We Were Young and We Were Old.
Jung Wooyoung, 45 tahun.
Wooyoung hanyalah pria yang kau temui di kehidupanmu sehari-hari. Paruh baya, tas pada genggamannya, gunakan transportasi umum untuk mengejar karirnya. Ia hanyalah seseorang yang tidak akan menarik perhatianmu, kecuali wajah rupawan yang akan membuat umurnya selalu dipertanyakan.
“Ayah.” Anak gadisnya memanggil, menarik ujung kemejanya untuk menarik perhatian.
“Boleh kubeli ini?” Sebuah album CD ditunjukkan kepadanya, tak terlihat seperti album CD ketika usianya remaja yang hanya terbungkus plastik rapuh dengan sampul yang tidak semenarik sekarang.
Wooyoung menolak sebelumnya, tapi hanya menumbuhkan rengekan kecil dari anak semata wayangnya. Ah, jadi bertanya kenapa anaknya sangat, sangat, mirip dengannya. Menghela napas panjang, ia mengangguk pelan dan rengekan lekas menjadi sebuah kegembiraan. Tak kuasa menahan senyum tipis pada wajahnya yang kini tumbuh kerutan halus, Wooyoung gelengkan kepala.
Satu album dibawa sang gadis menuju kasir dengan bangga, seolah itu harta karun. Wooyoung mengeluarkan dompet, sebelum hentikan langkah pada lemari yang memajang album-album lama dari penyanyi senior yang mungkin sudah seusianya.
Netra berfokus satu yang terpampang pada rak paling atas, tepat tersorot lampu. Ia terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Menandakan ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar dari belah bibirnya.
“Ayah!” Wooyoung tersadar, segeralah ia menghampiri kasir.
Sang penjaga kasir bertanya, “Ini saja, ada lagi?”
Wooyoung menunjuk satu yang sedari tadi mengganggu kepala, “Saya mau beli yang itu.”
“Ah, album penyanyi senior Kim Hongjoong?”
Wooyoung menggelengkan kepalanya, “Sebelahnya. Saya mengambil album Choi Jongho.”
Jung Wooyoung, 22 tahun.
“Jongho, kau tahu, kau bisa menjual suaramu kalau begini.” Wooyoung masihlah anak ingusan saat itu, baju putih polos belel yang telah longgar ia gunakan. Di sebelahnya, Jongho memegang gitar yang telah usang, tapi di tangan pemuda berumur 21 tahun, melodinya jadi terdengar indah.
Wooyoung berada di atas kasur, bertumpu pada perut, jua sikunya. Memperhatikan Jongho yang duduk di lantai beralas karpet coklat termakan usia, membenarkan senar dan sesekali bersenandung lagu yang terdengar asing bagi Wooyoung.
“Hm, jadi artis bukanlah pilihanku, Woo.” Setelah dirasa selesai, Jongho memetiknya dan menyanyikan lagu yang ia ciptakan sendiri. Wooyoung tak pernah berhenti mencintai bagaimana Jongho menarik suaranya, merdu, hampir bisa membuatnya terlelap kapan saja.
“Kau selalu merendah, kau tahu itu.” Wooyoung bangkit dari posisinya hanya untuk melingkarkan tangan pada bahu Jongho yang masih sibuk dengan gitarnya. Pemuda Jung itu menariknya ke dalam sebuah pelukan, menghirup dalam-dalam aroma shampoo yang digunakan Jongho─mentol dan sitrus yang segar, sangat khas dengan dirinya.
Jongho hanya tertawa, melarutkan dalam hangatnya pelukan sang kekasih.
Jung Wooyoung, 19 tahun.
Ramainya Ibukota selalu membuat dirinya takjub, Wooyoung yang baru saja menjejaki diri sebagai mahasiswa baru di sebuah universitas tak pernah merasakan jantung yang berdebar-debar hanya dengan menatap suasana kota Seoul. Kencangnya motor yang melaju, mobil-mobil yang tiada hentinya terus menghiasi jalanan besar, lampu-lampu jalan yang tak pernah nampak redup di malam hari.
