<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>曼珠沙華</title>
    <link>https://kultusan.writeas.com/</link>
    <description>flower of the heavens</description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 07:06:27 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>all i need to hear</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/all-i-need-to-hear?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[all i need to hear&#xA;&#xA;PAIR: Park Sunghoon/Lee Heeseung&#xA;SONG: The 1975 - All I Need To Hear&#xA;TAGS: Post break-up Sunghoon, lowercase type, no beta read&#xA;&#xA;-------------------------------&#xA;&#xA;dengan langkah yang tertatih-tatih, sunghoon kembali ke kamar apartemennya yang dingin dan sunyi. kamar itu seharusnya dihuni oleh dua orang─sepasang kekasih. yang nyatanya, hanya tersisa dia seorang diri di sana.&#xA;&#xA;park sunghoon membuka pintu kamar apartemennya dengan sedikit harap ada seseorang di sana, menyambutnya dengan hangat seperti hari-hari biasa. semenjak dirinya putus dengan mantan kekasihnya sebulan lalu, sunghoon masih belum dapat menerima kenyataan; lelaki bernama lee heeseung itu pergi dari hidupnya dengan kemungkinan tak akan kembali.&#xA;&#xA;dirogohnya saku jaket untuk mengambil telepon cerdasnya, si pemarga park itu mengirimkan pesan kepada teman-temannya. aku mengadakan pesta di tempatku begitulah bunyi pesannya. harap-harap pesta yang diadakannya bisa mengusir apapun yang menggangu pikirannya.&#xA;&#xA;kenapa sulit untuk kirim pesan? &#xA;&#xA;sunghoon kembali tatap layar teleponnya, masih terpampang fotonya dan sang mantan kekasih, tersenyum dengan pemandangan sungai han ketika musim semi sebagai latar belakangnya. dia ingin kembali ke masa-masa itu. &#xA;&#xA;apakah ada harap?&#xA;&#xA;ketika teman-teman sunghoon datang meramaikan kamar apartemennya dengan alkohol, musik kencang, dan segala topik, sunghoon tetap dapat berfokus pada apa yang mereka katakan.&#xA;alkohol tak mempan, musik kesukaannya pun tak didengarkannya baik-baik, dan segala candaan pun tak terdengar lucu baginya.&#xA;&#xA;sunghoon pamit untuk mengambil air dingin di kulkas, namun yang ia lakukan hanyalah duduk bersandar pada meja tengah dapur; dia memandang sayu teman-temannya di ruang tengah dari dapur. &#xA;&#xA;apakah lebih baik begini? dia bertanya pada dirinya sendiri, bahkan tidak tahu apa yang ia harus lakukan lagi untuk melupakan sosok yang telah meninggalkannya satu bulan lalu.&#xA;&#xA;putus itu tidak pernah jadi opsi bagi sunghoon. berani bersumpah jika ia mencintai heeseung sampai ke liang lahadnya, tapi realita berkata lain. masih teringat-ingat bagaimana bertengkar hebat malam itu, musim dingin di kota seoul dengan salju masih dengan lembut perlahan turun.&#xA;&#xA;&#34;i&#39;m fucking hate you, park sunghoon.&#34;&#xA;&#34;i wish i never met you in the first place.&#34;&#xA;&#xA;kata-kata heeseung itu berputar bagai kaset rusak di kepalanya. genggamannya pada gelasnya kian mengeras, sepertinya ia bisa menangis kapan saja jika terus-terusan mengingat memori itu. &#xA;&#xA;cemburumu itu penyakit, sunghoon menyumpahi diri sendiri memang menjadi pilihan sunghoon setelah putus. tak ada hari di mana ia tak menyalahkan sisi pencemburunya dan sebagaimana ia terlalu vokal soal itu.&#xA;&#xA;sunghoon duduk di kursi meja belajarnya saat kembali sendirian di kamar apartemennya. hanya ada cahaya lampu dari laptop yang menyala di atas meja untuk meneranginya. kedua tangan bersiaga di atas papan ketik laptop kesayangannya untuk mengetik sesuatu ke dalam badan e-mail&#xA;&#xA;&#34;hi, heeseung.&#34; dia bernarasi sendiri, coba-coba cari kata yang tepat sebagai pembuka.&#xA;&#xA;&#34;bagaimana kabarmu?&#34; sambil berbicara, sunghoon juga sambil mengetiknya dengan perlahan.&#xA;&#xA;&#34;sudah sebulan ya? kamu baik-baikkah tanpa aku? i hope you do, i know you always do.&#34; ada rasa tercekat dalam dadanya ketika menumpahkan semua itu ke badan e-mail.&#xA;&#xA;sunghoon tahu, heeseung dengan atau tanpanya tak akan bedanya. lelaki yang satu itu selalu punya caranya sendiri untuk membahagiakan diri, tetapi tidak dengan sunghoon. ia tak pernah menyesali bagaimana menjadikan heeseung sebagai orang yang ia percaya bertahun-tahun, menjadikan heeseung nomor panggilan daruratnya, segala-gala tentang heeseung. maka ketika heeseung hilang dalam hidupnya, hampa melanda.&#xA;&#xA;&#34;hari ini aku mengadakan pesta lagi di tempat kita.&#34; &#xA;&#xA;apakah pantas dirinya masih menyebutnya tempat bersama?&#xA;&#xA;&#34;tapi tidak ada satupun yang membuatku senang.&#34; jaeyun juga sunoo sudah coba hibur dia, mengajaknya untuk bertemu orang lain. tidak lupa dengan jebakan kencan buta yang dibuat oleh jongseong. &#xA;&#xA;semua itu tidak menyenangkan.&#xA;&#xA;&#34;bukan aku tidak menghargai usaha mereka menghiburku,&#34; katanya, &#34;tapi yang kubutuhkan bukan itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;yang kubutuhkan itu kamu, lee heeseung.&#34; disengajakan tebal ketika ia menaruh nama mantan kekasihnya itu.&#xA;&#xA;&#34;lee heeseung,&#34; panggilnya, mungkin hanya angin yang mendengarkannya, tapi ia tak peduli.&#xA;&#xA;&#34;please, tell me you love me.&#34;&#xA;&#34;i don&#39;t care if you&#39;re insincere.&#34;&#xA;&#34;but you know, that&#39;s the only i need.&#34;&#xA;&#xA;sunghoon memandangi layarnya kembali, lalu segera menutup surat yang telah diketiknya; memasukan surat itu kembali ke dalam draft tak terkirimnya. ada ratusan, mungkin ribuan, surat tak terkirim itu. yang pasti satu pintanya, ia hanya ingin mendengar heeseung berkata lelaki itu mencintainya. walaupun itu tidak mungkin, tidak tulus, sunghoon akan mengabaikan semua itu.&#xA;&#xA;sunghoon terdiam lagi-lagi di tengah hening malam.&#xA;&#xA;please, tell me you love me, heeseung.&#xA;&#xA;----------------------&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="all-i-need-to-hear" id="all-i-need-to-hear">all i need to hear</h2>

<p><strong>PAIR</strong>: Park Sunghoon/Lee Heeseung
<strong>SONG</strong>: The 1975 – All I Need To Hear
<strong>TAGS</strong>: Post break-up Sunghoon, lowercase type, no beta read</p>

<hr/>

<p>dengan langkah yang tertatih-tatih, sunghoon kembali ke kamar apartemennya yang dingin dan sunyi. kamar <em>itu</em> seharusnya dihuni oleh dua orang─sepasang kekasih. yang nyatanya, hanya tersisa dia seorang diri di sana.</p>

<p>park sunghoon membuka pintu kamar apartemennya dengan sedikit harap ada seseorang di sana, menyambutnya dengan hangat seperti hari-hari biasa. semenjak dirinya putus dengan mantan kekasihnya sebulan lalu, sunghoon masih belum dapat menerima kenyataan; lelaki bernama lee heeseung itu pergi dari hidupnya dengan kemungkinan tak akan kembali.</p>

<p>dirogohnya saku jaket untuk mengambil telepon cerdasnya, si pemarga park itu mengirimkan pesan kepada teman-temannya. <em>aku mengadakan pesta di tempatku</em> begitulah bunyi pesannya. harap-harap pesta yang diadakannya bisa mengusir apapun yang menggangu pikirannya.</p>

<p><em>kenapa sulit untuk kirim pesan?</em></p>

<p>sunghoon kembali tatap layar teleponnya, masih terpampang fotonya dan sang mantan kekasih, tersenyum dengan pemandangan sungai han ketika musim semi sebagai latar belakangnya. dia ingin kembali ke masa-masa itu.</p>

<p><em>apakah ada harap?</em></p>

<p>ketika teman-teman sunghoon datang meramaikan kamar apartemennya dengan alkohol, musik kencang, dan segala topik, sunghoon tetap dapat berfokus pada apa yang mereka katakan.
alkohol tak mempan, musik kesukaannya pun tak didengarkannya baik-baik, dan segala candaan pun tak terdengar lucu baginya.</p>

<p>sunghoon pamit untuk mengambil air dingin di kulkas, namun yang ia lakukan hanyalah duduk bersandar pada meja tengah dapur; dia memandang sayu teman-temannya di ruang tengah dari dapur.</p>

<p><em>apakah lebih baik begini?</em> dia bertanya pada dirinya sendiri, bahkan tidak tahu apa yang ia harus lakukan lagi untuk melupakan sosok yang telah meninggalkannya satu bulan lalu.</p>

<p>putus itu tidak pernah jadi opsi bagi sunghoon. berani bersumpah jika ia mencintai heeseung sampai ke liang lahadnya, tapi realita berkata lain. masih teringat-ingat bagaimana bertengkar hebat malam itu, musim dingin di kota seoul dengan salju masih dengan lembut perlahan turun.</p>

<p>“<em>i&#39;m fucking hate you, park sunghoon.</em>“
“<em>i wish i never met you in the first place</em>.”</p>

<p>kata-kata heeseung itu berputar bagai kaset rusak di kepalanya. genggamannya pada gelasnya kian mengeras, sepertinya ia bisa menangis kapan saja jika terus-terusan mengingat memori itu.</p>

