

Awal mulanya seperti itu, hingga Prama dan Pandu memasuki universitas swasta di Kabupaten Bandung. Mengambil jurusan Sistem Informasi yang kata mereka adalah hasil hoki nembak rapor, begitulah Prama dan Pandu terjebak di jurusan bersama Cahya dan Raka. Mereka adalah teman satu jurusan, walau berbeda kelas, entah bagaimana keempatnya bisa bertemu.

Kalau Ardhi dan Arsya ... jangan ditanya. Ardhi ini sepupu dari Prama ( “Terima kasih, Prama. Kamu seperti pemersatu bangsa ya?” Ganesha menyindir halus. ), sedangkan Arsya ini adalah senior yang sangat dekat dengan Ardhi. Terlalu dekat, saking dekatnya, keenam anak lainnya akan menghanguskan diri sendiri dibandingkan terjebak menjadi setan kalau Ardhi dan Arsya bersama ( “Tolong, aku sudah pernah di posisi ini, sangat tidak direkomendasikan!” Prama mengeluh. ).

Yang terakhir si bungsu gemas, Dhanu, yang juga junior di jurusan yang sama. Saking gemasnya, Pandu tidak tahan ingin menghajar laki-laki itu ( “Tunggu sampai Dhanu bukan member VIP dari gym di lantai atas PVJ,” komentar Raka. ). Usut punya usut, ada alasan kenapa Pandu tidak bisa akur dengan Dhanu yang nampak tenang seperti permukaan danau. Keduanya adalah mantan─alasan putusnya masih rahasia, walau Prama dan Ganesha tahu jelas apa. Yah, perselisihan Dhanu dan Pandu tidaklah seintens Ganesha dan Cahya yang ingin baku hantam tiap detik, Dhanu terlihat dewasa ketika menghadapi ucapan Pandu, kadang ia memilih untuk mengangkat bahu dengar sinisan lelaki yang lebih tua.

Berdelapan, entah bagaimana, bisa menjadi teman bermain. Ganesha yang pengangguran, bukan anak jurusan mereka, tidak tahu kenapa ia harus duduk manis bersama yang lain. Sebenarnya ia cukup bersyukur, ia menemukan teman yang mirip dengannya─yang cukup aneh dengan kelakuan ajaib luar binasa.

Tidak singkat ternyata, tapi begitulah. Yah, walau pertemanan ini baru bertahan sekitar setahun ... ia cukup menikmatinya, ini sih jujur-jujur saja. Memang sesekali, Ganesha sudah siap meninju wajah Cahya dan begitu juga sebaliknya. Untuk sampai saat ini, sayangnya, belum ada baku hantam. Padahal sudah dikompori Pandu, Prama, dan Raka ( “Memang mereka trio kompor, gak usah ditanya.” Ardhi menyesap tehnya. ).

Ganesha menghela napas, menyelesaikan makanannya. Sedikit lucu bagaimana ia bisa bertengkar dengan Cahya semasa SMA. Oh ayolah, Ganesha sangat terkenal semasa SMA-nya ... sebagai tukang baku hantam─kalau ini beneran, suer. Bukan karena ia orang kaya raya, jadi semena-mena, sebagaimana film-film menggambarkan orang kaya yang sombong dengan harta kekayaannya. Bukan, Ganesha sama sekali tidak pernah menyombongkan kekayaannya, kecuali terdesak ( “Seperti ketika ia tanpa sadar keluar naik motor gak pake helm dan gak bawa dompet, terus diberhentikan polisi,” ungkap Arsya. ). Ganesha hanya sedikit ... sedikit pembangkang, benar, ia berada di fase anak berandal sayang Mama.

