You Let Him Go Again

CW // Harsh word


“Dadah, Mingi. Maaf, sudah dijemput Yunho.”

Begitulah bagaimana Song Mingi menatap punggung seorang Kang Yeosang yang kian menjauh meninggalkannya di kerumunan anak-anak sekolahan bau terbakar mentari terik yang menyengat. Di umur delapan belas tahunnya, Mingi kehilangan Yeosang. Tidak sepenuhnya hilang, boom, seperti ditelan bumi. Melainkan Yeosang, seseorang yang ia sukai semenjak tahun pertamanya di menengah atas, akhirnya memiliki kekasih.

Jeong Yunho namanya. Kapten tim renang yang terkenal seantero sekolah. Ya, kalau dibandingkan dirinya sih, Mingi hanya seseorang yang setelah sekolah langsung pulang ke rumah atau berada di warnet, gak jauh-jauh juga di rental komik komplek rumah.

“Hati-hati, Sang.”

Yeosang mungkin tidak mendengarkan ucapannya. Dirinya menghela napas, seandainya, seandainya nih, Mingi memiliki keberanian lebih, mungkin Yeosang sudah jadi miliknya. Gak juga sih, Mingi doang. Ah ya, mau bagaimana lagi, memang Mingi yang salah dari awal.

Tangannya ia gunakan untuk mengetuk kepala sendiri beberapa kali, mengucapkan Mingi, lu goblok. berulang kali. Ah, apa guna deh, mungkin memang menyesal, cuma bertindak pun harus bagaimana? Merebut Yeosang dari Yunho? Adanya ia dirundung habis-habisan setelah lulus dari menengah atas.

Mingi menendang kaleng kola kosong.

“Buang sampah dengan benar, Song Mingi!”

Diteriaki guru konseling, Mingi buru-buru kabur dari area sekolah.


“Mingi,” panggil Yeosang. Membuyarkan jawaban Fisika yang berada di hadapan Mingi. Mingi hanya menarik senyum lebarnya, menarik kursi di sampingnya sehingga Yeosang bisa duduk di sana. Tanpa bertanya, Yeosang duduk dan bertopang dagu, menatap apa yang sedang Mingi kerjakan.

“Belajar mulu lu.” Mingi tertawa dengar sebuah sindiran halus dari sahabatnya, “Gak bosen?”

Gelengkan kepala. Ya, memang kegiatan Mingi setelah pulang sekolah adalah mengerjakan tugas yang bisa dikerjakan sambil menunggu Yeosang buat ngajak balik.

“Eh, ke mall sebentar yuk?” ajak Yeosang, sebuah ajakan yang tergolong tumben karena semenjak pacaran sama Yunho, Yeosang cuma sekadar teman pulang langsung ke rumah. Jarang-jarang lagi buat diajak jalan ke mall.

“Tumben.” Mingi akhirnya menutup buku catatannya, karena dalam waktu dekat dia gak akan bisa menolak ajakan Kang Yeosang. Ya, kapan lagi, ya gak?

“Gua berantem sama Yunho.”

Teng.

Mingi sudah menebak sih, pasti ada sesuatu aneh-aneh ini sama oknum JYH, maaf gak mau disebut. Tapi, Mingi mendengarkan saja kelanjutannya. Dari dasarnya, seorang sahabat itu cuma dijadikan tempat curhat. His feeling doesn't matter at all at the end, right?

“Terus? Gua nemenin elu sampai bete lu hilang gitu?” Yeosang yang kini tersenyum lebar.

Yang tahu-tahu, Mingi dan Yeosang sudah berada di salah satu kedai ramen di pusat perbelanjaan dekat sekolah mereka. Kapan terakhir mereka ke sana? Gak tahu, Mingi lupa, saking sudah lama mereka gak pernah main bareng lagi.

“Kangen 'kan lu?” tanya Yeosang, sedikit menggoda Mingi yang sedang menyeruput kuah ramennya.

“Bawel. Lu juga pergi sama gua karena gak ada Yunho 'kan?” Tawa Yeosang seketika berhenti, Mingi yang kini agak gusar menyindir langsung menarik napas.

Salah gua lagi, et dah.

“Bercanda, lu gak usah bete. Gak usah mikirin Yunho deh ...”

”... Pikirin gua aja kenapa?” tapi kalimat tanya ini hanya berputar dalam kepala milik si lanang Song, tak ingin mengungkapkannya keras-keras.

Yeosang mengerucutkan bibirnya, seolah menginginkan Mingi memohon-mohon padanya lagi. Duh, akui saja Kang Yeosang, kalau kamu suka banget yang namanya merundung Song Mingi.

“Ampun, ampun, habis ini gua traktir minuman yang lu suka deh.”

