Life Was Warm then Life Was Cold.

Choi Jongho, 44 tahun.

“Selamat ulang tahun!”

Konfeti menghalangi pandang, Jongho tertawa bagaimana ia masuk ke dalam gedung tempat ia kerja hanya untuk disambut kertas berwarna-warni dan juga suara yang begitu ramai. Tangan-tangannya dengan sigap menurunkan kertas-kertas dari wajahnya, menatap orang-orang di hadapannya.

“Terima kasih.”

Kehidupan seorang Choi Jongho tidak jauh dari orang-orang yang membantunya di industri hiburan. Ia tersenyum kepada mereka, beberapa staff merupakan staff baru. Begitulah kehidupan di dunia hiburan, wajah-wajah baru ... wajah-wajah remaja muda yang naif, sama sepertinya dulu.

Jongho tidak dapat menghitung sudah berapa tahun ia menjejakkan kakinya di dunia hiburan. Semua terjadi begitu saja, bahkan ketika memulainya ... ia tidak begitu ingat. Mungkin bagi penggemarnya, hari debutnya adalah tanggal pentingnya, tapi tidak bagi dirinya.

Ia masih teringat bagaimana ia harus luntang-lantung, ke sana dan ke mari untuk mendapatkan nama. Debut bukan sesuatu yang menarik, menurutnya, ia harus menyesuaikan diri. Pandai berpura-pura adalah keahliannya, tidak dapat diragukan. Menahan diri dimarahi sana sini, merasakan 24 jam untuk sehari sangatlah kurang, dan mengorbankan seluruh keberuntungannya untuk seonggok kesempatan.

Dwinetranya menatap tumpukan piala di dalam almari kaca. Bentuk apresiasi dari sebuah usaha dan kerja kerasnya selama ini. Tak banyak, tapi Jongho selalu mensyukuri apa saja yang dapat ia lakukan dan dapatkan. Semua ada timbal baliknya, ia selalu menyemangati dirinya.

Karena tidak ada lagi yang bisa melakukannya.

“Pak, hari ini mau makan kemana?” tanya salah satu staff, buyarkan lamunannya.

Jongho tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari rekan kerjanya.


Choi Jongho, 21 tahun.

“Kau ingin membeli yang itu?” Sebuah tanya hampiri rungu milik pemuda Choi yang sibuk menatapi gitar yang menggantung pada rak di sebuah toko alat musik. Jongho menengok ke arah sumber suara, hanya 'tuk dapati Wooyoung melebarkan senyum padanya.

Jongho menggunakan anggukan kepala sebagai jawabnya. Jemarinya menyentuh badan gitar, memperhatikan corak-corak kayu yang terukir di atasnya. Ada yang menarik perhatiannya sedari dulu, tapi dirinya baru memiliki kesempatan untuk menilik kembali.

“Kalau saja kau tidak merusak yang lama, kau tahu aku tidak akan di sini.” Jongho keluarkan kekehan kecil. Sindirannya sekadar canda, hanya ingin memperhatikan Wooyoung yang kini mengerucutkan bibirnya dan tangan dilipat di depan dada.

“Kan aku sudah minta maaf,” rengek lelaki yang lebih tua yang tak hentikan Jongho dari tawanya.

Jongho tentu tidak marah─mungkin sedikit dan sudah berlalu pula─ketika Wooyoung tak sengaja mematahkan gitarnya menjadi dua bagian. Gitar lama yang ia bawa dari rumah memanglah rapuh termakan zaman, ia tahu itu. Ia tak membiarkan amarahnya disalurkan kepada Wooyoung dan memutuskan untuk membeli gitar baru sebagai self-reward atas dirinya sendiri, setidaknya untuk sudah bertahan di bangku kuliah yang menyebalkan.

Tak disadari jika Wooyoung sudah berdiri di sebelahnya, seolah ikut penasaran dengan apa yang dicarinya. Sebelum Jongho inisiatif untuk mengirimkan kecup pada pipi kekasihnya yang satu itu. Erangan kecil diberikan sebagai balas, Wooyoung mencubit lengan atasnya. Lantas hal itu membuatnya kembali tertawa.

I love you.” Jongho berbisik sebagai pengingat.

Jongho mencintai bagaimana Wooyoung selalu ada bersamanya. Membuat cerita-cerita baru yang dapat ia simpan di kepalanya, yang tak akan ia bosan beritahukan pada dunia dengan bangganya. Cerita-cerita yang diukir dalam kesederhanaan, akan tetapi begitu berharga.