<p><em>cemburumu itu penyakit, sunghoon</em> menyumpahi diri sendiri memang menjadi pilihan sunghoon setelah putus. tak ada hari di mana ia tak menyalahkan sisi pencemburunya dan sebagaimana ia terlalu vokal soal itu.</p>

<p>sunghoon duduk di kursi meja belajarnya saat kembali sendirian di kamar apartemennya. hanya ada cahaya lampu dari laptop yang menyala di atas meja untuk meneranginya. kedua tangan bersiaga di atas papan ketik laptop kesayangannya untuk mengetik sesuatu ke dalam badan e-mail</p>

<p>“hi, heeseung.” dia bernarasi sendiri, coba-coba cari kata yang tepat sebagai pembuka.</p>

<p>“bagaimana kabarmu?” sambil berbicara, sunghoon juga sambil mengetiknya dengan perlahan.</p>

<p>“sudah sebulan ya? kamu baik-baikkah tanpa aku? <em>i hope you do, i know you always do</em>.” ada rasa tercekat dalam dadanya ketika menumpahkan semua itu ke badan e-mail.</p>

<p>sunghoon tahu, heeseung dengan atau tanpanya tak akan bedanya. lelaki yang satu itu selalu punya caranya sendiri untuk membahagiakan diri, tetapi tidak dengan sunghoon. ia tak pernah menyesali bagaimana menjadikan heeseung sebagai orang yang ia percaya bertahun-tahun, menjadikan heeseung nomor panggilan daruratnya, segala-gala tentang heeseung. maka ketika heeseung hilang dalam hidupnya, hampa melanda.</p>

<p>“hari ini aku mengadakan pesta lagi di tempat kita.”</p>

<p><em>apakah pantas dirinya masih menyebutnya tempat bersama?</em></p>

<p>“tapi tidak ada satupun yang membuatku senang.” jaeyun juga sunoo sudah coba hibur dia, mengajaknya untuk bertemu orang lain. tidak lupa dengan jebakan kencan buta yang dibuat oleh jongseong.</p>

<p>semua itu tidak menyenangkan.</p>

<p>“bukan aku tidak menghargai usaha mereka menghiburku,” katanya, “tapi yang kubutuhkan bukan itu.”</p>

<p>“yang kubutuhkan itu kamu, <strong>lee heeseung</strong>.” disengajakan tebal ketika ia menaruh nama mantan kekasihnya itu.</p>

<p>“<em>lee heeseung</em>,” panggilnya, mungkin hanya angin yang mendengarkannya, tapi ia tak peduli.</p>

<p>“<em>please, tell me you love me</em>.”
“<em>i don&#39;t care if you&#39;re insincere</em>.”
“<em>but you know, that&#39;s the only i need</em>.”</p>

<p>sunghoon memandangi layarnya kembali, lalu segera menutup surat yang telah diketiknya; memasukan surat itu kembali ke dalam <em>draft</em> tak terkirimnya. ada ratusan, mungkin ribuan, surat tak terkirim itu. yang pasti satu pintanya, ia hanya ingin mendengar heeseung berkata lelaki itu <em>mencintai</em>nya. walaupun itu tidak mungkin, tidak tulus, sunghoon akan mengabaikan semua itu.</p>

<p>sunghoon terdiam lagi-lagi di tengah hening malam.</p>

<p><em>please, tell me you love me, heeseung.</em></p>

<hr/>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/all-i-need-to-hear</guid>
      <pubDate>Mon, 17 Oct 2022 18:18:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Night Call ㅡ HoonSeung Ver.</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/night-call-eu-hoonseung-ver?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Night Call ㅡ HoonSeung Ver.&#xA;&#xA;”Hallo, Sunghoon, maaf mengganggu—“&#xA;&#xA;Heeseung tidak menyangka ia akan membuat panggilan telepon pada Sunghoon di tengah malam. Dua maniknya pandangin pemandangan di luar kaca jendela. Di bawah sana hanyalah jalan yang masih ramai walau pagi bisa menjemput kapan saja. Kepalanya penuh, mentalnya lelah, ia butuh berlabuh sebentar saja. Tidak meminta lebih dan menghubungi Sunghoon adalah pilihannya.&#xA;&#xA;“Heeseung?” Sunghoon memanggil namanya dengan tanda tanya, seolah terkejut siapa yang menghubungi di puncak malam.&#xA;&#xA;“Apa kau tertidur?” Heeseung memainkan batang rokok tak berapi dengan ujungnya yang bebas.&#xA;&#xA;“Tidak. Jika iya, maka aku tidak akan menjawabmu.” Sunghoon terkekeh di akhir jawabnya. Heeseung dapat membayangkan lelaki itu tengah tertidur di ranjangnya, memandang langit-langitnya di tengah kegelapan malam. Sunghoon akan memeluk boneka beruang yang diberikan Heeseung ketika perayaan hari jadi mereka yang kelima.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa menelpon?&#34; Sunghoon bertanya. &#xA;&#xA;Heeseung alihkan pandang pada tangannya yang kini mengapit rokok di sela jemarinya, &#34;Aku sedang lelah.&#34;&#xA;&#xA;Sunghoon mengumbang panjang, mencoba mendengar lebih suara Heeseung. Menantinya untuk menceritakan lebih banyak hal.&#xA;&#xA;&#34;Aku ... aku lelah dengan beban yang diberikan. Aku tidak bisa, Hoon. Aku benci terlihat lemah.&#34; Suaranya tak gentar, tapi untuk mengucapnya jelas Heeseung butuh usaha lebih. &#xA;&#xA;Aku benci terlihat lemah juga ucapan yang berlaku jika ia berhadapan dengan Sunghoon. Ingin rasanya menghambur pada Sunghoon, tidak ingin berucap hanya ingin sebuah rengkuhan dan meluruhkan seluruh air matanya pada dada pemuda yang satu.&#xA;&#xA;&#34;Heeseung... &#34; panggil Sunghoon. &#xA;&#xA;Heeseung menunggu.&#xA;&#xA;&#34;Sebenarnya aku tidak tahu harus membalas apa. Kamu ingin aku menjawab apa?&#34; tanya Sunghoon, tahu betul terkadang kata-kata penyemangat bukanlah yang Heeseung butuhkan. Heeseung memang sudah lelah dengan kata-kata semua akan berlalu pada waktunya. Lelah dengan waktu yang nampak tak berhilal, tak memilik ujung terkecuali ajal menjemput. &#xA;&#xA;&#34;Distraksi, kau bisa berceritakan tentang harimu, Hoon.&#34;&#xA;&#xA;Heeseung dapat melihat seringai pada wajah Sunghoon, Heeseung tahu betul Sunghoon.&#xA;&#xA;&#34;Memang kau tertarik untuk mendengarkan ceritaku yang membosankan, Lee Heeseung?&#34; Heeseung tertawa kecil, kenapa selalu Sunghoon merendah soal hidupnya yang luar biasa pada Heeseung? &#xA;&#xA;Park Sunghoon, 27 tahun, seorang manajer marketing di perusahaan e-commerce terkenal. Bertemu dengan banyak orang, dicintai banyak orang, dikelilingi orang yang mengenalnya. Semua orang tahu siapa dia. Heeseung bukan apa-apa jika harus disandingkan dengan Sunghoon, lucu juga jika Sunghoon terus memilih Heeseung berkali-kali.&#xA;&#xA;&#34;Mungkin sesuatu yang membosankan bagimu adalah hal yang menarik untukku,&#34; tukas Heeseung. &#xA;&#xA;Sunghoon kemudian memulai ceritanya. Bagaimana ia melihat orang-orang berjalan dengan pakaian putih. Terkadang hewan-hewan juga berkeliaran dengan bebas. Sunghoon berkata, ia hari ini memiliki teman kucing hitam yang mengingatnya dengan Heeseung, dengan rumahnya. Heeseung yang mendengarkannya, beranjak dari tempatnya dan menaruh rokok di atas meja. Dirinya kemudian berpindah duduk ke tepi ranjang. Diusap-usapnya permukaan kasur yang berkerut.&#xA;&#xA;&#34;Lalu? Kau namai siapa kucing itu?&#34; Agar tak membosankan, sesekali Heeseung memberi respon atas cerita yang diberikan.&#xA;&#xA;&#34;Kunamai Heeseung dan kucing ini tidak menyukainya. Katanya ia punya nama! Jay!&#34; Sunghoon jawab dengan serius, mengundang gelak tawa dari Heeseung seolah ia membayangkan Sunghoon berbicara dengan binatang kecil itu.&#xA;&#xA;Seperti dulu.&#xA;&#xA;Heeseung memandangi nakasnya, rungu masih mendengar celoteh pemuda yang lebih muda. Di atas sana terdapat bingkai yang sengaja ia tutupi gambarnya, kemudian tangannya yang bebas mengulur untuk membenarkan posisi bingkai. Kini, terlihat foto Sunghoon di ladang bakung lelabah merah. Jepang nampak asri kala itu, Heeseung tak pernah bosan untuk abadi Sunghoon dalam bentuk gambar.&#xA;&#xA;Tak terasa, waktu sudah tunjukkan pukul tiga pagi. Matahari terbit kapan saja, tapi Heeseung tak membiarkan panggilannya terputus.&#xA;&#xA;&#34;Heeseung, sudah mau pagi.&#34;&#xA;&#xA;Pagi selalu menjengkelkan. Heeseung harus melakukan hal repetitif, bergelut dengan kewajiban, dan dihajar realita menyakitkan. Heeseung membenci pagi, tapi tidak dengan mentari terbit. Heeseumg menyukai siluet yang hitam yang memudar biru seperti gelap berganti pilu, seolah menyadarkan ia harus kembali memangku beban yang ada.&#xA;&#xA;&#34;Sedikit lagi, Hoon. Sebentar lagi, aku mohon.&#34;&#xA;&#xA;Bisa terdengar Sunghoon menghela napas, dilema antara ingin tetap menemani atau menyuruh Heeseung untuk tertidur barang sebentar saja. Heeseung lagi-lagi tahu, Sunghoon akan mengomelinya, membuatnya harus mendengarkan ocehan tentang kehidupannya yang tidak sehat.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, lima menit lagi akan ditutup.&#34;&#xA;&#xA;Heeseung mengangguk, ia tahu Sunghoon tak akan melihat senyum tipis yang terpasang di romannya yang telah lelah.&#xA;&#xA;&#34;Hoon, kali ini biarkan aku yang berbicara.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku ... &#34; Heeseung menjeda, &#34; ... sangat berterima kasih kamu selalu mengangkat teleponku ketika semua itu hal yang tak mungkin.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon terdiam, maka Heeseung melanjutkan ucapannya.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih sudah menemaniku beberapa hari terakhir. Rasanya berat, Sunghoon. Berat sekali di sini, aku tahu aku bisa. Aku ... aku lelah dengan asumsi orang terhadapku.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku ingin istirahat, tapi pikiranku berkata tidak dan aku merasa, semua itu lebih baik ketika aku mendengarkan suaramu.&#34; &#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;Tak disadari suara di luar sana sangatlah berisik jika tak ada suaranya, maupun suara Sunghoon juga. Benar-benar sungguh bisingnya ibukota dan Heeseung baru menyadarinya, karena selama ini selalu merasa sepi.&#xA;&#xA;&#34;Heeseung.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sunghoon, aku berterima kasih ... &#34;&#xA;&#34; ... aku mencintaimu ... &#34;&#xA;&#34; ... dan aku minta—&#34;&#xA;&#xA;Klik.&#xA;&#xA;&#34;—maaf.&#34;&#xA;&#xA;Heeseung belum sempat menyelesaikan perkataannya, panggilannya telah terputus. Ia memandang layar ponselnya, sebelum menaruhnya di atas nakas bersebelahan dengan bingkai foto. &#xA;&#xA;  I hope this time will last forever.&#xA;  I hope it’ll last forever, I hope you’ll be happy.&#xA;&#xA;--------------------------------------------------------------&#xA;&#xA;&#34;Heeseung menelpon siapa selarut ini?&#34; Jongseong bertanya pada Jaeyun, keduanya adalah teman satu kamar apartemen Heeseung. Jaeyun yang tengah terduduk di ruang tengah, mematikan televisinya ketika melihat kepulangan Jongseong.&#xA;&#xA;&#34;Sunghoon.&#34; Suaranya pelan ketika menjawab, seolah nama itu ingin tidak terdengar siapa pun. Jongseong jadi bertanya-tanya, kenapa Jaeyun harus mengecilkan suaranya. &#xA;&#xA;&#34;Siapa?&#34; Jongseong mengambil duduk di sebelah Jaeyun, melonggarkan dasi yang mengerat pada lehernya. &#xA;&#xA;&#34;Mantan kekasih Heeseung ... &#34;&#xA;&#34; ... yang meninggal setahun lalu.&#34;&#xA;&#xA;-------------------------------------------&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="night-call-ㅡ-hoonseung-ver" id="night-call-ㅡ-hoonseung-ver">Night Call ㅡ HoonSeung Ver.</h2>

