Untuk Hari yang Bahagia

Seonghwa menghentikan langkahnya untuk melirik cermin pada sudut dinding lorong gedung. Dwinetra di balik kacamatanya menatap lekat sosok yang terpantul di sana. Memandangi dirinya yang gunakan setelan jas hitam lengkap dengan celana senada memeluk kakinya erat. Tak ada senyum pada romannya yang terhiasi oleh dandanan tipis, sendu tatapan sang bayangan mengusik hati kecilnya.

Apa-apaan dengan wajahmu? Senyum, Seonghwa.

Lantas, si pemuda Park langsung menarik ujung bibirnya, mengulas senyum palsu yang dipaksakan.

“Bukankah ini lebih baik?” Dalam suara lembutnya, ia bergumam pada dirinya sendiri.

Ia lanjutkan berjalan dan alihkan pandang pada arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.

“Sepertinya terlalu lama di sini.” Ia lanjutkan langkah dengan kedua tangannya memegang nampan berisi makanan kecil, menuju ruangan pengantin pria.


San memandangi dirinya di cermin. Dirinya duduk di kursi rias, bersandar dengan rasa kalut menemani. Tangannya terkepal erat, membuat celana yang digunakannya kusut.

Kusut seperti pikirannya.

Putihnya pakaian yang dikenakannya, nampak berbeda dengan isi kepalanya yang gelap bak badai, berputar tanpa henti.

Lebih tepatnya tidak bisa berhenti.

Hanya sebuah ketukan ringan pada pintu yang membuatnya tersadar sejenak. Menengadahkan pandang ke arah cermin, lihat sosok yang membuka pintu dari sana. Matanya bertemu pandang pada sosok baru yang mengawani bayangannya sekarang.

Seonghwa di sana, membawakannya makanan dengan bonus senyum yang ia rindukan. Hangat yang terpancar, selalu yang ia cari, tak pernah meminta lebih. San tidak pernah sanggup untuk meminta lebih.

Lelaki bermarga Park itu menaruh nampan berisi makanan di atas meja rias, dirinya sungguh dekat dengan si pengantin pria. Hingga desah frustasi dapat ditangkap dengan baik oleh telinganya.

“Ada apa?” tanya Seonghwa, senyum tak luntur dari wajahnya.

Jemarinya menyisiri surai gelap lelaki yang tengah duduk. San menyukainya, San menyukai ketika Seonghwa berikan gestur-gestur ringan. Gestur yang mungkin tidak lagi ia dapati setelah acara ini selesai.

“Hyung.” San memanggil, giliran jemarinya meraih pergelangan tangan pemuda yang lebih tua. Mengayunkan dengan kecil, buat Seonghwa terkekeh lihat kelakuan teman masa kecilnya itu.

“Aku tidak mau melakukan ini,” ungkapnya.

Kemana lagi ia harus mengadu? Tuhan tak akan mengabuli.

“San-ah.” Seonghwa menekuk lutut, samakan tinggi dengan lawan bicaranya. Sehingga mata bertemu mata, dan napas keduanya dapat terasa satu sama lain.

“Kita sudah pernah membicarakan ini.”

Benar, ratusan, ribuan, entah berapa malam hari yang mereka habiskan bersama, kini hanya akan tersimpan dalam album di kalbu. Diakhiri dengan malam sebelum hari pernikahan San dan calon istrinya, hari di mana ia dijodohkan dengan wanita yang asing baginya, di mana ia harus melepaskan sesuatu yang ia genggam erat-erat dalam satu jentikan jari. Malam di mana, baik Seonghwa dan San membicarakan banyak hal, terlalu banyak, hingga titik di akhir benar menjadi perpisahan mereka.

Tidak selamanya, mereka masih hidup. Bernapas dengan bebas, tapi rasa kebersamaan yang terjaga oleh dinding bernama pernikahaan. Di kala keduanya berjanji, satu sama lain, ketika janji tinggalah janji.

Janji dibuat untuk diingkari.

Semua nampak semu seketika. Dalam hati San bertanya, apa yang membuat Seonghwa begitu tenang? Apa yang membuat Seonghwa tidak ingin mempertahankannya?

“San-ah.” Lagi dipanggil namanya, tak akan ada lagi suara itu mengiringi awal hari harinya, atau untuk mengucapkan selamat malam yang membuatnya tertidur tenang dalam rasa aman.

San bertanya, apakah hari esok hanyalah realita yang sebenarnya sudah sejak awal ada di sana? Tapi, keduanya terlalai, terbuai oleh presensi masing-masing?

“San-ah.” Diguncangkannya pundak oleh cengkraman yang diberikan Seonghwa. Lelaki itu nampak khawatir, sepertinya ia terlalu larut dalam kesedihannya, hingga lupa yang memberikan bahagianya ada di depan.

Yang esok hari akan hilang.

Ketukan lain membuat keduanya menengok ke arah pintu, tak ada yang membukanya. Hanya saut dari sang Ibunda pemuda Choi yang menginginkannya untuk segera bersiap, “Waktunya sudah tiba, ayo cepat, San!”

Seonghwa menarik napas, dalam. Menarik San untuk berdiri dengan kedua kakinya.