Ganesha semasa SMA terkenal karena ketika masa orientasi ia selalu tidak mengikuti ucapan senior, sehingga jadi bahan omongan seantero sekolah. Sisanya, tidak ada yang menarik, kecuali matanya yang memberikan aura intimidasi─yang sebenarnya mata mengantuk─jadi alasan kenapa ia sering diajak berkelahi, entah sama senior, teman seangkatan, junior ... begitulah kenapa ia juga bisa bertengkar dengan Cahya, karena Ganesha pernah, sekali, mengurusi urusan Cahya yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

Menyebalkan? Jelas, bagi Cahya itu sangat menyebalkan karena melanggar batas privasi. Cuma ... Cahya tidak pernah membicarakan secara detail apa yang dipermasalahkannya dengan Ganesha, begitu juga Ganesha. Ganesha, secara sederhana, tidak mengusik Cahya. Semuanya memang kelar, kalau saja Cahya juga tidak punya tendensi untuk melakukan hal yang menyebalkan, seperti menyindir Ganesha tanpa habis.

Mana keduanya harus melewati sekolah selama 3 tahun, tanpa berpindah kelas. Di kelas MIPA 2-lah, keduanya terjebak dalam hubungan yang rumit, musuh. Ya, hancurlah dunia persilatan.

“Eh, habis ini mau kemana?” Ganesha menggelengkan kepalanya, memberhentikan diri untuk mengulang memori setelah dengar Raka bertanya.

“Karaoke gak?” Arsya memberikan saran, mencelupkan kentang gorengnya ke es krim milik Ardhi─membuat yang berulang tahun mengeluarkan kata-kata yang tak pantas, seperti, “Anjing.”

“Gas-in sih.” Urusan karaoke, paling oke memang ada Dhanu, si dangdut kondang nomor satu. Salah, tapi Dhanu ini jago nyanyi, apalagi lagu-lagu band lawas semasa SD yang membuat nostalgia betapa fucked up-nya anak-anak SD itu tumbuh menjadi sad boy sekarang.

“Oke, berarti satu naik mobil Prama, satu naik mobil Ganesha gitu?” tanya Dhanu. Siapa lagi yang memiliki mobil atas nama sendiri, kecuali si (calon) pemilik perusahaan─gini nih kalau punya teman kaya raya.

Akhirnya mereka setuju untuk singgah ke Happy Puppy di Buah Batu, yang tidak jauh dari Burger King yang sedang mereka duduki. Ganesha mengangkut Dhanu, Ardhi, dan Arsya. Mobil yang satu membawa Cahya, Raka, dan Pandu. Mereka berangkat beriringan, agak memakan waktu walau dekat─orang Bandung, pasti tahu seberapa macetnya Buah Batu di akhir pekan, jangan dicoba.

“Ganesh,” panggil Ardhi, ketika masih di dalam mobil menuju Happy Puppy. Sedikit condongkan badan ke arah supir dari bangku penumpang tepat di belakang si supir, “Lu sama Cahya kenapa sih? Aa penasaran.”

Ah, mulai lagi.

Padahal sudah setahun berteman, kenapa pertanyaan tentang Ganesha dan Cahya selalu tuai penasaran.

“Gak ada apa-apa, itu mah dianya saja yang nyari masalah.” Ganesha menjawab, mencebikkan bibir sesudahnya. Nampak kesal, apalagi Dhanu terkekeh.

“Kenapa gak ada yang nanya soal Dhanu dan Pandu sih?” Yang terpanggil jadi berhentikan tawanya, memberikan cubitan keras pada lengan atas Ganesha, “Iya, ampun, Dhanu!”

“Kalau gua sih, semua udah tahu kalau gua mantan sama Pandu. Ngapain dibahas?”

“Tapi gak ada yang tahu alasan kalian putus 'kan? Gua tahu sih.”

“Hm, diputusin sepihak, gua juga gak tahu salah gua apa.” Dhanu menambahi. Terdengar suara 'wow' dari kursi belakang, jelas antara Ardhi atau Arsya yang nampak menjadi pendengar setia kedua adik mereka bertengkar.

