曼珠沙華

nohomo

Dolphin

TAGS ─ male x male relationship, tooth-rotting fluff because i'm noob, self-indulgent abo verse because i am noob, listen i am noob, attempt to make this kinda humor, sanghong or whatever you name it, sang centric, i don't know how to make an ending, send help.


Yeosang adalah seorang alpha, semua orang tahu itu dan semua menginginkannya. Mendramatisir cerita ini, Yeosang memang dilahirkan dengan banyak kelebihan. Kekayaan? Tentu, ia adalah anak tunggal keluarga Kang yang bergerak di bidang teknologi industri, sedangkan Ibunya pula memiliki agensi model─tempat ia bekerja sekarang. Tampang? Jangan ditanyakan, 10 Out of 10 seperti lagu 2PM.

Yang mungkin ada satu kekurangan yang mungkin ya atau mungkin tidak disadari orang lain.

Mate.

Belahan jiwa, bahasa lucunya─atau bahasa terlalu bakunya?

Yeosang terlalu sibuk bekerja sebagai model, hingga lupa bahwa ia juga perlu merasa dicintai dan mencintai. Seonghwa, salah satu seniornya di agensi model, adalah orang yang selalu mengingatkannya betapa miris hidupnya tanpa pasangan.

Semua salah Seonghwa.

Semua salah Seonghwa, Yeosang selalu menyalahkan Seonghwa yang bisa-bisanya ia berpacaran di depannya, hampir, hampir setiap hari. Melakukan kegiatan layaknya sepasang kekasih tanpa beban hidup bersama Mingi, bersama Song Mingi, junior dalam agensi model mereka yang baru saja datang sekitar setengah tahun lalu.

Yeosang memijat pelipisnya, lelah. Lagi-lagi, pergoki Seonghwa dan Mingi berbagi minum mereka di depannya (“Iya, yang satu gelas ada dua sedotan. Anak-anak, ayo sayangi bumi, jangan gunakan sedotan.”).

“Kau iri bukan?” goda Seonghwa, wangi mentol menyeruak, menusuk hidungnya. Kuasa tutup hidung segera, berharap bau itu cepat menghilang. Yeosang selalu lupa (“Iya, selalu.”), kalau seniornya yang satu ini juga seorang alpha─jelas, baunya hanya mengancam jiwa-jiwa dan mengusik dominansi.

“Mana ada iri?” Tangan dilipat di atas meja, kesal.

Bisa-bisanya, Seonghwa yang menoreh luka, pula yang menabur garam, perasan lemon, dan segala yang memparah luka itu.

“Ngomong-ngomong ... ” Mingi menengahi di pertengkaran dua alpha di depannya, “ ... apa kalian tahu besok akan ada make up artist baru?”

Yeosang mengerjapkan mata, sejak kapan agensi mereka menerima make up artist baru? Biasanya sang Ibunda selalu meminta sarannya untuk menerima orang baru yang dipekerjakan, kenapa kali ini tidak?

“Belum, aku tidak tahu soal itu.” Yeosang mengaduk-aduk kopi susunya dengan sedotan, mencoba berikan perhatian lebih pada topik yang dibawakan Mingi.

“Kau kemana saja, Kang Yeosang? Sibuk mencari pacar pasti yang tak akan pernah bertemu!” Rundungan Seonghwa adalah karma, sebenarnya. Yeosang selalu menjahili Seonghwa di masa-masa terpuruknya pasca putus dengan ... Yeosang jadi tidak ingat namanya siapa dan sekarang, Seonghwa meledeknya sebagai balasan─abaikan, mereka berdua akan selalu menjadi dua model yang memiliki love hate relationship dengan tagar #nohomo #justbro.

“Dia make up artist yang dirujuk dari make up artist lain. Biasanya ia perias bebas, tapi sepertinya ia membutuhkan pekerjaan tetap untuk bertahan hidup.” Mingi melanjutkan ucapannya sambil melerai dua senior di hadapannya dengan menjauhkan jarak keduanya─terbiasa melerai, tapi ia menikmati pertengkaran mereka diam-diam.

“Lalu, kapan aku bisa menjahilinya?” tanya Yeosang dengan seringai lebar. Ini sebuah informasi sedikit jahat, Yeosang selalu menjahili pegawai baru agensi untuk kesenangan pribadi. Kepribadiannya sering menjadi bahan teguran dari pemilik agensi, tentu ibu dari Kang Yeosang sendiri.

