<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>曼珠沙華</title>
    <link>https://kultusan.writeas.com/</link>
    <description>flower of the heavens</description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 08:35:44 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>all i need to hear</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/all-i-need-to-hear?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[all i need to hear&#xA;&#xA;PAIR: Park Sunghoon/Lee Heeseung&#xA;SONG: The 1975 - All I Need To Hear&#xA;TAGS: Post break-up Sunghoon, lowercase type, no beta read&#xA;&#xA;-------------------------------&#xA;&#xA;dengan langkah yang tertatih-tatih, sunghoon kembali ke kamar apartemennya yang dingin dan sunyi. kamar itu seharusnya dihuni oleh dua orang─sepasang kekasih. yang nyatanya, hanya tersisa dia seorang diri di sana.&#xA;&#xA;park sunghoon membuka pintu kamar apartemennya dengan sedikit harap ada seseorang di sana, menyambutnya dengan hangat seperti hari-hari biasa. semenjak dirinya putus dengan mantan kekasihnya sebulan lalu, sunghoon masih belum dapat menerima kenyataan; lelaki bernama lee heeseung itu pergi dari hidupnya dengan kemungkinan tak akan kembali.&#xA;&#xA;dirogohnya saku jaket untuk mengambil telepon cerdasnya, si pemarga park itu mengirimkan pesan kepada teman-temannya. aku mengadakan pesta di tempatku begitulah bunyi pesannya. harap-harap pesta yang diadakannya bisa mengusir apapun yang menggangu pikirannya.&#xA;&#xA;kenapa sulit untuk kirim pesan? &#xA;&#xA;sunghoon kembali tatap layar teleponnya, masih terpampang fotonya dan sang mantan kekasih, tersenyum dengan pemandangan sungai han ketika musim semi sebagai latar belakangnya. dia ingin kembali ke masa-masa itu. &#xA;&#xA;apakah ada harap?&#xA;&#xA;ketika teman-teman sunghoon datang meramaikan kamar apartemennya dengan alkohol, musik kencang, dan segala topik, sunghoon tetap dapat berfokus pada apa yang mereka katakan.&#xA;alkohol tak mempan, musik kesukaannya pun tak didengarkannya baik-baik, dan segala candaan pun tak terdengar lucu baginya.&#xA;&#xA;sunghoon pamit untuk mengambil air dingin di kulkas, namun yang ia lakukan hanyalah duduk bersandar pada meja tengah dapur; dia memandang sayu teman-temannya di ruang tengah dari dapur. &#xA;&#xA;apakah lebih baik begini? dia bertanya pada dirinya sendiri, bahkan tidak tahu apa yang ia harus lakukan lagi untuk melupakan sosok yang telah meninggalkannya satu bulan lalu.&#xA;&#xA;putus itu tidak pernah jadi opsi bagi sunghoon. berani bersumpah jika ia mencintai heeseung sampai ke liang lahadnya, tapi realita berkata lain. masih teringat-ingat bagaimana bertengkar hebat malam itu, musim dingin di kota seoul dengan salju masih dengan lembut perlahan turun.&#xA;&#xA;&#34;i&#39;m fucking hate you, park sunghoon.&#34;&#xA;&#34;i wish i never met you in the first place.&#34;&#xA;&#xA;kata-kata heeseung itu berputar bagai kaset rusak di kepalanya. genggamannya pada gelasnya kian mengeras, sepertinya ia bisa menangis kapan saja jika terus-terusan mengingat memori itu. &#xA;&#xA;cemburumu itu penyakit, sunghoon menyumpahi diri sendiri memang menjadi pilihan sunghoon setelah putus. tak ada hari di mana ia tak menyalahkan sisi pencemburunya dan sebagaimana ia terlalu vokal soal itu.&#xA;&#xA;sunghoon duduk di kursi meja belajarnya saat kembali sendirian di kamar apartemennya. hanya ada cahaya lampu dari laptop yang menyala di atas meja untuk meneranginya. kedua tangan bersiaga di atas papan ketik laptop kesayangannya untuk mengetik sesuatu ke dalam badan e-mail&#xA;&#xA;&#34;hi, heeseung.&#34; dia bernarasi sendiri, coba-coba cari kata yang tepat sebagai pembuka.&#xA;&#xA;&#34;bagaimana kabarmu?&#34; sambil berbicara, sunghoon juga sambil mengetiknya dengan perlahan.&#xA;&#xA;&#34;sudah sebulan ya? kamu baik-baikkah tanpa aku? i hope you do, i know you always do.&#34; ada rasa tercekat dalam dadanya ketika menumpahkan semua itu ke badan e-mail.&#xA;&#xA;sunghoon tahu, heeseung dengan atau tanpanya tak akan bedanya. lelaki yang satu itu selalu punya caranya sendiri untuk membahagiakan diri, tetapi tidak dengan sunghoon. ia tak pernah menyesali bagaimana menjadikan heeseung sebagai orang yang ia percaya bertahun-tahun, menjadikan heeseung nomor panggilan daruratnya, segala-gala tentang heeseung. maka ketika heeseung hilang dalam hidupnya, hampa melanda.&#xA;&#xA;&#34;hari ini aku mengadakan pesta lagi di tempat kita.&#34; &#xA;&#xA;apakah pantas dirinya masih menyebutnya tempat bersama?&#xA;&#xA;&#34;tapi tidak ada satupun yang membuatku senang.&#34; jaeyun juga sunoo sudah coba hibur dia, mengajaknya untuk bertemu orang lain. tidak lupa dengan jebakan kencan buta yang dibuat oleh jongseong. &#xA;&#xA;semua itu tidak menyenangkan.&#xA;&#xA;&#34;bukan aku tidak menghargai usaha mereka menghiburku,&#34; katanya, &#34;tapi yang kubutuhkan bukan itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;yang kubutuhkan itu kamu, lee heeseung.&#34; disengajakan tebal ketika ia menaruh nama mantan kekasihnya itu.&#xA;&#xA;&#34;lee heeseung,&#34; panggilnya, mungkin hanya angin yang mendengarkannya, tapi ia tak peduli.&#xA;&#xA;&#34;please, tell me you love me.&#34;&#xA;&#34;i don&#39;t care if you&#39;re insincere.&#34;&#xA;&#34;but you know, that&#39;s the only i need.&#34;&#xA;&#xA;sunghoon memandangi layarnya kembali, lalu segera menutup surat yang telah diketiknya; memasukan surat itu kembali ke dalam draft tak terkirimnya. ada ratusan, mungkin ribuan, surat tak terkirim itu. yang pasti satu pintanya, ia hanya ingin mendengar heeseung berkata lelaki itu mencintainya. walaupun itu tidak mungkin, tidak tulus, sunghoon akan mengabaikan semua itu.&#xA;&#xA;sunghoon terdiam lagi-lagi di tengah hening malam.&#xA;&#xA;please, tell me you love me, heeseung.&#xA;&#xA;----------------------&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="all-i-need-to-hear" id="all-i-need-to-hear">all i need to hear</h2>

<p><strong>PAIR</strong>: Park Sunghoon/Lee Heeseung
<strong>SONG</strong>: The 1975 – All I Need To Hear
<strong>TAGS</strong>: Post break-up Sunghoon, lowercase type, no beta read</p>

<hr/>

<p>dengan langkah yang tertatih-tatih, sunghoon kembali ke kamar apartemennya yang dingin dan sunyi. kamar <em>itu</em> seharusnya dihuni oleh dua orang─sepasang kekasih. yang nyatanya, hanya tersisa dia seorang diri di sana.</p>

<p>park sunghoon membuka pintu kamar apartemennya dengan sedikit harap ada seseorang di sana, menyambutnya dengan hangat seperti hari-hari biasa. semenjak dirinya putus dengan mantan kekasihnya sebulan lalu, sunghoon masih belum dapat menerima kenyataan; lelaki bernama lee heeseung itu pergi dari hidupnya dengan kemungkinan tak akan kembali.</p>

<p>dirogohnya saku jaket untuk mengambil telepon cerdasnya, si pemarga park itu mengirimkan pesan kepada teman-temannya. <em>aku mengadakan pesta di tempatku</em> begitulah bunyi pesannya. harap-harap pesta yang diadakannya bisa mengusir apapun yang menggangu pikirannya.</p>

<p><em>kenapa sulit untuk kirim pesan?</em></p>

<p>sunghoon kembali tatap layar teleponnya, masih terpampang fotonya dan sang mantan kekasih, tersenyum dengan pemandangan sungai han ketika musim semi sebagai latar belakangnya. dia ingin kembali ke masa-masa itu.</p>

<p><em>apakah ada harap?</em></p>

<p>ketika teman-teman sunghoon datang meramaikan kamar apartemennya dengan alkohol, musik kencang, dan segala topik, sunghoon tetap dapat berfokus pada apa yang mereka katakan.
alkohol tak mempan, musik kesukaannya pun tak didengarkannya baik-baik, dan segala candaan pun tak terdengar lucu baginya.</p>

<p>sunghoon pamit untuk mengambil air dingin di kulkas, namun yang ia lakukan hanyalah duduk bersandar pada meja tengah dapur; dia memandang sayu teman-temannya di ruang tengah dari dapur.</p>

<p><em>apakah lebih baik begini?</em> dia bertanya pada dirinya sendiri, bahkan tidak tahu apa yang ia harus lakukan lagi untuk melupakan sosok yang telah meninggalkannya satu bulan lalu.</p>

<p>putus itu tidak pernah jadi opsi bagi sunghoon. berani bersumpah jika ia mencintai heeseung sampai ke liang lahadnya, tapi realita berkata lain. masih teringat-ingat bagaimana bertengkar hebat malam itu, musim dingin di kota seoul dengan salju masih dengan lembut perlahan turun.</p>

<p>“<em>i&#39;m fucking hate you, park sunghoon.</em>“
“<em>i wish i never met you in the first place</em>.”</p>

<p>kata-kata heeseung itu berputar bagai kaset rusak di kepalanya. genggamannya pada gelasnya kian mengeras, sepertinya ia bisa menangis kapan saja jika terus-terusan mengingat memori itu.</p>

<p><em>cemburumu itu penyakit, sunghoon</em> menyumpahi diri sendiri memang menjadi pilihan sunghoon setelah putus. tak ada hari di mana ia tak menyalahkan sisi pencemburunya dan sebagaimana ia terlalu vokal soal itu.</p>

<p>sunghoon duduk di kursi meja belajarnya saat kembali sendirian di kamar apartemennya. hanya ada cahaya lampu dari laptop yang menyala di atas meja untuk meneranginya. kedua tangan bersiaga di atas papan ketik laptop kesayangannya untuk mengetik sesuatu ke dalam badan e-mail</p>

<p>“hi, heeseung.” dia bernarasi sendiri, coba-coba cari kata yang tepat sebagai pembuka.</p>

<p>“bagaimana kabarmu?” sambil berbicara, sunghoon juga sambil mengetiknya dengan perlahan.</p>

<p>“sudah sebulan ya? kamu baik-baikkah tanpa aku? <em>i hope you do, i know you always do</em>.” ada rasa tercekat dalam dadanya ketika menumpahkan semua itu ke badan e-mail.</p>

<p>sunghoon tahu, heeseung dengan atau tanpanya tak akan bedanya. lelaki yang satu itu selalu punya caranya sendiri untuk membahagiakan diri, tetapi tidak dengan sunghoon. ia tak pernah menyesali bagaimana menjadikan heeseung sebagai orang yang ia percaya bertahun-tahun, menjadikan heeseung nomor panggilan daruratnya, segala-gala tentang heeseung. maka ketika heeseung hilang dalam hidupnya, hampa melanda.</p>

<p>“hari ini aku mengadakan pesta lagi di tempat kita.”</p>

<p><em>apakah pantas dirinya masih menyebutnya tempat bersama?</em></p>

<p>“tapi tidak ada satupun yang membuatku senang.” jaeyun juga sunoo sudah coba hibur dia, mengajaknya untuk bertemu orang lain. tidak lupa dengan jebakan kencan buta yang dibuat oleh jongseong.</p>

<p>semua itu tidak menyenangkan.</p>

<p>“bukan aku tidak menghargai usaha mereka menghiburku,” katanya, “tapi yang kubutuhkan bukan itu.”</p>

<p>“yang kubutuhkan itu kamu, <strong>lee heeseung</strong>.” disengajakan tebal ketika ia menaruh nama mantan kekasihnya itu.</p>

<p>“<em>lee heeseung</em>,” panggilnya, mungkin hanya angin yang mendengarkannya, tapi ia tak peduli.</p>

<p>“<em>please, tell me you love me</em>.”
“<em>i don&#39;t care if you&#39;re insincere</em>.”
“<em>but you know, that&#39;s the only i need</em>.”</p>

<p>sunghoon memandangi layarnya kembali, lalu segera menutup surat yang telah diketiknya; memasukan surat itu kembali ke dalam <em>draft</em> tak terkirimnya. ada ratusan, mungkin ribuan, surat tak terkirim itu. yang pasti satu pintanya, ia hanya ingin mendengar heeseung berkata lelaki itu <em>mencintai</em>nya. walaupun itu tidak mungkin, tidak tulus, sunghoon akan mengabaikan semua itu.</p>

<p>sunghoon terdiam lagi-lagi di tengah hening malam.</p>

<p><em>please, tell me you love me, heeseung.</em></p>

<hr/>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/all-i-need-to-hear</guid>
      <pubDate>Mon, 17 Oct 2022 18:18:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Night Call ㅡ HoonSeung Ver.</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/night-call-eu-hoonseung-ver?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Night Call ㅡ HoonSeung Ver.&#xA;&#xA;”Hallo, Sunghoon, maaf mengganggu—“&#xA;&#xA;Heeseung tidak menyangka ia akan membuat panggilan telepon pada Sunghoon di tengah malam. Dua maniknya pandangin pemandangan di luar kaca jendela. Di bawah sana hanyalah jalan yang masih ramai walau pagi bisa menjemput kapan saja. Kepalanya penuh, mentalnya lelah, ia butuh berlabuh sebentar saja. Tidak meminta lebih dan menghubungi Sunghoon adalah pilihannya.&#xA;&#xA;“Heeseung?” Sunghoon memanggil namanya dengan tanda tanya, seolah terkejut siapa yang menghubungi di puncak malam.&#xA;&#xA;“Apa kau tertidur?” Heeseung memainkan batang rokok tak berapi dengan ujungnya yang bebas.&#xA;&#xA;“Tidak. Jika iya, maka aku tidak akan menjawabmu.” Sunghoon terkekeh di akhir jawabnya. Heeseung dapat membayangkan lelaki itu tengah tertidur di ranjangnya, memandang langit-langitnya di tengah kegelapan malam. Sunghoon akan memeluk boneka beruang yang diberikan Heeseung ketika perayaan hari jadi mereka yang kelima.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa menelpon?&#34; Sunghoon bertanya. &#xA;&#xA;Heeseung alihkan pandang pada tangannya yang kini mengapit rokok di sela jemarinya, &#34;Aku sedang lelah.&#34;&#xA;&#xA;Sunghoon mengumbang panjang, mencoba mendengar lebih suara Heeseung. Menantinya untuk menceritakan lebih banyak hal.&#xA;&#xA;&#34;Aku ... aku lelah dengan beban yang diberikan. Aku tidak bisa, Hoon. Aku benci terlihat lemah.&#34; Suaranya tak gentar, tapi untuk mengucapnya jelas Heeseung butuh usaha lebih. &#xA;&#xA;Aku benci terlihat lemah juga ucapan yang berlaku jika ia berhadapan dengan Sunghoon. Ingin rasanya menghambur pada Sunghoon, tidak ingin berucap hanya ingin sebuah rengkuhan dan meluruhkan seluruh air matanya pada dada pemuda yang satu.&#xA;&#xA;&#34;Heeseung... &#34; panggil Sunghoon. &#xA;&#xA;Heeseung menunggu.&#xA;&#xA;&#34;Sebenarnya aku tidak tahu harus membalas apa. Kamu ingin aku menjawab apa?&#34; tanya Sunghoon, tahu betul terkadang kata-kata penyemangat bukanlah yang Heeseung butuhkan. Heeseung memang sudah lelah dengan kata-kata semua akan berlalu pada waktunya. Lelah dengan waktu yang nampak tak berhilal, tak memilik ujung terkecuali ajal menjemput. &#xA;&#xA;&#34;Distraksi, kau bisa berceritakan tentang harimu, Hoon.&#34;&#xA;&#xA;Heeseung dapat melihat seringai pada wajah Sunghoon, Heeseung tahu betul Sunghoon.&#xA;&#xA;&#34;Memang kau tertarik untuk mendengarkan ceritaku yang membosankan, Lee Heeseung?&#34; Heeseung tertawa kecil, kenapa selalu Sunghoon merendah soal hidupnya yang luar biasa pada Heeseung? &#xA;&#xA;Park Sunghoon, 27 tahun, seorang manajer marketing di perusahaan e-commerce terkenal. Bertemu dengan banyak orang, dicintai banyak orang, dikelilingi orang yang mengenalnya. Semua orang tahu siapa dia. Heeseung bukan apa-apa jika harus disandingkan dengan Sunghoon, lucu juga jika Sunghoon terus memilih Heeseung berkali-kali.&#xA;&#xA;&#34;Mungkin sesuatu yang membosankan bagimu adalah hal yang menarik untukku,&#34; tukas Heeseung. &#xA;&#xA;Sunghoon kemudian memulai ceritanya. Bagaimana ia melihat orang-orang berjalan dengan pakaian putih. Terkadang hewan-hewan juga berkeliaran dengan bebas. Sunghoon berkata, ia hari ini memiliki teman kucing hitam yang mengingatnya dengan Heeseung, dengan rumahnya. Heeseung yang mendengarkannya, beranjak dari tempatnya dan menaruh rokok di atas meja. Dirinya kemudian berpindah duduk ke tepi ranjang. Diusap-usapnya permukaan kasur yang berkerut.&#xA;&#xA;&#34;Lalu? Kau namai siapa kucing itu?&#34; Agar tak membosankan, sesekali Heeseung memberi respon atas cerita yang diberikan.&#xA;&#xA;&#34;Kunamai Heeseung dan kucing ini tidak menyukainya. Katanya ia punya nama! Jay!&#34; Sunghoon jawab dengan serius, mengundang gelak tawa dari Heeseung seolah ia membayangkan Sunghoon berbicara dengan binatang kecil itu.&#xA;&#xA;Seperti dulu.&#xA;&#xA;Heeseung memandangi nakasnya, rungu masih mendengar celoteh pemuda yang lebih muda. Di atas sana terdapat bingkai yang sengaja ia tutupi gambarnya, kemudian tangannya yang bebas mengulur untuk membenarkan posisi bingkai. Kini, terlihat foto Sunghoon di ladang bakung lelabah merah. Jepang nampak asri kala itu, Heeseung tak pernah bosan untuk abadi Sunghoon dalam bentuk gambar.&#xA;&#xA;Tak terasa, waktu sudah tunjukkan pukul tiga pagi. Matahari terbit kapan saja, tapi Heeseung tak membiarkan panggilannya terputus.&#xA;&#xA;&#34;Heeseung, sudah mau pagi.&#34;&#xA;&#xA;Pagi selalu menjengkelkan. Heeseung harus melakukan hal repetitif, bergelut dengan kewajiban, dan dihajar realita menyakitkan. Heeseung membenci pagi, tapi tidak dengan mentari terbit. Heeseumg menyukai siluet yang hitam yang memudar biru seperti gelap berganti pilu, seolah menyadarkan ia harus kembali memangku beban yang ada.&#xA;&#xA;&#34;Sedikit lagi, Hoon. Sebentar lagi, aku mohon.&#34;&#xA;&#xA;Bisa terdengar Sunghoon menghela napas, dilema antara ingin tetap menemani atau menyuruh Heeseung untuk tertidur barang sebentar saja. Heeseung lagi-lagi tahu, Sunghoon akan mengomelinya, membuatnya harus mendengarkan ocehan tentang kehidupannya yang tidak sehat.&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, lima menit lagi akan ditutup.&#34;&#xA;&#xA;Heeseung mengangguk, ia tahu Sunghoon tak akan melihat senyum tipis yang terpasang di romannya yang telah lelah.&#xA;&#xA;&#34;Hoon, kali ini biarkan aku yang berbicara.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku ... &#34; Heeseung menjeda, &#34; ... sangat berterima kasih kamu selalu mengangkat teleponku ketika semua itu hal yang tak mungkin.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon terdiam, maka Heeseung melanjutkan ucapannya.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih sudah menemaniku beberapa hari terakhir. Rasanya berat, Sunghoon. Berat sekali di sini, aku tahu aku bisa. Aku ... aku lelah dengan asumsi orang terhadapku.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku ingin istirahat, tapi pikiranku berkata tidak dan aku merasa, semua itu lebih baik ketika aku mendengarkan suaramu.&#34; &#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;Tak disadari suara di luar sana sangatlah berisik jika tak ada suaranya, maupun suara Sunghoon juga. Benar-benar sungguh bisingnya ibukota dan Heeseung baru menyadarinya, karena selama ini selalu merasa sepi.&#xA;&#xA;&#34;Heeseung.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sunghoon, aku berterima kasih ... &#34;&#xA;&#34; ... aku mencintaimu ... &#34;&#xA;&#34; ... dan aku minta—&#34;&#xA;&#xA;Klik.&#xA;&#xA;&#34;—maaf.&#34;&#xA;&#xA;Heeseung belum sempat menyelesaikan perkataannya, panggilannya telah terputus. Ia memandang layar ponselnya, sebelum menaruhnya di atas nakas bersebelahan dengan bingkai foto. &#xA;&#xA;  I hope this time will last forever.&#xA;  I hope it’ll last forever, I hope you’ll be happy.&#xA;&#xA;--------------------------------------------------------------&#xA;&#xA;&#34;Heeseung menelpon siapa selarut ini?&#34; Jongseong bertanya pada Jaeyun, keduanya adalah teman satu kamar apartemen Heeseung. Jaeyun yang tengah terduduk di ruang tengah, mematikan televisinya ketika melihat kepulangan Jongseong.&#xA;&#xA;&#34;Sunghoon.&#34; Suaranya pelan ketika menjawab, seolah nama itu ingin tidak terdengar siapa pun. Jongseong jadi bertanya-tanya, kenapa Jaeyun harus mengecilkan suaranya. &#xA;&#xA;&#34;Siapa?&#34; Jongseong mengambil duduk di sebelah Jaeyun, melonggarkan dasi yang mengerat pada lehernya. &#xA;&#xA;&#34;Mantan kekasih Heeseung ... &#34;&#xA;&#34; ... yang meninggal setahun lalu.&#34;&#xA;&#xA;-------------------------------------------&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="night-call-ㅡ-hoonseung-ver" id="night-call-ㅡ-hoonseung-ver">Night Call ㅡ HoonSeung Ver.</h2>