<p>”Hallo, Sunghoon, maaf mengganggu—“</p>

<p>Heeseung tidak menyangka ia akan membuat panggilan telepon pada Sunghoon di tengah malam. Dua maniknya pandangin pemandangan di luar kaca jendela. Di bawah sana hanyalah jalan yang masih ramai walau pagi bisa menjemput kapan saja. Kepalanya penuh, mentalnya lelah, ia butuh berlabuh sebentar saja. Tidak meminta lebih dan menghubungi Sunghoon adalah pilihannya.</p>

<p>“<em>Heeseung?</em>” Sunghoon memanggil namanya dengan tanda tanya, seolah terkejut siapa yang menghubungi di puncak malam.</p>

<p>“Apa kau tertidur?” Heeseung memainkan batang rokok tak berapi dengan ujungnya yang bebas.</p>

<p>“<em>Tidak. Jika iya, maka aku tidak akan menjawabmu.</em>” Sunghoon terkekeh di akhir jawabnya. Heeseung dapat membayangkan lelaki itu tengah tertidur di ranjangnya, memandang langit-langitnya di tengah kegelapan malam. Sunghoon akan memeluk boneka beruang yang diberikan Heeseung ketika perayaan hari jadi mereka yang kelima.</p>

<p>“<em>Kenapa menelpon?</em>” Sunghoon bertanya.</p>

<p>Heeseung alihkan pandang pada tangannya yang kini mengapit rokok di sela jemarinya, “Aku sedang lelah.”</p>

<p>Sunghoon mengumbang panjang, mencoba mendengar lebih suara Heeseung. Menantinya untuk menceritakan lebih banyak hal.</p>

<p>“Aku ... aku lelah dengan beban yang diberikan. Aku tidak bisa, Hoon. Aku benci terlihat lemah.” Suaranya tak gentar, tapi untuk mengucapnya jelas Heeseung butuh usaha lebih.</p>

<p><em>Aku benci terlihat lemah</em> juga ucapan yang berlaku jika ia berhadapan dengan Sunghoon. Ingin rasanya menghambur pada Sunghoon, tidak ingin berucap hanya ingin sebuah rengkuhan dan meluruhkan seluruh air matanya pada dada pemuda yang satu.</p>

<p>“<em>Heeseung</em>... “ panggil Sunghoon.</p>

<p>Heeseung menunggu.</p>

<p>“Sebenarnya aku tidak tahu harus membalas apa. Kamu ingin aku menjawab apa?” tanya Sunghoon, tahu betul terkadang kata-kata penyemangat bukanlah yang Heeseung butuhkan. Heeseung memang sudah lelah dengan kata-kata <em>semua akan berlalu pada waktunya</em>. Lelah dengan waktu yang nampak tak berhilal, tak memilik ujung terkecuali ajal menjemput.</p>

<p>“Distraksi, kau bisa berceritakan tentang harimu, Hoon.”</p>

<p>Heeseung dapat melihat seringai pada wajah Sunghoon, Heeseung tahu betul Sunghoon.</p>

<p>“Memang kau tertarik untuk mendengarkan ceritaku yang membosankan, Lee Heeseung?” Heeseung tertawa kecil, kenapa selalu Sunghoon merendah soal hidupnya yang luar biasa pada Heeseung?</p>

<p>Park Sunghoon, 27 tahun, seorang manajer marketing di perusahaan <em>e-commerce</em> terkenal. Bertemu dengan banyak orang, dicintai banyak orang, dikelilingi orang yang mengenalnya. Semua orang tahu siapa dia. Heeseung bukan apa-apa jika harus disandingkan dengan Sunghoon, lucu juga jika Sunghoon terus memilih Heeseung berkali-kali.</p>

<p>“Mungkin sesuatu yang <em>membosankan</em> bagimu adalah hal yang menarik untukku,” tukas Heeseung.</p>

<p>Sunghoon kemudian memulai ceritanya. Bagaimana ia melihat orang-orang berjalan dengan pakaian putih. Terkadang hewan-hewan juga berkeliaran dengan bebas. Sunghoon berkata, ia hari ini memiliki teman kucing hitam yang mengingatnya dengan Heeseung, dengan <em>rumahnya</em>. Heeseung yang mendengarkannya, beranjak dari tempatnya dan menaruh rokok di atas meja. Dirinya kemudian berpindah duduk ke tepi ranjang. Diusap-usapnya permukaan kasur yang berkerut.</p>

<p>“Lalu? Kau namai siapa kucing itu?” Agar tak membosankan, sesekali Heeseung memberi respon atas cerita yang diberikan.</p>

<p>“Kunamai Heeseung dan kucing ini tidak menyukainya. Katanya ia punya nama! Jay!” Sunghoon jawab dengan serius, mengundang gelak tawa dari Heeseung seolah ia membayangkan Sunghoon berbicara dengan binatang kecil itu.</p>

<p><em>Seperti dulu</em>.</p>

<p>Heeseung memandangi nakasnya, rungu masih mendengar celoteh pemuda yang lebih muda. Di atas sana terdapat bingkai yang sengaja ia tutupi gambarnya, kemudian tangannya yang bebas mengulur untuk membenarkan posisi bingkai. Kini, terlihat foto Sunghoon di ladang bakung lelabah merah. Jepang nampak asri kala itu, Heeseung tak pernah bosan untuk abadi Sunghoon dalam bentuk gambar.</p>

<p>Tak terasa, waktu sudah tunjukkan pukul tiga pagi. Matahari terbit kapan saja, tapi Heeseung tak membiarkan panggilannya terputus.</p>

<p>“<em>Heeseung, sudah mau pagi.</em>“</p>

<p>Pagi selalu menjengkelkan. Heeseung harus melakukan hal repetitif, bergelut dengan kewajiban, dan dihajar realita menyakitkan. Heeseung membenci pagi, tapi tidak dengan mentari terbit. Heeseumg menyukai siluet yang hitam yang memudar biru seperti gelap berganti pilu, seolah menyadarkan ia harus kembali memangku beban yang ada.</p>

<p>“Sedikit lagi, Hoon. Sebentar lagi, aku mohon.”</p>

<p>Bisa terdengar Sunghoon menghela napas, dilema antara ingin tetap menemani atau menyuruh Heeseung untuk tertidur barang sebentar saja. Heeseung lagi-lagi tahu, Sunghoon akan mengomelinya, membuatnya harus mendengarkan ocehan tentang kehidupannya yang tidak sehat.</p>

<p>“<em>Baiklah, lima menit lagi akan ditutup.</em>“</p>

<p>Heeseung mengangguk, ia tahu Sunghoon tak akan melihat senyum tipis yang terpasang di romannya yang telah lelah.</p>

<p>“Hoon, kali ini biarkan aku yang berbicara.”</p>

<p>“Aku ... ” Heeseung menjeda, “ ... sangat berterima kasih kamu selalu mengangkat teleponku ketika semua itu hal yang tak mungkin.”</p>

<p>Sunghoon terdiam, maka Heeseung melanjutkan ucapannya.</p>

<p>“Terima kasih sudah menemaniku beberapa hari terakhir. Rasanya berat, Sunghoon. Berat sekali di sini, aku tahu aku bisa. Aku ... aku lelah dengan asumsi orang terhadapku.”</p>