“Bodoh, dia masih muda, tak akan tertipu dengan semua perangkapmu,” komentar Seonghwa dan dibalas Yeosang dengan memicingkan matanya.

“Besok ia akan ikut pemotretan di pantai.” Mingi menambahkan.

Ah, berarti orang itu akan ikut pemotretan musim panas bersamanya. Yeosang tidak menyangkan akan bertemu si perias baru dengan cepat. Di kepalanya sudah penuh dengan berbagai cara untuk membuat perias itu dongkol. Begitulah, begitulah kepala Gemini dengan segala hal kekanak-kanakan mereka (“Lagi-lagi disangkut pautkan dengan zodiak.”).

“Jangan berbuat aneh,” ancam Seonghwa, memukul belakang kepala Yeosang.

“Tenang saja.” Melambaikan tangan, tapi senyum jahil tak lepas dari sang durja, “Jadi siapa namanya?”

Mingi membuka mulutnya, “Namanya ... “

. . .

” ... Kim Hongjoong.” Lelaki berambut biru itu memperkenalkan dirinya, Yeosang melirik dengan mata elangnya 'tuk memperhatikan sosok asing yang mampir. Tingginya tak beda jauh dengannya, hanya saja rambutnya yang mencolok membuatnya terasa berbeda. Bulu matanya panjang, ok, bagus, lalu hidung mancung, bagus, bagus, bibirnya ...

“Kang Yeosang!” teriak Seonghwa, mengagetkan dirinya.

“Ah, ya, Kang Yeosang.” Tak disadari Hongjoong mengulurkan tangannya sedari tadi, tapi ia terlalu larut dalam pikirannya. Dirinya pun menjabat tangan itu dengan senyum bisnis yang biasa ia gunakan menghiasi wajahnya. Dalam lima detik, Hongjoong sudah kembali mengambil tangannya, meninggalkan rasa hangat yang membekas di telapak tangan milik si tunggal Kang.

Beta.

Satu dipikirannya, Kim Hongjoong adalah seorang beta─tidak ada wangi khas yang tercium darinya, sudah dipastikan beta. Lagi, jika ia memang terkenal dengan sosok pekerja keras, tentu identik dengan kepribadian beta. Semua hal-hal stereotip beta sangat cocok untuk mendeskripsikan lelaki kecil itu (“Yah, sebenarnya dia tidak kecil-kecil banget.”). Kecuali, rambut biru yang nyentrik─entahlah, Yeosang berpikir itu yang membuat si beta kecil ini berbeda dari beta-beta sebelumnya.

“Yeosang, lagi-lagi kau melamun.” Si empu nama menengok ke arah sumber suara, Seonghwa memiliki senyum jahil di wajahnya seolah bisa menembus pemikiran Yeosang yang penuh dengan Kim Hongjoong.

Yeosang tengah menunggu gilirannya untuk dirias dan bagian dirinya memang mendapatkan Hongjoong sebagai perias, tapi untuk sebelumnya lelaki itu terlebih dahulu melayani Mingi di ruang lain.

“Aku sedang berpikir ingin makan apa nanti,” jawabnya, tak ingin mengutarakan isi kepalanya yang sedikit kusut (“Sekarang aku akan menyalahkan Kim Hongjoong soal itu.”).

“Kang Yeosang-ssi.” Yeosang menengok ke arah belakangnya, orang lain yang memanggilnya kali ini adalah si pencuri isi kepalanya, Hongjoong.

Senyum lebar dan tangan terayun, menghanyutkan dirinya. Dengan langkah semangat, Yeosang bangkit dari posisi duduknya dan berlalu pergi mengikuti ke mana si surai biru membawanya. Dipersilakannya ia duduk di salah satu bangku rias, di depannya disajikan banyak palet berwarna-warni.

Yeosang sudah terbiasa melihat berbagai alat rias, menjadi model di usia muda memang mengenalkannya pada banyak hal. Hongjoong memulai aksinya dari membersihkan muka sang model, tangannya hangat dibandingkan dinginnya pendingin ruangan dan dalam jarak mereka sekarang, Yeosang bisa memperhatikan kedua manik obsidian Hongjoong dan kelopak mata yang indah dihiasi dengan warna merah muda sedikit jingga pula eyeliner yang berkilau, glitter.

“Matamu indah.”

Bodoh.