<p>”Hallo, Sunghoon, maaf mengganggu—“</p>

<p>Heeseung tidak menyangka ia akan membuat panggilan telepon pada Sunghoon di tengah malam. Dua maniknya pandangin pemandangan di luar kaca jendela. Di bawah sana hanyalah jalan yang masih ramai walau pagi bisa menjemput kapan saja. Kepalanya penuh, mentalnya lelah, ia butuh berlabuh sebentar saja. Tidak meminta lebih dan menghubungi Sunghoon adalah pilihannya.</p>

<p>“<em>Heeseung?</em>” Sunghoon memanggil namanya dengan tanda tanya, seolah terkejut siapa yang menghubungi di puncak malam.</p>

<p>“Apa kau tertidur?” Heeseung memainkan batang rokok tak berapi dengan ujungnya yang bebas.</p>

<p>“<em>Tidak. Jika iya, maka aku tidak akan menjawabmu.</em>” Sunghoon terkekeh di akhir jawabnya. Heeseung dapat membayangkan lelaki itu tengah tertidur di ranjangnya, memandang langit-langitnya di tengah kegelapan malam. Sunghoon akan memeluk boneka beruang yang diberikan Heeseung ketika perayaan hari jadi mereka yang kelima.</p>

<p>“<em>Kenapa menelpon?</em>” Sunghoon bertanya.</p>

<p>Heeseung alihkan pandang pada tangannya yang kini mengapit rokok di sela jemarinya, “Aku sedang lelah.”</p>

<p>Sunghoon mengumbang panjang, mencoba mendengar lebih suara Heeseung. Menantinya untuk menceritakan lebih banyak hal.</p>

<p>“Aku ... aku lelah dengan beban yang diberikan. Aku tidak bisa, Hoon. Aku benci terlihat lemah.” Suaranya tak gentar, tapi untuk mengucapnya jelas Heeseung butuh usaha lebih.</p>

<p><em>Aku benci terlihat lemah</em> juga ucapan yang berlaku jika ia berhadapan dengan Sunghoon. Ingin rasanya menghambur pada Sunghoon, tidak ingin berucap hanya ingin sebuah rengkuhan dan meluruhkan seluruh air matanya pada dada pemuda yang satu.</p>

<p>“<em>Heeseung</em>... “ panggil Sunghoon.</p>

<p>Heeseung menunggu.</p>

<p>“Sebenarnya aku tidak tahu harus membalas apa. Kamu ingin aku menjawab apa?” tanya Sunghoon, tahu betul terkadang kata-kata penyemangat bukanlah yang Heeseung butuhkan. Heeseung memang sudah lelah dengan kata-kata <em>semua akan berlalu pada waktunya</em>. Lelah dengan waktu yang nampak tak berhilal, tak memilik ujung terkecuali ajal menjemput.</p>

<p>“Distraksi, kau bisa berceritakan tentang harimu, Hoon.”</p>

<p>Heeseung dapat melihat seringai pada wajah Sunghoon, Heeseung tahu betul Sunghoon.</p>

<p>“Memang kau tertarik untuk mendengarkan ceritaku yang membosankan, Lee Heeseung?” Heeseung tertawa kecil, kenapa selalu Sunghoon merendah soal hidupnya yang luar biasa pada Heeseung?</p>

<p>Park Sunghoon, 27 tahun, seorang manajer marketing di perusahaan <em>e-commerce</em> terkenal. Bertemu dengan banyak orang, dicintai banyak orang, dikelilingi orang yang mengenalnya. Semua orang tahu siapa dia. Heeseung bukan apa-apa jika harus disandingkan dengan Sunghoon, lucu juga jika Sunghoon terus memilih Heeseung berkali-kali.</p>

<p>“Mungkin sesuatu yang <em>membosankan</em> bagimu adalah hal yang menarik untukku,” tukas Heeseung.</p>

<p>Sunghoon kemudian memulai ceritanya. Bagaimana ia melihat orang-orang berjalan dengan pakaian putih. Terkadang hewan-hewan juga berkeliaran dengan bebas. Sunghoon berkata, ia hari ini memiliki teman kucing hitam yang mengingatnya dengan Heeseung, dengan <em>rumahnya</em>. Heeseung yang mendengarkannya, beranjak dari tempatnya dan menaruh rokok di atas meja. Dirinya kemudian berpindah duduk ke tepi ranjang. Diusap-usapnya permukaan kasur yang berkerut.</p>

<p>“Lalu? Kau namai siapa kucing itu?” Agar tak membosankan, sesekali Heeseung memberi respon atas cerita yang diberikan.</p>

<p>“Kunamai Heeseung dan kucing ini tidak menyukainya. Katanya ia punya nama! Jay!” Sunghoon jawab dengan serius, mengundang gelak tawa dari Heeseung seolah ia membayangkan Sunghoon berbicara dengan binatang kecil itu.</p>

<p><em>Seperti dulu</em>.</p>

<p>Heeseung memandangi nakasnya, rungu masih mendengar celoteh pemuda yang lebih muda. Di atas sana terdapat bingkai yang sengaja ia tutupi gambarnya, kemudian tangannya yang bebas mengulur untuk membenarkan posisi bingkai. Kini, terlihat foto Sunghoon di ladang bakung lelabah merah. Jepang nampak asri kala itu, Heeseung tak pernah bosan untuk abadi Sunghoon dalam bentuk gambar.</p>

<p>Tak terasa, waktu sudah tunjukkan pukul tiga pagi. Matahari terbit kapan saja, tapi Heeseung tak membiarkan panggilannya terputus.</p>

<p>“<em>Heeseung, sudah mau pagi.</em>“</p>

<p>Pagi selalu menjengkelkan. Heeseung harus melakukan hal repetitif, bergelut dengan kewajiban, dan dihajar realita menyakitkan. Heeseung membenci pagi, tapi tidak dengan mentari terbit. Heeseumg menyukai siluet yang hitam yang memudar biru seperti gelap berganti pilu, seolah menyadarkan ia harus kembali memangku beban yang ada.</p>

<p>“Sedikit lagi, Hoon. Sebentar lagi, aku mohon.”</p>

<p>Bisa terdengar Sunghoon menghela napas, dilema antara ingin tetap menemani atau menyuruh Heeseung untuk tertidur barang sebentar saja. Heeseung lagi-lagi tahu, Sunghoon akan mengomelinya, membuatnya harus mendengarkan ocehan tentang kehidupannya yang tidak sehat.</p>

<p>“<em>Baiklah, lima menit lagi akan ditutup.</em>“</p>

<p>Heeseung mengangguk, ia tahu Sunghoon tak akan melihat senyum tipis yang terpasang di romannya yang telah lelah.</p>

<p>“Hoon, kali ini biarkan aku yang berbicara.”</p>

<p>“Aku ... ” Heeseung menjeda, “ ... sangat berterima kasih kamu selalu mengangkat teleponku ketika semua itu hal yang tak mungkin.”</p>

<p>Sunghoon terdiam, maka Heeseung melanjutkan ucapannya.</p>

<p>“Terima kasih sudah menemaniku beberapa hari terakhir. Rasanya berat, Sunghoon. Berat sekali di sini, aku tahu aku bisa. Aku ... aku lelah dengan asumsi orang terhadapku.”</p>

<p>“Aku ingin istirahat, tapi pikiranku berkata tidak dan aku merasa, semua itu lebih baik ketika aku mendengarkan suaramu.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>Tak disadari suara di luar sana sangatlah berisik jika tak ada suaranya, maupun suara Sunghoon juga. Benar-benar sungguh bisingnya ibukota dan Heeseung baru menyadarinya, karena selama ini selalu merasa sepi.</p>

<p>“<em>Heeseung.</em>“</p>

<p>“Sunghoon, aku berterima kasih ... “
“ ... aku mencintaimu ... “
“ ... dan aku minta—”</p>

<p><em>Klik.</em></p>

<p>“—maaf.”</p>

<p>Heeseung belum sempat menyelesaikan perkataannya, panggilannya telah terputus. Ia memandang layar ponselnya, sebelum menaruhnya di atas nakas bersebelahan dengan bingkai foto.</p>

<blockquote><p><em>I hope this time will last forever.
I hope it’ll last forever, I hope you’ll be happy.</em></p></blockquote>

<hr/>

<p>“Heeseung menelpon siapa selarut ini?” Jongseong bertanya pada Jaeyun, keduanya adalah teman satu kamar apartemen Heeseung. Jaeyun yang tengah terduduk di ruang tengah, mematikan televisinya ketika melihat kepulangan Jongseong.</p>

<p>“Sunghoon.” Suaranya pelan ketika menjawab, seolah nama itu ingin tidak terdengar siapa pun. Jongseong jadi bertanya-tanya, kenapa Jaeyun harus mengecilkan suaranya.</p>

<p>“Siapa?” Jongseong mengambil duduk di sebelah Jaeyun, melonggarkan dasi yang mengerat pada lehernya.</p>

<p>“Mantan kekasih Heeseung ... “
“ ... yang meninggal setahun lalu.”</p>

<hr/>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/night-call-eu-hoonseung-ver</guid>
      <pubDate>Mon, 11 Jul 2022 12:55:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>FEVER</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/fever?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[FEVER&#xA;&#xA;TAGS : Implied sexual activity, death scene, mentioned fire, major character death, first person of view, toxic relationship.&#xA;&#xA;Mereka bilang, &#34;One who wears the crown must bears its weight.&#34; tapi saya mengetahui jika lelaki di hadapan saya dengan angkuhnya dapat mengangkat dagunya tinggi, seolah mahkota intan yang dipasangkannya bukanlah beban baginya.&#xA;&#xA;Jung Wooyoung adalah lelaki yang penuh dengan eluan agung. Saya salah satunya yang menyerahkan seluruh jiwa dan raga padanya, karena pria itu adalah seorang raja, seseorang yang memerintah kerajaan yang dibuat dan dipertahankan leluhurnya. Darah yang mengalir biru murni, membedakan dengan saya yang setetes darah saja tak berharga selain dikorbankan kepada mereka.&#xA;&#xA;Tatapannya dingin di atas singgasananya buat kedua tungkai yang menopang saya bergetar, acapkali saya berhadapan dengannya. Bersujud mungkin adalah jalan ketika kedua kaki tidak dapat lagi membuat saya berdiri tegap saat bertemu dengannya. &#xA;&#xA;Mencintainya adalah sesuatu yang tidak terpuji sebagai kaum bawah, saya menginginkannya lebih dari sosok yang berada di puncak teratas rantai kehidupan. Saya menginginkannya, tapi saya tahu tempat saya di mana. Tak akan mampu, bahkan semua malam yang telah dilewati bersama pun tak akan membuat pria itu goyah sejengkal pun.&#xA;&#xA;&#34;More.&#34; &#xA;&#xA;Wooyoung tidak pernah meminta. Ucap-ucap yang keluar dari belah bibirnya adalah perintah, sesuatu yang harus saya turuti, sesuatu yang tak akan bisa saya bantah apapun alasannya.&#xA;&#xA;&#34;Faster.&#34;&#xA;&#xA;Tangan saya yang kotor, menyentuh seluruh tiap inchi tubuhnya. Namun, itu tidak cukup untuk menyentuh hatinya. Tidak akan pernah, tapi itulah yang membuat saya semakin haus akan presensinya yang nampak begitu rapuh di bawah saya. Ah, bahkan dalam keadaan terhina pun, ia nampak begitu anggun, begitu cantik.&#xA;&#xA;&#34;Don&#39;t stop.&#34;&#xA;&#34;Please.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Your wish is my command, Your Highness.&#34;&#xA;&#xA;Seapik apa pakaianmu yang kau hias dengan jutaan berlian, tak akan pernah mengalahkan figur tanpa busanamu. Menyedihkan pula menyakitkan, mengetahui seberapa seringnya saya menyentuh titik ternikmatmu, tanganmu tak akan mengerat dan mengisi ruang di antara sela jariku. Pada alas sutralah kau menggenggam erat seluruh nyawamu, karena makhluk dangkal sepertiku tak pernah layak untuk mendapatkanmu.&#xA;&#xA;Tanpa terpapar virus mematikan pun, saya sudah terjangkit penyakit. Bodoh saya, semakin sakit ini terasa, semakin saya menginginkanmu. Tidak hanya ketika saya berada di antara kedua kakimu, memuaskan hawa nafsumu di malam lain, tapi juga relung hatimu.&#xA;&#xA;Wooyoung, kau begitu dekat dan jauh di waktu bersamaan. &#xA;&#xA;Kau tahu, Yang Mulia? Bara api yang menyala di bawahku, tak akan pernah mengalahkan rasa sakit yang mencekik ulu hatiku. Api yang kau nyalakan padaku malam itu, tak akan pernah padam walau tanganku tak lagi dapat menggapaimu. Kaki yang terikat yang perlahan mengabu, tak akan meruntuhkan apa yang kupercaya.&#xA;&#xA;Jika cintaku begitu nyata.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="fever" id="fever">FEVER</h2>

<p><strong>TAGS</strong> : Implied sexual activity, death scene, mentioned fire, major character death, first person of view, toxic relationship.</p>

<p>Mereka bilang, “<em>One who wears the crown must bears its weight</em>.” tapi saya mengetahui jika lelaki di hadapan saya dengan angkuhnya dapat mengangkat dagunya tinggi, seolah mahkota intan yang dipasangkannya bukanlah beban baginya.</p>

<p>Jung Wooyoung adalah lelaki yang penuh dengan eluan agung. Saya salah satunya yang menyerahkan seluruh jiwa dan raga padanya, karena <em>pria itu</em> adalah seorang raja, seseorang yang memerintah kerajaan yang dibuat dan dipertahankan leluhurnya. Darah yang mengalir biru murni, membedakan dengan saya yang setetes darah saja tak berharga selain dikorbankan kepada <em>mereka</em>.</p>

<p>Tatapannya dingin di atas singgasananya buat kedua tungkai yang menopang saya bergetar, acapkali saya berhadapan dengannya. Bersujud mungkin adalah jalan ketika kedua kaki tidak dapat lagi membuat saya berdiri tegap saat bertemu dengannya.</p>

<p>Mencintainya adalah sesuatu yang tidak terpuji sebagai kaum bawah, saya menginginkannya lebih dari sosok yang berada di puncak teratas rantai kehidupan. Saya <em>menginginkannya</em>, tapi saya tahu tempat saya di mana. Tak akan mampu, bahkan semua malam yang telah dilewati bersama pun tak akan membuat <em>pria itu</em> goyah sejengkal pun.</p>

<p>“<em>More.</em>“</p>

<p>Wooyoung tidak pernah meminta. Ucap-ucap yang keluar dari belah bibirnya adalah perintah, sesuatu yang harus saya turuti, sesuatu yang tak akan bisa saya bantah apapun alasannya.</p>

<p>“<em>Faster.</em>“</p>

<p>Tangan saya yang kotor, menyentuh seluruh tiap inchi tubuhnya. Namun, itu tidak cukup untuk menyentuh hatinya. Tidak akan pernah, tapi itulah yang membuat saya semakin haus akan presensinya yang nampak begitu rapuh di bawah saya. Ah, bahkan dalam keadaan terhina pun, ia nampak begitu anggun, begitu cantik.</p>

<p>“<em>Don&#39;t stop.</em>“
“<em>Please.</em>“</p>

<p>“<em>Your wish is my command, Your Highness.</em>“</p>

<p>Seapik apa pakaianmu yang kau hias dengan jutaan berlian, tak akan pernah mengalahkan figur tanpa busanamu. Menyedihkan pula menyakitkan, mengetahui seberapa seringnya saya menyentuh titik ternikmatmu, tanganmu tak akan mengerat dan mengisi ruang di antara sela jariku. Pada alas sutralah kau menggenggam erat seluruh nyawamu, karena makhluk dangkal sepertiku tak pernah layak untuk mendapatkanmu.</p>

<p>Tanpa terpapar virus mematikan pun, saya sudah terjangkit penyakit. Bodoh saya, semakin sakit ini terasa, semakin saya menginginkanmu. Tidak hanya ketika saya berada di antara kedua kakimu, memuaskan hawa nafsumu di malam lain, tapi juga relung hatimu.</p>

<p>Wooyoung, kau begitu dekat dan jauh di waktu bersamaan.</p>

<p>Kau tahu, Yang Mulia? Bara api yang menyala di bawahku, tak akan pernah mengalahkan rasa sakit yang mencekik ulu hatiku. Api yang kau nyalakan padaku <em>malam itu</em>, tak akan pernah padam walau tanganku tak lagi dapat menggapaimu. Kaki yang terikat yang perlahan mengabu, tak akan meruntuhkan apa yang kupercaya.</p>

<p><em>Jika cintaku begitu nyata</em>.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/fever</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Jul 2021 13:54:52 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>But Were We Ever Meant To Be?</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/but-were-we-ever-meant-to-be?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[But Were We Ever Meant To Be?&#xA;&#xA;  And though they could feel it then,&#xA;  It&#39;s not how they want to end.&#xA;&#xA;Wooyoung tidak sekali pun menyesali pertemuannya dengan Jongho. Tanpa ragu, ketika Jongho menoreh tanya, lelaki Jung itu menjawab dengan mantap. Semua yang terjadi di kehidupan lalu, biarlah berlalu. Setidaknya mereka baik-baik saja, berpisah ketika mereka tahu memang sudah tiba saatnya.&#xA;&#xA;Mereka memang sudah mempersiapkannya, tidak ada yang mereka tunggu selain perpisahan. Lambat atau cepat, kepastian akan kenyataan jika mereka tak lagi di jalan yang sama itu selalu ada. Baik Wooyoung dan Jongho, keduanya terlalu naif, terlalu memaksakan sesuatu yang memang tak perlu terjadi. &#xA;&#xA;Mereka tahu konsekuensinya.&#xA;&#xA;  &#34;To hold back each other&#39;s true fate&#xA;  is not of our nature. Let&#39;s be mature.&#34;&#xA;&#xA;Ketika Jongho mengecupnya terakhir kali dan tinggalkan tempat mereka tinggal bersama, hanya rasa ikhlas yang mendampinginya. Wooyoung tak pernah tahu, begitu besar dampak kehidupan seorang Choi Jongho baginya. &#xA;&#xA;Benar, semua terasa sulit untuk melepaskan sesuatu yang erat dalam genggam. Hanya saja, Wooyoung tahu, hubungan mereka bukanlah sesuatu yang wajar di lingkungan. Yang lambat laun akan membahayakan kehidupan keduanya. Dan semua itu, bukan tempat mereka berdua untuk memaksakan dunia untuk mengubah takdir mereka.&#xA;&#xA;&#34;Jaga dirimu baik-baik.&#34; Senyum simpul saja terasa begitu berat saat Jongho menarik kopernya keluar.&#xA;&#xA;  And this is the part.&#xA;  Where our whole lives collide.&#xA;&#xA;Jongho tidak pernah menyangka dirinya memilih menjadi penyanyi solo sebagai karirnya untuk memfokuskan diri selepas Wooyoung dari kehidupannya. Melupakan Wooyoung adalah tugas yang paling sulit di dunia, tapi ia percaya, melupakan bukanlah jalan. Benar, kenangan tentang lelaki berambut ungu pudar itu biarlah tetap ada di sudut hatinya. Biarkan sosok itu ada di sana, menghangatkan dirinya, di kala kejamnya dunia.&#xA;&#xA;Hidup bukankah memang selalu seperti itu? Ia menyemangati dirinya sendiri ketika pekerjaan menjadi publik figur bukanlah yang diidamkannya. Teringat bagaimana Wooyoung yang berdiri di sebelahnya, melompat-lompat kecil dengan bangga, &#34;Pacarku adalah penyanyi dan gitaris yang hebat. Kau suatu saat pasti bisa jadi penyanyi terkenal.&#34;&#xA;&#xA;Benar. &#xA;&#xA;Jongho lah yang mengabulkan kata-kata yang terdengar seperti doa itu, walau acapkali, doa itu tak indahkannya.&#xA;&#xA;  Maybe you weren&#39;t made for me&#xA;  nor I for you. But I&#39;d be damn lying,&#xA;  if I think that that&#39;s true.&#xA;&#xA;-------------------------------------------------------------&#xA;&#xA;Jongho duduk terdiam di kedai makanan kesukaannya di pinggir kota, yang telah lama tak disinggahinya. Teringat, tempat itu masih sama seperti pertama kali ia mengajak Wooyoung berkencan. Mengajaknya makan siang dengan ramen hangat di dinginnya bulan Desember kala itu. Rasa yang kini dicicipinya pun tak jauh beda.&#xA;&#xA;Sepi, pikirnya.&#xA;&#xA;Memang tak banyak orang berlalulalang di dinginnya musim gugur. Dirinya tak pernah menyangka pula, ia menghabiskan waktu ulang tahunnya seorang diri. Biarlah, ia mengenang sedikit masa mudanya, masa-masa ketika ia menghabiskan waktu dengan orang yang lagi-lagi mangkir di kepalanya.&#xA;&#xA;Bel kecil di atas pintu masuk menarik atensinya yang tengah menyeduh teh hangatnya. Gerakannya terhenti, ketika ia mengenali sosok yang baru saja datang. Pakaian yang serba kelabu, rambutnya gelap yang kian memudar, wajah yang jelas tak akan bisa ia lupakan.&#xA;&#xA;Jung Wooyoung ada di sana, bersama seorang remaja yang Jongho perkiraan mungkin buah hatinya.&#xA;&#xA;Keduanya saling menatap dan waktu seakan berhenti barang sesekon saja. Sebelum akhirnya, keduanya hanya memberi senyum tipis penuh arti. &#xA;&#xA;  Nobody&#39;s winning.&#xA;  In this tale of past and future love.&#xA;&#xA;Ini jelas bukanlah sebuah perlombaan perihal siapa yang paling cepat melupakan satu sama lain. Jongho dan Wooyoung tidak pernah mencobanya atau memikirkannya. Ini bukan perihal siapakah yang sukses di kehidupan mereka, bukan siapa yang merebut cita-cita mereka paling cepat.&#xA;&#xA;Bukan.&#xA;&#xA;Karena mereka berdua tahu, ketika jalan keduanya berubah, tak lagi sevisi pula semisi, maka apapun destinasi mereka pun sudah bukan urusan satu sama lain. Yang mereka tahu, apapun jalan yang ditempuh sekarang, mereka saling ingat, jika ada satu sama lain di awal permulaannya. Itu lebih dari sekadar cukup bagi keduanya.&#xA;&#xA;Tak ada dendam, tak ada lagi rasa meminta untuk lebih, berdoa pada Tuhan untuk memutar kembali takdir mereka. Bukan berarti mereka tidak ingin melawan dunia bersama, mereka tahu, dunia mereka sudahlah tak sejalan sejak awal. Merekalah yang menginginkan jalan penuh duri untuk ditelusuri.&#xA;&#xA;Itu semua konsekuensi dan mereka sudah tahu jua siap.&#xA;&#xA;Percakapan di atas meja ketika keduanya di usia hampir setengah abad itu hanyalah sebuah canda tawa, berbagi kisah bagaimana mereka menjalani hidup. Tak ada yang disombongkan, hanya raungan betapa dunia memang selalu tak adil, tapi selalu ada jalan.&#xA;&#xA;&#34;Kau ingat pertanyaanmu mungkin dua dekade lalu?&#34; Wooyoung bertanya, ujung bibirnya tertarik tanpa sendu. Jelas kebahagiaan di antara keduanyalah yang dapat terasa.&#xA;&#xA;Jongho menangguk pelan, memainkan gelasnya.&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak pernah menyesali semua jalan yang pernah kulalui bersamamu, bahkan sampai detik ini.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="but-were-we-ever-meant-to-be" id="but-were-we-ever-meant-to-be">But Were We Ever Meant To Be?</h2>