<p>“Aku ingin istirahat, tapi pikiranku berkata tidak dan aku merasa, semua itu lebih baik ketika aku mendengarkan suaramu.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>Tak disadari suara di luar sana sangatlah berisik jika tak ada suaranya, maupun suara Sunghoon juga. Benar-benar sungguh bisingnya ibukota dan Heeseung baru menyadarinya, karena selama ini selalu merasa sepi.</p>

<p>“<em>Heeseung.</em>“</p>

<p>“Sunghoon, aku berterima kasih ... “
“ ... aku mencintaimu ... “
“ ... dan aku minta—”</p>

<p><em>Klik.</em></p>

<p>“—maaf.”</p>

<p>Heeseung belum sempat menyelesaikan perkataannya, panggilannya telah terputus. Ia memandang layar ponselnya, sebelum menaruhnya di atas nakas bersebelahan dengan bingkai foto.</p>

<blockquote><p><em>I hope this time will last forever.
I hope it’ll last forever, I hope you’ll be happy.</em></p></blockquote>

<hr/>

<p>“Heeseung menelpon siapa selarut ini?” Jongseong bertanya pada Jaeyun, keduanya adalah teman satu kamar apartemen Heeseung. Jaeyun yang tengah terduduk di ruang tengah, mematikan televisinya ketika melihat kepulangan Jongseong.</p>

<p>“Sunghoon.” Suaranya pelan ketika menjawab, seolah nama itu ingin tidak terdengar siapa pun. Jongseong jadi bertanya-tanya, kenapa Jaeyun harus mengecilkan suaranya.</p>

<p>“Siapa?” Jongseong mengambil duduk di sebelah Jaeyun, melonggarkan dasi yang mengerat pada lehernya.</p>

<p>“Mantan kekasih Heeseung ... “
“ ... yang meninggal setahun lalu.”</p>

<hr/>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/night-call-eu-hoonseung-ver</guid>
      <pubDate>Mon, 11 Jul 2022 12:55:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>FEVER</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/fever?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[FEVER&#xA;&#xA;TAGS : Implied sexual activity, death scene, mentioned fire, major character death, first person of view, toxic relationship.&#xA;&#xA;Mereka bilang, &#34;One who wears the crown must bears its weight.&#34; tapi saya mengetahui jika lelaki di hadapan saya dengan angkuhnya dapat mengangkat dagunya tinggi, seolah mahkota intan yang dipasangkannya bukanlah beban baginya.&#xA;&#xA;Jung Wooyoung adalah lelaki yang penuh dengan eluan agung. Saya salah satunya yang menyerahkan seluruh jiwa dan raga padanya, karena pria itu adalah seorang raja, seseorang yang memerintah kerajaan yang dibuat dan dipertahankan leluhurnya. Darah yang mengalir biru murni, membedakan dengan saya yang setetes darah saja tak berharga selain dikorbankan kepada mereka.&#xA;&#xA;Tatapannya dingin di atas singgasananya buat kedua tungkai yang menopang saya bergetar, acapkali saya berhadapan dengannya. Bersujud mungkin adalah jalan ketika kedua kaki tidak dapat lagi membuat saya berdiri tegap saat bertemu dengannya. &#xA;&#xA;Mencintainya adalah sesuatu yang tidak terpuji sebagai kaum bawah, saya menginginkannya lebih dari sosok yang berada di puncak teratas rantai kehidupan. Saya menginginkannya, tapi saya tahu tempat saya di mana. Tak akan mampu, bahkan semua malam yang telah dilewati bersama pun tak akan membuat pria itu goyah sejengkal pun.&#xA;&#xA;&#34;More.&#34; &#xA;&#xA;Wooyoung tidak pernah meminta. Ucap-ucap yang keluar dari belah bibirnya adalah perintah, sesuatu yang harus saya turuti, sesuatu yang tak akan bisa saya bantah apapun alasannya.&#xA;&#xA;&#34;Faster.&#34;&#xA;&#xA;Tangan saya yang kotor, menyentuh seluruh tiap inchi tubuhnya. Namun, itu tidak cukup untuk menyentuh hatinya. Tidak akan pernah, tapi itulah yang membuat saya semakin haus akan presensinya yang nampak begitu rapuh di bawah saya. Ah, bahkan dalam keadaan terhina pun, ia nampak begitu anggun, begitu cantik.&#xA;&#xA;&#34;Don&#39;t stop.&#34;&#xA;&#34;Please.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Your wish is my command, Your Highness.&#34;&#xA;&#xA;Seapik apa pakaianmu yang kau hias dengan jutaan berlian, tak akan pernah mengalahkan figur tanpa busanamu. Menyedihkan pula menyakitkan, mengetahui seberapa seringnya saya menyentuh titik ternikmatmu, tanganmu tak akan mengerat dan mengisi ruang di antara sela jariku. Pada alas sutralah kau menggenggam erat seluruh nyawamu, karena makhluk dangkal sepertiku tak pernah layak untuk mendapatkanmu.&#xA;&#xA;Tanpa terpapar virus mematikan pun, saya sudah terjangkit penyakit. Bodoh saya, semakin sakit ini terasa, semakin saya menginginkanmu. Tidak hanya ketika saya berada di antara kedua kakimu, memuaskan hawa nafsumu di malam lain, tapi juga relung hatimu.&#xA;&#xA;Wooyoung, kau begitu dekat dan jauh di waktu bersamaan. &#xA;&#xA;Kau tahu, Yang Mulia? Bara api yang menyala di bawahku, tak akan pernah mengalahkan rasa sakit yang mencekik ulu hatiku. Api yang kau nyalakan padaku malam itu, tak akan pernah padam walau tanganku tak lagi dapat menggapaimu. Kaki yang terikat yang perlahan mengabu, tak akan meruntuhkan apa yang kupercaya.&#xA;&#xA;Jika cintaku begitu nyata.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="fever" id="fever">FEVER</h2>

<p><strong>TAGS</strong> : Implied sexual activity, death scene, mentioned fire, major character death, first person of view, toxic relationship.</p>

<p>Mereka bilang, “<em>One who wears the crown must bears its weight</em>.” tapi saya mengetahui jika lelaki di hadapan saya dengan angkuhnya dapat mengangkat dagunya tinggi, seolah mahkota intan yang dipasangkannya bukanlah beban baginya.</p>

<p>Jung Wooyoung adalah lelaki yang penuh dengan eluan agung. Saya salah satunya yang menyerahkan seluruh jiwa dan raga padanya, karena <em>pria itu</em> adalah seorang raja, seseorang yang memerintah kerajaan yang dibuat dan dipertahankan leluhurnya. Darah yang mengalir biru murni, membedakan dengan saya yang setetes darah saja tak berharga selain dikorbankan kepada <em>mereka</em>.</p>

<p>Tatapannya dingin di atas singgasananya buat kedua tungkai yang menopang saya bergetar, acapkali saya berhadapan dengannya. Bersujud mungkin adalah jalan ketika kedua kaki tidak dapat lagi membuat saya berdiri tegap saat bertemu dengannya.</p>

<p>Mencintainya adalah sesuatu yang tidak terpuji sebagai kaum bawah, saya menginginkannya lebih dari sosok yang berada di puncak teratas rantai kehidupan. Saya <em>menginginkannya</em>, tapi saya tahu tempat saya di mana. Tak akan mampu, bahkan semua malam yang telah dilewati bersama pun tak akan membuat <em>pria itu</em> goyah sejengkal pun.</p>

<p>“<em>More.</em>“</p>

<p>Wooyoung tidak pernah meminta. Ucap-ucap yang keluar dari belah bibirnya adalah perintah, sesuatu yang harus saya turuti, sesuatu yang tak akan bisa saya bantah apapun alasannya.</p>

<p>“<em>Faster.</em>“</p>

<p>Tangan saya yang kotor, menyentuh seluruh tiap inchi tubuhnya. Namun, itu tidak cukup untuk menyentuh hatinya. Tidak akan pernah, tapi itulah yang membuat saya semakin haus akan presensinya yang nampak begitu rapuh di bawah saya. Ah, bahkan dalam keadaan terhina pun, ia nampak begitu anggun, begitu cantik.</p>

<p>“<em>Don&#39;t stop.</em>“
“<em>Please.</em>“</p>

<p>“<em>Your wish is my command, Your Highness.</em>“</p>

<p>Seapik apa pakaianmu yang kau hias dengan jutaan berlian, tak akan pernah mengalahkan figur tanpa busanamu. Menyedihkan pula menyakitkan, mengetahui seberapa seringnya saya menyentuh titik ternikmatmu, tanganmu tak akan mengerat dan mengisi ruang di antara sela jariku. Pada alas sutralah kau menggenggam erat seluruh nyawamu, karena makhluk dangkal sepertiku tak pernah layak untuk mendapatkanmu.</p>

<p>Tanpa terpapar virus mematikan pun, saya sudah terjangkit penyakit. Bodoh saya, semakin sakit ini terasa, semakin saya menginginkanmu. Tidak hanya ketika saya berada di antara kedua kakimu, memuaskan hawa nafsumu di malam lain, tapi juga relung hatimu.</p>

<p>Wooyoung, kau begitu dekat dan jauh di waktu bersamaan.</p>

<p>Kau tahu, Yang Mulia? Bara api yang menyala di bawahku, tak akan pernah mengalahkan rasa sakit yang mencekik ulu hatiku. Api yang kau nyalakan padaku <em>malam itu</em>, tak akan pernah padam walau tanganku tak lagi dapat menggapaimu. Kaki yang terikat yang perlahan mengabu, tak akan meruntuhkan apa yang kupercaya.</p>