“Makanya ... ” Ganesha tersenyum tipis, “ ... peka dikit jadi orang.”

Ganesha tidak bermaksud buruk, ia tahu persis kenapa ia berkata demikian. Ia berteman dengan Pandu terlalu lama, sehingga sedikit memihak urusan Dhanu dan Pandu, tapi ia sendiri tahu, Dhanu tidak begitu salah ketika berhubungan dengan Pandu. Mereka hanyalah dua orang yang tidak bisa bersatu, di satu sisi, tapi dinamiknya memang menarik.

Oke, skip, soal Dhanu dan Pandu bisa disimpan di cerita lain.

Ganesha memberhentikan mobil di depan Richeese Factory, yang tempatnya bersebrangan dengan Happy Puppy Buah Batu. Ya, sengaja memang, habis karaoke makan lagi─bercanda, sebenarnya ia malas memutar untuk parkir di depan Happy Puppy yang tidak memiliki ruang luas untuk menaruh mobil Fortuner hitamnya.

Akhirnya, bokong kembali menyentuh sofa di dalam ruang karaoke. Setelah setidaknya lima belas menit, kedelapan orang dewasa itu sedikit meramaikan meja resepsionis.

“Gua mau milih lagu!!!” Pandu berteriak ketika memasuki ruang remang-remang, meraih layar kendali dan langsung sibuk mencari lagu yang ia ingin.

“Sekalian dong.” Dhanu mengambil duduk di sebelah Pandu, berdekur semua yang lain lihat Dhanu mengambil inisiatif duduk di sebelah Pandu. Lelaki mungil itu cuma memutar bola matanya, gusar, tapi ia membiarkan Dhanu juga memilih lagu yang ia inginkan.

“Jangan yang sedih-sedih dong.” Cahya berteriak dari tempatnya, jauh dari Ganesha.

“Baru putus ya?” Arsya terbahak, sedikit menggoda junior himpunannya itu. Cahya tidak memberikan jawab, tapi Ganesha sedikit tertarik jika itu menyangkut Cahya dan kekasihnya─maaf, mantan.

“Sama yang kemarin?” tanya Arsya.

Terdengar instrumen lagu Pelangi dari HiVi, sudah pasti ini request-an milik Pandu yang hobinya mengejar pensi-pensi untuk melihat artis hits.

“Yah, putusnya sudah lewat lama sih,” jawab Cahya, mengusap tengkuknya. Ia selalu canggung ketika membicarakan mantan kekasihnya, seorang gadis yang ia kencani semenjak sekolah menengah pertama. Ganesha tahu, karena mereka berada di sekolah yang sama ketika SMA.

Cukup lama juga, Ganesha berpikir, membutuhkan waktu tujuh tahun untuk Cahya sadar. Yah, kekasihnya Cahya memang yang membuat ia bertengkar hebat juga dengan lelaki itu. Tidak banyak yang mengetahui, tapi selengkapnya mungkin diceritakan di lain waktu. Ganesha juga sudah lupa sepenuhnya dengan eksistensi gadis itu, gadis dengan rambut panjang sepinggang, parfum yang tak jelas wanginya apa, serta tawanya yang buat sakit kuping─lagi-lagi diungkit kembali.

Cahya berbicara pada Arsya dan Ardhi, Ganesha tidak begitu mendengar. Kepalanya mendadak kosong, sedangkan empat orang lainnya sibuk berdendang dengan lagu acak. Dari lagu K-pop sampai Pamer Bojo milik Didi Kempot, semua ada.

Ia hanya tersadar ketika Dhanu mengambil alih, satu mik lagi ada di Pandu yang membatu di tempat.

'Cause you know what they say. If you love somebody, gotta set them free...”

Bisa-bisanya Dhanu mengambil lagu ini, apa sengaja buat Pandu ketar-ketir di tempat? Ganesha alihkan pandang ke arah Cahya yang ikut terdiam, seperti menghayati lagu Pamungkas yang berjudul I Love You But I'm Letting Go.