<blockquote><p><em>And though they could feel it then,</em>
<em>It&#39;s not how they want to end.</em></p></blockquote>

<p>Wooyoung tidak sekali pun menyesali pertemuannya dengan Jongho. Tanpa ragu, ketika Jongho menoreh tanya, lelaki Jung itu menjawab dengan mantap. Semua yang terjadi di kehidupan lalu, biarlah berlalu. Setidaknya mereka baik-baik saja, berpisah ketika mereka tahu memang sudah tiba saatnya.</p>

<p>Mereka memang sudah mempersiapkannya, tidak ada yang mereka tunggu selain perpisahan. Lambat atau cepat, kepastian akan kenyataan jika mereka tak lagi di jalan yang sama itu selalu ada. Baik Wooyoung dan Jongho, keduanya terlalu naif, terlalu memaksakan sesuatu yang memang tak perlu terjadi.</p>

<p>Mereka tahu konsekuensinya.</p>

<blockquote><p>“<em>To hold back each other&#39;s true fate</em>
<em>is not of our nature. Let&#39;s be mature.</em>“</p></blockquote>

<p>Ketika Jongho mengecupnya terakhir kali dan tinggalkan tempat mereka tinggal bersama, hanya rasa ikhlas yang mendampinginya. Wooyoung tak pernah tahu, begitu besar dampak kehidupan seorang Choi Jongho baginya.</p>

<p>Benar, semua terasa sulit untuk melepaskan sesuatu yang erat dalam genggam. Hanya saja, Wooyoung tahu, hubungan mereka bukanlah sesuatu yang wajar di lingkungan. Yang lambat laun akan membahayakan kehidupan keduanya. Dan semua itu, bukan tempat mereka berdua untuk memaksakan dunia untuk mengubah takdir mereka.</p>

<p>“Jaga dirimu baik-baik.” Senyum simpul saja terasa begitu berat saat Jongho menarik kopernya keluar.</p>

<blockquote><p><em>And this is the part.</em>
<em>Where our whole lives collide.</em></p></blockquote>

<p>Jongho tidak pernah menyangka dirinya memilih menjadi penyanyi solo sebagai karirnya untuk memfokuskan diri selepas Wooyoung dari kehidupannya. Melupakan Wooyoung adalah tugas yang paling sulit di dunia, tapi ia percaya, melupakan bukanlah jalan. Benar, kenangan tentang lelaki berambut ungu pudar itu biarlah tetap ada di sudut hatinya. Biarkan sosok itu ada di sana, menghangatkan dirinya, di kala kejamnya dunia.</p>

<p>Hidup bukankah memang selalu seperti itu? Ia menyemangati dirinya sendiri ketika pekerjaan menjadi publik figur bukanlah yang diidamkannya. Teringat bagaimana Wooyoung yang berdiri di sebelahnya, melompat-lompat kecil dengan bangga, “Pacarku adalah penyanyi dan gitaris yang hebat. Kau suatu saat pasti bisa jadi penyanyi terkenal.”</p>

<p>Benar.</p>

<p>Jongho lah yang mengabulkan kata-kata yang terdengar seperti doa itu, walau acapkali, doa itu tak indahkannya.</p>

<blockquote><p><em>Maybe you weren&#39;t made for me</em>
<em>nor I for you. But I&#39;d be damn lying,</em>
<em>if I think that that&#39;s true.</em></p></blockquote>

<hr/>

<p>Jongho duduk terdiam di kedai makanan kesukaannya di pinggir kota, yang telah lama tak disinggahinya. Teringat, tempat itu masih sama seperti pertama kali ia mengajak Wooyoung berkencan. Mengajaknya makan siang dengan ramen hangat di dinginnya bulan Desember kala itu. Rasa yang kini dicicipinya pun tak jauh beda.</p>

<p><em>Sepi</em>, pikirnya.</p>

<p>Memang tak banyak orang berlalulalang di dinginnya musim gugur. Dirinya tak pernah menyangka pula, ia menghabiskan waktu ulang tahunnya seorang diri. Biarlah, ia mengenang sedikit masa mudanya, masa-masa ketika ia menghabiskan waktu dengan orang yang lagi-lagi mangkir di kepalanya.</p>

<p>Bel kecil di atas pintu masuk menarik atensinya yang tengah menyeduh teh hangatnya. Gerakannya terhenti, ketika ia mengenali sosok yang baru saja datang. Pakaian yang serba kelabu, rambutnya gelap yang kian memudar, wajah yang jelas tak akan bisa ia lupakan.</p>

<p>Jung Wooyoung ada di sana, bersama seorang remaja yang Jongho perkiraan mungkin buah hatinya.</p>

<p>Keduanya saling menatap dan waktu seakan berhenti barang sesekon saja. Sebelum akhirnya, keduanya hanya memberi senyum tipis penuh arti.</p>

<blockquote><p><em>Nobody&#39;s winning.</em>
<em>In this tale of past and future love.</em></p></blockquote>

<p>Ini jelas bukanlah sebuah perlombaan perihal siapa yang paling cepat melupakan satu sama lain. Jongho dan Wooyoung tidak pernah mencobanya atau memikirkannya. Ini bukan perihal siapakah yang sukses di kehidupan mereka, bukan siapa yang merebut cita-cita mereka paling cepat.</p>

<p>Bukan.</p>

<p>Karena mereka berdua tahu, ketika jalan keduanya berubah, tak lagi sevisi pula semisi, maka apapun destinasi mereka pun sudah bukan urusan satu sama lain. Yang mereka tahu, apapun jalan yang ditempuh sekarang, mereka saling ingat, jika ada satu sama lain di awal permulaannya. Itu lebih dari sekadar cukup bagi keduanya.</p>

<p>Tak ada dendam, tak ada lagi rasa meminta untuk lebih, berdoa pada Tuhan untuk memutar kembali takdir mereka. Bukan berarti mereka tidak ingin melawan dunia bersama, mereka tahu, dunia mereka sudahlah tak sejalan sejak awal. Merekalah yang menginginkan jalan penuh duri untuk ditelusuri.</p>

<p>Itu semua konsekuensi dan mereka sudah tahu jua siap.</p>

<p>Percakapan di atas meja ketika keduanya di usia hampir setengah abad itu hanyalah sebuah canda tawa, berbagi kisah bagaimana mereka menjalani hidup. Tak ada yang disombongkan, hanya raungan betapa dunia memang selalu tak adil, tapi selalu ada jalan.</p>

<p>“Kau ingat pertanyaanmu mungkin dua dekade lalu?” Wooyoung bertanya, ujung bibirnya tertarik tanpa sendu. Jelas kebahagiaan di antara keduanyalah yang dapat terasa.</p>

<p>Jongho menangguk pelan, memainkan gelasnya.</p>

<p>“Aku tidak pernah menyesali semua jalan yang pernah kulalui bersamamu, bahkan sampai detik ini.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/but-were-we-ever-meant-to-be</guid>
      <pubDate>Thu, 08 Jul 2021 16:58:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Cintaku Bertepuk Harap yang Tak Ada.</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/cintaku-bertepuk-harap-yang-tak-ada?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Cintaku Bertepuk Harap yang Tak Ada.&#xA;&#xA;Part of random-drabble.&#xA;SeongJoong, one-sided love!SH.&#xA;Side MinJoong, MinJoong in relationship.&#xA;&#xA;-------------&#xA;&#xA;  Kau di mana? &#xA;  Masih di studio?&#xA;&#xA;Sebuah tanya ia berikan pada Hongjoong via pesan singkat. Seonghwa menghela napas ketika mendapati di ruang tidurnya, tidak ada sang sahabat yang merangkap sebagai teman sekamarnya. Sedangkan, penghuni apartemen lain mungkin sudah tertidur. &#xA;&#xA;  Masih lama?&#xA;&#xA;Ia menambah satu balon lagi dalam ruang obrolan mereka. Belum mendapatkan balasan, dibaca pun tidak. Resah membuat Seonghwa bolak-balik dari ruang tamu, kembali ke kamar mereka. &#xA;&#xA;  Aku jemput.&#xA;&#xA;Dengan begitu, Seonghwa memakai jaketnya dan meluncur pergi. Apartemen mereka dengan studio kerja Hongjoong tidaklah jauh, mungkin beda beberapa blok. Jalanan sudah mulai sepi, ya, apa yang diharapkan dari pukul satu dini hari? Keramaian? Konvoi?&#xA;&#xA;Semilir sejuk angin malam yang menembus tulangnya itu, tak dihiraukannya. Demi Hongjoong, seseorang yang ia sukai semenjak mereka pertama kali bertemu. Sudah tiga tahun, hebat juga, hebat juga Seonghwa menahannya selama ini.&#xA;&#xA;Begitu sesampainya di gedung tinggi dengan cat kelabu yang sudah memudar, ia kembali memeriksa kembali gawai pintarnya. Jawab belum ia temukan. Tungkai dengan semangat ia bawa ke arah ruang studio Hongjoong yang sangat-sangat ia hapal letaknya di mana.&#xA;&#xA;Di lantai dua, ruang paling ujung. &#xA;&#xA;Pintunya terbuka, sebab ada lampu yang menyelip dari sela-sela. Si pemuda Park itu dapat melihatnya dari tangga yang sedang dinaikinya. Tanpa mengetuk, seperti biasanya, ia membuka pintu studio.&#xA;&#xA;&#34;Hong─&#34; Baru saja ia sempat memanggil, sudah disuguhi orang yang ia agung-agungkan itu mencium pria lain. &#xA;&#xA;&#34;Eh─sorry.&#34; Seonghwa buru-buru keluar dari ruangan Hongjoong dan mematung di sebelah pintu yang masih terbuka.&#xA;&#xA;Seonghwa tidak tahu siapa pria itu, rambut merah dan jangkung. Tak terpikirkan satu nama pun dalam benak. Menit berikutnya, Hongjoong keluar dan menutup pintunya. Berdiri dengan Seonghwa dalam hening.&#xA;&#xA;&#34;Sorry ... &#34; ucap Hongjoong, &#34; ... lu harus lihat itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, kenapa jadi kamu yang minta maaf?&#34; Terbata-bata Seonghwa membalas ucapan Hongoong.&#xA;&#xA;&#34;Kamu ngapain ke sini?&#34; tanya Hongjoong yang kini mengambil posisi di depan Seonghwa, mencoba melihat air muka sahabatnya yang satu itu.&#xA;&#xA;&#34;Ah─&#34; Seonghwa mencari kata-kata, &#34;Aku khawatir, soalnya kamu gak balas chat-ku. Jadi niatnya mau jemput.&#34;&#xA;&#xA;Kakinya kerap menghentakkan kecil lantai yang dipijaknya, kedua tangannya dimasukkan dalam saku jaketnya. Seonghwa memasang senyum palsu, seolah semua baik-baik saja kepada Hongjoong. Hanya saja, lelaki itu hanya dapat mengusap lehernya dengan ragu.&#xA;&#xA;&#34;Oh, maaf soal itu. Santai kok, aku ditemani Mingi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingi siapa?&#34; Seonghwa dengan cepat memberi tanya, sebab tak tahan terbenam dalam asumsinya.&#xA;&#xA;&#34;Hehe, dia pacarku.&#34; Jawaban dari Hongjoong, membuat senyum Seonghwa luntur sedetik, sebelum akhirnya Seonghwa kembali tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Oalah, kalau gitu maaf ganggu. Aku balik deh kalau gitu, gak enak ganggu.&#34; Dipaksakannya ia tertawa. Hongjoong hanya mengangguk tanggapi Seonghwa.&#xA;&#xA;&#34;Dadah, hati-hati di jalan.&#34; Hongjoong melambaikan tangan pada sosok Seonghwa yang sudah melangkah menjauh. &#xA;&#xA;Seonghwa mengacungkan jempolnya, tanpa berbalik. Tak ingin melihat ekspresi yang diberikan Hongjoong.&#xA;&#xA;&#34;Seonghwa!&#34; Tapi gagal, karena Hongjoong kerap memanggilnya, membuathnya harus berbalik badan.&#xA;&#xA;&#34;Maaf.&#34; Tak ada senyum yang hadir dalam roman pemuda yang lebih muda darinya beberapa tahun, Seonghwa menggelengkan kepala dan melambaikan tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Soal yang tadi? Sudah santai saja, balik gih pacaran.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan!&#34; Seonghwa mengernyit, &#34;Intinya, aku minta maaf.&#34;&#xA;&#xA;Tidak tahu maksud  maaf yang diberikan Hongjoong kala itu. Seonghwa tidak mempertanyakan lebih lanjut, hanya seulas senyum saja yang diberikannya dan kembali lanjutkan langkah untuk kembali ke apartemennya.&#xA;&#xA;--------&#xA;&#xA;P. S.&#xA;Jangan lupa sambil dengarkan lagu ini, C.H.R.I.S.Y.E.&#xA;&#xA;  Kau kehidupanku, meski kau tak tau ada aku di hidupmu.&#xA;  Yang kumau kau untukku, meskipun kau tak rindu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="cintaku-bertepuk-harap-yang-tak-ada" id="cintaku-bertepuk-harap-yang-tak-ada">Cintaku Bertepuk Harap yang Tak Ada.</h2>

<p>Part of random-drabble.
SeongJoong, one-sided love!SH.
Side MinJoong, MinJoong in relationship.</p>

<hr/>

<blockquote><p>Kau di mana?
Masih di studio?</p></blockquote>

<p>Sebuah tanya ia berikan pada Hongjoong via pesan singkat. Seonghwa menghela napas ketika mendapati di ruang tidurnya, tidak ada sang sahabat yang merangkap sebagai teman sekamarnya. Sedangkan, penghuni apartemen lain mungkin sudah tertidur.</p>

<blockquote><p>Masih lama?</p></blockquote>

<p>Ia menambah satu balon lagi dalam ruang obrolan mereka. Belum mendapatkan balasan, dibaca pun tidak. Resah membuat Seonghwa bolak-balik dari ruang tamu, kembali ke kamar mereka.</p>

<blockquote><p>Aku jemput.</p></blockquote>

<p>Dengan begitu, Seonghwa memakai jaketnya dan meluncur pergi. Apartemen mereka dengan studio kerja Hongjoong tidaklah jauh, mungkin beda beberapa blok. Jalanan sudah mulai sepi, ya, apa yang diharapkan dari pukul satu dini hari? Keramaian? Konvoi?</p>

<p>Semilir sejuk angin malam yang menembus tulangnya itu, tak dihiraukannya. Demi Hongjoong, seseorang yang ia sukai semenjak mereka pertama kali bertemu. Sudah tiga tahun, hebat juga, hebat juga Seonghwa menahannya selama ini.</p>

<p>Begitu sesampainya di gedung tinggi dengan cat kelabu yang sudah memudar, ia kembali memeriksa kembali gawai pintarnya. Jawab belum ia temukan. Tungkai dengan semangat ia bawa ke arah ruang studio Hongjoong yang sangat-sangat ia hapal letaknya di mana.</p>

<p>Di lantai dua, ruang paling ujung.</p>

<p>Pintunya terbuka, sebab ada lampu yang menyelip dari sela-sela. Si pemuda Park itu dapat melihatnya dari tangga yang sedang dinaikinya. Tanpa mengetuk, seperti biasanya, ia membuka pintu studio.</p>

<p>“Hong─” Baru saja ia sempat memanggil, sudah disuguhi orang yang ia agung-agungkan itu mencium pria lain.</p>

<p>“Eh─<em>sorry</em>.” Seonghwa buru-buru keluar dari ruangan Hongjoong dan mematung di sebelah pintu yang masih terbuka.</p>

<p>Seonghwa tidak tahu siapa <em>pria itu</em>, rambut merah dan jangkung. Tak terpikirkan satu nama pun dalam benak. Menit berikutnya, Hongjoong keluar dan menutup pintunya. Berdiri dengan Seonghwa dalam hening.</p>

<p>“<em>Sorry</em> ... “ ucap Hongjoong, ” ... lu harus lihat itu.”</p>

<p>“Eh, kenapa jadi kamu yang minta maaf?” Terbata-bata Seonghwa membalas ucapan Hongoong.</p>

<p>“Kamu ngapain ke sini?” tanya Hongjoong yang kini mengambil posisi di depan Seonghwa, mencoba melihat air muka sahabatnya yang satu itu.</p>

<p>“Ah─” Seonghwa mencari kata-kata, “Aku khawatir, soalnya kamu gak balas <em>chat</em>-ku. Jadi niatnya mau jemput.”</p>

<p>Kakinya kerap menghentakkan kecil lantai yang dipijaknya, kedua tangannya dimasukkan dalam saku jaketnya. Seonghwa memasang senyum palsu, seolah semua baik-baik saja kepada Hongjoong. Hanya saja, lelaki itu hanya dapat mengusap lehernya dengan ragu.</p>

<p>“Oh, maaf soal itu. Santai kok, aku ditemani Mingi.”</p>

<p>“Mingi siapa?” Seonghwa dengan cepat memberi tanya, sebab tak tahan terbenam dalam asumsinya.</p>

<p>“Hehe, dia pacarku.” Jawaban dari Hongjoong, membuat senyum Seonghwa luntur sedetik, sebelum akhirnya Seonghwa kembali tersenyum.</p>

<p>“Oalah, kalau gitu maaf ganggu. Aku balik deh kalau gitu, gak enak ganggu.” Dipaksakannya ia tertawa. Hongjoong hanya mengangguk tanggapi Seonghwa.</p>

<p>“Dadah, hati-hati di jalan.” Hongjoong melambaikan tangan pada sosok Seonghwa yang sudah melangkah menjauh.</p>

<p>Seonghwa mengacungkan jempolnya, tanpa berbalik. Tak ingin melihat ekspresi yang diberikan Hongjoong.</p>

<p>“Seonghwa!” Tapi gagal, karena Hongjoong kerap memanggilnya, membuathnya harus berbalik badan.</p>

<p>“Maaf.” Tak ada senyum yang hadir dalam roman pemuda yang lebih muda darinya beberapa tahun, Seonghwa menggelengkan kepala dan melambaikan tangannya.</p>

<p>“Soal yang tadi? Sudah santai saja, balik gih pacaran.”</p>

<p>“Bukan!” Seonghwa mengernyit, “Intinya, aku minta maaf.”</p>

<p>Tidak tahu maksud  <em>maaf</em> yang diberikan Hongjoong kala itu. Seonghwa tidak mempertanyakan lebih lanjut, hanya seulas senyum saja yang diberikannya dan kembali lanjutkan langkah untuk kembali ke apartemennya.</p>

<hr/>

<p>P. S.
Jangan lupa sambil dengarkan lagu ini, <a href="https://open.spotify.com/track/42si4ikg5dh732gPuQ0xHb?si=68886c7a4c2b4bde" rel="nofollow">C.H.R.I.S.Y.E</a>.</p>