Dan saat itulah, ia berani untuk mengutarakan jika dirinya bahagia.


Choi Jongho, 18 tahun.

Seoul tak pernah mati, begitulah pikir Jongho. Terkadang sesak harus berjalan-jalan di ibukota, apalagi jika di akhir pekan. Keadaan rumah juga tidak kalah sesaknya, suntuk bisa dibilang. Kedua orang tua yang individualis dan perfeksionis, hanya akan membuatmu sepi dan dibebani banyak ekspektasi.

Mengikuti band sejak dua tahun terakhir bersama senior yang dikenalnya mungkin sebagai bentuk pemberontakan pertamanya. Diikuti dengan hobi merokoknya dan menambahkan lukisan pada tubuh yang diukir setahun lalu.

Dum spiro, spero.

Begitulah bunyi yang terukir di pundaknya, yang ia sembunyikan dari di balik balutan kain yang ia kenakan sehari-hari. Jongho benar-benar ingin hidup sepenuhnya, tanpa jeratan orang tua yang mengekori, menghantui siang dan malamnya tanpa jeda.

“Ada tawaran gigs, kamu mau ikut?”

Begitulah bagaimana Jongho yang tengah kabur dengan gitar di punggungnya bertemu sosok Jung Wooyoung, salah satu dari kerumunan orang yang perlu dihiburnya. Teringat rokok masih menggantung di belah bibirnya, ketika Wooyoung menyapanya.

Tapi, ia tidak membalas sapanya saat itu.


Choi Jongho, 19 tahun.

Jongho tidak pernah berkata apa-apa kepada orang tuanya ketika ia memilih jurusan musik sebagai tujuannya. Ia menceritakan semuanya pada sosok Jung Wooyoung yang mendengarkannya tanpa menyela. Jongho punya mimpi untuk membuka studio musiknya sendiri suatu hari nanti dan Wooyoung menantikannya, seolah ia mempercayai semua akan terwujud.

Di kala ia sendiri tidak mempercayainya. Terlalu muluk.

Setelah ujian yang dilakukan, kesibukan yang sempat memuncak, panaskan kepala. Jongho benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan, jurusan musik di salah satu universitas top di ibukota. Sayang, itu bukan yang diharapkan sang ayahanda.

“Ayah kecewa.”

Bahkan ucapan seperti mengalahkan dinginnya kota Seoul. Minus derajat tidak sebanding dengan kata-kata yang dikeluarkan lelaki paruh baya itu. Jongho tak memikirkannya lebih lanjut dan memilih untuk berlari pada sosok Wooyoung yang menantinya.

Karena ia tahu, yang mempercayainya hanya Wooyoung seorang.

Karena Wooyoung adalah rumahnya.


Choi Jongho, 24 tahun.

Jongho merapikan barang-barangnya, mengemasinya dalam kotak-kotak lusuh. Wooyoung di sebelah membantunya tanpa berkata apa pun. Tidak pernah terasa sehening ini tempat tinggal mereka berdua, sebuah flat kecil yang sempat ada rasa hangat dan canda tawa menghiasi hari.

“Woo,” panggil Jongho menarik atensi dari yang lebih tua. Keduanya memberhentikan kegiatan mereka, memilih untuk bertatap dalam sorot mata sendu dan bibir yang dipaksakan untuk tersenyum.

“Kau akan baik-baik saja?” tanya sang taruna Choi, mendekatkan dirinya pada sosok Wooyoung yang nampak mematung di tempatnya. Lawan bicaranya mengerjapkan matanya dan mencerna ucapan Jongho.

“Tentu saja.” Dalam keraguannya, Wooyoung menjawab. Jongho tahu, semua itu hanyalah kebohongan, waktu lima tahun bersama itu tidaklah singkat, pula mudah.

“Woo.” Jongho menangkup wajah itu, wajah yang sehari-hari tak pernah tinggalkan benak, wajah yang dilihatnya ketika terbangun dan ketika kembali terlelap. Ia mengambil sebuah kecupan singkat pada bibir yang mungkin akan ia rindukan suatu hari nanti, mungkin akan terus ia rindukan.

Wooyoung menahan napasnya seolah menahan tangisnya. Karena perpisahan bukanlah sesuatu yang mereka ekspektasikan untuk datang secepat ini ...

... atau mungkin mereka denial jika hari ini telah tiba?

Woo, do you regret the path you chose with me?