<p><em>Jika cintaku begitu nyata</em>.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/fever</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Jul 2021 13:54:52 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>But Were We Ever Meant To Be?</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/but-were-we-ever-meant-to-be?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[But Were We Ever Meant To Be?&#xA;&#xA;  And though they could feel it then,&#xA;  It&#39;s not how they want to end.&#xA;&#xA;Wooyoung tidak sekali pun menyesali pertemuannya dengan Jongho. Tanpa ragu, ketika Jongho menoreh tanya, lelaki Jung itu menjawab dengan mantap. Semua yang terjadi di kehidupan lalu, biarlah berlalu. Setidaknya mereka baik-baik saja, berpisah ketika mereka tahu memang sudah tiba saatnya.&#xA;&#xA;Mereka memang sudah mempersiapkannya, tidak ada yang mereka tunggu selain perpisahan. Lambat atau cepat, kepastian akan kenyataan jika mereka tak lagi di jalan yang sama itu selalu ada. Baik Wooyoung dan Jongho, keduanya terlalu naif, terlalu memaksakan sesuatu yang memang tak perlu terjadi. &#xA;&#xA;Mereka tahu konsekuensinya.&#xA;&#xA;  &#34;To hold back each other&#39;s true fate&#xA;  is not of our nature. Let&#39;s be mature.&#34;&#xA;&#xA;Ketika Jongho mengecupnya terakhir kali dan tinggalkan tempat mereka tinggal bersama, hanya rasa ikhlas yang mendampinginya. Wooyoung tak pernah tahu, begitu besar dampak kehidupan seorang Choi Jongho baginya. &#xA;&#xA;Benar, semua terasa sulit untuk melepaskan sesuatu yang erat dalam genggam. Hanya saja, Wooyoung tahu, hubungan mereka bukanlah sesuatu yang wajar di lingkungan. Yang lambat laun akan membahayakan kehidupan keduanya. Dan semua itu, bukan tempat mereka berdua untuk memaksakan dunia untuk mengubah takdir mereka.&#xA;&#xA;&#34;Jaga dirimu baik-baik.&#34; Senyum simpul saja terasa begitu berat saat Jongho menarik kopernya keluar.&#xA;&#xA;  And this is the part.&#xA;  Where our whole lives collide.&#xA;&#xA;Jongho tidak pernah menyangka dirinya memilih menjadi penyanyi solo sebagai karirnya untuk memfokuskan diri selepas Wooyoung dari kehidupannya. Melupakan Wooyoung adalah tugas yang paling sulit di dunia, tapi ia percaya, melupakan bukanlah jalan. Benar, kenangan tentang lelaki berambut ungu pudar itu biarlah tetap ada di sudut hatinya. Biarkan sosok itu ada di sana, menghangatkan dirinya, di kala kejamnya dunia.&#xA;&#xA;Hidup bukankah memang selalu seperti itu? Ia menyemangati dirinya sendiri ketika pekerjaan menjadi publik figur bukanlah yang diidamkannya. Teringat bagaimana Wooyoung yang berdiri di sebelahnya, melompat-lompat kecil dengan bangga, &#34;Pacarku adalah penyanyi dan gitaris yang hebat. Kau suatu saat pasti bisa jadi penyanyi terkenal.&#34;&#xA;&#xA;Benar. &#xA;&#xA;Jongho lah yang mengabulkan kata-kata yang terdengar seperti doa itu, walau acapkali, doa itu tak indahkannya.&#xA;&#xA;  Maybe you weren&#39;t made for me&#xA;  nor I for you. But I&#39;d be damn lying,&#xA;  if I think that that&#39;s true.&#xA;&#xA;-------------------------------------------------------------&#xA;&#xA;Jongho duduk terdiam di kedai makanan kesukaannya di pinggir kota, yang telah lama tak disinggahinya. Teringat, tempat itu masih sama seperti pertama kali ia mengajak Wooyoung berkencan. Mengajaknya makan siang dengan ramen hangat di dinginnya bulan Desember kala itu. Rasa yang kini dicicipinya pun tak jauh beda.&#xA;&#xA;Sepi, pikirnya.&#xA;&#xA;Memang tak banyak orang berlalulalang di dinginnya musim gugur. Dirinya tak pernah menyangka pula, ia menghabiskan waktu ulang tahunnya seorang diri. Biarlah, ia mengenang sedikit masa mudanya, masa-masa ketika ia menghabiskan waktu dengan orang yang lagi-lagi mangkir di kepalanya.&#xA;&#xA;Bel kecil di atas pintu masuk menarik atensinya yang tengah menyeduh teh hangatnya. Gerakannya terhenti, ketika ia mengenali sosok yang baru saja datang. Pakaian yang serba kelabu, rambutnya gelap yang kian memudar, wajah yang jelas tak akan bisa ia lupakan.&#xA;&#xA;Jung Wooyoung ada di sana, bersama seorang remaja yang Jongho perkiraan mungkin buah hatinya.&#xA;&#xA;Keduanya saling menatap dan waktu seakan berhenti barang sesekon saja. Sebelum akhirnya, keduanya hanya memberi senyum tipis penuh arti. &#xA;&#xA;  Nobody&#39;s winning.&#xA;  In this tale of past and future love.&#xA;&#xA;Ini jelas bukanlah sebuah perlombaan perihal siapa yang paling cepat melupakan satu sama lain. Jongho dan Wooyoung tidak pernah mencobanya atau memikirkannya. Ini bukan perihal siapakah yang sukses di kehidupan mereka, bukan siapa yang merebut cita-cita mereka paling cepat.&#xA;&#xA;Bukan.&#xA;&#xA;Karena mereka berdua tahu, ketika jalan keduanya berubah, tak lagi sevisi pula semisi, maka apapun destinasi mereka pun sudah bukan urusan satu sama lain. Yang mereka tahu, apapun jalan yang ditempuh sekarang, mereka saling ingat, jika ada satu sama lain di awal permulaannya. Itu lebih dari sekadar cukup bagi keduanya.&#xA;&#xA;Tak ada dendam, tak ada lagi rasa meminta untuk lebih, berdoa pada Tuhan untuk memutar kembali takdir mereka. Bukan berarti mereka tidak ingin melawan dunia bersama, mereka tahu, dunia mereka sudahlah tak sejalan sejak awal. Merekalah yang menginginkan jalan penuh duri untuk ditelusuri.&#xA;&#xA;Itu semua konsekuensi dan mereka sudah tahu jua siap.&#xA;&#xA;Percakapan di atas meja ketika keduanya di usia hampir setengah abad itu hanyalah sebuah canda tawa, berbagi kisah bagaimana mereka menjalani hidup. Tak ada yang disombongkan, hanya raungan betapa dunia memang selalu tak adil, tapi selalu ada jalan.&#xA;&#xA;&#34;Kau ingat pertanyaanmu mungkin dua dekade lalu?&#34; Wooyoung bertanya, ujung bibirnya tertarik tanpa sendu. Jelas kebahagiaan di antara keduanyalah yang dapat terasa.&#xA;&#xA;Jongho menangguk pelan, memainkan gelasnya.&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak pernah menyesali semua jalan yang pernah kulalui bersamamu, bahkan sampai detik ini.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="but-were-we-ever-meant-to-be" id="but-were-we-ever-meant-to-be">But Were We Ever Meant To Be?</h2>

<blockquote><p><em>And though they could feel it then,</em>
<em>It&#39;s not how they want to end.</em></p></blockquote>

<p>Wooyoung tidak sekali pun menyesali pertemuannya dengan Jongho. Tanpa ragu, ketika Jongho menoreh tanya, lelaki Jung itu menjawab dengan mantap. Semua yang terjadi di kehidupan lalu, biarlah berlalu. Setidaknya mereka baik-baik saja, berpisah ketika mereka tahu memang sudah tiba saatnya.</p>

<p>Mereka memang sudah mempersiapkannya, tidak ada yang mereka tunggu selain perpisahan. Lambat atau cepat, kepastian akan kenyataan jika mereka tak lagi di jalan yang sama itu selalu ada. Baik Wooyoung dan Jongho, keduanya terlalu naif, terlalu memaksakan sesuatu yang memang tak perlu terjadi.</p>

<p>Mereka tahu konsekuensinya.</p>

<blockquote><p>“<em>To hold back each other&#39;s true fate</em>
<em>is not of our nature. Let&#39;s be mature.</em>“</p></blockquote>

<p>Ketika Jongho mengecupnya terakhir kali dan tinggalkan tempat mereka tinggal bersama, hanya rasa ikhlas yang mendampinginya. Wooyoung tak pernah tahu, begitu besar dampak kehidupan seorang Choi Jongho baginya.</p>

<p>Benar, semua terasa sulit untuk melepaskan sesuatu yang erat dalam genggam. Hanya saja, Wooyoung tahu, hubungan mereka bukanlah sesuatu yang wajar di lingkungan. Yang lambat laun akan membahayakan kehidupan keduanya. Dan semua itu, bukan tempat mereka berdua untuk memaksakan dunia untuk mengubah takdir mereka.</p>

<p>“Jaga dirimu baik-baik.” Senyum simpul saja terasa begitu berat saat Jongho menarik kopernya keluar.</p>

<blockquote><p><em>And this is the part.</em>
<em>Where our whole lives collide.</em></p></blockquote>

<p>Jongho tidak pernah menyangka dirinya memilih menjadi penyanyi solo sebagai karirnya untuk memfokuskan diri selepas Wooyoung dari kehidupannya. Melupakan Wooyoung adalah tugas yang paling sulit di dunia, tapi ia percaya, melupakan bukanlah jalan. Benar, kenangan tentang lelaki berambut ungu pudar itu biarlah tetap ada di sudut hatinya. Biarkan sosok itu ada di sana, menghangatkan dirinya, di kala kejamnya dunia.</p>

<p>Hidup bukankah memang selalu seperti itu? Ia menyemangati dirinya sendiri ketika pekerjaan menjadi publik figur bukanlah yang diidamkannya. Teringat bagaimana Wooyoung yang berdiri di sebelahnya, melompat-lompat kecil dengan bangga, “Pacarku adalah penyanyi dan gitaris yang hebat. Kau suatu saat pasti bisa jadi penyanyi terkenal.”</p>

<p>Benar.</p>

<p>Jongho lah yang mengabulkan kata-kata yang terdengar seperti doa itu, walau acapkali, doa itu tak indahkannya.</p>

<blockquote><p><em>Maybe you weren&#39;t made for me</em>
<em>nor I for you. But I&#39;d be damn lying,</em>
<em>if I think that that&#39;s true.</em></p></blockquote>