<blockquote><p><em>Kau kehidupanku, meski kau tak tau ada aku di hidupmu.</em>
<em>Yang kumau kau untukku, meskipun kau tak rindu.</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/cintaku-bertepuk-harap-yang-tak-ada</guid>
      <pubDate>Mon, 28 Jun 2021 17:19:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>You Let Him Go Again</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/you-let-him-again?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[You Let Him Go Again&#xA;&#xA;CW // Harsh word&#xA;&#xA;------------------------------&#xA;&#xA;&#34;Dadah, Mingi. Maaf, sudah dijemput Yunho.&#34;&#xA;&#xA;Begitulah bagaimana Song Mingi menatap punggung seorang Kang Yeosang yang kian menjauh meninggalkannya di kerumunan anak-anak sekolahan bau terbakar mentari terik yang menyengat. Di umur delapan belas tahunnya, Mingi kehilangan Yeosang. Tidak sepenuhnya hilang, boom, seperti ditelan bumi. Melainkan Yeosang, seseorang yang ia sukai semenjak tahun pertamanya di menengah atas, akhirnya memiliki kekasih.&#xA;&#xA;Jeong Yunho namanya. Kapten tim renang yang terkenal seantero sekolah. Ya, kalau dibandingkan dirinya sih, Mingi hanya seseorang yang setelah sekolah langsung pulang ke rumah atau berada di warnet, gak jauh-jauh juga di rental komik komplek rumah. &#xA;&#xA;&#34;Hati-hati, Sang.&#34; &#xA;&#xA;Yeosang mungkin tidak mendengarkan ucapannya. Dirinya menghela napas, seandainya, seandainya nih, Mingi memiliki keberanian lebih, mungkin Yeosang sudah jadi miliknya. Gak juga sih, Mingi doang. Ah ya, mau bagaimana lagi, memang Mingi yang salah dari awal. &#xA;&#xA;Tangannya ia gunakan untuk mengetuk kepala sendiri beberapa kali, mengucapkan Mingi, lu goblok. berulang kali. Ah, apa guna deh, mungkin memang menyesal, cuma bertindak pun harus bagaimana? Merebut Yeosang dari Yunho? Adanya ia dirundung habis-habisan setelah lulus dari menengah atas.&#xA;&#xA;Mingi menendang kaleng kola kosong.&#xA;&#xA;&#34;Buang sampah dengan benar, Song Mingi!&#34;&#xA;&#xA;Diteriaki guru konseling, Mingi buru-buru kabur dari area sekolah.&#xA;&#xA;------------------------------------------------&#xA;&#xA;&#34;Mingi,&#34; panggil Yeosang. Membuyarkan jawaban Fisika yang berada di hadapan Mingi. Mingi hanya menarik senyum lebarnya, menarik kursi di sampingnya sehingga Yeosang bisa duduk di sana. Tanpa bertanya, Yeosang duduk dan bertopang dagu, menatap apa yang sedang Mingi kerjakan.&#xA;&#xA;&#34;Belajar mulu lu.&#34; Mingi tertawa dengar sebuah sindiran halus dari sahabatnya, &#34;Gak bosen?&#34; &#xA;&#xA;Gelengkan kepala. Ya, memang kegiatan Mingi setelah pulang sekolah adalah mengerjakan tugas yang bisa dikerjakan sambil menunggu Yeosang buat ngajak balik.&#xA;&#xA;&#34;Eh, ke mall sebentar yuk?&#34; ajak Yeosang, sebuah ajakan yang tergolong tumben karena semenjak pacaran sama Yunho, Yeosang cuma sekadar teman pulang langsung ke rumah. Jarang-jarang lagi buat diajak jalan ke mall.&#xA;&#xA;&#34;Tumben.&#34; Mingi akhirnya menutup buku catatannya, karena dalam waktu dekat dia gak akan bisa menolak ajakan Kang Yeosang. Ya, kapan lagi, ya gak?&#xA;&#xA;&#34;Gua berantem sama Yunho.&#34;&#xA;&#xA;Teng.&#xA;&#xA;Mingi sudah menebak sih, pasti ada sesuatu aneh-aneh ini sama oknum JYH, maaf gak mau disebut. Tapi, Mingi mendengarkan saja kelanjutannya. Dari dasarnya, seorang sahabat itu cuma dijadikan tempat curhat. His feeling doesn&#39;t matter at all at the end, right?&#xA;&#xA;&#34;Terus? Gua nemenin elu sampai bete lu hilang gitu?&#34; Yeosang yang kini tersenyum lebar.&#xA;&#xA;Yang tahu-tahu, Mingi dan Yeosang sudah berada di salah satu kedai ramen di pusat perbelanjaan dekat sekolah mereka. Kapan terakhir mereka ke sana? Gak tahu, Mingi lupa, saking sudah lama mereka gak pernah main bareng lagi.&#xA;&#xA;&#34;Kangen &#39;kan lu?&#34; tanya Yeosang, sedikit menggoda Mingi yang sedang menyeruput kuah ramennya.&#xA;&#xA;&#34;Bawel. Lu juga pergi sama gua karena gak ada Yunho &#39;kan?&#34; Tawa Yeosang seketika berhenti, Mingi yang kini agak gusar menyindir langsung menarik napas. &#xA;&#xA;Salah gua lagi, et dah.&#xA;&#xA;&#34;Bercanda, lu gak usah bete. Gak usah mikirin Yunho deh ...&#34; &#xA;&#xA;&#34;... Pikirin gua aja kenapa?&#34; tapi kalimat tanya ini hanya berputar dalam kepala milik si lanang Song, tak ingin mengungkapkannya keras-keras.&#xA;&#xA;Yeosang mengerucutkan bibirnya, seolah menginginkan Mingi memohon-mohon padanya lagi. Duh, akui saja Kang Yeosang, kalau kamu suka banget yang namanya merundung Song Mingi.&#xA;&#xA;&#34;Ampun, ampun, habis ini gua traktir minuman yang lu suka deh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bener? Ukuran venti ya?&#34; Yeosang menyipitkan matanya, membuat tatapan menusuk ke arah Mingi yang coba cairkan suasana.&#xA;&#xA;&#34;Iya, bawel banget dah elu. Terima kasih nih, ke sahabat elu paling baik.&#34; Mingi menekankan kata sahabat kepada Yeosang.&#xA;&#xA;Biar lu sadar, aduh, Kang Yeosang. Lu harus tahu kalau ada orang paling ganteng dan paling peduli sama elu.&#xA;&#xA; Mingi kembali gelengkan kepala untuk lepaskan pikiran yang tidak benarnya. Lama-lama kalau seperti itu malah jadi narsis sendiri. Dengan Yeosang yang memeluk lengannya dan melangkahkan kaki ke kedai kopi, Mingi ingin melupakan fakta bahwa Yeosang pacar Yunho.&#xA;&#xA;Sekali-kali Mingi bahagia, walau pura-pura. Walau harus jalan-jalan dengan Yeosang berdua, yang seharusnya menghilangkan betenya Yeosang yang malah menular kepadanya, ya seenggaknya dia bahagia walau sedikit. Sepanjang jalan, Yeosang berceloteh ria soal Yunho yang berbohong kepadanya.&#xA;&#xA;Untuk menjadi teman yang baik, jelas Mingi tidak mengompori aksi Yunho. Gila saja, nanti dikiranya kalau putus, alasannya dia, yang benar saja? Makanya Mingi, pahit-pahit banget nih ngasih wejangan ke Yeosang.&#xA;&#xA;&#34;Sudahlah, Yeo. Coba lu tanya lagi ke Yunho. Mungkin dia nganterin San karena kebetulan saja. Ya, kayak gua nganterin elu tiap dia gak bisa &#39;kan?&#34; &#xA;&#xA;Ya, untungnya Yeosang selalu mendengarkannya. Gak ada perdebatan kalau urusan seperti ini. Mingi mengusap puncak kepala Yeosang, membisikan ucapan-ucapan yang Yeosang ingin dengar seperti, &#34;Lu tuh udah pacar paling baik punya Yunho.&#34; atau &#34;Gak mungkinlah elu dikalahin San.&#34;&#xA;&#xA;-------------------------&#xA;&#xA;Ya, emang dasarnya ini cerita sedih. Mingi lagi-lagi harus mengubur lagi impiannya jadi kekasih Yeosang ketika Yunho di tengah lapangan bawa balon segede gaban yang membentuk tulisan Sorry. Sorry, sorry, bapak lu.&#xA;&#xA;Mingi yang tengah duduk di pinggir kelas sama Yeosang, harus memberhentikan pembicaraan mereka. Mendorong Yeosang ke arah Yunho yang menunggunya. &#xA;&#xA;&#34;Tuh ditungguin pangeran elu.&#34; Senyum memang lebar di wajah Mingi, tapi itu demi Yeosang.&#xA;&#xA;Semula Yeosang ragu untuk mendekati Yunho yang sudah malu-maluin di tengah lapangan basket ketika istirahat. Apalagi lorong sekolah sudah ramai dengan desis-desis tak mengenakan, atau tawa renyah dari orang yang menganggap aksi Yunho berlebihan. Namun, sebab senyum Mingi yang meyakinkan, Yeosang kembali ke dekapan Yunho dan Mingi hanya dapat menyaksikannya.&#xA;&#xA;You let him go again, Gi.&#xA;&#xA;Iya, lu melepaskan dia. Itu lebih baik daripada merusak pertemanan dan hubungan romansa sahabat sendiri.&#xA;&#xA;----------------------------&#xA;&#xA;Semenjak lulus, Mingi sudah jarang menghubungi Yeosang atau bertemu. Hanya sesekali ketika ia kembali ke kampung halaman, ke rumahnya karena ia mengambil kampus di luar kota. Yang terakhir ia dengar Yeosang masih bersama Yunho. &#xA;&#xA;&#34;Katanya sih mau married.&#34; Mingi gak lagi-lagi deh dengar rumor dari lambe turahnya sekolah.&#xA;&#xA;Cuma buat sakit hati saja ketika Mingi lewat rumah Yeosang. Ia hanya disapa oleh kakak perempuan lelaki itu, yang sekadar basa-basi karena sudah gak pernah kelihatan di sekitar. Mingi gak pernah berani buat nyatain perasaannya ke Yeosang. &#xA;&#xA;Sudah lama, saatnya move on. Gila saja lu, Mingi, tahan amat.&#xA;&#xA;Mungkin, dibandingkan perasaannya belum ikhlas. Lebih tepatnya karena Mingi tidak pernah mengutarakannya di awal, jadinya tertahan. Memang seharusnya dia mengungkapkannya saja, soal akhirnya gimana, Mingi gak peduli. Cuma ya gitu, dia takut, takut malah Yeosang menjauh.&#xA;&#xA;  Kamu lagi di rumah, Gi?&#xA;&#xA;Yeosang menyapanya di suatu malam ketika Mingi lagi asyik-asyiknya berjemur di atap rumahnya malam-malam. Lagi mencari bintang jatuh yang bisa mengabulkan permohonannya. Benar saja kekabul, ketika Mingi tak tahu harus memulai percakapan dengan Kang Yeosang, itu orang sudah ngirim pesan ke dia.&#xA;&#xA;  Iya, gua lagi di rumah. Kenapa?&#xA;&#xA;Mingi menjawab. Belum ada semenit, Yeosang sudah menulis balasannya kembali.&#xA;&#xA;  Sini, ke rumah gua. Gua juga lagi di rumah.&#xA;&#xA;Mingi turun saat itu juga. Mengganti pakaiannya menjadi sedikit lebih rapi, dibandingkan dia cuma pakai celana pendek dan kaos oblong yang sudah bolong sana-sini. Malu juga, sudah lama gak ketemu, bukannya tampang ganteng, malah tambah buluk. Mingi pamit ke orang tuanya untuk bertamu ke tetangga, alias ke rumah Yeosang yang mungkin berjalan lima atau enam rumah darinya.&#xA;&#xA;Yeosang sudah menunggu di depan pagar. Lama tidak bertemu, Yeosang masih cantik di pandangan Mingi, walau baju yang dikenakannya tidaklah berbeda dari yang dipakai Mingi. Celana training dan kaos rumahan. Yeosang mempersilakan Mingi masuk, disambut oleh anggota keluarga lainnya.&#xA;&#xA;Mereka berakhir di kamar Yeosang yang lagi-lagi Mingi lupa kapan terakhir ia berbaring di kasurnya, sambil ngomongin game atau sekadar ngomongin orang. Keduanya berbaring di atas kasur yang sama, berhimpit, sempit-sempitan. Memandang langit-langit yang putih yang penuh dengan stiker bintang.&#xA;&#xA;&#34;Lu balik kok gak bilang? Gua denger dari kakak gua.&#34; Yeosang memulai pembicaraan.&#xA;&#xA;Mingi terdiam sejenak, gak ada ide buat jawab, &#34;Hm, gua kira kalau gua balik pun elu lagi sibuk sama Yunho. Jadinya ya udah.&#34; &#xA;&#xA;Mungkin di balik kata-katanya, memang Mingi selalu menyudutkan Yunho dan ia mengakui hal ini gak sehat. Seharusnya Mingi ikut bahagia kalau Yeosang juga bahagia sama Yunho. Tapi kayaknya, menyindir Yunho memang menjadi hobinya saja, kadang ia berpikir seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Gua udah putus, kalau lu mau tahu.&#34; Mingi awalnya tidak merespon, hanya berderum panjang, sebelum akhirnya ia bangkit dari posisi tidurnya dan terduduk di pinggir ranjang dan menatapi sahabatnya itu.&#xA;&#xA;&#34;Serius lu? Kok bisa?&#34; Dari kabar mau menikah, kenapa tiba-tiba putus? Mingi tidak tahu, misteri.&#xA;&#xA;Yeosang tertawa, &#34;Biasalah. Dia dijodohin sama bokap-nyokapnya, ya udah, terus mau gimana?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lu masih sayang sama dia?&#34; Mingi bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Sudah enggak.&#34; Maka Yeosang menjawab, membuahi sebuah kerutan di dahi lawan bicaranya, &#34;Gua gak akan memaksakan perasaan yang sebenarnya sudah gak ada dari lama.&#34; &#xA;&#xA;Yeosang menghela napas dengan berat. Mingi tidak kalah, karena suasanya di dalam ruangan mendadak mencekam, padahal tidak ada apa-apa. Aduh, padahal Mingi sudah mau move on kok ada cobaan seperti ini? Emang ya, Tuhan paling gampang buat bolak-balikin perasaan orang lain.&#xA;&#xA;&#34;Sejak kapan elu gak ada rasa?&#34; tanya Mingi, kepo, beneran ini mah.&#xA;&#xA;&#34;Dari semenjak dia emang suka bohong dari gua. Terus akhirnya gua sadar, gua juga lagi bohongin diri sendiri,&#34; jawab Yeosang. Matanya kini melakat pada Mingi yang masih mencoba mencerna keadaan semesta. Karena apa yang dilontarkan oleh Yeosang seolah bercanda, tapi benar kejadian.&#xA;&#xA;&#34;Maksud lu?&#34; Mingi tidak paham, maka lagi-lagi hanya tanya yang ia berikan.&#xA;&#xA;&#34;Elu gak mau ngomong sesuatu ke gua? Atau ngasih sesuatu ke gua?&#34; Yeosang akhirnya mengikuti Mingi duduk di pinggir ranjang. Keduanya mengayunkan kaki-kaki mereka. Yeosang menunggu jawab dari Mingi, tapi lelaki itu masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Menerka-nerka apa yang dimaksud oleh Yeosang.&#xA;&#xA;&#34;Ngasih apa?&#34; Dengan begonya, Mingi balik bertanya. Seolah mereka ada dalam acara televisi yang penuh dengan tanya jawab. Yeosang mengerjap, kemudian tertawa sebelum memberi sentilan pada dahi Mingi. Mengakibatkan sebuah erangan kesakitan, karena Mingi tidak berekspektasi Yeosang akan melakukan itu.&#xA;&#xA;&#34;Serius, lu gak mau ngomong ke gua apa pun?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kagak, gua gak tahu harus ngomong apa, Sang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jadi elu udah berhenti suka sama gua?&#34; Yeosang akhirnya terang-terangan.&#xA;&#xA;Mingi membuka mulutnya, sebelum menutupnya kembali. Tergagap ingin menjawab, karena kok bisa tahu, gila saja?!&#xA;&#xA;&#34;Jadi lu beneran sudah berhenti?&#34; Yeosang menambahkan lagi.&#xA;&#xA;Mingi masih diam di tempatnya, menutup wajahnya yang mungkin memerah dengan kedua telapak tangannya. Kok bisa tahu? Lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri. Yeosang masih menunggu jawaban dari Mingi. Boro-boro, Mingi sudah gak tahu harus menjawab apa, serius ini mah.&#xA;&#xA;&#34;Gua ... lebih tepatnya gak tahu, Sang. Karena gua sudah suka sama elu terlalu lama. Jadi, niat gua adalah merelakan elu sama Yunho.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gua udah bilang gua udahan sama Yunhho.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lu ngomong gini bukan karena elu putus dari Yunho &#39;kan?&#34; Mingi tidak ingin menjadikan dirinya sebagai opsi pelarian orang habis patah hati. Karena mending dia jadi sasaran gebuk deh, daripada cuman jadi samsak perasaan. Karena pasti, lambat laun, ketika Yeosang sudah menemukan yang baru, ia akan dilupakan lagi.&#xA;&#xA;&#34;Mingi!&#34; Yeosang memekik ketika sebutkan namanya, menarik wajah Mingi dan menangkupnya. Mingi berkedip seperti lampu rusak sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Mingi, berhenti mikirin hal negatif dulu,&#34; pinta Yeosang, &#34;lu tuh kebiasaan punya dugaan sendiri.&#34;&#xA;&#xA;Maka Mingi memutuskan diam.&#xA;&#xA;&#34;Gi, gua udah bilang, gua udah hilang rasa sama Yunho sudah lama. Gi, kalau gua bilang yang gua sayang selama ini itu elu, apakah elu masih gak mau percaya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih, anjing.&#34; &#xA;&#xA;Mingi tertawa, kalau gak tertawa, dia adanya ditendang oleh Yeosang.&#xA;&#xA;&#34;Serius dulu sini.&#34; Mingi kembali diam.&#xA;&#xA;&#34;Gi, elu beneran gak mau memulai hubungan sama gua?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya kali gak kuy, mau gua!&#34; Dengan semangat Mingi menjawab, Yeosang jadinya ketawa lihat reaksi si bujang satu itu. &#xA;&#xA;&#34;Makanya, elu masih suka gua gak?&#34; Yeosang bertanya, untuk meyakinkan. &#xA;&#xA;&#34;Mau!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau gak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau, Yang Mulia.&#34;&#xA;&#xA;Yeosang akhirnya puas dan melepaskan tangannya dari wajah Mingi. Mengambil jarak agar dapat memperhatikan wajah lelaki yang selama ini menyukainya, yang selama ini gak pernah komplain kalau digebukin, yang selama ini gak pernah nyalahin dirinya atas apa yang dirinya lakukan selama ini.&#xA;&#xA;&#34;Jadi mulai sekarang elu pacar gua?&#34; Yeosang lagi-lagi ingin meyakinkan bahwa Mingi benar-benar ingin.&#xA;&#xA;&#34;Lu nanya sekali gua cium ya!&#34; Mingi mengancam dengan telunjuk mengarah ke Yeosang.&#xA;&#xA;&#34;Ya sok aja cium, gua sih mau mau─&#34; Belum Yeosang menyelesaikan ucapannya, Mingi sudah memberikan ciuman manis kepada Yeosang tepat di bibir.&#xA;&#xA;Singkat sih, tapi gak apa-apa, rezeki. Masa ditolak?&#xA;&#xA;&#34;Jadi kita pacaran nih?&#34; Mingi bingung, jadi dia yang ingin diyakinkan.&#xA;&#xA;&#34;Iya, bawel.&#34; Mingi dan Yeosang tertawa di atas kasur, masih memproses apa saja yang terjadi.&#xA;&#xA;Jelas mereka masih gak percaya apa yang baru saja kejadian. Mingi gak pernah berharap Yeosang jadian benar-benar sama dirinya dan Yeosang juga gak pernah nyangka Mingi masih menaruh rasa padanya. Inti ceritanya, Mingi gak lagi-lagi menyiakan kesempatan perihal Yeosang. Gak lagi-lagi ia melewatkan hari-harinya untuk mengutarakan perasaan dengan dalih, &#34;Sudahlah, kapan-kapan saja nyatainnya.&#34;&#xA;&#xA;Perasaan mereka sekarang mutual, sama-sama suka. Mingi puas soal itu, gak jadi move on, misi gagal.&#xA;&#xA;Di tengah keheningan Mingi memanggil, &#34;Yeo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kapan kita nyusul Yunho?&#34;&#xA;&#xA;Kapan hayo? &#xA;&#xA;--------&#xA;&#xA;Author&#39;s note: Ini nih buat temen gua yang nangisin MinSang tiap hari. Ya udah nikmati saja, walau terkesan buru-buru, karena gak tahu mau nulis apa, tapi ngakak juga udah 2K tetiba, kek hello? Dan emang disengajakan gak pakai cara nulis biasa gua yang kayak keluar dari KBBI.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="you-let-him-go-again" id="you-let-him-go-again">You Let Him Go Again</h2>

<p>CW // Harsh word</p>

<hr/>

<p>“Dadah, Mingi. Maaf, sudah dijemput Yunho.”</p>

<p>Begitulah bagaimana Song Mingi menatap punggung seorang Kang Yeosang yang kian menjauh meninggalkannya di kerumunan anak-anak sekolahan bau terbakar mentari terik yang menyengat. Di umur delapan belas tahunnya, Mingi <em>kehilangan</em> Yeosang. Tidak sepenuhnya hilang, boom, seperti ditelan bumi. Melainkan Yeosang, seseorang yang ia sukai semenjak tahun pertamanya di menengah atas, akhirnya memiliki kekasih.</p>

<p>Jeong Yunho namanya. Kapten tim renang yang terkenal seantero sekolah. Ya, kalau dibandingkan dirinya sih, Mingi hanya seseorang yang setelah sekolah langsung pulang ke rumah atau berada di warnet, gak jauh-jauh juga di rental komik komplek rumah.</p>

<p>“Hati-hati, Sang.”</p>

<p>Yeosang mungkin tidak mendengarkan ucapannya. Dirinya menghela napas, seandainya, <em>seandainya</em> nih, Mingi memiliki keberanian lebih, mungkin Yeosang sudah jadi miliknya. Gak juga sih, Mingi doang. Ah ya, mau bagaimana lagi, memang Mingi yang salah dari awal.</p>

<p>Tangannya ia gunakan untuk mengetuk kepala sendiri beberapa kali, mengucapkan <em>Mingi, lu goblok.</em> berulang kali. Ah, apa guna deh, mungkin memang menyesal, cuma bertindak pun harus bagaimana? Merebut Yeosang dari Yunho? Adanya ia dirundung habis-habisan setelah lulus dari menengah atas.</p>

<p>Mingi menendang kaleng kola kosong.</p>

<p>“Buang sampah dengan benar, Song Mingi!”</p>

<p>Diteriaki guru konseling, Mingi buru-buru kabur dari area sekolah.</p>

<hr/>

<p>“Mingi,” panggil Yeosang. Membuyarkan jawaban Fisika yang berada di hadapan Mingi. Mingi hanya menarik senyum lebarnya, menarik kursi di sampingnya sehingga Yeosang bisa duduk di sana. Tanpa bertanya, Yeosang duduk dan bertopang dagu, menatap apa yang sedang Mingi kerjakan.</p>

<p>“Belajar mulu lu.” Mingi tertawa dengar sebuah sindiran halus dari sahabatnya, “Gak bosen?”</p>

<p>Gelengkan kepala. Ya, memang kegiatan Mingi setelah pulang sekolah adalah mengerjakan tugas yang bisa dikerjakan sambil menunggu Yeosang buat ngajak balik.</p>

<p>“Eh, ke mall sebentar yuk?” ajak Yeosang, sebuah ajakan yang tergolong <em>tumben</em> karena semenjak pacaran sama Yunho, Yeosang cuma sekadar teman pulang langsung ke rumah. Jarang-jarang lagi buat diajak jalan ke mall.</p>

<p>“Tumben.” Mingi akhirnya menutup buku catatannya, karena dalam waktu dekat dia gak akan bisa menolak ajakan Kang Yeosang. Ya, kapan lagi, ya gak?</p>

<p>“Gua berantem sama Yunho.”</p>

<p><em>Teng.</em></p>

<p>Mingi sudah menebak sih, pasti ada sesuatu aneh-aneh ini sama oknum JYH, <em>maaf</em> gak mau disebut. Tapi, Mingi mendengarkan saja kelanjutannya. Dari dasarnya, seorang sahabat itu cuma dijadikan tempat curhat. <em>His feeling doesn&#39;t matter at all at the end, right?</em></p>

<p>“Terus? Gua nemenin elu sampai bete lu hilang gitu?” Yeosang yang kini tersenyum lebar.</p>

<p>Yang tahu-tahu, Mingi dan Yeosang sudah berada di salah satu kedai ramen di pusat perbelanjaan dekat sekolah mereka. Kapan terakhir mereka ke sana? Gak tahu, Mingi lupa, saking sudah lama mereka gak pernah main bareng lagi.</p>

<p>“Kangen &#39;kan lu?” tanya Yeosang, sedikit menggoda Mingi yang sedang menyeruput kuah ramennya.</p>

<p>“Bawel. Lu juga pergi sama gua karena gak ada Yunho &#39;kan?” Tawa Yeosang seketika berhenti, Mingi yang kini agak gusar menyindir langsung menarik napas.</p>

<p><em>Salah gua lagi, et dah.</em></p>

<p>“Bercanda, lu gak usah bete. Gak usah mikirin Yunho deh ...”</p>

<p>”... <em>Pikirin gua aja kenapa?</em>” tapi kalimat tanya ini hanya berputar dalam kepala milik si lanang Song, tak ingin mengungkapkannya keras-keras.</p>

<p>Yeosang mengerucutkan bibirnya, seolah menginginkan Mingi memohon-mohon padanya lagi. Duh, akui saja Kang Yeosang, kalau <em>kamu</em> suka banget yang namanya merundung Song Mingi.</p>

<p>“Ampun, ampun, habis ini gua traktir minuman yang lu suka deh.”</p>

<p>“Bener? Ukuran venti ya?” Yeosang menyipitkan matanya, membuat tatapan menusuk ke arah Mingi yang coba cairkan suasana.</p>

<p>“Iya, bawel banget dah elu. Terima kasih nih, ke <strong>sahabat</strong> elu paling baik.” Mingi menekankan kata sahabat kepada Yeosang.</p>

<p><em>Biar lu sadar, aduh, Kang Yeosang. Lu harus tahu kalau ada orang paling ganteng dan paling peduli sama elu.</em></p>

