FEVER

TAGS : Implied sexual activity, death scene, mentioned fire, major character death, first person of view, toxic relationship.

Mereka bilang, “One who wears the crown must bears its weight.” tapi saya mengetahui jika lelaki di hadapan saya dengan angkuhnya dapat mengangkat dagunya tinggi, seolah mahkota intan yang dipasangkannya bukanlah beban baginya.

Jung Wooyoung adalah lelaki yang penuh dengan eluan agung. Saya salah satunya yang menyerahkan seluruh jiwa dan raga padanya, karena pria itu adalah seorang raja, seseorang yang memerintah kerajaan yang dibuat dan dipertahankan leluhurnya. Darah yang mengalir biru murni, membedakan dengan saya yang setetes darah saja tak berharga selain dikorbankan kepada mereka.

Tatapannya dingin di atas singgasananya buat kedua tungkai yang menopang saya bergetar, acapkali saya berhadapan dengannya. Bersujud mungkin adalah jalan ketika kedua kaki tidak dapat lagi membuat saya berdiri tegap saat bertemu dengannya.

Mencintainya adalah sesuatu yang tidak terpuji sebagai kaum bawah, saya menginginkannya lebih dari sosok yang berada di puncak teratas rantai kehidupan. Saya menginginkannya, tapi saya tahu tempat saya di mana. Tak akan mampu, bahkan semua malam yang telah dilewati bersama pun tak akan membuat pria itu goyah sejengkal pun.

More.

Wooyoung tidak pernah meminta. Ucap-ucap yang keluar dari belah bibirnya adalah perintah, sesuatu yang harus saya turuti, sesuatu yang tak akan bisa saya bantah apapun alasannya.

Faster.

Tangan saya yang kotor, menyentuh seluruh tiap inchi tubuhnya. Namun, itu tidak cukup untuk menyentuh hatinya. Tidak akan pernah, tapi itulah yang membuat saya semakin haus akan presensinya yang nampak begitu rapuh di bawah saya. Ah, bahkan dalam keadaan terhina pun, ia nampak begitu anggun, begitu cantik.

Don't stop.“ “Please.

Your wish is my command, Your Highness.

Seapik apa pakaianmu yang kau hias dengan jutaan berlian, tak akan pernah mengalahkan figur tanpa busanamu. Menyedihkan pula menyakitkan, mengetahui seberapa seringnya saya menyentuh titik ternikmatmu, tanganmu tak akan mengerat dan mengisi ruang di antara sela jariku. Pada alas sutralah kau menggenggam erat seluruh nyawamu, karena makhluk dangkal sepertiku tak pernah layak untuk mendapatkanmu.

Tanpa terpapar virus mematikan pun, saya sudah terjangkit penyakit. Bodoh saya, semakin sakit ini terasa, semakin saya menginginkanmu. Tidak hanya ketika saya berada di antara kedua kakimu, memuaskan hawa nafsumu di malam lain, tapi juga relung hatimu.

Wooyoung, kau begitu dekat dan jauh di waktu bersamaan.

Kau tahu, Yang Mulia? Bara api yang menyala di bawahku, tak akan pernah mengalahkan rasa sakit yang mencekik ulu hatiku. Api yang kau nyalakan padaku malam itu, tak akan pernah padam walau tanganku tak lagi dapat menggapaimu. Kaki yang terikat yang perlahan mengabu, tak akan meruntuhkan apa yang kupercaya.

Jika cintaku begitu nyata.