“Bener? Ukuran venti ya?” Yeosang menyipitkan matanya, membuat tatapan menusuk ke arah Mingi yang coba cairkan suasana.

“Iya, bawel banget dah elu. Terima kasih nih, ke sahabat elu paling baik.” Mingi menekankan kata sahabat kepada Yeosang.

Biar lu sadar, aduh, Kang Yeosang. Lu harus tahu kalau ada orang paling ganteng dan paling peduli sama elu.

Mingi kembali gelengkan kepala untuk lepaskan pikiran yang tidak benarnya. Lama-lama kalau seperti itu malah jadi narsis sendiri. Dengan Yeosang yang memeluk lengannya dan melangkahkan kaki ke kedai kopi, Mingi ingin melupakan fakta bahwa Yeosang pacar Yunho.

Sekali-kali Mingi bahagia, walau pura-pura. Walau harus jalan-jalan dengan Yeosang berdua, yang seharusnya menghilangkan betenya Yeosang yang malah menular kepadanya, ya seenggaknya dia bahagia walau sedikit. Sepanjang jalan, Yeosang berceloteh ria soal Yunho yang berbohong kepadanya.

Untuk menjadi teman yang baik, jelas Mingi tidak mengompori aksi Yunho. Gila saja, nanti dikiranya kalau putus, alasannya dia, yang benar saja? Makanya Mingi, pahit-pahit banget nih ngasih wejangan ke Yeosang.

“Sudahlah, Yeo. Coba lu tanya lagi ke Yunho. Mungkin dia nganterin San karena kebetulan saja. Ya, kayak gua nganterin elu tiap dia gak bisa 'kan?”

Ya, untungnya Yeosang selalu mendengarkannya. Gak ada perdebatan kalau urusan seperti ini. Mingi mengusap puncak kepala Yeosang, membisikan ucapan-ucapan yang Yeosang ingin dengar seperti, “Lu tuh udah pacar paling baik punya Yunho.” atau “Gak mungkinlah elu dikalahin San.”


Ya, emang dasarnya ini cerita sedih. Mingi lagi-lagi harus mengubur lagi impiannya jadi kekasih Yeosang ketika Yunho di tengah lapangan bawa balon segede gaban yang membentuk tulisan Sorry. Sorry, sorry, bapak lu.

Mingi yang tengah duduk di pinggir kelas sama Yeosang, harus memberhentikan pembicaraan mereka. Mendorong Yeosang ke arah Yunho yang menunggunya.

“Tuh ditungguin pangeran elu.” Senyum memang lebar di wajah Mingi, tapi itu demi Yeosang.

Semula Yeosang ragu untuk mendekati Yunho yang sudah malu-maluin di tengah lapangan basket ketika istirahat. Apalagi lorong sekolah sudah ramai dengan desis-desis tak mengenakan, atau tawa renyah dari orang yang menganggap aksi Yunho berlebihan. Namun, sebab senyum Mingi yang meyakinkan, Yeosang kembali ke dekapan Yunho dan Mingi hanya dapat menyaksikannya.

You let him go again, Gi.

Iya, lu melepaskan dia. Itu lebih baik daripada merusak pertemanan dan hubungan romansa sahabat sendiri.


Semenjak lulus, Mingi sudah jarang menghubungi Yeosang atau bertemu. Hanya sesekali ketika ia kembali ke kampung halaman, ke rumahnya karena ia mengambil kampus di luar kota. Yang terakhir ia dengar Yeosang masih bersama Yunho.

“Katanya sih mau married.” Mingi gak lagi-lagi deh dengar rumor dari lambe turahnya sekolah.

Cuma buat sakit hati saja ketika Mingi lewat rumah Yeosang. Ia hanya disapa oleh kakak perempuan lelaki itu, yang sekadar basa-basi karena sudah gak pernah kelihatan di sekitar. Mingi gak pernah berani buat nyatain perasaannya ke Yeosang.

Sudah lama, saatnya move on. Gila saja lu, Mingi, tahan amat.

Mungkin, dibandingkan perasaannya belum ikhlas. Lebih tepatnya karena Mingi tidak pernah mengutarakannya di awal, jadinya tertahan. Memang seharusnya dia mengungkapkannya saja, soal akhirnya gimana, Mingi gak peduli. Cuma ya gitu, dia takut, takut malah Yeosang menjauh.

Kamu lagi di rumah, Gi?

Yeosang menyapanya di suatu malam ketika Mingi lagi asyik-asyiknya berjemur di atap rumahnya malam-malam. Lagi mencari bintang jatuh yang bisa mengabulkan permohonannya. Benar saja kekabul, ketika Mingi tak tahu harus memulai percakapan dengan Kang Yeosang, itu orang sudah ngirim pesan ke dia.