<p> Mingi kembali gelengkan kepala untuk lepaskan pikiran yang tidak benarnya. Lama-lama kalau seperti itu malah jadi narsis sendiri. Dengan Yeosang yang memeluk lengannya dan melangkahkan kaki ke kedai kopi, Mingi ingin melupakan fakta bahwa <em>Yeosang pacar Yunho</em>.</p>

<p>Sekali-kali Mingi bahagia, walau pura-pura. Walau harus jalan-jalan dengan Yeosang berdua, yang seharusnya menghilangkan betenya Yeosang yang malah menular kepadanya, ya seenggaknya dia bahagia walau sedikit. Sepanjang jalan, Yeosang berceloteh ria soal Yunho yang berbohong kepadanya.</p>

<p>Untuk menjadi teman yang baik, jelas Mingi tidak mengompori aksi Yunho. Gila saja, nanti dikiranya kalau putus, alasannya dia, yang benar saja? Makanya Mingi, pahit-pahit banget nih ngasih wejangan ke Yeosang.</p>

<p>“Sudahlah, Yeo. Coba lu tanya lagi ke Yunho. Mungkin dia nganterin San karena kebetulan saja. Ya, kayak gua nganterin elu tiap dia gak bisa &#39;kan?”</p>

<p>Ya, untungnya Yeosang selalu mendengarkannya. Gak ada perdebatan kalau urusan seperti ini. Mingi mengusap puncak kepala Yeosang, membisikan ucapan-ucapan yang Yeosang ingin dengar seperti, “Lu tuh udah pacar paling baik punya Yunho.” atau “Gak mungkinlah elu dikalahin San.”</p>

<hr/>

<p>Ya, emang dasarnya ini cerita sedih. Mingi lagi-lagi harus mengubur lagi impiannya jadi kekasih Yeosang ketika Yunho di tengah lapangan bawa balon segede gaban yang membentuk tulisan <em>Sorry</em>. <em>Sorry</em>, <em>sorry</em>, bapak lu.</p>

<p>Mingi yang tengah duduk di pinggir kelas sama Yeosang, harus memberhentikan pembicaraan mereka. Mendorong Yeosang ke arah Yunho yang menunggunya.</p>

<p>“Tuh ditungguin <em>pangeran</em> elu.” Senyum memang lebar di wajah Mingi, tapi itu demi Yeosang.</p>

<p>Semula Yeosang ragu untuk mendekati Yunho yang sudah malu-maluin di tengah lapangan basket ketika istirahat. Apalagi lorong sekolah sudah ramai dengan desis-desis tak mengenakan, atau tawa renyah dari orang yang menganggap aksi Yunho berlebihan. Namun, sebab senyum Mingi yang meyakinkan, Yeosang kembali ke dekapan Yunho dan Mingi hanya dapat menyaksikannya.</p>

<p><em>You let him go again, Gi.</em></p>

<p>Iya, lu melepaskan dia. Itu lebih baik daripada merusak pertemanan dan hubungan romansa sahabat sendiri.</p>

<hr/>

<p>Semenjak lulus, Mingi sudah jarang menghubungi Yeosang atau bertemu. Hanya sesekali ketika ia kembali ke kampung halaman, ke rumahnya karena ia mengambil kampus di luar kota. Yang terakhir ia dengar Yeosang masih bersama Yunho.</p>

<p>“Katanya sih mau <em>married</em>.” Mingi gak lagi-lagi deh dengar rumor dari lambe turahnya sekolah.</p>

<p>Cuma buat sakit hati saja ketika Mingi lewat rumah Yeosang. Ia hanya disapa oleh kakak perempuan lelaki itu, yang sekadar basa-basi karena sudah gak pernah kelihatan di sekitar. Mingi gak pernah berani buat nyatain perasaannya ke Yeosang.</p>

<p>Sudah lama, saatnya <em>move on</em>. Gila saja lu, Mingi, tahan amat.</p>

<p>Mungkin, dibandingkan perasaannya belum ikhlas. Lebih tepatnya karena Mingi tidak pernah mengutarakannya di awal, jadinya tertahan. Memang seharusnya dia mengungkapkannya saja, soal akhirnya gimana, Mingi gak peduli. Cuma ya gitu, dia takut, takut malah Yeosang menjauh.</p>

<blockquote><p>Kamu lagi di rumah, Gi?</p></blockquote>

<p>Yeosang menyapanya di suatu malam ketika Mingi lagi asyik-asyiknya berjemur di atap rumahnya malam-malam. Lagi mencari bintang jatuh yang bisa mengabulkan permohonannya. Benar saja kekabul, ketika Mingi tak tahu harus memulai percakapan dengan Kang Yeosang, itu orang sudah ngirim pesan ke dia.</p>

<blockquote><p>Iya, gua lagi di rumah. Kenapa?</p></blockquote>

<p>Mingi menjawab. Belum ada semenit, Yeosang sudah menulis balasannya kembali.</p>

<blockquote><p>Sini, ke rumah gua. Gua juga lagi di rumah.</p></blockquote>

<p>Mingi turun saat itu juga. Mengganti pakaiannya menjadi <em>sedikit</em> lebih rapi, dibandingkan dia cuma pakai celana pendek dan kaos oblong yang sudah bolong sana-sini. Malu juga, sudah lama gak ketemu, bukannya tampang ganteng, malah tambah buluk. Mingi pamit ke orang tuanya untuk bertamu ke tetangga, alias ke rumah Yeosang yang mungkin berjalan lima atau enam rumah darinya.</p>

<p>Yeosang sudah menunggu di depan pagar. Lama tidak bertemu, Yeosang masih cantik di pandangan Mingi, walau baju yang dikenakannya tidaklah berbeda dari yang dipakai Mingi. Celana <em>training</em> dan kaos rumahan. Yeosang mempersilakan Mingi masuk, disambut oleh anggota keluarga lainnya.</p>

<p>Mereka berakhir di kamar Yeosang yang lagi-lagi Mingi lupa kapan terakhir ia berbaring di kasurnya, sambil ngomongin <em>game</em> atau sekadar ngomongin orang. Keduanya berbaring di atas kasur yang sama, berhimpit, sempit-sempitan. Memandang langit-langit yang putih yang penuh dengan stiker bintang.</p>

<p>“Lu balik kok gak bilang? Gua denger dari kakak gua.” Yeosang memulai pembicaraan.</p>

<p>Mingi terdiam sejenak, gak ada ide buat jawab, “Hm, gua kira kalau gua balik pun elu lagi sibuk sama Yunho. Jadinya ya udah.”</p>

<p>Mungkin di balik kata-katanya, memang Mingi selalu menyudutkan Yunho dan ia mengakui hal ini gak sehat. Seharusnya Mingi ikut bahagia kalau Yeosang juga bahagia sama Yunho. Tapi kayaknya, menyindir Yunho memang menjadi hobinya saja, kadang ia berpikir seperti itu.</p>

<p>“Gua udah putus, kalau lu mau tahu.” Mingi awalnya tidak merespon, hanya berderum panjang, sebelum akhirnya ia bangkit dari posisi tidurnya dan terduduk di pinggir ranjang dan menatapi sahabatnya itu.</p>

<p>“Serius lu? Kok bisa?” Dari kabar mau menikah, kenapa tiba-tiba putus? Mingi tidak tahu, misteri.</p>

<p>Yeosang tertawa, “Biasalah. Dia dijodohin sama bokap-nyokapnya, ya udah, terus mau gimana?”</p>

<p>“Lu masih sayang sama dia?” Mingi bertanya.</p>

<p>“Sudah enggak.” Maka Yeosang menjawab, membuahi sebuah kerutan di dahi lawan bicaranya, “Gua gak akan memaksakan perasaan yang sebenarnya sudah <em>gak ada</em> dari lama.”</p>

<p>Yeosang menghela napas dengan berat. Mingi tidak kalah, karena suasanya di dalam ruangan mendadak mencekam, padahal tidak ada apa-apa. Aduh, padahal Mingi sudah mau <em>move on</em> kok ada cobaan seperti ini? Emang ya, Tuhan paling gampang buat bolak-balikin perasaan orang lain.</p>

<p>“Sejak kapan elu gak ada rasa?” tanya Mingi, kepo, beneran ini mah.</p>

<p>“Dari semenjak dia emang suka bohong dari gua. Terus akhirnya gua sadar, gua juga lagi bohongin diri sendiri,” jawab Yeosang. Matanya kini melakat pada Mingi yang masih mencoba mencerna keadaan semesta. Karena apa yang dilontarkan oleh Yeosang seolah bercanda, tapi benar kejadian.</p>

<p>“Maksud lu?” Mingi tidak paham, maka lagi-lagi hanya tanya yang ia berikan.</p>

<p>“Elu gak mau ngomong sesuatu ke gua? Atau ngasih sesuatu ke gua?” Yeosang akhirnya mengikuti Mingi duduk di pinggir ranjang. Keduanya mengayunkan kaki-kaki mereka. Yeosang menunggu jawab dari Mingi, tapi lelaki itu masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Menerka-nerka apa yang dimaksud oleh Yeosang.</p>

<p>“Ngasih apa?” Dengan begonya, Mingi balik bertanya. Seolah mereka ada dalam acara televisi yang penuh dengan tanya jawab. Yeosang mengerjap, kemudian tertawa sebelum memberi sentilan pada dahi Mingi. Mengakibatkan sebuah erangan kesakitan, karena Mingi tidak berekspektasi Yeosang akan melakukan itu.</p>

<p>“Serius, lu gak mau ngomong ke gua apa pun?”</p>

<p>“Kagak, gua gak tahu harus ngomong apa, Sang.”</p>

<p>“Jadi elu udah berhenti <em>suka</em> sama gua?” Yeosang akhirnya terang-terangan.</p>

<p>Mingi membuka mulutnya, sebelum menutupnya kembali. Tergagap ingin menjawab, karena <em>kok bisa tahu, gila saja?!</em></p>

<p>“Jadi lu beneran sudah berhenti?” Yeosang menambahkan lagi.</p>

<p>Mingi masih diam di tempatnya, menutup wajahnya yang mungkin memerah dengan kedua telapak tangannya. Kok bisa tahu? Lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri. Yeosang masih menunggu jawaban dari Mingi. Boro-boro, Mingi sudah gak tahu harus menjawab apa, serius ini mah.</p>

<p>“Gua ... lebih tepatnya gak tahu, Sang. Karena gua sudah suka sama elu terlalu lama. Jadi, <em>niat</em> gua adalah merelakan elu sama Yunho.”</p>

<p>“Gua udah bilang gua udahan sama Yunhho.”</p>

<p>“Lu ngomong gini bukan karena elu putus dari Yunho &#39;kan?” Mingi tidak ingin menjadikan dirinya sebagai opsi pelarian orang habis patah hati. Karena mending dia jadi sasaran gebuk deh, daripada cuman jadi samsak perasaan. Karena pasti, lambat laun, ketika Yeosang sudah menemukan yang baru, ia akan dilupakan lagi.</p>

<p>“Mingi!” Yeosang memekik ketika sebutkan namanya, menarik wajah Mingi dan menangkupnya. Mingi berkedip seperti lampu rusak sekarang.</p>

<p>“Mingi, berhenti mikirin hal negatif dulu,” pinta Yeosang, “lu tuh kebiasaan punya dugaan sendiri.”</p>

<p>Maka Mingi memutuskan diam.</p>

<p>“Gi, gua udah bilang, gua udah hilang rasa sama Yunho sudah lama. Gi, kalau gua bilang yang gua sayang selama ini itu <em>elu</em>, apakah elu masih gak mau percaya?”</p>

<p>“Gak.”</p>

<p>“Ih, anjing.”</p>

<p>Mingi tertawa, kalau gak tertawa, dia adanya ditendang oleh Yeosang.</p>

<p>“Serius dulu sini.” Mingi kembali diam.</p>

<p>“Gi, elu beneran gak mau memulai hubungan sama gua?”</p>

<p>“Ya kali gak kuy, mau gua!” Dengan semangat Mingi menjawab, Yeosang jadinya ketawa lihat reaksi si bujang satu itu.</p>

<p>“Makanya, elu masih suka gua gak?” Yeosang bertanya, untuk meyakinkan.</p>

<p>“Mau!”</p>

<p>“Mau gak?”</p>

<p>“Mau, Yang Mulia.”</p>

<p>Yeosang akhirnya puas dan melepaskan tangannya dari wajah Mingi. Mengambil jarak agar dapat memperhatikan wajah lelaki yang selama ini menyukainya, yang selama ini gak pernah komplain kalau digebukin, yang selama ini gak pernah nyalahin dirinya atas apa yang dirinya lakukan selama ini.</p>

<p>“Jadi mulai sekarang elu pacar gua?” Yeosang lagi-lagi ingin meyakinkan bahwa Mingi benar-benar ingin.</p>

<p>“Lu nanya sekali gua cium ya!” Mingi mengancam dengan telunjuk mengarah ke Yeosang.</p>

<p>“Ya sok aja cium, gua sih mau mau─” Belum Yeosang menyelesaikan ucapannya, Mingi sudah memberikan ciuman manis kepada Yeosang tepat di bibir.</p>

<p>Singkat sih, tapi gak apa-apa, rezeki. Masa ditolak?</p>

<p>“Jadi kita pacaran nih?” Mingi bingung, jadi dia yang ingin diyakinkan.</p>

<p>“Iya, bawel.” Mingi dan Yeosang tertawa di atas kasur, masih memproses apa saja yang terjadi.</p>

<p>Jelas mereka masih gak percaya apa yang baru saja kejadian. Mingi gak pernah berharap Yeosang jadian benar-benar sama dirinya dan Yeosang juga gak pernah nyangka Mingi masih menaruh rasa padanya. Inti ceritanya, Mingi gak lagi-lagi menyiakan kesempatan perihal Yeosang. Gak lagi-lagi ia melewatkan hari-harinya untuk mengutarakan perasaan dengan dalih, “Sudahlah, kapan-kapan saja nyatainnya.”</p>

<p>Perasaan mereka sekarang mutual, sama-sama suka. Mingi puas soal itu, gak jadi <em>move on</em>, misi gagal.</p>

<p>Di tengah keheningan Mingi memanggil, “Yeo.”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“Kapan kita nyusul Yunho?”</p>

<p>Kapan hayo?</p>

<hr/>

<p>Author&#39;s note: Ini nih buat temen gua yang nangisin MinSang tiap hari. Ya udah nikmati saja, walau terkesan buru-buru, karena gak tahu mau nulis apa, tapi ngakak juga udah 2K tetiba, kek hello? Dan emang disengajakan gak pakai cara nulis biasa gua yang kayak keluar dari KBBI.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/you-let-him-again</guid>
      <pubDate>Sun, 06 Jun 2021 17:17:10 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>&#39;Cause I lost myself, when I lost you</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/cause-i-lost-myself-when-i-lost-you?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#39;Cause I lost myself, when I lost you&#xA;&#xA;Langit tak tampilkan bintang di cerahnya malam. Musim panas menyerang, membuat seorang Kim Hongjoong berbetah diri di studio mininya. Bersandar sofa satu-satunya dalam ruangan, Hongjoong berulang kali mencoba untuk tertidur.&#xA;&#xA;Deadline telah tiba, tapi dalam otaknya tak pernah sedikit pun terputar musik yang telah dibuatnya. Melainkan kata-katanyalah yang masih terngiang dengan jelas, bagai kaset rusak yang tak punya tombol untuk berhenti.&#xA;&#xA;  &#34;Maafkan aku, Hongjoong.&#34;&#xA;&#xA;Lelaki itu berkata malam itu, dalam hangatnya ruangan yang mereka tinggali berdua. Di luar sana salju turun dengan cantiknya, tapi tak sirna sudah ketika lelaki itu menangis dalam di hadapannya dengan tas yang mengait pada dua bahu tegapnya.&#xA;&#xA;  &#34;Aku harus pergi.&#34;&#xA;&#xA;Saat itu Hongjoong hanya dapat bergeming, kedua tangan mengepal di sampingnya. DDalam benak, ia berharap dapat menahannya untuk pergi. Hanya saja, kata harus membuatnya ragu dalam pilihannya. &#xA;&#xA;  &#34;Listen, baby.&#34;&#xA;&#xA;Ketika lelaki itu memiliki keinginan untuk pergi, masih sempatnya untuk memanggil dirinya dengan panggilan yang paling ia sayangi. Semua terasa sesak, memuakkan. &#xA;&#xA;  &#34;Kamu sudah melakukan yang terbaik.&#34;&#xA;&#xA;Lalu? Jika kita sudah melakukan yang terbaik, lantas mengapa kau harus pergi? &#xA;&#xA;Hongjoong masih bertanya-tanya, di manakah letak salahnya? Apakah salah jika Hongjoong hanyalah sebuah produser lagu miskin yang hidup dalam bilik kesederhanaan? &#xA;&#xA;  &#34;Not that I don&#39;t love you.&#34;&#xA;  &#34;I always do.&#34;&#xA;&#xA;Jika memang kau mencintaku, lalu letak salahnya di mana?&#xA;&#xA;Hongjoong bangkit dari posisinya, berpindah pada kursi di depan komputernya. Memperhatikan deretan bar musik yang Hongjoong dedikasikan kepadanya. &#xA;&#xA;Hanya kepadanya&#xA;&#xA;  &#34;But, I just ... &#34;&#xA;  &#34; ... I love him too.&#34;&#xA;&#xA;Saat itu Hongjoong hanya memperhatikan punggungnya yang kian menjauh. Tak berkata apa-apa, hanya air mata yang tak terbendung membasahi mata dan jua pipi. Tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki itu sehingga Hongjong harus mengikhlaskannya. &#xA;&#xA;Mereka telah usai.&#xA;&#xA;Menghela napas, tak ingin lagi ia menangisi pemuda yang telah membalikkan tubuh kepadanya. Acuh, tak memedulikan dirinya yang telah hilang bersamaan dengannya. Hongjoong jelas tak membencinya, sebuah kesimpulan mengapa ia membuatkan lagu untuknya.&#xA;&#xA;Hongjoong mencoba memperhatikan semua sosial media yang dimilikinya, melihat-lihat kehidupan yang disebut bahagia. &#xA;&#xA;Kehidupan yang diinginkan lelaki itu.&#xA;&#xA;Kehidupan dengan lelaki mapan, kehidupan yang tak mempedulikan esok hari. Sesuatu yang Hongjoong tak bisa raih, perjalanannya masih panjang untuk mencapai kata sukses. Namun, jika memang kehidupan Hongjoong seperti kekasih baru lelaki itu ... apakah ia akan tetap bahagia?&#xA;&#xA;Hongjoong berpindah ke kotak pesan elektroniknya, sebuah pesan muncul di posisi paling atas dengan namanya tertera pada bagian pengirim pesan.&#xA;&#xA;  From : Mingi Song (mingisong@xxxx.co.kr)&#xA;  To : You&#xA;  Subject : Wedding Invitation&#xA;  Message&#xA;  Hi, Hongjoong. Bagaimana kabarmu? Maafkan, jika aku tidak lagi mengabarimu. Sulit rasanya, sudah berapa bulan kita tidak bertemu? Mungkin setengah tahunkah? Aku ingin mengabarimu, jika aku akan menikah bulan depan. Calonku adalah Jeong Yunho, mungkin kau mengenalnya ketika kita sama-sama kuliah. &#xA;&#xA;  Joong.&#xA;  Maafkan aku jika aku pernah meninggalkanmu. Aku tahu aku mencintamu, selalu, tapi perasaanku padamu tidak sama seperti perasaanku pada Yunho. Aku minta maaf, jika tidak banyak berbicara. Aku berterima kasih kamu tidak menahanku untuk pergi. Aku bersyukur.&#xA;&#xA;  Joong.&#xA;  Maafkan aku jika tidak memahamimu. Tapi, mungkin kita bisa membicarakan ini kalau ada waktu.&#xA;&#xA;  Aku menunggu balasanmu.&#xA;  attached file&#xA;&#xA;Napasnya tertahan, dadanya terasa sakit setelah selesai membacanya. Gemetar hebat kedua tangannya di atas papan ketik. Menarik napas, sebelum mengeluarkannya berulang kali. Menggunakan punggung tangan untuk mengusap tangisannya.&#xA;&#xA;Apakah aku harus membalas ini?&#xA;&#xA;  From : You&#xA;  To : Mingi Song (mingisong@xxxx.co.kr)&#xA;  Subject : Re-Wedding Invitation&#xA;  Message&#xA;  Mingi, terima kasih sudah menghubungiku. Aku akan datang.&#xA;  Terima kasih telah mengundangku, aku berterima kasih karena kamu masih mengingatku.&#xA;&#xA;  Hanya saja biarkan aku membicarakan ini. &#xA;  Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan saat itu. Apakah ada yang kurang dariku? Aku kerap bertanya, jika ada, tolong katakan. Aku tidak akan pernah marah, kalau saja kau membicarakannya baik-baik denganku. Aku tahu, aku kurang dari segala sisi, tapi ... bukankah aku tahu sesuatu. Kau membiarkan aku tenggelam dalam tanya hingga saat ini.&#xA;&#xA;  Bukan aku tidak merelakanmu pergi. &#xA;  Mengingatkan saja, kita ini sudah dewasa, Mingi. Kita menjalin hubungan semenjak kita SMA. Bukanlah waktu yang lama untuk melupakan sebuah hubungan yang terjalin selama itu. Mingi, pernahkah aku marah ketika kita masih remaja, saat masih labil dan penuh kenaifan? Pernahkah aku menyalahkan semua yang terjadi kepada kita padamu? &#xA;&#xA;  Mingi, jika memang pertemuan kita memang untuk membicarakan ini.&#xA;  Aku akan menyetujuinya. &#xA;  Hubungi aku jika kau senggang.&#xA;&#xA;Hongjoong segera mengirimkan pesan itu, tanpa melihat apakah ada kesalahan dalam pengetikan ...&#xA;&#xA;... dan malam itu Mingi menelponnya.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="cause-i-lost-myself-when-i-lost-you" id="cause-i-lost-myself-when-i-lost-you">&#39;Cause I lost myself, when I lost you</h2>

<p>Langit tak tampilkan bintang di cerahnya malam. Musim panas menyerang, membuat seorang Kim Hongjoong berbetah diri di studio mininya. Bersandar sofa satu-satunya dalam ruangan, Hongjoong berulang kali mencoba untuk tertidur.</p>

<p><em>Deadline</em> telah tiba, tapi dalam otaknya tak pernah sedikit pun terputar musik yang telah dibuatnya. Melainkan kata-kata<em>nya</em>lah yang masih terngiang dengan jelas, bagai kaset rusak yang tak punya tombol untuk berhenti.</p>

<blockquote><p>“Maafkan aku, Hongjoong.”</p></blockquote>

<p>Lelaki itu berkata malam itu, dalam hangatnya ruangan yang mereka tinggali berdua. Di luar sana salju turun dengan cantiknya, tapi tak sirna sudah ketika <em>lelaki itu</em> menangis dalam di hadapannya dengan tas yang mengait pada dua bahu tegapnya.</p>

<blockquote><p>“Aku harus pergi.”</p></blockquote>

<p>Saat itu Hongjoong hanya dapat bergeming, kedua tangan mengepal di sampingnya. DDalam benak, ia berharap dapat menahan<em>nya</em> untuk pergi. Hanya saja, kata <em>harus</em> membuatnya ragu dalam pilihannya.</p>