“Kau selalu tampak indah. Aku rindu senyummu.” Gemas dicubitnya pipi San, sebelum berganti menjadi usapan lembut pada tulang pipinya.

Memandangi sosok Choi San, yang dua puluh tahun lalu masih mengejarnya. Yang menangisi dirinya jika tak memberi atensi dan afeksi, yang menangis jika ia sakit, yang menangis untuknya.

Hanya untuknya.

Tapi Seonghwa tidak boleh egois. Ia tak ingin egois, karena Tuhan tidak menyukainya. Sudah cukup hina hubungan mereka yang dijalankan di belakang semua orang, sudah cukup laknat peluh yang mereka bagi, naif sudah rutinitas cumbu yang mereka lakoni, dan semua rahasia yang mereka tutup rapat-rapat.

Ia tak ingin sesuatu terjadi pada San.

Ah, pada akhirnya dirinya egois dalam bentuk yang berbeda.

Seonghwa bantu merapikan dasi hitam yang dikenakan San, mengecangkan, menepuk-nepuk pakaian hingga kusut pun raib dari setelan putih yang dikenakan yang tercinta.

“Hyung, permintaanku yang terakhir. Bolehkah kamu mengabulkan?” Sedikit cemas, jemarinya bertaut, hampir membuat kusut datangi pakaiannya kembali.

“Tentu, San-ah. Tentu.” Oh, Seonghwa tidak dapat menolak, memang dirinya siapa?

“Hyung.” San menarik napas, “Yakini diriku, semua akan baik-baik saja.”

Tak meminta banyak, karena tahu kapasitasnya. San tidak ingin membebani pemuda yang berdiri di hadapannya dengan banyak hal, dengan banyak harap yang tak mungkin terpenuhi. Ia hanya ingin semuanya baik-baik saja.

Baik bagi dirinya, baik bagi Seonghwa itu sendiri.

Seonghwa kembali menaruh kedua tangan pada dua sisi wajahnya, kiri dan kanan.

“Semua baik-baik saja.” Seonghwa beri kecup pada keningnya, lalu berpindah pada hidung, kedua pipinya yang bersemu merah, dan terakhir kepada bibirnya.

Walau cepat, terasa singkat, baginya semesta berhenti dan ia ingin, ingin sekali benar berhenti. Yang tersisa hanya dirinya dan pemuda yang mendiami hati dan pikirannya selama ini.

“Semua baik-baik saja.”

Dengan mantab, walau ragu masih merundungi, keduanya melangkah keluar dari ruangan.


Dari altar dengan janji palsu yang ia ucapkan, netranya tak pernah lepas dari sosok yang menemaninya. Seonghwa selalu menjadi pendamping, sayang, hanya pendamping pengantin pria.

Padahal yang ia inginkan adalah Seonghwa bersanding dengannya, menjadi pendamping pria yang sumpahnya tak terpatahkan olehnya. Ia yang satu, yang berhak mendapatkan seluruh hidup dan matinya.

Seonghwa ikut bertepuk tangan.

Sorak sorai pun mulai terdengar. Kedua telinganya ingin pecah rasanya, pening kepala. Karena kepalsuan yang ia jaga, nampak begitu sesak.

Sampai kapan ia harus berpura-pura?

San tidak tahu, San ingin lari.


Seonghwa diberi izin untuk memberikan sedikit pesan, tapi ia menolak. Malu katanya, padahal ia tak mampu. Mengutarakan kata demi kata, hanya akan membuat dinding pertahanan yang mati-matian ia jaga hancur dalam kedipan mata.

Seonghwa coba tolak, tapi mic yang ia pegang dan tak ada kata kembali. Ia memohon dengan dalih San adalah sahabatnya, sudah bosan pasti bocah ingusan itu menerima petuahnya selama dua puluh tahun lamanya, itu lagi itu lagi.

Semua orang tak mendengarkan keluhannya, tapi meminta dirinya setidaknya ucapkan satu atau dua kata. Hongjoong, salah satu sahabat keduanya, memberikan saran, “Bagaimana kalau kau bernyanyi saja.”

Gelagapan, karena tidak tahu. Bingung, menyanyikan lagu apa? Menyanyikan lagu selamat atas kebahagiaan yang berselimut kelancungan?

Tapi apalah daya, akhirnya Seonghwa mengiyakan untuk bernyanyi.

Dan begitulah bagaimana Seonghwa terduduk pada kursi dengan gitar pada pangkuan.

Ada satu lagu, satu lagu yang mungkin baiknya tak ada orang yang tahu.

“Saya Park Seonghwa, ingin menyanyikan lagu yang saya persembahkan untuk sahabat saya dari kecil. Si bocah ingusan Choi San,” mulainya, diikuti dengan tawa dari pada hadirin.

“Lagu ini, lagu kenangan .... ” Dirinya memandangi San sedetik, sebelum kembali memasang topeng yang apik di depan orang-orang.

“Lagu berbahasa Indonesia,” lanjutnya, “yang saya pelajari ketika saya dan San berlibur ke Bali.”

“Judulnya ... “

“Ikat Aku di Tulang Belikatmu.”


Ikat aku di tulang belikatmu. Biar kurebah dan teduh, sambil dengar ceritamu, ceritaku ... tentang bagaimana kutemukan rasi bintang di matamu agar aku tahu kemana aku harus pulang.