And from now on I will hold my own hand. Until one day you'll hold my lonely hand.” Dhanu menyudahi lagunya, sedangkan Pandu yang memegang satu mik lagi masih terdiam.

“Anjing, anak orang lu apain, Nu?” Pandu akhirnya duduk kembali di tempat, memberikan miknya pada Prama yang mengoceh pada Dhanu, tapi keduanya terkekeh. Walau dalam keadaan remang, nyaris gelap, hanya cahaya televisi yang menampilkan lirik, Ganesha dapat melihat wajah Pandu yang memerah─malu?

Ganesha beri tepukan pada punggung pemuda itu.

Lagu TWICE berjudul Cheer Up akhirnya menggantikan suasana sedikit menjadi terang, ya, melihat Prama dan Ardhi antusias menarikan gerakan girlband kesukaan mereka tanpa malu.

“Eh, gengs.” Prama mengambil atensi di tengah kegiatannya, padahal Ardhi masih dengan riang mengangkat kedua tangan ketika Cheer Up, baby.

“Gua ada challenge nih.” Suara Prama menggema di seluruh ruangan, sepertinya ada hal aneh yang akan dibicarakan lelaki ular─salah, lelaki berlesung pipi yang seperti ular kelakuannya.

“Jangan aneh-aneh deh.” Ardhi memukul belakang kepala Prama, tapi tidak menghentikan perbuatan Prama dan ide jahatnya. Senyum lebar, deretan gigi sudah terlihat─oh, oh, tidak ada jalan keluar lagi.

“Ayolah, kehidupan kita terlalu biasa─” Ganesha ingin menertawai.

Mereka biasa? Gimana mendeskripsikan tujuh manusia abstrak, empat di antaranya terbukti melakukan hubungan homoseksual, dua lagi masih berada pertengkaran batin untuk saling kembali, dan satu orang mengaku tidak tertarik percintaan, terakhir satu hetero─mereka jauh dari biasa.

“Gapapa, gua mau buat taruhan saja.” Prama menaruh satu tangan di pinggang, membusungkan dada.

Suasana jadi tegang, udaranya sedikit mencekat. Raka hanya memijat pelipis lihat kelakuan orang yang disukanya─belum pacar sih kayaknya?─yang lain masih menunggu lanjutan dari pembicaraan Prama, seperti seru, juga menakutkan.

“Taruhan apa?” Arsya yang bersandar pada kursinya merasa tertangan.

Oh, tidak dengan Arsya dan sikap kompetitifnya Skorpio, tidak.

Terpenuhi sudah ego si tuan muda Kusuma, tawanya menggelegar seperti villain pada film aksi heroik, “Pertanyaan yang bagus, Bung Arsya.”

“Gimana kalau kita taruhan ... “ “ ... buat Ganesha sama Cahya pura-pura jadian selama delapan bulan?”

Hening.

“Kita taruhan siapa yang suka duluan.”

Ganesha dan Cahya beri tatap, baru hari ini mereka setuju untuk melawan Prama.

“Kok jadi kita sih?” Bersamaan duo tiang bangkit dari tempat, lagi-lagi dapat sorakan dari yang lain. Hanya saja, entah itu sorakan untuk menyetujui taruhan yang diberikan atau melihat kelakuan Ganesha dan Cahya yang sinkron.

“Lu harusnya minta izin ke kita dulu dong?” Ganesha menambahi akhirnya, menunjukkan jarinya ke arah Cahya dan dirinya. Lagi, Cahya dan Ganesha beradu tatap, tapi mengalihkannya seolah tidak suka presensi satu sama lain.

“Kalian takut saling suka?” Prama menaikkan satu alisnya, licik memang caranya agar mengubah pemikiran Ganesha dan Cahya yang mudah tersulut; komporin.

“Ah─gak asik.” Setan, Pandu juga sama saja. “Gua yakin sih, kalian sebenarnya saling suka─”

KAGAK!” Berteriak keduanya.