<blockquote><p>“<em>Listen, baby.</em>“</p></blockquote>

<p>Ketika <em>lelaki itu</em> memiliki keinginan untuk pergi, masih sempatnya untuk memanggil dirinya dengan panggilan yang paling ia sayangi. Semua terasa sesak, memuakkan.</p>

<blockquote><p>“Kamu sudah melakukan yang terbaik.”</p></blockquote>

<p>Lalu? Jika <em>kita</em> sudah melakukan yang terbaik, lantas mengapa kau <em>harus</em> pergi?</p>

<p>Hongjoong masih bertanya-tanya, di manakah letak salahnya? Apakah salah jika Hongjoong hanyalah sebuah produser lagu miskin yang hidup dalam bilik kesederhanaan?</p>

<blockquote><p>“<em>Not that I don&#39;t love you.</em>“
“<em>I always do.</em>“</p></blockquote>

<p>Jika memang <em>kau</em> mencintaku, lalu letak salahnya di mana?</p>

<p>Hongjoong bangkit dari posisinya, berpindah pada kursi di depan komputernya. Memperhatikan deretan bar musik yang Hongjoong dedikasikan kepada<em>nya</em>.</p>

<p><em>Hanya kepadanya</em></p>

<blockquote><p>“<em>But, I just</em> ... “
“ ... <em>I love him too.</em>“</p></blockquote>

<p>Saat itu Hongjoong hanya memperhatikan punggungnya yang kian menjauh. Tak berkata apa-apa, hanya air mata yang tak terbendung membasahi mata dan jua pipi. Tidak tahu apa yang dipikirkan <em>lelaki itu</em> sehingga Hongjong harus mengikhlaskannya.</p>

<p><em>Mereka</em> telah usai.</p>

<p>Menghela napas, tak ingin lagi ia menangisi pemuda yang telah membalikkan tubuh kepadanya. Acuh, tak memedulikan dirinya yang telah hilang bersamaan dengan<em>nya</em>. Hongjoong jelas tak membencinya, sebuah kesimpulan mengapa ia membuatkan lagu untuk<em>nya</em>.</p>

<p>Hongjoong mencoba memperhatikan semua sosial media yang dimiliki<em>nya</em>, melihat-lihat kehidupan yang disebut bahagia.</p>

<p><em>Kehidupan yang diinginkan lelaki itu.</em></p>

<p>Kehidupan dengan lelaki mapan, kehidupan yang tak mempedulikan esok hari. Sesuatu yang Hongjoong tak bisa raih, perjalanannya masih panjang untuk mencapai kata <em>sukses</em>. Namun, jika memang kehidupan Hongjoong seperti kekasih baru <em>lelaki itu</em> ... apakah ia akan tetap bahagia?</p>

<p>Hongjoong berpindah ke kotak pesan elektroniknya, sebuah pesan muncul di posisi paling atas dengan nama<em>nya</em> tertera pada bagian pengirim pesan.</p>

<blockquote><p><em>From : Mingi Song (mingisong@xxxx.co.kr)</em>
<em>To : You</em>
<em>Subject : Wedding Invitation</em>
<strong>Message</strong>
Hi, Hongjoong. Bagaimana kabarmu? Maafkan, jika aku tidak lagi mengabarimu. Sulit rasanya, sudah berapa bulan kita tidak bertemu? Mungkin setengah tahunkah? Aku ingin mengabarimu, jika aku akan menikah bulan depan. Calonku adalah Jeong Yunho, mungkin kau mengenalnya ketika kita sama-sama kuliah.</p>

<p>Joong.
Maafkan aku jika aku pernah meninggalkanmu. Aku tahu aku mencintamu, selalu, tapi perasaanku padamu tidak sama seperti perasaanku pada Yunho. Aku minta maaf, jika tidak banyak berbicara. Aku berterima kasih kamu tidak menahanku untuk pergi. Aku bersyukur.</p>

<p>Joong.
Maafkan aku jika tidak memahamimu. Tapi, mungkin kita bisa membicarakan ini kalau ada waktu.</p>

<p>Aku menunggu balasanmu.
<em>attached file</em></p></blockquote>

<p>Napasnya tertahan, dadanya terasa sakit setelah selesai membacanya. Gemetar hebat kedua tangannya di atas papan ketik. Menarik napas, sebelum mengeluarkannya berulang kali. Menggunakan punggung tangan untuk mengusap tangisannya.</p>

<p><em>Apakah aku harus membalas ini?</em></p>

<blockquote><p><em>From : You</em>
<em>To : Mingi Song (mingisong@xxxx.co.kr)</em>
<em>Subject : Re-Wedding Invitation</em>
<strong>Message</strong>
Mingi, terima kasih sudah menghubungiku. Aku akan datang.
Terima kasih telah mengundangku, aku berterima kasih karena kamu masih mengingatku.</p>

<p>Hanya saja biarkan aku membicarakan ini.
Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan saat itu. Apakah ada yang kurang dariku? Aku kerap bertanya, jika ada, tolong katakan. Aku tidak akan pernah marah, kalau saja kau membicarakannya baik-baik denganku. Aku tahu, aku kurang dari segala sisi, tapi ... bukankah aku tahu sesuatu. Kau membiarkan aku tenggelam dalam tanya hingga saat ini.</p>

<p>Bukan aku tidak merelakanmu pergi.
Mengingatkan saja, kita ini sudah dewasa, Mingi. Kita menjalin hubungan semenjak kita SMA. Bukanlah waktu yang lama untuk melupakan sebuah hubungan yang terjalin selama itu. Mingi, pernahkah aku marah ketika kita masih remaja, saat masih labil dan penuh kenaifan? Pernahkah aku menyalahkan semua yang terjadi kepada kita padamu?</p>

<p>Mingi, jika memang pertemuan kita memang untuk membicarakan <em>ini</em>.
Aku akan menyetujuinya.
Hubungi aku jika kau senggang.</p></blockquote>

<p>Hongjoong segera mengirimkan pesan itu, tanpa melihat apakah ada kesalahan dalam pengetikan ...</p>

<p>... <em>dan malam itu Mingi menelponnya.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/cause-i-lost-myself-when-i-lost-you</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Jun 2021 17:19:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Life Was Warm then Life Was Cold.</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/life-was-warm-then-life-was-cold?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Life Was Warm then Life Was Cold.&#xA;&#xA;Choi Jongho, 44 tahun.&#xA;&#xA;&#34;Selamat ulang tahun!&#34; &#xA;&#xA;Konfeti menghalangi pandang, Jongho tertawa bagaimana ia masuk ke dalam gedung tempat ia kerja hanya untuk disambut kertas berwarna-warni dan juga suara yang begitu ramai. Tangan-tangannya dengan sigap menurunkan kertas-kertas dari wajahnya, menatap orang-orang di hadapannya.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih.&#34; &#xA;&#xA;Kehidupan seorang Choi Jongho tidak jauh dari orang-orang yang membantunya di industri hiburan. Ia tersenyum kepada mereka, beberapa staff merupakan staff baru. Begitulah kehidupan di dunia hiburan, wajah-wajah baru ... wajah-wajah remaja muda yang naif, sama sepertinya dulu.&#xA;&#xA;Jongho tidak dapat menghitung sudah berapa tahun ia menjejakkan kakinya di dunia hiburan. Semua terjadi begitu saja, bahkan ketika memulainya ... ia tidak begitu ingat. Mungkin bagi penggemarnya, hari debutnya adalah tanggal pentingnya, tapi tidak bagi dirinya. &#xA;&#xA;Ia masih teringat bagaimana ia harus luntang-lantung, ke sana dan ke mari untuk mendapatkan nama. Debut bukan sesuatu yang menarik, menurutnya, ia harus menyesuaikan diri. Pandai berpura-pura adalah keahliannya, tidak dapat diragukan. Menahan diri dimarahi sana sini, merasakan 24 jam untuk sehari sangatlah kurang, dan mengorbankan seluruh keberuntungannya untuk seonggok kesempatan.&#xA;&#xA;Dwinetranya menatap tumpukan piala di dalam almari kaca. Bentuk apresiasi dari sebuah usaha dan kerja kerasnya selama ini. Tak banyak, tapi Jongho selalu mensyukuri apa saja yang dapat ia lakukan dan dapatkan. Semua ada timbal baliknya, ia selalu menyemangati dirinya.&#xA;&#xA;Karena tidak ada lagi yang bisa melakukannya.&#xA;&#xA;&#34;Pak, hari ini mau makan kemana?&#34; tanya salah satu staff, buyarkan lamunannya.&#xA;&#xA;Jongho tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari rekan kerjanya.&#xA;&#xA;------------------------------------------&#xA;&#xA;Choi Jongho, 21 tahun.&#xA;&#xA;&#34;Kau ingin membeli yang itu?&#34; Sebuah tanya hampiri rungu milik pemuda Choi yang sibuk menatapi gitar yang menggantung pada rak di sebuah toko alat musik. Jongho menengok ke arah sumber suara, hanya &#39;tuk dapati Wooyoung melebarkan senyum padanya.&#xA;&#xA;Jongho menggunakan anggukan kepala sebagai jawabnya. Jemarinya menyentuh badan gitar, memperhatikan corak-corak kayu yang terukir di atasnya. Ada yang menarik perhatiannya sedari dulu, tapi dirinya baru memiliki kesempatan untuk menilik kembali. &#xA;&#xA;&#34;Kalau saja kau tidak merusak yang lama, kau tahu aku tidak akan di sini.&#34; Jongho keluarkan kekehan kecil. Sindirannya sekadar canda, hanya ingin memperhatikan Wooyoung yang kini mengerucutkan bibirnya dan tangan dilipat di depan dada.&#xA;&#xA;&#34;Kan aku sudah minta maaf,&#34; rengek lelaki yang lebih tua yang tak hentikan Jongho dari tawanya.&#xA;&#xA;Jongho tentu tidak marah─mungkin sedikit dan sudah berlalu pula─ketika Wooyoung tak sengaja mematahkan gitarnya menjadi dua bagian. Gitar lama yang ia bawa dari rumah memanglah rapuh termakan zaman, ia tahu itu. Ia tak membiarkan amarahnya disalurkan kepada Wooyoung dan memutuskan untuk membeli gitar baru sebagai self-reward atas dirinya sendiri, setidaknya untuk sudah bertahan di bangku kuliah yang menyebalkan.&#xA;&#xA;Tak disadari jika Wooyoung sudah berdiri di sebelahnya, seolah ikut penasaran dengan apa yang dicarinya. Sebelum Jongho inisiatif untuk mengirimkan kecup pada pipi kekasihnya yang satu itu. Erangan kecil diberikan sebagai balas, Wooyoung mencubit lengan atasnya. Lantas hal itu membuatnya kembali tertawa.&#xA;&#xA;&#34;I love you.&#34; Jongho berbisik sebagai pengingat.&#xA;&#xA;Jongho mencintai bagaimana Wooyoung selalu ada bersamanya. Membuat cerita-cerita baru yang dapat ia simpan di kepalanya, yang tak akan ia bosan beritahukan pada dunia dengan bangganya. Cerita-cerita yang diukir dalam kesederhanaan, akan tetapi begitu berharga. &#xA;&#xA;Dan saat itulah, ia berani untuk mengutarakan jika dirinya bahagia.&#xA;&#xA;-------------------------------------------------&#xA;&#xA;Choi Jongho, 18 tahun.&#xA;&#xA;Seoul tak pernah mati, begitulah pikir Jongho. Terkadang sesak harus berjalan-jalan di ibukota, apalagi jika di akhir pekan. Keadaan rumah juga tidak kalah sesaknya, suntuk bisa dibilang. Kedua orang tua yang individualis dan perfeksionis, hanya akan membuatmu sepi dan dibebani banyak ekspektasi.&#xA;&#xA;Mengikuti band sejak dua tahun terakhir bersama senior yang dikenalnya mungkin sebagai bentuk pemberontakan pertamanya. Diikuti dengan hobi merokoknya dan menambahkan lukisan pada tubuh yang diukir setahun lalu.&#xA;&#xA;Dum spiro, spero.&#xA;&#xA;Begitulah bunyi yang terukir di pundaknya, yang ia sembunyikan dari di balik balutan kain yang ia kenakan sehari-hari. Jongho benar-benar ingin hidup sepenuhnya, tanpa jeratan orang tua yang mengekori, menghantui siang dan malamnya tanpa jeda.&#xA;&#xA;&#34;Ada tawaran gigs, kamu mau ikut?&#34; &#xA;&#xA;Begitulah bagaimana Jongho yang tengah kabur dengan gitar di punggungnya bertemu sosok Jung Wooyoung, salah satu dari kerumunan orang yang perlu dihiburnya. Teringat rokok masih menggantung di belah bibirnya, ketika Wooyoung menyapanya.&#xA;&#xA;Tapi, ia tidak membalas sapanya saat itu.&#xA;&#xA;-------------------------------&#xA;&#xA;Choi Jongho, 19 tahun.&#xA;&#xA;Jongho tidak pernah berkata apa-apa kepada orang tuanya ketika ia memilih jurusan musik sebagai tujuannya. Ia menceritakan semuanya pada sosok Jung Wooyoung yang mendengarkannya tanpa menyela. Jongho punya mimpi untuk membuka studio musiknya sendiri suatu hari nanti dan Wooyoung menantikannya, seolah ia mempercayai semua akan terwujud. &#xA;&#xA;Di kala ia sendiri tidak mempercayainya. Terlalu muluk.&#xA;&#xA;Setelah ujian yang dilakukan, kesibukan yang sempat memuncak, panaskan kepala. Jongho benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan, jurusan musik di salah satu universitas top di ibukota. Sayang, itu bukan yang diharapkan sang ayahanda.&#xA;&#xA;&#34;Ayah kecewa.&#34; &#xA;&#xA;Bahkan ucapan seperti mengalahkan dinginnya kota Seoul. Minus derajat tidak sebanding dengan kata-kata yang dikeluarkan lelaki paruh baya itu. Jongho tak memikirkannya lebih lanjut dan memilih untuk berlari pada sosok Wooyoung yang menantinya.&#xA;&#xA;Karena ia tahu, yang mempercayainya hanya Wooyoung seorang.&#xA;&#xA;Karena Wooyoung adalah rumahnya.&#xA;&#xA;--------------------------------&#xA;&#xA;Choi Jongho, 24 tahun.&#xA;&#xA;Jongho merapikan barang-barangnya, mengemasinya dalam kotak-kotak lusuh. Wooyoung di sebelah membantunya tanpa berkata apa pun. Tidak pernah terasa sehening ini tempat tinggal mereka berdua, sebuah flat kecil yang sempat ada rasa hangat dan canda tawa menghiasi hari.&#xA;&#xA;&#34;Woo,&#34; panggil Jongho menarik atensi dari yang lebih tua. Keduanya memberhentikan kegiatan mereka, memilih untuk bertatap dalam sorot mata sendu dan bibir yang dipaksakan untuk tersenyum.&#xA;&#xA;&#34;Kau akan baik-baik saja?&#34; tanya sang taruna Choi, mendekatkan dirinya pada sosok Wooyoung yang nampak mematung di tempatnya. Lawan bicaranya mengerjapkan matanya dan mencerna ucapan Jongho. &#xA;&#xA;&#34;Tentu saja.&#34; Dalam keraguannya, Wooyoung menjawab. Jongho tahu, semua itu hanyalah kebohongan, waktu lima tahun bersama itu tidaklah singkat, pula mudah. &#xA;&#xA;&#34;Woo.&#34; Jongho menangkup wajah itu, wajah yang sehari-hari tak pernah tinggalkan benak, wajah yang dilihatnya ketika terbangun dan ketika kembali terlelap. Ia mengambil sebuah kecupan singkat pada bibir yang mungkin akan ia rindukan suatu hari nanti, mungkin akan terus ia rindukan.&#xA;&#xA;Wooyoung menahan napasnya seolah menahan tangisnya. Karena perpisahan bukanlah sesuatu yang mereka ekspektasikan untuk datang secepat ini ...&#xA;&#xA;... atau mungkin mereka denial jika hari ini telah tiba?&#xA;&#xA;&#34;Woo, do you regret the path you chose with me?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="life-was-warm-then-life-was-cold" id="life-was-warm-then-life-was-cold">Life Was Warm then Life Was Cold.</h2>

<p><em>Choi Jongho, 44 tahun.</em></p>

<p>“Selamat ulang tahun!”</p>

<p>Konfeti menghalangi pandang, Jongho tertawa bagaimana ia masuk ke dalam gedung tempat ia kerja hanya untuk disambut kertas berwarna-warni dan juga suara yang begitu ramai. Tangan-tangannya dengan sigap menurunkan kertas-kertas dari wajahnya, menatap orang-orang di hadapannya.</p>

<p>“Terima kasih.”</p>

<p>Kehidupan seorang Choi Jongho tidak jauh dari orang-orang yang membantunya di industri hiburan. Ia tersenyum kepada mereka, beberapa staff merupakan staff baru. Begitulah kehidupan di dunia hiburan, wajah-wajah baru ... wajah-wajah remaja muda yang naif, sama sepertinya dulu.</p>

<p>Jongho tidak dapat menghitung sudah berapa tahun ia menjejakkan kakinya di dunia hiburan. Semua terjadi begitu saja, bahkan ketika memulainya ... ia tidak begitu ingat. Mungkin bagi penggemarnya, hari debutnya adalah tanggal pentingnya, tapi tidak bagi dirinya.</p>

<p>Ia masih teringat bagaimana ia harus luntang-lantung, ke sana dan ke mari untuk mendapatkan nama. Debut bukan sesuatu yang menarik, menurutnya, ia harus menyesuaikan diri. Pandai berpura-pura adalah keahliannya, tidak dapat diragukan. Menahan diri dimarahi sana sini, merasakan 24 jam untuk sehari sangatlah kurang, dan mengorbankan seluruh keberuntungannya untuk seonggok kesempatan.</p>

<p>Dwinetranya menatap tumpukan piala di dalam almari kaca. Bentuk apresiasi dari sebuah usaha dan kerja kerasnya selama ini. Tak banyak, tapi Jongho selalu mensyukuri apa saja yang dapat ia lakukan dan dapatkan. Semua ada timbal baliknya, ia selalu menyemangati dirinya.</p>

<p><em>Karena tidak ada lagi yang bisa melakukannya.</em></p>

<p>“Pak, hari ini mau makan kemana?” tanya salah satu staff, buyarkan lamunannya.</p>

<p>Jongho tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari rekan kerjanya.</p>

<hr/>

<p><em>Choi Jongho, 21 tahun.</em></p>

<p>“Kau ingin membeli yang itu?” Sebuah tanya hampiri rungu milik pemuda Choi yang sibuk menatapi gitar yang menggantung pada rak di sebuah toko alat musik. Jongho menengok ke arah sumber suara, hanya &#39;tuk dapati Wooyoung melebarkan senyum padanya.</p>

<p>Jongho menggunakan anggukan kepala sebagai jawabnya. Jemarinya menyentuh badan gitar, memperhatikan corak-corak kayu yang terukir di atasnya. Ada yang menarik perhatiannya sedari dulu, tapi dirinya baru memiliki kesempatan untuk menilik kembali.</p>

<p>“Kalau saja kau tidak merusak yang lama, kau tahu aku tidak akan di sini.” Jongho keluarkan kekehan kecil. Sindirannya sekadar canda, hanya ingin memperhatikan Wooyoung yang kini mengerucutkan bibirnya dan tangan dilipat di depan dada.</p>

<p>“Kan aku sudah minta maaf,” rengek lelaki yang lebih tua yang tak hentikan Jongho dari tawanya.</p>

<p>Jongho tentu tidak marah─mungkin sedikit dan sudah berlalu pula─ketika Wooyoung tak sengaja mematahkan gitarnya menjadi dua bagian. Gitar lama yang ia bawa dari rumah memanglah rapuh termakan zaman, ia tahu itu. Ia tak membiarkan amarahnya disalurkan kepada Wooyoung dan memutuskan untuk membeli gitar baru sebagai <em>self-reward</em> atas dirinya sendiri, setidaknya untuk sudah bertahan di bangku kuliah yang menyebalkan.</p>

<p>Tak disadari jika Wooyoung sudah berdiri di sebelahnya, seolah ikut penasaran dengan apa yang dicarinya. Sebelum Jongho inisiatif untuk mengirimkan kecup pada pipi kekasihnya yang satu itu. Erangan kecil diberikan sebagai balas, Wooyoung mencubit lengan atasnya. Lantas hal itu membuatnya kembali tertawa.</p>

<p>“<em>I love you.</em>” Jongho berbisik sebagai pengingat.</p>

<p>Jongho mencintai bagaimana Wooyoung selalu ada bersamanya. Membuat cerita-cerita baru yang dapat ia simpan di kepalanya, yang tak akan ia bosan beritahukan pada dunia dengan bangganya. Cerita-cerita yang diukir dalam kesederhanaan, akan tetapi begitu berharga.</p>

<p><em>Dan saat itulah, ia berani untuk mengutarakan jika dirinya bahagia.</em></p>

<hr/>

<p><em>Choi Jongho, 18 tahun.</em></p>

<p>Seoul tak pernah mati, begitulah pikir Jongho. Terkadang sesak harus berjalan-jalan di ibukota, apalagi jika di akhir pekan. Keadaan rumah juga tidak kalah sesaknya, suntuk bisa dibilang. Kedua orang tua yang individualis dan perfeksionis, hanya akan membuatmu sepi dan dibebani banyak ekspektasi.</p>

<p>Mengikuti band sejak dua tahun terakhir bersama senior yang dikenalnya mungkin sebagai bentuk pemberontakan pertamanya. Diikuti dengan hobi merokoknya dan menambahkan lukisan pada tubuh yang diukir setahun lalu.</p>

<p><em>Dum spiro, spero.</em></p>

<p>Begitulah bunyi yang terukir di pundaknya, yang ia sembunyikan dari di balik balutan kain yang ia kenakan sehari-hari. Jongho benar-benar ingin hidup sepenuhnya, tanpa jeratan orang tua yang mengekori, menghantui siang dan malamnya tanpa jeda.</p>

<p>“Ada tawaran <em>gigs</em>, kamu mau ikut?”</p>

<p>Begitulah bagaimana Jongho yang tengah kabur dengan gitar di punggungnya bertemu sosok Jung Wooyoung, salah satu dari kerumunan orang yang perlu dihiburnya. Teringat rokok masih menggantung di belah bibirnya, ketika Wooyoung menyapanya.</p>

<p>Tapi, ia tidak membalas sapanya saat itu.</p>

<hr/>

<p><em>Choi Jongho, 19 tahun.</em></p>

<p>Jongho tidak pernah berkata apa-apa kepada orang tuanya ketika ia memilih jurusan musik sebagai tujuannya. Ia menceritakan semuanya pada sosok Jung Wooyoung yang mendengarkannya tanpa menyela. Jongho punya mimpi untuk membuka studio musiknya sendiri suatu hari nanti dan Wooyoung menantikannya, seolah ia mempercayai semua akan terwujud.</p>