Iya, gua lagi di rumah. Kenapa?

Mingi menjawab. Belum ada semenit, Yeosang sudah menulis balasannya kembali.

Sini, ke rumah gua. Gua juga lagi di rumah.

Mingi turun saat itu juga. Mengganti pakaiannya menjadi sedikit lebih rapi, dibandingkan dia cuma pakai celana pendek dan kaos oblong yang sudah bolong sana-sini. Malu juga, sudah lama gak ketemu, bukannya tampang ganteng, malah tambah buluk. Mingi pamit ke orang tuanya untuk bertamu ke tetangga, alias ke rumah Yeosang yang mungkin berjalan lima atau enam rumah darinya.

Yeosang sudah menunggu di depan pagar. Lama tidak bertemu, Yeosang masih cantik di pandangan Mingi, walau baju yang dikenakannya tidaklah berbeda dari yang dipakai Mingi. Celana training dan kaos rumahan. Yeosang mempersilakan Mingi masuk, disambut oleh anggota keluarga lainnya.

Mereka berakhir di kamar Yeosang yang lagi-lagi Mingi lupa kapan terakhir ia berbaring di kasurnya, sambil ngomongin game atau sekadar ngomongin orang. Keduanya berbaring di atas kasur yang sama, berhimpit, sempit-sempitan. Memandang langit-langit yang putih yang penuh dengan stiker bintang.

“Lu balik kok gak bilang? Gua denger dari kakak gua.” Yeosang memulai pembicaraan.

Mingi terdiam sejenak, gak ada ide buat jawab, “Hm, gua kira kalau gua balik pun elu lagi sibuk sama Yunho. Jadinya ya udah.”

Mungkin di balik kata-katanya, memang Mingi selalu menyudutkan Yunho dan ia mengakui hal ini gak sehat. Seharusnya Mingi ikut bahagia kalau Yeosang juga bahagia sama Yunho. Tapi kayaknya, menyindir Yunho memang menjadi hobinya saja, kadang ia berpikir seperti itu.

“Gua udah putus, kalau lu mau tahu.” Mingi awalnya tidak merespon, hanya berderum panjang, sebelum akhirnya ia bangkit dari posisi tidurnya dan terduduk di pinggir ranjang dan menatapi sahabatnya itu.

“Serius lu? Kok bisa?” Dari kabar mau menikah, kenapa tiba-tiba putus? Mingi tidak tahu, misteri.

Yeosang tertawa, “Biasalah. Dia dijodohin sama bokap-nyokapnya, ya udah, terus mau gimana?”

“Lu masih sayang sama dia?” Mingi bertanya.

“Sudah enggak.” Maka Yeosang menjawab, membuahi sebuah kerutan di dahi lawan bicaranya, “Gua gak akan memaksakan perasaan yang sebenarnya sudah gak ada dari lama.”

Yeosang menghela napas dengan berat. Mingi tidak kalah, karena suasanya di dalam ruangan mendadak mencekam, padahal tidak ada apa-apa. Aduh, padahal Mingi sudah mau move on kok ada cobaan seperti ini? Emang ya, Tuhan paling gampang buat bolak-balikin perasaan orang lain.

“Sejak kapan elu gak ada rasa?” tanya Mingi, kepo, beneran ini mah.

“Dari semenjak dia emang suka bohong dari gua. Terus akhirnya gua sadar, gua juga lagi bohongin diri sendiri,” jawab Yeosang. Matanya kini melakat pada Mingi yang masih mencoba mencerna keadaan semesta. Karena apa yang dilontarkan oleh Yeosang seolah bercanda, tapi benar kejadian.

“Maksud lu?” Mingi tidak paham, maka lagi-lagi hanya tanya yang ia berikan.

“Elu gak mau ngomong sesuatu ke gua? Atau ngasih sesuatu ke gua?” Yeosang akhirnya mengikuti Mingi duduk di pinggir ranjang. Keduanya mengayunkan kaki-kaki mereka. Yeosang menunggu jawab dari Mingi, tapi lelaki itu masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Menerka-nerka apa yang dimaksud oleh Yeosang.

“Ngasih apa?” Dengan begonya, Mingi balik bertanya. Seolah mereka ada dalam acara televisi yang penuh dengan tanya jawab. Yeosang mengerjap, kemudian tertawa sebelum memberi sentilan pada dahi Mingi. Mengakibatkan sebuah erangan kesakitan, karena Mingi tidak berekspektasi Yeosang akan melakukan itu.

“Serius, lu gak mau ngomong ke gua apa pun?”

“Kagak, gua gak tahu harus ngomong apa, Sang.”