Yeosang baru saja memuji Hongjoong, sehingga membuat gerakan Hongjoong terhenti dari meratakan foundation di wajahnya. Mulutnya terbuka seolah mencerna apa yang dikatakan Yeosang dan Yeosang sendiri sedang dilanda krisis, entah krisis kasih sayang apa krisis rasa malu, tidak ada beda.

“Terima kasih, matamu juga cantik.” Pujian yang berbalik bisa membuat Yeosang tersipu malu, tampilkan semburat merah di tulang pipinya. Dirasa, panasnya musim panas di luar kalah dengan panasnya atmosfer di dalam ruang rias.

Mau kubur diri saja. Tuhan, kabulkan aku menjadi biji wijen saja di kehidupan selanjutnya.

Kemudian, keduanya kembali hening. Tidak bisa dikatakan udaranya canggung, tapi Yeosang bisa merasakan sesuatu yang lain.

Urgensi mencium Kim Hongjoong. Kapan membutuhukannya? Sekarang.

Tapi, ia menahan diri. Hanya berterima kasih pada Hongjoong dengan memberikan anggukan kecil dan senyum tipis, sebelum beralih ke ruang ganti.


Walau ia lahir di musim panas, ia sangat membenci panasnya terik mentari tepat di atas kepalanya. Beruntung sesi pemotretan sudah selesai dan kini gilirannya untuk beristirahat di pinggir pantai. Kacamata hitam memang bertengger di hidung, halau cahaya mentari, tapi tidak dengan cahaya pada netra Kim Hongjoong yang menyipit ketika air laut mengenai wajahnya. Lelaki itu nampak bahagia, bermain dengan pegawai agensi lainnya.

Terpujilah siapa pun yang memberikan pekerjaan komersil di pantai, ia jadi bisa melihat figur Hongjoong yang berlari-lari komikal. Terlihat lucu, baginya.

“Aku tahu, kau menyukai pada pandangan pertama.” Satu siku diarahkan pada tulang rusuknya, dilihat Mingi mengambil duduk di sebelahnya.

Yeosang sedikit menurunkan kacamatanya, untuk memperlihat kedua matanya menatap dongkol pada lelaki yang lain.

“Ayolah, masa Kang Yeosang, dua puluh satu tahun, seorang model terkenal sana-sini, single? Single seperti keju,” komentar Mingi. Yeosang melemparkan segenggam pasir pantai pada Mingi, seolah-olah ingin mengusir presensi lelaki itu kembali ke neraka (“Pantas.”).

Yeosang tidak tahu rasa apa yang menjalar, apakah sekadar rasa penasaran 'kah? Atau menganggumi? Apa lebih-lebih ingin memiliki? Yeosang tidak ingin mengambil langkah terburu-buru, ia hanya ingin memastikan. Toh, perjalanan masih panjang bukan? Lagi pula alpha dalam dirinya tidak memberikan tanda apa pun.

Menghela napas adalah jalan ninjanya.

“Baiklah, tidak usah terburu-buru.” Puncak kepalanya ditepuki pelan oleh Mingi, senyum simpati diberikan pula. Memang sedikit mengasihani si pemuda yang tak pernah mengenal cinta sebelumnya.

Yeosang mengangguk lemah, memeluk kedua lututnya sedikit membenamkan wajahnya. Karena diingatkan oleh Mingi, sekarang ia jadi bingung sendiri atas perasaannya. Memang cuma Mingi seorang yang suka membuatnya tenggelam dalam pemikiran yang seharusnya tidak usah ia pikirkan.

(“Sekarang semua salah Song Mingi.”)

. . .

Hongjoong menghampiri pantai, setelah puas bermain air. Tawa tak kunjung sirna dari bibirnya, Yeosang bersumpah ia rela untuk dengarkan tawa Kim Hongjoong seharian. Tanpa disadari, Yeosang bertumpu pada kedua kaki dan hampiri Hongjoong, menjatuhkan handuk di atas rambut biru pemuda itu.

“Jangan sampai sakit.” Tak bermaksud mengucapkannya dengan datar, tapi hanya itu yang sanggup keluar.

Siulan datang dari yang lain, tapi dihiraukannya karena pandangannya hanya tertuju pada Hongjoong yang sibuk mengeringkan kepalanya. Seperti ia juga lupa mereka sedang berada di ruang terbuka dengan banyak orang mengelilingi keduanya.

“Tidak janji,” balasnya, mencebikkan bibir.

Tuhan, ini ujian atas karma yang mana?

“Hm.” Yeosang mengangkat bahu, “Jangan buat aku khawatir.”