<hr/>

<p>Jongho duduk terdiam di kedai makanan kesukaannya di pinggir kota, yang telah lama tak disinggahinya. Teringat, tempat itu masih sama seperti pertama kali ia mengajak Wooyoung berkencan. Mengajaknya makan siang dengan ramen hangat di dinginnya bulan Desember kala itu. Rasa yang kini dicicipinya pun tak jauh beda.</p>

<p><em>Sepi</em>, pikirnya.</p>

<p>Memang tak banyak orang berlalulalang di dinginnya musim gugur. Dirinya tak pernah menyangka pula, ia menghabiskan waktu ulang tahunnya seorang diri. Biarlah, ia mengenang sedikit masa mudanya, masa-masa ketika ia menghabiskan waktu dengan orang yang lagi-lagi mangkir di kepalanya.</p>

<p>Bel kecil di atas pintu masuk menarik atensinya yang tengah menyeduh teh hangatnya. Gerakannya terhenti, ketika ia mengenali sosok yang baru saja datang. Pakaian yang serba kelabu, rambutnya gelap yang kian memudar, wajah yang jelas tak akan bisa ia lupakan.</p>

<p>Jung Wooyoung ada di sana, bersama seorang remaja yang Jongho perkiraan mungkin buah hatinya.</p>

<p>Keduanya saling menatap dan waktu seakan berhenti barang sesekon saja. Sebelum akhirnya, keduanya hanya memberi senyum tipis penuh arti.</p>

<blockquote><p><em>Nobody&#39;s winning.</em>
<em>In this tale of past and future love.</em></p></blockquote>

<p>Ini jelas bukanlah sebuah perlombaan perihal siapa yang paling cepat melupakan satu sama lain. Jongho dan Wooyoung tidak pernah mencobanya atau memikirkannya. Ini bukan perihal siapakah yang sukses di kehidupan mereka, bukan siapa yang merebut cita-cita mereka paling cepat.</p>

<p>Bukan.</p>

<p>Karena mereka berdua tahu, ketika jalan keduanya berubah, tak lagi sevisi pula semisi, maka apapun destinasi mereka pun sudah bukan urusan satu sama lain. Yang mereka tahu, apapun jalan yang ditempuh sekarang, mereka saling ingat, jika ada satu sama lain di awal permulaannya. Itu lebih dari sekadar cukup bagi keduanya.</p>

<p>Tak ada dendam, tak ada lagi rasa meminta untuk lebih, berdoa pada Tuhan untuk memutar kembali takdir mereka. Bukan berarti mereka tidak ingin melawan dunia bersama, mereka tahu, dunia mereka sudahlah tak sejalan sejak awal. Merekalah yang menginginkan jalan penuh duri untuk ditelusuri.</p>

<p>Itu semua konsekuensi dan mereka sudah tahu jua siap.</p>

<p>Percakapan di atas meja ketika keduanya di usia hampir setengah abad itu hanyalah sebuah canda tawa, berbagi kisah bagaimana mereka menjalani hidup. Tak ada yang disombongkan, hanya raungan betapa dunia memang selalu tak adil, tapi selalu ada jalan.</p>

<p>“Kau ingat pertanyaanmu mungkin dua dekade lalu?” Wooyoung bertanya, ujung bibirnya tertarik tanpa sendu. Jelas kebahagiaan di antara keduanyalah yang dapat terasa.</p>

<p>Jongho menangguk pelan, memainkan gelasnya.</p>

<p>“Aku tidak pernah menyesali semua jalan yang pernah kulalui bersamamu, bahkan sampai detik ini.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/but-were-we-ever-meant-to-be</guid>
      <pubDate>Thu, 08 Jul 2021 16:58:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Cintaku Bertepuk Harap yang Tak Ada.</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/cintaku-bertepuk-harap-yang-tak-ada?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Cintaku Bertepuk Harap yang Tak Ada.&#xA;&#xA;Part of random-drabble.&#xA;SeongJoong, one-sided love!SH.&#xA;Side MinJoong, MinJoong in relationship.&#xA;&#xA;-------------&#xA;&#xA;  Kau di mana? &#xA;  Masih di studio?&#xA;&#xA;Sebuah tanya ia berikan pada Hongjoong via pesan singkat. Seonghwa menghela napas ketika mendapati di ruang tidurnya, tidak ada sang sahabat yang merangkap sebagai teman sekamarnya. Sedangkan, penghuni apartemen lain mungkin sudah tertidur. &#xA;&#xA;  Masih lama?&#xA;&#xA;Ia menambah satu balon lagi dalam ruang obrolan mereka. Belum mendapatkan balasan, dibaca pun tidak. Resah membuat Seonghwa bolak-balik dari ruang tamu, kembali ke kamar mereka. &#xA;&#xA;  Aku jemput.&#xA;&#xA;Dengan begitu, Seonghwa memakai jaketnya dan meluncur pergi. Apartemen mereka dengan studio kerja Hongjoong tidaklah jauh, mungkin beda beberapa blok. Jalanan sudah mulai sepi, ya, apa yang diharapkan dari pukul satu dini hari? Keramaian? Konvoi?&#xA;&#xA;Semilir sejuk angin malam yang menembus tulangnya itu, tak dihiraukannya. Demi Hongjoong, seseorang yang ia sukai semenjak mereka pertama kali bertemu. Sudah tiga tahun, hebat juga, hebat juga Seonghwa menahannya selama ini.&#xA;&#xA;Begitu sesampainya di gedung tinggi dengan cat kelabu yang sudah memudar, ia kembali memeriksa kembali gawai pintarnya. Jawab belum ia temukan. Tungkai dengan semangat ia bawa ke arah ruang studio Hongjoong yang sangat-sangat ia hapal letaknya di mana.&#xA;&#xA;Di lantai dua, ruang paling ujung. &#xA;&#xA;Pintunya terbuka, sebab ada lampu yang menyelip dari sela-sela. Si pemuda Park itu dapat melihatnya dari tangga yang sedang dinaikinya. Tanpa mengetuk, seperti biasanya, ia membuka pintu studio.&#xA;&#xA;&#34;Hong─&#34; Baru saja ia sempat memanggil, sudah disuguhi orang yang ia agung-agungkan itu mencium pria lain. &#xA;&#xA;&#34;Eh─sorry.&#34; Seonghwa buru-buru keluar dari ruangan Hongjoong dan mematung di sebelah pintu yang masih terbuka.&#xA;&#xA;Seonghwa tidak tahu siapa pria itu, rambut merah dan jangkung. Tak terpikirkan satu nama pun dalam benak. Menit berikutnya, Hongjoong keluar dan menutup pintunya. Berdiri dengan Seonghwa dalam hening.&#xA;&#xA;&#34;Sorry ... &#34; ucap Hongjoong, &#34; ... lu harus lihat itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, kenapa jadi kamu yang minta maaf?&#34; Terbata-bata Seonghwa membalas ucapan Hongoong.&#xA;&#xA;&#34;Kamu ngapain ke sini?&#34; tanya Hongjoong yang kini mengambil posisi di depan Seonghwa, mencoba melihat air muka sahabatnya yang satu itu.&#xA;&#xA;&#34;Ah─&#34; Seonghwa mencari kata-kata, &#34;Aku khawatir, soalnya kamu gak balas chat-ku. Jadi niatnya mau jemput.&#34;&#xA;&#xA;Kakinya kerap menghentakkan kecil lantai yang dipijaknya, kedua tangannya dimasukkan dalam saku jaketnya. Seonghwa memasang senyum palsu, seolah semua baik-baik saja kepada Hongjoong. Hanya saja, lelaki itu hanya dapat mengusap lehernya dengan ragu.&#xA;&#xA;&#34;Oh, maaf soal itu. Santai kok, aku ditemani Mingi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingi siapa?&#34; Seonghwa dengan cepat memberi tanya, sebab tak tahan terbenam dalam asumsinya.&#xA;&#xA;&#34;Hehe, dia pacarku.&#34; Jawaban dari Hongjoong, membuat senyum Seonghwa luntur sedetik, sebelum akhirnya Seonghwa kembali tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Oalah, kalau gitu maaf ganggu. Aku balik deh kalau gitu, gak enak ganggu.&#34; Dipaksakannya ia tertawa. Hongjoong hanya mengangguk tanggapi Seonghwa.&#xA;&#xA;&#34;Dadah, hati-hati di jalan.&#34; Hongjoong melambaikan tangan pada sosok Seonghwa yang sudah melangkah menjauh. &#xA;&#xA;Seonghwa mengacungkan jempolnya, tanpa berbalik. Tak ingin melihat ekspresi yang diberikan Hongjoong.&#xA;&#xA;&#34;Seonghwa!&#34; Tapi gagal, karena Hongjoong kerap memanggilnya, membuathnya harus berbalik badan.&#xA;&#xA;&#34;Maaf.&#34; Tak ada senyum yang hadir dalam roman pemuda yang lebih muda darinya beberapa tahun, Seonghwa menggelengkan kepala dan melambaikan tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Soal yang tadi? Sudah santai saja, balik gih pacaran.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan!&#34; Seonghwa mengernyit, &#34;Intinya, aku minta maaf.&#34;&#xA;&#xA;Tidak tahu maksud  maaf yang diberikan Hongjoong kala itu. Seonghwa tidak mempertanyakan lebih lanjut, hanya seulas senyum saja yang diberikannya dan kembali lanjutkan langkah untuk kembali ke apartemennya.&#xA;&#xA;--------&#xA;&#xA;P. S.&#xA;Jangan lupa sambil dengarkan lagu ini, C.H.R.I.S.Y.E.&#xA;&#xA;  Kau kehidupanku, meski kau tak tau ada aku di hidupmu.&#xA;  Yang kumau kau untukku, meskipun kau tak rindu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="cintaku-bertepuk-harap-yang-tak-ada" id="cintaku-bertepuk-harap-yang-tak-ada">Cintaku Bertepuk Harap yang Tak Ada.</h2>

<p>Part of random-drabble.
SeongJoong, one-sided love!SH.
Side MinJoong, MinJoong in relationship.</p>