“Jadi elu udah berhenti suka sama gua?” Yeosang akhirnya terang-terangan.

Mingi membuka mulutnya, sebelum menutupnya kembali. Tergagap ingin menjawab, karena kok bisa tahu, gila saja?!

“Jadi lu beneran sudah berhenti?” Yeosang menambahkan lagi.

Mingi masih diam di tempatnya, menutup wajahnya yang mungkin memerah dengan kedua telapak tangannya. Kok bisa tahu? Lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri. Yeosang masih menunggu jawaban dari Mingi. Boro-boro, Mingi sudah gak tahu harus menjawab apa, serius ini mah.

“Gua ... lebih tepatnya gak tahu, Sang. Karena gua sudah suka sama elu terlalu lama. Jadi, niat gua adalah merelakan elu sama Yunho.”

“Gua udah bilang gua udahan sama Yunhho.”

“Lu ngomong gini bukan karena elu putus dari Yunho 'kan?” Mingi tidak ingin menjadikan dirinya sebagai opsi pelarian orang habis patah hati. Karena mending dia jadi sasaran gebuk deh, daripada cuman jadi samsak perasaan. Karena pasti, lambat laun, ketika Yeosang sudah menemukan yang baru, ia akan dilupakan lagi.

“Mingi!” Yeosang memekik ketika sebutkan namanya, menarik wajah Mingi dan menangkupnya. Mingi berkedip seperti lampu rusak sekarang.

“Mingi, berhenti mikirin hal negatif dulu,” pinta Yeosang, “lu tuh kebiasaan punya dugaan sendiri.”

Maka Mingi memutuskan diam.

“Gi, gua udah bilang, gua udah hilang rasa sama Yunho sudah lama. Gi, kalau gua bilang yang gua sayang selama ini itu elu, apakah elu masih gak mau percaya?”

“Gak.”

“Ih, anjing.”

Mingi tertawa, kalau gak tertawa, dia adanya ditendang oleh Yeosang.

“Serius dulu sini.” Mingi kembali diam.

“Gi, elu beneran gak mau memulai hubungan sama gua?”

“Ya kali gak kuy, mau gua!” Dengan semangat Mingi menjawab, Yeosang jadinya ketawa lihat reaksi si bujang satu itu.

“Makanya, elu masih suka gua gak?” Yeosang bertanya, untuk meyakinkan.

“Mau!”

“Mau gak?”

“Mau, Yang Mulia.”

Yeosang akhirnya puas dan melepaskan tangannya dari wajah Mingi. Mengambil jarak agar dapat memperhatikan wajah lelaki yang selama ini menyukainya, yang selama ini gak pernah komplain kalau digebukin, yang selama ini gak pernah nyalahin dirinya atas apa yang dirinya lakukan selama ini.

“Jadi mulai sekarang elu pacar gua?” Yeosang lagi-lagi ingin meyakinkan bahwa Mingi benar-benar ingin.

“Lu nanya sekali gua cium ya!” Mingi mengancam dengan telunjuk mengarah ke Yeosang.

“Ya sok aja cium, gua sih mau mau─” Belum Yeosang menyelesaikan ucapannya, Mingi sudah memberikan ciuman manis kepada Yeosang tepat di bibir.

Singkat sih, tapi gak apa-apa, rezeki. Masa ditolak?

“Jadi kita pacaran nih?” Mingi bingung, jadi dia yang ingin diyakinkan.

“Iya, bawel.” Mingi dan Yeosang tertawa di atas kasur, masih memproses apa saja yang terjadi.

Jelas mereka masih gak percaya apa yang baru saja kejadian. Mingi gak pernah berharap Yeosang jadian benar-benar sama dirinya dan Yeosang juga gak pernah nyangka Mingi masih menaruh rasa padanya. Inti ceritanya, Mingi gak lagi-lagi menyiakan kesempatan perihal Yeosang. Gak lagi-lagi ia melewatkan hari-harinya untuk mengutarakan perasaan dengan dalih, “Sudahlah, kapan-kapan saja nyatainnya.”

Perasaan mereka sekarang mutual, sama-sama suka. Mingi puas soal itu, gak jadi move on, misi gagal.

Di tengah keheningan Mingi memanggil, “Yeo.”

“Hm?”

“Kapan kita nyusul Yunho?”

Kapan hayo?


Author's note: Ini nih buat temen gua yang nangisin MinSang tiap hari. Ya udah nikmati saja, walau terkesan buru-buru, karena gak tahu mau nulis apa, tapi ngakak juga udah 2K tetiba, kek hello? Dan emang disengajakan gak pakai cara nulis biasa gua yang kayak keluar dari KBBI.