Di sebuah kafe kecil di pinggir kotalah, ia menemukan sosok Choi Jongho. Pria yang setahun lebih muda darinya, masih SMA kelas akhir ketika Wooyoung mengenalnya untuk pertama kali. Pesta kecil yang dirayakan oleh jurusannya menghadirkan band terkenal di sekitar, di sana Jongho berada di balik posisi gitaris.
Wooyoung tak tertarik, bagaimana melihat Jongho yang nampak rapi dibandingkan teman yang lain. Kemeja hitam yang membalut badannya, dipadukan dengan celana jeans biru, tidak nampak seperti anak band pada umumnya. Dirinya acuh pada pesonanya, tapi di sana pula ia menemukan Jongho yang tengah merokok di belakang kafe sendirian.
“Hello.” Wooyoung menyapa, mengeluarkan benda yang sama. Berdua dalam gang sempit, hanya ditemani lampu yang berpijar tak begitu terang.
Satu sapa, hanya satu yang membuat semuanya berubah.
Jung Wooyoung, 20 tahun.
“Selamat!”
Ledakan kecil dari tabung konfeti, sempat membuat Jongho terkaget. Seragam sekolah masih dikenakannya, tas lepas pada genggaman, sebab sang kuasa memegang dada.
“Jung Wooyoung!” Tawa penuhi ruangan, derap langkah yang berpacu juga─Jongho mengejar Wooyoung hingga keduanya terjatuh pada karpet di tengah ruang, bagaimana keduanya menarik napas amat dalam karena lelah berlari.
Dua pasang mata jelaga itu bertemu, senyap menyerbu. Tangan milik tuan yang lebih muda menyentuh tulang pipi lawan bicaranya. Wooyoung tidak pernah mengomentari ihwal tangan Jongho yang kapalan berkat senar-senar gitar yang akrab dengan setiap ujung jarinya, karena ketika Jongho menyentuhnya tak ada lagi kata yang sanggup mendeskripsikannya. Lembut.
Jongho mengecup ringan pada dahi Wooyoung, melekat cukup lama, hingga melepasnya kembali. Wooyoung benarkan posisinya, berbaring dengan kepala bersandar pada bahu kekasihnya.
Ah, benar juga.
“Selamat,” ulang Wooyoung, “selamat menjadi mahasiswa jurusan musik seperti yang kau idamkan.”
Jung Wooyoung, 25 tahun.
“Berhenti merokok, kau berjanji.”
Wooyoung melempar batang rokok ke jalanan, menginjaknya hingga api hilang dari ujungnya. Air mata belum tergenang di bawah matanya, walau sedih tak bisa lagi dibendung oleh hati.
Kota Seoul masih sama seperti enam tahun lalu, ramai. Tapi, Wooyoung bukanlah Wooyoung yang sama seperti enam tahun lalu, lima tahun lalu, atau tahun-tahun yang dilewati bersamaan dengan musim yang silih berganti.
“Jongho, kita bisa bicarakan ini.” Wooyoung memohon, pegangannya pada jaket yang digunakan Jongho sungguhlah erat. Ia tak siap untuk melepaskan, bagaimana ia tidak rela melihat raut wajah Jongho tak berpendar bagai bulan sabit malam itu.
“Woo.” Lirih suaranya, Jongho tak dapat berkata apa-apa.
Keduanya terdiam di bawah langit malam, dingin. Wooyoung menarik Jongho kembali masuk ke dalam gedung bertingkat dengan cahaya lampu bersinar di beberapa balik jendela, ia menyeret kembali ke dalam flat kecil mereka.
Rumah.
Mereka katakan flat kecil dengan cat kuning yang mengelupas sebagai rumah mereka, berdua. Di mana selama lima tahun terakhir mereka selalu bersama. Di mana rumah inilah yang menjadi saksi keduanya menjalani kehidupan mereka bersama.
Jongho terisak, tak lagi kuasa menahan apa yang sempat tertahan. Diikuti Wooyoung setelahnya, beradu dalam bisingnya jalanan kota yang tak pernah berhenti.
Malam itu, tak ada patah kata yang terganti seperti apa yang direncakan. Hanya ada air mata di pipi, tangan yang melingkar di badan satu sama lain, membalut diri pada hangat yang nyata sebelum diterpa dinginnya kenyataan.