<hr/>

<blockquote><p>Kau di mana?
Masih di studio?</p></blockquote>

<p>Sebuah tanya ia berikan pada Hongjoong via pesan singkat. Seonghwa menghela napas ketika mendapati di ruang tidurnya, tidak ada sang sahabat yang merangkap sebagai teman sekamarnya. Sedangkan, penghuni apartemen lain mungkin sudah tertidur.</p>

<blockquote><p>Masih lama?</p></blockquote>

<p>Ia menambah satu balon lagi dalam ruang obrolan mereka. Belum mendapatkan balasan, dibaca pun tidak. Resah membuat Seonghwa bolak-balik dari ruang tamu, kembali ke kamar mereka.</p>

<blockquote><p>Aku jemput.</p></blockquote>

<p>Dengan begitu, Seonghwa memakai jaketnya dan meluncur pergi. Apartemen mereka dengan studio kerja Hongjoong tidaklah jauh, mungkin beda beberapa blok. Jalanan sudah mulai sepi, ya, apa yang diharapkan dari pukul satu dini hari? Keramaian? Konvoi?</p>

<p>Semilir sejuk angin malam yang menembus tulangnya itu, tak dihiraukannya. Demi Hongjoong, seseorang yang ia sukai semenjak mereka pertama kali bertemu. Sudah tiga tahun, hebat juga, hebat juga Seonghwa menahannya selama ini.</p>

<p>Begitu sesampainya di gedung tinggi dengan cat kelabu yang sudah memudar, ia kembali memeriksa kembali gawai pintarnya. Jawab belum ia temukan. Tungkai dengan semangat ia bawa ke arah ruang studio Hongjoong yang sangat-sangat ia hapal letaknya di mana.</p>

<p>Di lantai dua, ruang paling ujung.</p>

<p>Pintunya terbuka, sebab ada lampu yang menyelip dari sela-sela. Si pemuda Park itu dapat melihatnya dari tangga yang sedang dinaikinya. Tanpa mengetuk, seperti biasanya, ia membuka pintu studio.</p>

<p>“Hong─” Baru saja ia sempat memanggil, sudah disuguhi orang yang ia agung-agungkan itu mencium pria lain.</p>

<p>“Eh─<em>sorry</em>.” Seonghwa buru-buru keluar dari ruangan Hongjoong dan mematung di sebelah pintu yang masih terbuka.</p>

<p>Seonghwa tidak tahu siapa <em>pria itu</em>, rambut merah dan jangkung. Tak terpikirkan satu nama pun dalam benak. Menit berikutnya, Hongjoong keluar dan menutup pintunya. Berdiri dengan Seonghwa dalam hening.</p>

<p>“<em>Sorry</em> ... “ ucap Hongjoong, ” ... lu harus lihat itu.”</p>

<p>“Eh, kenapa jadi kamu yang minta maaf?” Terbata-bata Seonghwa membalas ucapan Hongoong.</p>

<p>“Kamu ngapain ke sini?” tanya Hongjoong yang kini mengambil posisi di depan Seonghwa, mencoba melihat air muka sahabatnya yang satu itu.</p>

<p>“Ah─” Seonghwa mencari kata-kata, “Aku khawatir, soalnya kamu gak balas <em>chat</em>-ku. Jadi niatnya mau jemput.”</p>

<p>Kakinya kerap menghentakkan kecil lantai yang dipijaknya, kedua tangannya dimasukkan dalam saku jaketnya. Seonghwa memasang senyum palsu, seolah semua baik-baik saja kepada Hongjoong. Hanya saja, lelaki itu hanya dapat mengusap lehernya dengan ragu.</p>

<p>“Oh, maaf soal itu. Santai kok, aku ditemani Mingi.”</p>

<p>“Mingi siapa?” Seonghwa dengan cepat memberi tanya, sebab tak tahan terbenam dalam asumsinya.</p>

<p>“Hehe, dia pacarku.” Jawaban dari Hongjoong, membuat senyum Seonghwa luntur sedetik, sebelum akhirnya Seonghwa kembali tersenyum.</p>

<p>“Oalah, kalau gitu maaf ganggu. Aku balik deh kalau gitu, gak enak ganggu.” Dipaksakannya ia tertawa. Hongjoong hanya mengangguk tanggapi Seonghwa.</p>

<p>“Dadah, hati-hati di jalan.” Hongjoong melambaikan tangan pada sosok Seonghwa yang sudah melangkah menjauh.</p>

<p>Seonghwa mengacungkan jempolnya, tanpa berbalik. Tak ingin melihat ekspresi yang diberikan Hongjoong.</p>

<p>“Seonghwa!” Tapi gagal, karena Hongjoong kerap memanggilnya, membuathnya harus berbalik badan.</p>

<p>“Maaf.” Tak ada senyum yang hadir dalam roman pemuda yang lebih muda darinya beberapa tahun, Seonghwa menggelengkan kepala dan melambaikan tangannya.</p>

<p>“Soal yang tadi? Sudah santai saja, balik gih pacaran.”</p>

<p>“Bukan!” Seonghwa mengernyit, “Intinya, aku minta maaf.”</p>

<p>Tidak tahu maksud  <em>maaf</em> yang diberikan Hongjoong kala itu. Seonghwa tidak mempertanyakan lebih lanjut, hanya seulas senyum saja yang diberikannya dan kembali lanjutkan langkah untuk kembali ke apartemennya.</p>

<hr/>

<p>P. S.
Jangan lupa sambil dengarkan lagu ini, <a href="https://open.spotify.com/track/42si4ikg5dh732gPuQ0xHb?si=68886c7a4c2b4bde" rel="nofollow">C.H.R.I.S.Y.E</a>.</p>