<p><em>Di kala ia sendiri tidak mempercayainya. Terlalu muluk.</em></p>

<p>Setelah ujian yang dilakukan, kesibukan yang sempat memuncak, panaskan kepala. Jongho benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan, jurusan musik di salah satu universitas top di ibukota. Sayang, itu bukan yang diharapkan sang ayahanda.</p>

<p>“Ayah kecewa.”</p>

<p>Bahkan ucapan seperti mengalahkan dinginnya kota Seoul. Minus derajat tidak sebanding dengan kata-kata yang dikeluarkan lelaki paruh baya itu. Jongho tak memikirkannya lebih lanjut dan memilih untuk berlari pada sosok Wooyoung yang menantinya.</p>

<p>Karena ia tahu, yang mempercayainya hanya Wooyoung seorang.</p>

<p><em>Karena Wooyoung adalah rumahnya.</em></p>

<hr/>

<p><em>Choi Jongho, 24 tahun.</em></p>

<p>Jongho merapikan barang-barangnya, mengemasinya dalam kotak-kotak lusuh. Wooyoung di sebelah membantunya tanpa berkata apa pun. Tidak pernah terasa sehening ini tempat tinggal mereka berdua, sebuah flat kecil yang sempat ada rasa hangat dan canda tawa menghiasi hari.</p>

<p>“Woo,” panggil Jongho menarik atensi dari yang lebih tua. Keduanya memberhentikan kegiatan mereka, memilih untuk bertatap dalam sorot mata sendu dan bibir yang dipaksakan untuk tersenyum.</p>

<p>“Kau akan baik-baik saja?” tanya sang taruna Choi, mendekatkan dirinya pada sosok Wooyoung yang nampak mematung di tempatnya. Lawan bicaranya mengerjapkan matanya dan mencerna ucapan Jongho.</p>

<p>“Tentu saja.” Dalam keraguannya, Wooyoung menjawab. Jongho tahu, semua itu hanyalah kebohongan, waktu lima tahun bersama itu tidaklah singkat, pula mudah.</p>

<p>“Woo.” Jongho menangkup wajah itu, wajah yang sehari-hari tak pernah tinggalkan benak, wajah yang dilihatnya ketika terbangun dan ketika kembali terlelap. Ia mengambil sebuah kecupan singkat pada bibir yang mungkin akan ia rindukan suatu hari nanti, mungkin akan terus ia rindukan.</p>

<p>Wooyoung menahan napasnya seolah menahan tangisnya. Karena perpisahan bukanlah sesuatu yang mereka ekspektasikan untuk datang secepat ini ...</p>

<p>... <em>atau mungkin mereka denial jika hari ini telah tiba?</em></p>

<p>“<em>Woo, do you regret the path you chose with me?</em>“</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/life-was-warm-then-life-was-cold</guid>
      <pubDate>Sat, 03 Apr 2021 16:25:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>We Were Young and We Were Old.</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/we-were-young-and-we-were-old?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[We Were Young and We Were Old.&#xA;&#xA;Jung Wooyoung, 45 tahun.&#xA;&#xA;Wooyoung hanyalah pria yang kau temui di kehidupanmu sehari-hari. Paruh baya, tas pada genggamannya, gunakan transportasi umum untuk mengejar karirnya. Ia hanyalah seseorang yang tidak akan menarik perhatianmu, kecuali wajah rupawan yang akan membuat umurnya selalu dipertanyakan.&#xA;&#xA;&#34;Ayah.&#34; Anak gadisnya memanggil, menarik ujung kemejanya untuk menarik perhatian.&#xA;&#xA;&#34;Boleh kubeli ini?&#34; Sebuah album CD ditunjukkan kepadanya, tak terlihat seperti album CD ketika usianya remaja yang hanya terbungkus plastik rapuh dengan sampul yang tidak semenarik sekarang.&#xA;&#xA;Wooyoung menolak sebelumnya, tapi hanya menumbuhkan rengekan kecil dari anak semata wayangnya. Ah, jadi bertanya kenapa anaknya sangat, sangat, mirip dengannya. Menghela napas panjang, ia mengangguk pelan dan rengekan lekas menjadi sebuah kegembiraan. Tak kuasa menahan senyum tipis pada wajahnya yang kini tumbuh kerutan halus, Wooyoung gelengkan kepala. &#xA;&#xA;Satu album dibawa sang gadis menuju kasir dengan bangga, seolah itu harta karun. Wooyoung mengeluarkan dompet, sebelum hentikan langkah pada lemari yang memajang album-album lama dari penyanyi senior yang mungkin sudah seusianya.&#xA;&#xA;Netra berfokus satu yang terpampang pada rak paling atas, tepat tersorot lampu. Ia terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Menandakan ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar dari belah bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;Ayah!&#34; Wooyoung tersadar, segeralah ia menghampiri kasir.&#xA;&#xA;Sang penjaga kasir bertanya, &#34;Ini saja, ada lagi?&#34;&#xA;&#xA;Wooyoung menunjuk satu yang sedari tadi mengganggu kepala, &#34;Saya mau beli yang itu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ah, album penyanyi senior Kim Hongjoong?&#34;&#xA;&#xA;Wooyoung menggelengkan kepalanya, &#34;Sebelahnya. Saya mengambil album Choi Jongho.&#34;&#xA;&#xA;-----------------------------------------------------------&#xA;&#xA;Jung Wooyoung, 22 tahun.&#xA;&#xA;&#34;Jongho, kau tahu, kau bisa menjual suaramu kalau begini.&#34; Wooyoung masihlah anak ingusan saat itu, baju putih polos belel yang telah longgar ia gunakan. Di sebelahnya, Jongho memegang gitar yang telah usang, tapi di tangan pemuda berumur 21 tahun, melodinya jadi terdengar indah.&#xA;&#xA;Wooyoung berada di atas kasur, bertumpu pada perut, jua sikunya. Memperhatikan Jongho yang duduk di lantai beralas karpet coklat termakan usia, membenarkan senar dan sesekali bersenandung lagu yang terdengar asing bagi Wooyoung.&#xA;&#xA;&#34;Hm, jadi artis bukanlah pilihanku, Woo.&#34; Setelah dirasa selesai, Jongho memetiknya dan menyanyikan lagu yang ia ciptakan sendiri. Wooyoung tak pernah berhenti mencintai bagaimana Jongho menarik suaranya, merdu, hampir bisa membuatnya terlelap kapan saja.&#xA;&#xA;&#34;Kau selalu merendah, kau tahu itu.&#34; Wooyoung bangkit dari posisinya hanya untuk melingkarkan tangan pada bahu Jongho yang masih sibuk dengan gitarnya. Pemuda Jung itu menariknya ke dalam sebuah pelukan, menghirup dalam-dalam aroma shampoo yang digunakan Jongho─mentol dan sitrus yang segar, sangat khas dengan dirinya.&#xA;&#xA;Jongho hanya tertawa, melarutkan dalam hangatnya pelukan sang kekasih.&#xA;&#xA;-----------------------------------&#xA;&#xA;Jung Wooyoung, 19 tahun.&#xA;&#xA;Ramainya Ibukota selalu membuat dirinya takjub, Wooyoung yang baru saja menjejaki diri sebagai mahasiswa baru di sebuah universitas tak pernah merasakan jantung yang berdebar-debar hanya dengan menatap suasana kota Seoul. Kencangnya motor yang melaju, mobil-mobil yang tiada hentinya terus menghiasi jalanan besar, lampu-lampu jalan yang tak pernah nampak redup di malam hari.&#xA;&#xA;Di sebuah kafe kecil di pinggir kotalah, ia menemukan sosok Choi Jongho. Pria yang setahun lebih muda darinya, masih SMA kelas akhir ketika Wooyoung mengenalnya untuk pertama kali. Pesta kecil yang dirayakan oleh jurusannya menghadirkan band terkenal di sekitar, di sana Jongho berada di balik posisi gitaris.&#xA;&#xA;Wooyoung tak tertarik, bagaimana melihat Jongho yang nampak rapi dibandingkan teman yang lain. Kemeja hitam yang membalut badannya, dipadukan dengan celana jeans biru, tidak nampak seperti anak band pada umumnya. Dirinya acuh pada pesonanya, tapi di sana pula ia menemukan Jongho yang tengah merokok di belakang kafe sendirian.&#xA;&#xA;&#34;Hello.&#34; Wooyoung menyapa, mengeluarkan benda yang sama. Berdua dalam gang sempit, hanya ditemani lampu yang berpijar tak begitu terang.&#xA;&#xA;Satu sapa, hanya satu yang membuat semuanya berubah.&#xA;&#xA;-------------------------------------------------&#xA;&#xA;Jung Wooyoung, 20 tahun.&#xA;&#xA;&#34;Selamat!&#34;&#xA;&#xA;Ledakan kecil dari tabung konfeti, sempat membuat Jongho terkaget. Seragam sekolah masih dikenakannya, tas lepas pada genggaman, sebab sang kuasa memegang dada. &#xA;&#xA;&#34;Jung Wooyoung!&#34; Tawa penuhi ruangan, derap langkah yang berpacu juga─Jongho mengejar Wooyoung hingga keduanya terjatuh pada karpet di tengah ruang, bagaimana keduanya menarik napas amat dalam karena lelah berlari.&#xA;&#xA;Dua pasang mata jelaga itu bertemu, senyap menyerbu. Tangan milik tuan yang lebih muda menyentuh tulang pipi lawan bicaranya. Wooyoung tidak pernah mengomentari ihwal tangan Jongho yang kapalan berkat senar-senar gitar yang akrab dengan setiap ujung jarinya, karena ketika Jongho menyentuhnya tak ada lagi kata yang sanggup mendeskripsikannya. Lembut.&#xA;&#xA;Jongho mengecup ringan pada dahi Wooyoung, melekat cukup lama, hingga melepasnya kembali. Wooyoung benarkan posisinya, berbaring dengan kepala bersandar pada bahu kekasihnya.&#xA;&#xA;Ah, benar juga.&#xA;&#xA;&#34;Selamat,&#34; ulang Wooyoung, &#34;selamat menjadi mahasiswa jurusan musik seperti yang kau idamkan.&#34;&#xA;&#xA;-----------------------------------------&#xA;&#xA;Jung Wooyoung, 25 tahun.&#xA;&#xA;&#34;Berhenti merokok, kau berjanji.&#34;&#xA;&#xA;Wooyoung melempar batang rokok ke jalanan, menginjaknya hingga api hilang dari ujungnya. Air mata belum tergenang di bawah matanya, walau sedih tak bisa lagi dibendung oleh hati. &#xA;&#xA;Kota Seoul masih sama seperti enam tahun lalu, ramai. Tapi, Wooyoung bukanlah Wooyoung yang sama seperti enam tahun lalu, lima tahun lalu, atau tahun-tahun yang dilewati bersamaan dengan musim yang silih berganti.&#xA;&#xA;&#34;Jongho, kita bisa bicarakan ini.&#34; Wooyoung memohon, pegangannya pada jaket yang digunakan Jongho sungguhlah erat. Ia tak siap untuk melepaskan, bagaimana ia tidak rela melihat raut wajah Jongho tak berpendar bagai bulan sabit malam itu.&#xA;&#xA;&#34;Woo.&#34; Lirih suaranya, Jongho tak dapat berkata apa-apa. &#xA;&#xA;Keduanya terdiam di bawah langit malam, dingin. Wooyoung menarik Jongho kembali masuk ke dalam gedung bertingkat dengan cahaya lampu bersinar di beberapa balik jendela, ia menyeret kembali ke dalam flat kecil mereka.&#xA;&#xA;Rumah.&#xA;&#xA;Mereka katakan flat kecil dengan cat kuning yang mengelupas sebagai rumah mereka, berdua. Di mana selama lima tahun terakhir mereka selalu bersama. Di mana rumah inilah yang menjadi saksi keduanya menjalani kehidupan mereka bersama.&#xA;&#xA;Jongho terisak, tak lagi kuasa menahan apa yang sempat tertahan. Diikuti Wooyoung setelahnya, beradu dalam bisingnya jalanan kota yang tak pernah berhenti. &#xA;&#xA;Malam itu, tak ada patah kata yang terganti seperti apa yang direncakan. Hanya ada air mata di pipi, tangan yang melingkar di badan satu sama lain, membalut diri pada hangat yang nyata sebelum diterpa dinginnya kenyataan.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="we-were-young-and-we-were-old" id="we-were-young-and-we-were-old">We Were Young and We Were Old.</h2>

<p><em>Jung Wooyoung, 45 tahun.</em></p>

<p>Wooyoung hanyalah pria yang kau temui di kehidupanmu sehari-hari. Paruh baya, tas pada genggamannya, gunakan transportasi umum untuk mengejar karirnya. Ia hanyalah seseorang yang tidak akan menarik perhatianmu, kecuali wajah rupawan yang akan membuat umurnya selalu dipertanyakan.</p>

<p>“Ayah.” Anak gadisnya memanggil, menarik ujung kemejanya untuk menarik perhatian.</p>

<p>“Boleh kubeli ini?” Sebuah album CD ditunjukkan kepadanya, tak terlihat seperti album CD ketika usianya remaja yang hanya terbungkus plastik rapuh dengan sampul yang tidak semenarik sekarang.</p>

<p>Wooyoung menolak sebelumnya, tapi hanya menumbuhkan rengekan kecil dari anak semata wayangnya. Ah, jadi bertanya kenapa anaknya sangat, sangat, mirip dengannya. Menghela napas panjang, ia mengangguk pelan dan rengekan lekas menjadi sebuah kegembiraan. Tak kuasa menahan senyum tipis pada wajahnya yang kini tumbuh kerutan halus, Wooyoung gelengkan kepala.</p>

<p>Satu album dibawa sang gadis menuju kasir dengan bangga, seolah itu harta karun. Wooyoung mengeluarkan dompet, sebelum hentikan langkah pada lemari yang memajang album-album lama dari penyanyi senior yang mungkin sudah seusianya.</p>

<p>Netra berfokus satu yang terpampang pada rak paling atas, tepat tersorot lampu. Ia terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Menandakan ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar dari belah bibirnya.</p>

<p>“Ayah!” Wooyoung tersadar, segeralah ia menghampiri kasir.</p>

<p>Sang penjaga kasir bertanya, “Ini saja, ada lagi?”</p>

<p>Wooyoung menunjuk satu yang sedari tadi mengganggu kepala, “Saya mau beli yang itu.”</p>

<p>“Ah, album penyanyi senior Kim Hongjoong?”</p>

<p>Wooyoung menggelengkan kepalanya, “Sebelahnya. Saya mengambil album Choi Jongho.”</p>

<hr/>

<p><em>Jung Wooyoung, 22 tahun.</em></p>

<p>“Jongho, kau tahu, kau bisa menjual suaramu kalau begini.” Wooyoung masihlah anak ingusan saat itu, baju putih polos belel yang telah longgar ia gunakan. Di sebelahnya, Jongho memegang gitar yang telah usang, tapi di tangan pemuda berumur 21 tahun, melodinya jadi terdengar indah.</p>

<p>Wooyoung berada di atas kasur, bertumpu pada perut, jua sikunya. Memperhatikan Jongho yang duduk di lantai beralas karpet coklat termakan usia, membenarkan senar dan sesekali bersenandung lagu yang terdengar asing bagi Wooyoung.</p>

<p>“Hm, jadi artis bukanlah pilihanku, Woo.” Setelah dirasa selesai, Jongho memetiknya dan menyanyikan lagu yang ia ciptakan sendiri. Wooyoung tak pernah berhenti mencintai bagaimana Jongho menarik suaranya, merdu, hampir bisa membuatnya terlelap kapan saja.</p>

<p>“Kau selalu merendah, kau tahu itu.” Wooyoung bangkit dari posisinya hanya untuk melingkarkan tangan pada bahu Jongho yang masih sibuk dengan gitarnya. Pemuda Jung itu menariknya ke dalam sebuah pelukan, menghirup dalam-dalam aroma shampoo yang digunakan Jongho─mentol dan sitrus yang segar, sangat khas dengan dirinya.</p>

<p>Jongho hanya tertawa, melarutkan dalam hangatnya pelukan sang kekasih.</p>

<hr/>

<p><em>Jung Wooyoung, 19 tahun.</em></p>

<p>Ramainya Ibukota selalu membuat dirinya takjub, Wooyoung yang baru saja menjejaki diri sebagai mahasiswa baru di sebuah universitas tak pernah merasakan jantung yang berdebar-debar hanya dengan menatap suasana kota Seoul. Kencangnya motor yang melaju, mobil-mobil yang tiada hentinya terus menghiasi jalanan besar, lampu-lampu jalan yang tak pernah nampak redup di malam hari.</p>

<p>Di sebuah kafe kecil di pinggir kotalah, ia menemukan sosok Choi Jongho. Pria yang setahun lebih muda darinya, masih SMA kelas akhir ketika Wooyoung mengenalnya untuk pertama kali. Pesta kecil yang dirayakan oleh jurusannya menghadirkan band terkenal di sekitar, di sana Jongho berada di balik posisi gitaris.</p>

<p>Wooyoung tak tertarik, bagaimana melihat Jongho yang nampak rapi dibandingkan teman yang lain. Kemeja hitam yang membalut badannya, dipadukan dengan celana jeans biru, tidak nampak seperti anak band pada umumnya. Dirinya acuh pada pesonanya, tapi di sana pula ia menemukan Jongho yang tengah merokok di belakang kafe sendirian.</p>

<p>“Hello.” Wooyoung menyapa, mengeluarkan benda yang sama. Berdua dalam gang sempit, hanya ditemani lampu yang berpijar tak begitu terang.</p>

<p>Satu sapa, hanya satu yang membuat semuanya berubah.</p>

<hr/>

<p><em>Jung Wooyoung, 20 tahun.</em></p>

<p>“Selamat!”</p>

<p>Ledakan kecil dari tabung konfeti, sempat membuat Jongho terkaget. Seragam sekolah masih dikenakannya, tas lepas pada genggaman, sebab sang kuasa memegang dada.</p>

<p>“Jung Wooyoung!” Tawa penuhi ruangan, derap langkah yang berpacu juga─Jongho mengejar Wooyoung hingga keduanya terjatuh pada karpet di tengah ruang, bagaimana keduanya menarik napas amat dalam karena lelah berlari.</p>

<p>Dua pasang mata jelaga itu bertemu, senyap menyerbu. Tangan milik tuan yang lebih muda menyentuh tulang pipi lawan bicaranya. Wooyoung tidak pernah mengomentari ihwal tangan Jongho yang kapalan berkat senar-senar gitar yang akrab dengan setiap ujung jarinya, karena ketika Jongho menyentuhnya tak ada lagi kata yang sanggup mendeskripsikannya. Lembut.</p>

<p>Jongho mengecup ringan pada dahi Wooyoung, melekat cukup lama, hingga melepasnya kembali. Wooyoung benarkan posisinya, berbaring dengan kepala bersandar pada bahu kekasihnya.</p>

<p>Ah, benar juga.</p>

<p>“Selamat,” ulang Wooyoung, “selamat menjadi mahasiswa jurusan musik seperti yang kau idamkan.”</p>

<hr/>

<p><em>Jung Wooyoung, 25 tahun.</em></p>

<p>“Berhenti merokok, kau berjanji.”</p>

<p>Wooyoung melempar batang rokok ke jalanan, menginjaknya hingga api hilang dari ujungnya. Air mata belum tergenang di bawah matanya, walau sedih tak bisa lagi dibendung oleh hati.</p>

<p>Kota Seoul masih sama seperti enam tahun lalu, ramai. Tapi, Wooyoung bukanlah <em>Wooyoung</em> yang sama seperti enam tahun lalu, lima tahun lalu, atau tahun-tahun yang dilewati bersamaan dengan musim yang silih berganti.</p>

<p>“Jongho, kita bisa bicarakan <em>ini</em>.” Wooyoung memohon, pegangannya pada jaket yang digunakan Jongho sungguhlah erat. Ia tak siap untuk melepaskan, bagaimana ia tidak rela melihat raut wajah Jongho tak berpendar bagai bulan sabit malam itu.</p>

<p>“Woo.” Lirih suaranya, Jongho tak dapat berkata apa-apa.</p>

<p>Keduanya terdiam di bawah langit malam, dingin. Wooyoung menarik Jongho kembali masuk ke dalam gedung bertingkat dengan cahaya lampu bersinar di beberapa balik jendela, ia menyeret kembali ke dalam flat kecil mereka.</p>

<p>Rumah.</p>

<p>Mereka katakan flat kecil dengan cat kuning yang mengelupas sebagai rumah mereka, berdua. Di mana selama lima tahun terakhir mereka selalu bersama. Di mana rumah inilah yang menjadi saksi keduanya menjalani kehidupan mereka bersama.</p>

<p>Jongho terisak, tak lagi kuasa menahan apa yang sempat tertahan. Diikuti Wooyoung setelahnya, beradu dalam bisingnya jalanan kota yang tak pernah berhenti.</p>