Hongjoong mengedipkan berulang kali matanya, menatap bingung pada sang model, “Baiklah.”

Ditarik kedua ujung bibirnya untuk sebuah senyum, “Bagus. Good boy.” Yeosang mengacak rambut biru Hongjoong yang sudah sedikit kering karena handuk yang diberinya, secara refleks.

“Kalau mau pacaran jangan di sini!” Bisa didengar Seonghwa berteriak, tapi kembali Yeosang tak mengindahkannya.

Yeosang benar-benar tidak waras di level ini.


Makan malam diakhiri dengan sedikit pesta, tapi Yeosang tidak begitu menyukai keramaian setelah bekerja. Satu kaleng soda di tangannya dan bersiap undur diri ambil angin di luar. Niatnya memang sendiri, tapi jika ditemani Hongjoong bukan sesuatu yang bisa ditolaknya.

“Mencari angin?” Yeosang bertanya pada figur Hongjoong yang mengapit rokok di belah bibirnya.

Lalu, ia memindahkan rokok itu di sela jemari, “Ya, ingin menemani?”

Yeosang mengiyakan dan mulai berjalan menyusuri area villa, tempat mereka semua menginap. Hongjoong nampak berbeda tanpa riasan, tapi ia tetap terlihat ... menarik bagi Yeosang. Tak terbiasa dengan asap rokok pun juga dihiraukan, padahal jika dalam keadaan biasa, Yeosang bisa terbatuk-batuk. Tapi, entahlah untuk yang satu ini.

“Baru kali ini aku melihat model sebaik kau.” Dalam keheningan, Hongjoong-lah yang memulai pembicaraan.

“Maksudmu?” balas ia bertanya, menendangi kerikil yang menghalangi jalannya.

“Ya, sepertinya agensi model tempatku bekerja ... kau tahu, sedikit bermasalah dengan sikap mereka.”

Keduanya berhenti di pinggir kolam renang, Hongjoong mengambil duduk di sana tanpa takut pakaiannya basah. Yeosang hanya mengikuti buaian lelaki itu, kakinya dicelupkan ke dalam air, berikan sensasi dingin di tengah panasnya malam musim panas.

“Oh, berikan teh terbaikmu.” Kekehan lolos dari Hongjoong, membebaskan asap rokok yang sedikit halangi Yeosang dari memperhatikan rupa Hongjoong.

Yeosang memanjangkan tangannya untuk menyisir rambut Hongjoong yang mengenai telinga dan Hongjoong nampak menyukai, sebelum siap untuk menyebarkan apa yang ia tahu, “Terlalu banyak jika kusebutkan dan menjadi korban ... sudah tidak bisa menjadikanku tetap bertahan di sana.”

“Hm.” Yeosang mendengarkan baik-baik, nada sedih yang diberikan sedikit mengganggu empatinya, “Aku turut berduka cita soal itu.”

“Sudahlah.” Hongjoong lambaikan tangannya, “Sudah lalu, tidak perlu diungkit. Beruntung Ibumu merekrutku.”

“Beruntung agensiku memilikimu.”

Hongjoong bungkam, matanya berkaca-kaca buat Yeosang panik seketika. Tangannya kini menangkup wajah Hongjoong, ujung jarinya ia gunakan untuk mengusap-usap tulang pipinya, coba tenangkan.

“Maaf, maaf, sepertinya aku tidak pernah dipuji orang lain, jadi sedikit─”

Yeosang gelengkan kepalanya. “You deserve it, Joong. You deserve the whole world.

Yeosang memastikan itu, Yeosang memastikan bahwa Hongjoong pantas mendapatkan dunianya, atau setidaknya dirinya─ha.

Panik luntur, terbitlah senyum.

“Terima kasih, Yeosang.”

Yeosang mengembalikan kedua tangan ke sisinya, tak enak berlama-lama untuk lakukan kontak dengan orang yang baru saja ia kenal dalam sehari saja. Sedikit terkejut jikalau gender sekundernya meraung-raung untuk tetap berikan kontak, seperti sudah merindu pada ia masih ada di depannya.

“Anu─Hongjoong,” panggilnya, Hongjoong menengok kembali hisap rokoknya, “will you go out with me?”

Yeosang tidak tahu apa yang merasukinya ketika lempar tanya seperti itu pada Hongjoong, tapi ia ... ingin mencoba. Sedikit rakus jika perasaan memiliki muncul, tapi ia ingin memulai sesuatu dari hal remeh terlebih dahulu.