<blockquote><p><em>Kau kehidupanku, meski kau tak tau ada aku di hidupmu.</em>
<em>Yang kumau kau untukku, meskipun kau tak rindu.</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/cintaku-bertepuk-harap-yang-tak-ada</guid>
      <pubDate>Mon, 28 Jun 2021 17:19:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>You Let Him Go Again</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/you-let-him-again?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[You Let Him Go Again&#xA;&#xA;CW // Harsh word&#xA;&#xA;------------------------------&#xA;&#xA;&#34;Dadah, Mingi. Maaf, sudah dijemput Yunho.&#34;&#xA;&#xA;Begitulah bagaimana Song Mingi menatap punggung seorang Kang Yeosang yang kian menjauh meninggalkannya di kerumunan anak-anak sekolahan bau terbakar mentari terik yang menyengat. Di umur delapan belas tahunnya, Mingi kehilangan Yeosang. Tidak sepenuhnya hilang, boom, seperti ditelan bumi. Melainkan Yeosang, seseorang yang ia sukai semenjak tahun pertamanya di menengah atas, akhirnya memiliki kekasih.&#xA;&#xA;Jeong Yunho namanya. Kapten tim renang yang terkenal seantero sekolah. Ya, kalau dibandingkan dirinya sih, Mingi hanya seseorang yang setelah sekolah langsung pulang ke rumah atau berada di warnet, gak jauh-jauh juga di rental komik komplek rumah. &#xA;&#xA;&#34;Hati-hati, Sang.&#34; &#xA;&#xA;Yeosang mungkin tidak mendengarkan ucapannya. Dirinya menghela napas, seandainya, seandainya nih, Mingi memiliki keberanian lebih, mungkin Yeosang sudah jadi miliknya. Gak juga sih, Mingi doang. Ah ya, mau bagaimana lagi, memang Mingi yang salah dari awal. &#xA;&#xA;Tangannya ia gunakan untuk mengetuk kepala sendiri beberapa kali, mengucapkan Mingi, lu goblok. berulang kali. Ah, apa guna deh, mungkin memang menyesal, cuma bertindak pun harus bagaimana? Merebut Yeosang dari Yunho? Adanya ia dirundung habis-habisan setelah lulus dari menengah atas.&#xA;&#xA;Mingi menendang kaleng kola kosong.&#xA;&#xA;&#34;Buang sampah dengan benar, Song Mingi!&#34;&#xA;&#xA;Diteriaki guru konseling, Mingi buru-buru kabur dari area sekolah.&#xA;&#xA;------------------------------------------------&#xA;&#xA;&#34;Mingi,&#34; panggil Yeosang. Membuyarkan jawaban Fisika yang berada di hadapan Mingi. Mingi hanya menarik senyum lebarnya, menarik kursi di sampingnya sehingga Yeosang bisa duduk di sana. Tanpa bertanya, Yeosang duduk dan bertopang dagu, menatap apa yang sedang Mingi kerjakan.&#xA;&#xA;&#34;Belajar mulu lu.&#34; Mingi tertawa dengar sebuah sindiran halus dari sahabatnya, &#34;Gak bosen?&#34; &#xA;&#xA;Gelengkan kepala. Ya, memang kegiatan Mingi setelah pulang sekolah adalah mengerjakan tugas yang bisa dikerjakan sambil menunggu Yeosang buat ngajak balik.&#xA;&#xA;&#34;Eh, ke mall sebentar yuk?&#34; ajak Yeosang, sebuah ajakan yang tergolong tumben karena semenjak pacaran sama Yunho, Yeosang cuma sekadar teman pulang langsung ke rumah. Jarang-jarang lagi buat diajak jalan ke mall.&#xA;&#xA;&#34;Tumben.&#34; Mingi akhirnya menutup buku catatannya, karena dalam waktu dekat dia gak akan bisa menolak ajakan Kang Yeosang. Ya, kapan lagi, ya gak?&#xA;&#xA;&#34;Gua berantem sama Yunho.&#34;&#xA;&#xA;Teng.&#xA;&#xA;Mingi sudah menebak sih, pasti ada sesuatu aneh-aneh ini sama oknum JYH, maaf gak mau disebut. Tapi, Mingi mendengarkan saja kelanjutannya. Dari dasarnya, seorang sahabat itu cuma dijadikan tempat curhat. His feeling doesn&#39;t matter at all at the end, right?&#xA;&#xA;&#34;Terus? Gua nemenin elu sampai bete lu hilang gitu?&#34; Yeosang yang kini tersenyum lebar.&#xA;&#xA;Yang tahu-tahu, Mingi dan Yeosang sudah berada di salah satu kedai ramen di pusat perbelanjaan dekat sekolah mereka. Kapan terakhir mereka ke sana? Gak tahu, Mingi lupa, saking sudah lama mereka gak pernah main bareng lagi.&#xA;&#xA;&#34;Kangen &#39;kan lu?&#34; tanya Yeosang, sedikit menggoda Mingi yang sedang menyeruput kuah ramennya.&#xA;&#xA;&#34;Bawel. Lu juga pergi sama gua karena gak ada Yunho &#39;kan?&#34; Tawa Yeosang seketika berhenti, Mingi yang kini agak gusar menyindir langsung menarik napas. &#xA;&#xA;Salah gua lagi, et dah.&#xA;&#xA;&#34;Bercanda, lu gak usah bete. Gak usah mikirin Yunho deh ...&#34; &#xA;&#xA;&#34;... Pikirin gua aja kenapa?&#34; tapi kalimat tanya ini hanya berputar dalam kepala milik si lanang Song, tak ingin mengungkapkannya keras-keras.&#xA;&#xA;Yeosang mengerucutkan bibirnya, seolah menginginkan Mingi memohon-mohon padanya lagi. Duh, akui saja Kang Yeosang, kalau kamu suka banget yang namanya merundung Song Mingi.&#xA;&#xA;&#34;Ampun, ampun, habis ini gua traktir minuman yang lu suka deh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bener? Ukuran venti ya?&#34; Yeosang menyipitkan matanya, membuat tatapan menusuk ke arah Mingi yang coba cairkan suasana.&#xA;&#xA;&#34;Iya, bawel banget dah elu. Terima kasih nih, ke sahabat elu paling baik.&#34; Mingi menekankan kata sahabat kepada Yeosang.&#xA;&#xA;Biar lu sadar, aduh, Kang Yeosang. Lu harus tahu kalau ada orang paling ganteng dan paling peduli sama elu.&#xA;&#xA; Mingi kembali gelengkan kepala untuk lepaskan pikiran yang tidak benarnya. Lama-lama kalau seperti itu malah jadi narsis sendiri. Dengan Yeosang yang memeluk lengannya dan melangkahkan kaki ke kedai kopi, Mingi ingin melupakan fakta bahwa Yeosang pacar Yunho.&#xA;&#xA;Sekali-kali Mingi bahagia, walau pura-pura. Walau harus jalan-jalan dengan Yeosang berdua, yang seharusnya menghilangkan betenya Yeosang yang malah menular kepadanya, ya seenggaknya dia bahagia walau sedikit. Sepanjang jalan, Yeosang berceloteh ria soal Yunho yang berbohong kepadanya.&#xA;&#xA;Untuk menjadi teman yang baik, jelas Mingi tidak mengompori aksi Yunho. Gila saja, nanti dikiranya kalau putus, alasannya dia, yang benar saja? Makanya Mingi, pahit-pahit banget nih ngasih wejangan ke Yeosang.&#xA;&#xA;&#34;Sudahlah, Yeo. Coba lu tanya lagi ke Yunho. Mungkin dia nganterin San karena kebetulan saja. Ya, kayak gua nganterin elu tiap dia gak bisa &#39;kan?&#34; &#xA;&#xA;Ya, untungnya Yeosang selalu mendengarkannya. Gak ada perdebatan kalau urusan seperti ini. Mingi mengusap puncak kepala Yeosang, membisikan ucapan-ucapan yang Yeosang ingin dengar seperti, &#34;Lu tuh udah pacar paling baik punya Yunho.&#34; atau &#34;Gak mungkinlah elu dikalahin San.&#34;&#xA;&#xA;-------------------------&#xA;&#xA;Ya, emang dasarnya ini cerita sedih. Mingi lagi-lagi harus mengubur lagi impiannya jadi kekasih Yeosang ketika Yunho di tengah lapangan bawa balon segede gaban yang membentuk tulisan Sorry. Sorry, sorry, bapak lu.&#xA;&#xA;Mingi yang tengah duduk di pinggir kelas sama Yeosang, harus memberhentikan pembicaraan mereka. Mendorong Yeosang ke arah Yunho yang menunggunya. &#xA;&#xA;&#34;Tuh ditungguin pangeran elu.&#34; Senyum memang lebar di wajah Mingi, tapi itu demi Yeosang.&#xA;&#xA;Semula Yeosang ragu untuk mendekati Yunho yang sudah malu-maluin di tengah lapangan basket ketika istirahat. Apalagi lorong sekolah sudah ramai dengan desis-desis tak mengenakan, atau tawa renyah dari orang yang menganggap aksi Yunho berlebihan. Namun, sebab senyum Mingi yang meyakinkan, Yeosang kembali ke dekapan Yunho dan Mingi hanya dapat menyaksikannya.&#xA;&#xA;You let him go again, Gi.&#xA;&#xA;Iya, lu melepaskan dia. Itu lebih baik daripada merusak pertemanan dan hubungan romansa sahabat sendiri.&#xA;&#xA;----------------------------&#xA;&#xA;Semenjak lulus, Mingi sudah jarang menghubungi Yeosang atau bertemu. Hanya sesekali ketika ia kembali ke kampung halaman, ke rumahnya karena ia mengambil kampus di luar kota. Yang terakhir ia dengar Yeosang masih bersama Yunho. &#xA;&#xA;&#34;Katanya sih mau married.&#34; Mingi gak lagi-lagi deh dengar rumor dari lambe turahnya sekolah.&#xA;&#xA;Cuma buat sakit hati saja ketika Mingi lewat rumah Yeosang. Ia hanya disapa oleh kakak perempuan lelaki itu, yang sekadar basa-basi karena sudah gak pernah kelihatan di sekitar. Mingi gak pernah berani buat nyatain perasaannya ke Yeosang. &#xA;&#xA;Sudah lama, saatnya move on. Gila saja lu, Mingi, tahan amat.&#xA;&#xA;Mungkin, dibandingkan perasaannya belum ikhlas. Lebih tepatnya karena Mingi tidak pernah mengutarakannya di awal, jadinya tertahan. Memang seharusnya dia mengungkapkannya saja, soal akhirnya gimana, Mingi gak peduli. Cuma ya gitu, dia takut, takut malah Yeosang menjauh.&#xA;&#xA;  Kamu lagi di rumah, Gi?&#xA;&#xA;Yeosang menyapanya di suatu malam ketika Mingi lagi asyik-asyiknya berjemur di atap rumahnya malam-malam. Lagi mencari bintang jatuh yang bisa mengabulkan permohonannya. Benar saja kekabul, ketika Mingi tak tahu harus memulai percakapan dengan Kang Yeosang, itu orang sudah ngirim pesan ke dia.&#xA;&#xA;  Iya, gua lagi di rumah. Kenapa?&#xA;&#xA;Mingi menjawab. Belum ada semenit, Yeosang sudah menulis balasannya kembali.&#xA;&#xA;  Sini, ke rumah gua. Gua juga lagi di rumah.&#xA;&#xA;Mingi turun saat itu juga. Mengganti pakaiannya menjadi sedikit lebih rapi, dibandingkan dia cuma pakai celana pendek dan kaos oblong yang sudah bolong sana-sini. Malu juga, sudah lama gak ketemu, bukannya tampang ganteng, malah tambah buluk. Mingi pamit ke orang tuanya untuk bertamu ke tetangga, alias ke rumah Yeosang yang mungkin berjalan lima atau enam rumah darinya.&#xA;&#xA;Yeosang sudah menunggu di depan pagar. Lama tidak bertemu, Yeosang masih cantik di pandangan Mingi, walau baju yang dikenakannya tidaklah berbeda dari yang dipakai Mingi. Celana training dan kaos rumahan. Yeosang mempersilakan Mingi masuk, disambut oleh anggota keluarga lainnya.&#xA;&#xA;Mereka berakhir di kamar Yeosang yang lagi-lagi Mingi lupa kapan terakhir ia berbaring di kasurnya, sambil ngomongin game atau sekadar ngomongin orang. Keduanya berbaring di atas kasur yang sama, berhimpit, sempit-sempitan. Memandang langit-langit yang putih yang penuh dengan stiker bintang.&#xA;&#xA;&#34;Lu balik kok gak bilang? Gua denger dari kakak gua.&#34; Yeosang memulai pembicaraan.&#xA;&#xA;Mingi terdiam sejenak, gak ada ide buat jawab, &#34;Hm, gua kira kalau gua balik pun elu lagi sibuk sama Yunho. Jadinya ya udah.&#34; &#xA;&#xA;Mungkin di balik kata-katanya, memang Mingi selalu menyudutkan Yunho dan ia mengakui hal ini gak sehat. Seharusnya Mingi ikut bahagia kalau Yeosang juga bahagia sama Yunho. Tapi kayaknya, menyindir Yunho memang menjadi hobinya saja, kadang ia berpikir seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Gua udah putus, kalau lu mau tahu.&#34; Mingi awalnya tidak merespon, hanya berderum panjang, sebelum akhirnya ia bangkit dari posisi tidurnya dan terduduk di pinggir ranjang dan menatapi sahabatnya itu.&#xA;&#xA;&#34;Serius lu? Kok bisa?&#34; Dari kabar mau menikah, kenapa tiba-tiba putus? Mingi tidak tahu, misteri.&#xA;&#xA;Yeosang tertawa, &#34;Biasalah. Dia dijodohin sama bokap-nyokapnya, ya udah, terus mau gimana?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lu masih sayang sama dia?&#34; Mingi bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Sudah enggak.&#34; Maka Yeosang menjawab, membuahi sebuah kerutan di dahi lawan bicaranya, &#34;Gua gak akan memaksakan perasaan yang sebenarnya sudah gak ada dari lama.&#34; &#xA;&#xA;Yeosang menghela napas dengan berat. Mingi tidak kalah, karena suasanya di dalam ruangan mendadak mencekam, padahal tidak ada apa-apa. Aduh, padahal Mingi sudah mau move on kok ada cobaan seperti ini? Emang ya, Tuhan paling gampang buat bolak-balikin perasaan orang lain.&#xA