Ganesha kembali duduk, “Gua yakin Cahya sebenarnya suka sama gua. Cuma dia malu saja.”

“Ya gak mungkinlah.” Cahya balik juga ke tempatnya, “Gua yakin lu suka sama gua.”

Raka mengangkat tangannya, sehingga semua orang menoleh, “Kayaknya seru bukan? Melihat kalian ... yang ga suka, tapi ada yang suka ternyata?”

“Gak, gak.” Ganesha menggelengkan kepala, menolak dengan taruhan yang ia anggap bodoh. Tidak akan tertipu, lelah dengan segala hal-hal yang mengompori harga dirinya. Ya kali, jadian sama Cahya? Mau mati?

“Gini, gini.” Prama menengahi kembali, “Gimana kalau gini. Kalian pacaran tiga bulan, bercanda saja. Kalau kalian saling suka, atau salah satunya suka ... artinya kalian yang kalah. Kalau kalian emang ga berakhir oke ... kita yang kalah?”

Ganesha mengulum bibir, tangan ada di depan dada. Masih ingin menolak, tapi Cahya bangkit, “Ok, gua bisa buktiin ke kalian kalau gua gak akan suka sama Ganesha.”

Hening lagi.

“Goblok, Cahya, gak gitu─”

Cahya melirik, beri tatapan yang tak dapat Ganesha artikan, “Lu takut kalau lu bakal suka sama gua?”

Ganesha ingin rasanya melemparkan sepatu yang ia gunakan, kalau saja bukan hasil tabungannya atau membayar biaya perbaikan wajah apik milik Cahya.

“Gak lah, gak mungkin gua takut. Cuman─”

“Gak ada cuman.” Lagi-lagi Prama menginterupsi, tangan yang semula ada di pinggang, ia naikkan. Memangnya ini acara debat?

Deal gak?” Prama bertanya soal taruhannya, tangannya diturunkan untuk mengulur pada Cahya.

“Tergantung dari hadiahnya,” jawab Cahya, “gua mau tahu hadiah apa yang Tuan Muda Prama tawarkan untuk gua dan ... Ganesha.”

“Hm.” Prama berpikir sejenak, ternyata ia memang iseng saja, tidak memikirkan soal hadiah apa yang akan diberikannya, “Liburan ke Singapura, biaya ditanggung gua (terbaca:ditanggung perusahaan bokap). Tapi, kalau kita yang kalah─alias kalau enam orang yang lain, kita cuma minta traktir Pizza Hut mungkin?”

“Deal.” Cahya menjabat tangan yang terulur, suara Ganesha mengeluh tak didengarkannya. Kalau sudah seperti ini, tidak ada jalan untuk kembali ke rumah, ke Tuhan sih iya.

Ganesha akhirnya menyerah, menjabat tangan Prama dengan kepala yang menatap lantai, tak terangkat.

“Puji Tuhan.” Raka bertepuk tangan, antusias juga ternyata dalam diamnya melihat keadaan kawan-kawannya yang tersiksa─cuma Ganesha dan Cahya saja sih.

“Kapan mulainya?” Cahya balik ke tempat duduknya untuk kesekian kalinya.

“Hari ini, setelah kita pulang dari sini.”

Ganesha meremas kuat-kuat tangan Prama yang masih dijabatnya, “Bajingan ya lu.”

Prama menyengir lebar, kesakitan, tapi tidak apa-apa. Taruhan itu hanya permainan.

Taruhan itu permainan berbahaya, tidak ada jalan kembali.

Dengan begitu, riuh ricuh kembali menghiasi ruang karaoke. Sedangkan tak nyaman, Ganesha saling lirik pada Cahya. Kalau ini animasi, sudah terpercik kilatan cahaya neon di antara keduanya. Tak ingin mengalah soal permainan yang diberikan.

───────── Bersambung.