Walau ia tak yakin Hongjoong akan menjawab ...

Yes, in a heartbeat.

... ya.

“Hah?” Yeosang terperanjat di tempat, “Kamu bohong?! Bercanda ya?! Pasti ini ulah─”

Hongjoong mengayunkan tangan pada permukaan air, mencipratkan air kolam pada wajah lawan bicaranya. Kini yang ditakutkan Yeosang berdiam di bibir kolam terjadi, bajunya kuyup seketika, ia mengusap-usap wajahnya yang basah.

“Aku menerima ajakanmu, Kang Yeosang.” Lagi Hongjoong coba basahi Yeosang, ia nampak menikmati tampang berantakan dari sang model.

Berbunga hatinya tak terbendung, seperti ada gendang yang bantu detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, mulutnya terbuka untuk bereaksi, tapi Hongjoong sudah dulu beri aksi. Ia mendorong leher belakang milik Yeosang, memangkas jarak, dan membawanya dalam satu pagutan singkat.

Ok, Yeosang, kamu bisa tenggelam sekarang. Kolam sudah siap di depan mata.

Yeosang membatu di tempat, tapi ia tetap membalas ciuman yang diberikan. Rasa kecut dari rokok, dipadukan dengan rasa pelembab bibir rasa stroberi─sangat Hongjoong sekali. Hongjoong melepaskan dirinya dari Yeosang untuk mengambil napas, tapi gaya gravitasi di antara keduanya memberat dan kembali mereka bercumbu ditemani semilir angin malam pantai. Samar-samar, wangi basah hujan musim gugur merasuk hidungnya, ah─tanpa tahu wangi ini berasal, ia tahu wangi ini adalah wangi Hongjoong, terasa seperti rumah. Mengingatkan rasa tenang ketika deras hujan mengguyur bumi, mukjizat.

Yeosang tahu, ia memilih Hongjoong.

Ia sudah menetapkan hati pada Hongjoong.

Ya, sebelum keduanya terjatuh ke kolam renang karena ulah yang orang lain. Yeosang menggapai-gapai permukaan air, membutuhkan waktu beberapa detik ia dapat berdiri pada kedua kakinya. Pakaiannya basah, gelegar tawa mendengung pada rungu, ugh, tahu benar suara tawa ini. Gusar dan kasar, Yeosang mengusap wajahnya untuk menghilangkan air yang ganggu penglihatannya.

“SONG MINGI! PARK SEONGHWA!” Yeosang berteriak keras, memanggil kedua temannya berdiri di pinggir kolam sedang melakukan transaksi pertukaran uang di depan matanya, di depan matanya.

Hongjoong hanya ikut tertawa. Pengalaman yang lucu, mungkin.

“Ha! Aku menang, Seonghwa bertaruh kau tidak punya nyali untuk mengajak Hongjoong keluar.” Mingi berkecak pinggang setelah menerima uang yang diberikan sang kekasih, ia bangga memenangi pertaruhan yang dibuatnya.

Yeosang dan Hongjoong saling menatap, tidak tahu bereaksi apa menjadi bahan taruhan.

Dan dari tatap, mereka tahu apa yang mereka lakukan selanjutnya dengan anggukan kecil dilakukan keduanya.

Menarik Seonghwa dan Mingi masuk ke dalam kolam.

. . .

Yeosang baru kali ini harus berterima kasih pada Seonghwa dan Mingi yang membuatnya merasa kesepian selama ini (“Karena ini semua salah mereka.”), tapi itulah perasaan yang membuat berani untuk ia menghampiri Kim Hongjoong. Terlalu bahagia dan terlarut dalam pesona, padahal niat pertamanya agar membuat pemuda yang lain kesal dengan pekerjaannya.

Persetan dengan tipikal alpha harus dengan omega atau stereotipe masyarakat.

Persetan dengan hidup.

Persetan Seonghwa dan Mingi (“Yang ini sudah pasti.”).

Persetan.

Yang pasti kekosongan hatinya kini sudah terisi dengan eksistensi Kim Hongjoong. Sudah penuh, sudah terokupasi dengan Kim Hongjoong seorang.

Dan Yeosang kini tidak memiliki keinginan lain karena semua yang ia butuhkan sudah dipaketkan dalam rupa Kim Hongjoong.

(“Tetap sih aku membutuhkan dominansi terhadap dunia.”)


hwasaurus's notes : weird ending, salahkan jiwa aquariusku and their weird jokes.