<p>Malam itu, tak ada patah kata yang terganti seperti apa yang direncakan. Hanya ada air mata di pipi, tangan yang melingkar di badan satu sama lain, membalut diri pada hangat yang nyata sebelum diterpa dinginnya kenyataan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/we-were-young-and-we-were-old</guid>
      <pubDate>Sun, 17 Jan 2021 13:53:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>CAHYA : MEMUTAR WAKTU</title>
      <link>https://kultusan.writeas.com/cahya-memutar-waktu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[CAHYA : MEMUTAR WAKTU&#xA;&#xA;Cahya tidak pernah tahu, takdir apa yang bisa membuatnya bertemu dengan Ganesha setelah masa sekolah menengah atasnya. Yang ia tahu dari grup kelas dan angkatan, Ganesha tidak melanjutkan kuliahnya. Lebih tepatnya, setelah gagal SNMPTN dan juga SBMPTN, Ganesha tidak menginginkan gelar setelahnya. Cahya berpikir, mungkin lelaki Purusha itu terlalu banyak uang─mengakibatkan ia bisa berleha-leha, toh, perusahaan yang dimiliki orang tuanya bisa saja jatuh kepadanya kapan saja.&#xA;&#xA;Cahya terlalu banyak berasumsi. Itulah yang menyebabkannya ia juga membenci Ganesha selama tiga tahun penuh dan kembali lagi harus bertemu di lingkar pertemanan yang sama. Ganesha berada di antara anak kampusnya, seolah ia memang akrab dengan siapa saja. Padahal jika ia jujur, Ganesha tidak begitu banyak teman semasa SMA-nya, orang hampir selalu lupakan presensi lelaki yang tidak kalah tinggi dengannya. Ganesha selalu terlihat sibuk dengan ponselnya, kadang kalau bolos pun, tak ada satu orang pun yang tahu kemana ia pergi. Ke kamar mandi? Tidak. Tempat anak-anak bersembunyi untuk merokok? Tidak juga. UKS? Apalagi.&#xA;&#xA;Ganesha meninggalkan banyak misteri bagi Cahya, sayangnya, hal itu tertutup oleh perasaan tidak sukanya. Ia tidak pernah sedendam ini pada orang, baru kali ini ia selalu memiliki keinginan untuk mengatakan hal buruk kepada orang lain.&#xA;&#xA;Cahya merebahkan diri setelah dapati sebuah pesan dari Ganesha untuk menanyakan dirinya yang telah sampai di kosan atau belum. Berakhir bertengkar lagi, walau Ganesha akhirnya menutup dengan ucapan selamat malam yang nampak dingin.&#xA;&#xA;-------------------------------------------------------------&#xA;&#xA;Bandung, 2014.&#xA;&#xA;Cahya berumur 15 tahun, tingginya sudah menyentuh 178 sentimeter. Masuk ke jenjang sekolah menengah atas dengan jalur prestasi, membuat orang berasumsi bahwa ia adalah atlet basket. Padahal kenyataannya ia merupakan atlet renang kebanggaan sekolah menengah pertamanya.&#xA;&#xA;Sebenarnya ia memutuskan untuk pensiun dari dunia olahraga, tapi demi untuk masuk sekolah idamannya, ia masih terus berusaha. Begitulah, ia menjadi siswa MIPA-2 di salah satu sekolah negeri dan mengikuti segala tetek bengek masa orientasi.&#xA;&#xA;Ya dan di situ pula, ia pertama kali mengenali Ganesha yang tidak kalah tinggi. Cahya memiliki kesan Ganesha adalah orang yang sangat keren. Hampir teman seangkatannya sepertinya menyukai pesona si bungsu Purusha yang tidak goyah atas sindiran senior di masa orientasi.&#xA;&#xA;Ganesha hampir menentang ucapan tak masuk akal senior, tanpa takut. Seperti kejadian ketika salah satu teman sekelasnya disuruh untuk merobek hasil kerja yang lain, Ganesha lah yang ada di sana.&#xA;&#xA;&#34;Menurut Aa dan Teteh, apakah kegiatan seperti ini masuk akal?&#34; tanya Ganesha, setelah diberi izin untuk berbicara. Nadanya terlalu datar, seolah ia bertanya hal kecil tak menyinggung, &#34;Apakah menurut kalian memberi tekanan mental seperti itu bagus? Kalian suka melihat orang lain tertekan?&#34;&#xA;&#xA;Masih teringat oleh Cahya, sang senior lelaki menjawab dengan lantang dan tegas, tapi hal itu tidak membuat Ganesha bergidik ngeri di tempat, &#34;Tidak, kalau kalian nanti sudah belajar di kelas, akan lebih banyak lagi hal yang tidak terduga. Apalagi dunia kerja, kalau bos kalian menyuruh seperti ini, kalian mau gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lawan.&#34; Ganesha membalas, &#34;Hidup itu pilihan, &#39;A. Dunia kerja memang keras, tapi yang kami hadapi itu kerasnya dunia pendidikan, bukan dunia kerja. Masih ada rentang waktu untuk kami terus tumbuh, kalau kalian saja tidak memberi ruang, bagaimana kami bisa bergerak?&#34;&#xA;&#xA;Ucapan Ganesha membuat yang lain terkesima, tak terkecuali untuk Cahya. Ucapan Ganesha ini seperti orang yang rajin keluar-masuk mesjid, mendengarkan dakwah. Terlalu rumit untuk dimengerti, tapi itulah dia ... berdebat tanpa henti, hingga waktu istirahat menjemput dan dirinya jadi bahan omongan di keesokan harinya.&#xA;&#xA;Oh, Ganesha yang lawan senior ya?&#xA;Gebuk aja, bego, paling juga ciut.&#xA;Gila, Ganesha keren banget.&#xA;Dia yang Bapaknya punya perusahaan itu bukan sih?&#xA;Anak orang kaya bebas ya?&#xA;&#xA;Banyak sekali celoteh orang sana sini. Sosok Ganesha itu tuai banyak misteri, kepribadiannya mudah ditebak satu sisi, tapi di lain waktu bisa sangat sulit. Seperti, tetiba ia bolos pelajar Fisika, tahu-tahu ulangannya sempurna. Atau seperti menjadi contekan anak-anak untuk seluruh LKS Biologi, tapi ia juga yang dapat B di rapor.&#xA;&#xA;Ada hal-hal aneh lainnya, di semester ganjil kelas 10 semua mulus. Cahya merasa dirinya tidak dekat dengan sosok Ganesha yang asyik di kursi belakang dengan laptopnya, stik PS ada di tangan. Bersama teman-teman yang sama gilanya soal permainan di sana. Sedangkan Cahya adalah yang hobinya nongkrong di kantin atau lebih suka kegiatan fisik dengan bermain bola di lapangan tengah sekolah. &#xA;&#xA;Keduanya memang jarang bersinggungan selain tugas sekolah yang menyebabkan mereka harus sekelompok. &#xA;&#xA;Tidak ketika jarak itu menipis. &#xA;&#xA;Mereka berdua menjadi teman sebangku di semester genap di kelas 10.&#xA;&#xA;Semuanya itu lancar. Cahya sebisa mungkin berperilaku baik, sama seperti teman-temannya yang lain. Ganesha sesekali mengajaknya berbicara, normal, semua normal. Hingga hari kejadian itu datang.&#xA;&#xA;Kelas boleh sedang kosong, tapi tidak dibiarkan oleh guru-guru yang tengah rapat terkesang lowong. Diberikannya LKS Fisika bejibun yang direspon dengan gerutu dan keluh kesah anak-anak kelas MIPA 2. Ganesha menyelesaikannya dengan cepat, entah mengapa. &#xA;&#xA;&#34;Kamu mau lihat?&#34; Masih teringat Cahya, Ganesha menyandar pada bangkunya sambil menggeser LKS miliknya ke arah Cahya yang masih memutar-mutar rumus.&#xA;&#xA;&#34;Ini benar semua?&#34; canda Cahya menerima apa yang disodorkan padanya, netranya tak melirik Ganesha yang mengangkat bahu. Sibuk melihat dan menyalin jawaban, walau memang si putra Chitrabhanu itu tak yakin pada jawaban Ganesha.&#xA;&#xA;Hening sempat terjadi, sebelum Ganesha sedikit berucap, &#34;Lu ... &#34;&#xA;&#xA;Cahya menengok sebentar, sebelum melanjutkan kegiatannya. Ia hanya memberikan gestur pada Ganesha jika ia mendengar dan meminta lelaki yang satu itu untuk lanjutkan pembicaraannya.&#xA;&#xA;&#34; ... pacarnya Nadine bukan sih?&#34;&#xA;&#xA;Oh.&#xA;&#xA;Cahya mengangguk menjawab pertanyaan Ganesha.&#xA;&#xA;Nadine adalah kekasihnya semenjak bangku SMP. Gadis itu penghuni kelas IPS, berbeda dengan ia yang anak Ilmu Alam. Nadine ... ya, lalu ada hubungan apa dengan Ganesha?&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; Tanpa hentikan gerakan pulpen yang ada dalam genggaman, Cahya beri tanya sebab ia penasaran. Ada apa gerangan Ganesha bertanya, sempat terpikir Ganesha menyukai sosok Nadine─siapa yang tidak suka dengan gadis itu? Cantik dan pintar, semua orang iri dan mengutuki Cahya karena ia mengencani Nadine. &#xA;&#xA;&#34;Gak apa, tapi ... &#34; Ganesha menggigit dinding dalam mulutnya, seperti sedang mencari kata yang tepat untuk melanjutkan ucapannya, &#34; ... tapi, gua saranin lu mending putus.&#34;&#xA;&#xA;Akhirnya, Cahya menyerah tidak memberikan atensi pada Ganesha. Ia menaruh pulpennya di atas meja dengan sedikit keras, menyebabkan bunyi yang sempat jadikan atensi yang lain.&#xA;&#xA;&#34;Maksudnya? Lu suka sama Nadine?&#34; &#xA;&#xA;Ganesha sempat terdiam, pertanyaan Cahya buat Ganesha tertawa hampir kehabisan napas, &#34;Gua? Nadine? Bercanda saja lu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus? Terus apa-apaan lu tetiba nyuruh gua putus?&#34; Kalau LKS Fisika di hadapannya tidak berharga untuk nilainya, sudah ia acak-acak. Ah, tabiat Cahya yang mudah marah jika itu mengusiknya─sangat.&#xA;&#xA;&#34;Lu pacar Nadine, lu harusnya tahu apa yang dia lakuin, bukan?&#34; Ganesha bertanya tanpa maksud buruk, hanya saja Cahya tidak suka bagaimana Ganesha memandang Nadine seolah kekasihnya melakukan sesuatu yang buruk. &#xA;&#xA;Tapi dalam hati ... Cahya tahu apa yang dimaksud Ganesha.&#xA;&#xA;&#34;Enggak, gua gak tahu.&#34; Tangannya mengepal kuat dia atas meja.&#xA;&#xA;&#34;Gua kasih tahu ya ... &#34; Ganesha mengubah posisi duduknya, hingga satu kaki berada di atas kursi yang didudukinya, postur tubuhnya diarahkan ke arah Cahya yang hanya memutar kepalanya,  &#34; ... lu tahu, tapi berhenti denial.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa lu ngatur urusan gua pacaran sama siapa? Nadine tuh anak baik-baik. Gua aja baru kenal lu kurang dari setahun. Ya ngapain gua harus percaya sama lu?&#34; &#xA;&#xA;Wajah Ganesha beri sesuatu yang Cahya tidak mengerti, seolah menyerah untuk melanjutkan debatnya. Hanya kemudian, lelaki itu beri tawa─terbahak, hingga lupa banyak pasang mata yang memperhatikan kedua jangkung yang nampak sengit beranggar lidah.&#xA;&#xA;Bisik terdengar, Ganesha kenapa lagi?&#xA;&#xA;Orang-orang dapat memperhatikan air muka Cahya sangatlah tidak baik saat ituㅡsangat jelas. Menahan amarah, tangan terkepal sudah, keringat basahi leher belakangnya, dan bibir terulum rapat.&#xA;&#xA;Ganesha membenarkan posisi duduknya kembali menghadap depan, menusuk pandang pada papan tulis kaca kotor yang kosong. Tangan kiri digunakan untuk menopang dagu, jemari mengetuk permukaan bibirnya. Seolah berpikir dan Cahya kepalang berprasangka buruk, menantikan apa lagi yang keluar dari bibir kawan sebangkunya.&#xA;&#xA;&#34;Gak jadi deh ... &#34; Ganesha menjeda, gelengkan kepala.&#xA;&#xA;&#34;Apaan gak usah nanggung-nanggung.&#34; Geram sudahlah Cahya, ia tidak suka pernyataan menggantung dan memilih baku hantam benar terjadi.&#xA;&#xA;&#34;Ayolah, Cahya, apa perlu gua sebut Nadine itu simpanan─&#34;&#xA;&#xA;BRAK.&#xA;&#xA;Cahya menarik kerah kemeja Ganesha, keduanya berdiri di antara kawan-kawan yang tengah duduk, teralihkan dari kertas dan rumitnya rumus Fisika. &#xA;&#xA;&#34;Ucapin sekali lagi, Nesh!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Santai,&#34; ucap Ganesha, menepis tangan yang mengerat dan mengerutkan kemejanya (walau pakaiannya memang sudah melanggar aturan sekolah dari awal).&#xA;&#xA;&#34;Apa perlu gua umumin ke satu sekolahan juga?&#34; Seringai muncul pada roman Ganesha, memang peran teman yang jahat sangat dinikmati si wira yang satu ini─masih tenang menghadapi lawannya, dibandingkan Cahya yang sudah mengepul, kepanasan dengar ucapan Ganesha yang seharusnya bisa saja ia tidak indahkan.&#xA;&#xA;Turunkan tangan dan mengembalikannya ke kedua sisinya, Cahya hanya menunduk dan menarik napas panjang-panjang─Ia harus mencari cara, apa pun itu untuk menutup mulut Ganesha.&#xA;&#xA;Ganesha menepuk pundak kanan sang pemuda Chitrabhanu berkali-kali, tidak memberikan ketenangan hanya menambah beban tak nampak pada Cahya. Ia berbisik, &#34;Cinta memang buta, tapi jangan sampai membuat diri lu goblok lah.&#34;&#xA;&#xA;Sebelum Cahya bisa melayangkan tinju, Ganesha sudah mengaitkan tas hitamnya di pundak. Tangan yang satu ia gunakan untuk menggenggam LKS-nya, mengumpulkan di meja guru dan bergegas pergi. Padahal bel sekolah saja belum sama sekali berbunyi.&#xA;&#xA;Cahya mengerjap, tak dapat memproses banyak hal. Ia hampir merobek LKS-nya sendiri menjadi dua, sebelum akhirnya ia juga menyusul Ganesha bertepatan dengan bel sekolah yang berbunyi.&#xA;&#xA;───────── Bersambung.&#xA;&#xA;--------------------------------------------------------&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="cahya-memutar-waktu" id="cahya-memutar-waktu">CAHYA : MEMUTAR WAKTU</h2>

<p>Cahya tidak pernah tahu, takdir apa yang bisa membuatnya bertemu dengan Ganesha setelah masa sekolah menengah atasnya. Yang ia tahu dari grup kelas dan angkatan, Ganesha tidak melanjutkan kuliahnya. Lebih tepatnya, setelah gagal SNMPTN dan juga SBMPTN, Ganesha tidak menginginkan gelar setelahnya. Cahya berpikir, mungkin lelaki Purusha itu terlalu banyak uang─mengakibatkan ia bisa berleha-leha, toh, perusahaan yang dimiliki orang tuanya bisa saja jatuh kepadanya kapan saja.</p>

<p>Cahya terlalu banyak berasumsi. Itulah yang menyebabkannya ia juga membenci Ganesha selama tiga tahun penuh dan kembali lagi harus bertemu di lingkar pertemanan yang sama. Ganesha berada di antara anak kampusnya, seolah ia memang akrab dengan siapa saja. Padahal jika ia jujur, Ganesha tidak begitu banyak teman semasa SMA-nya, orang hampir selalu lupakan presensi lelaki yang tidak kalah tinggi dengannya. Ganesha selalu terlihat sibuk dengan ponselnya, kadang kalau bolos pun, tak ada satu orang pun yang tahu kemana ia pergi. Ke kamar mandi? Tidak. Tempat anak-anak bersembunyi untuk merokok? Tidak juga. UKS? Apalagi.</p>

<p>Ganesha meninggalkan banyak misteri bagi Cahya, sayangnya, hal itu tertutup oleh perasaan tidak sukanya. Ia tidak pernah sedendam ini pada orang, baru kali ini ia selalu memiliki keinginan untuk mengatakan hal buruk kepada orang lain.</p>

<p>Cahya merebahkan diri setelah dapati sebuah pesan dari Ganesha untuk menanyakan dirinya yang telah sampai di kosan atau belum. Berakhir bertengkar lagi, walau Ganesha akhirnya menutup dengan ucapan <em>selamat malam</em> yang nampak dingin.</p>

<hr/>

<p><strong>Bandung, 2014.</strong></p>

<p>Cahya berumur 15 tahun, tingginya sudah menyentuh 178 sentimeter. Masuk ke jenjang sekolah menengah atas dengan jalur prestasi, membuat orang berasumsi bahwa ia adalah atlet basket. Padahal kenyataannya ia merupakan atlet renang kebanggaan sekolah menengah pertamanya.</p>

<p>Sebenarnya ia memutuskan untuk pensiun dari dunia olahraga, tapi demi untuk masuk sekolah idamannya, ia masih terus berusaha. Begitulah, ia menjadi siswa MIPA-2 di salah satu sekolah negeri dan mengikuti segala tetek bengek masa orientasi.</p>

<p>Ya dan di situ pula, ia pertama kali mengenali Ganesha yang tidak kalah tinggi. Cahya memiliki kesan Ganesha adalah orang yang sangat keren. Hampir teman seangkatannya sepertinya menyukai pesona si bungsu Purusha yang tidak goyah atas sindiran senior di masa orientasi.</p>

<p>Ganesha hampir menentang ucapan tak masuk akal senior, tanpa takut. Seperti kejadian ketika salah satu teman sekelasnya disuruh untuk merobek hasil kerja yang lain, Ganesha lah yang ada di sana.</p>

<p>“Menurut Aa dan Teteh, apakah kegiatan seperti ini masuk akal?” tanya Ganesha, setelah diberi izin untuk berbicara. Nadanya terlalu datar, seolah ia bertanya hal kecil tak menyinggung, “Apakah menurut kalian memberi tekanan mental seperti itu bagus? Kalian suka melihat orang lain tertekan?”</p>

<p>Masih teringat oleh Cahya, sang senior lelaki menjawab dengan lantang dan tegas, tapi hal itu tidak membuat Ganesha bergidik ngeri di tempat, “Tidak, kalau kalian nanti sudah belajar di kelas, akan lebih banyak lagi hal yang tidak terduga. Apalagi dunia kerja, kalau bos kalian menyuruh seperti ini, kalian mau gimana?”</p>

<p>“Lawan.” Ganesha membalas, “Hidup itu pilihan, &#39;A. Dunia kerja memang keras, tapi yang kami hadapi itu kerasnya dunia pendidikan, bukan dunia kerja. Masih ada rentang waktu untuk kami terus tumbuh, kalau kalian saja tidak memberi ruang, bagaimana kami bisa bergerak?”</p>

<p>Ucapan Ganesha membuat yang lain terkesima, tak terkecuali untuk Cahya. Ucapan Ganesha ini seperti orang yang rajin keluar-masuk mesjid, mendengarkan dakwah. Terlalu rumit untuk dimengerti, tapi itulah dia ... berdebat tanpa henti, hingga waktu istirahat menjemput dan dirinya jadi bahan omongan di keesokan harinya.</p>

<p><em>Oh, Ganesha yang lawan senior ya?</em>
<em>Gebuk aja, bego, paling juga ciut.</em>
<em>Gila, Ganesha keren banget.</em>
<em>Dia yang Bapaknya punya perusahaan itu bukan sih?</em>
<em>Anak orang kaya bebas ya?</em></p>

<p>Banyak sekali celoteh orang sana sini. Sosok Ganesha itu tuai banyak misteri, kepribadiannya mudah ditebak satu sisi, tapi di lain waktu bisa sangat sulit. Seperti, tetiba ia bolos pelajar Fisika, tahu-tahu ulangannya sempurna. Atau seperti menjadi contekan anak-anak untuk seluruh LKS Biologi, tapi ia juga yang dapat B di rapor.</p>

<p>Ada hal-hal aneh lainnya, di semester ganjil kelas 10 semua mulus. Cahya merasa dirinya tidak dekat dengan sosok Ganesha yang asyik di kursi belakang dengan laptopnya, stik PS ada di tangan. Bersama teman-teman yang sama gilanya soal permainan di sana. Sedangkan Cahya adalah yang hobinya nongkrong di kantin atau lebih suka kegiatan fisik dengan bermain bola di lapangan tengah sekolah.</p>

<p>Keduanya memang jarang bersinggungan selain tugas sekolah yang menyebabkan mereka harus sekelompok.</p>

<p>Tidak ketika jarak itu menipis.</p>

<p>Mereka berdua menjadi teman sebangku di semester genap di kelas 10.</p>

<p>Semuanya itu lancar. Cahya sebisa mungkin berperilaku baik, sama seperti teman-temannya yang lain. Ganesha sesekali mengajaknya berbicara, normal, semua normal. Hingga hari kejadian <em>itu</em> datang.</p>

<p>Kelas boleh sedang kosong, tapi tidak dibiarkan oleh guru-guru yang tengah rapat terkesang lowong. Diberikannya LKS Fisika bejibun yang direspon dengan gerutu dan keluh kesah anak-anak kelas MIPA 2. Ganesha menyelesaikannya dengan cepat, entah mengapa.</p>

<p>“Kamu mau lihat?” Masih teringat Cahya, Ganesha menyandar pada bangkunya sambil menggeser LKS miliknya ke arah Cahya yang masih memutar-mutar rumus.</p>

<p>“Ini benar semua?” canda Cahya menerima apa yang disodorkan padanya, netranya tak melirik Ganesha yang mengangkat bahu. Sibuk melihat dan menyalin jawaban, walau memang si putra Chitrabhanu itu tak yakin pada jawaban Ganesha.</p>

<p>Hening sempat terjadi, sebelum Ganesha sedikit berucap, “Lu ... “</p>

<p>Cahya menengok sebentar, sebelum melanjutkan kegiatannya. Ia hanya memberikan gestur pada Ganesha jika ia mendengar dan meminta lelaki yang satu itu untuk lanjutkan pembicaraannya.</p>

<p>” ... pacarnya Nadine bukan sih?”</p>

<p><em>Oh.</em></p>

<p>Cahya mengangguk menjawab pertanyaan Ganesha.</p>

<p>Nadine adalah kekasihnya semenjak bangku SMP. Gadis itu penghuni kelas IPS, berbeda dengan ia yang anak Ilmu Alam. Nadine ... ya, lalu ada hubungan apa dengan Ganesha?</p>

<p>“Kenapa?” Tanpa hentikan gerakan pulpen yang ada dalam genggaman, Cahya beri tanya sebab ia penasaran. Ada apa gerangan Ganesha bertanya, sempat terpikir Ganesha menyukai sosok Nadine─siapa yang tidak suka dengan gadis itu? Cantik dan pintar, semua orang iri dan mengutuki Cahya karena ia mengencani Nadine.</p>

<p>“Gak apa, tapi ... ” Ganesha menggigit dinding dalam mulutnya, seperti sedang mencari kata yang tepat untuk melanjutkan ucapannya, “ ... tapi, gua saranin lu mending putus.”</p>

<p>Akhirnya, Cahya menyerah tidak memberikan atensi pada Ganesha. Ia menaruh pulpennya di atas meja dengan sedikit keras, menyebabkan bunyi yang sempat jadikan atensi yang lain.</p>

<p>“Maksudnya? Lu suka sama Nadine?”</p>

<p>Ganesha sempat terdiam, pertanyaan Cahya buat Ganesha tertawa hampir kehabisan napas, “Gua? Nadine? Bercanda saja lu.”</p>

<p>“Terus? Terus apa-apaan lu tetiba nyuruh gua putus?” Kalau LKS Fisika di hadapannya tidak berharga untuk nilainya, sudah ia acak-acak. Ah, tabiat Cahya yang mudah marah jika itu mengusiknya─sangat.</p>

<p>“Lu pacar Nadine, lu harusnya tahu apa yang dia lakuin, bukan?” Ganesha bertanya tanpa maksud buruk, hanya saja Cahya tidak suka bagaimana Ganesha memandang Nadine seolah kekasihnya melakukan sesuatu yang buruk.</p>

<p><em>Tapi dalam hati ... Cahya tahu apa yang dimaksud Ganesha.</em></p>

<p>“Enggak, gua gak tahu.” Tangannya mengepal kuat dia atas meja.</p>

<p>“Gua kasih tahu ya ... ” Ganesha mengubah posisi duduknya, hingga satu kaki berada di atas kursi yang didudukinya, postur tubuhnya diarahkan ke arah Cahya yang hanya memutar kepalanya,  “ ... lu tahu, tapi berhenti denial.”</p>

<p>“Kenapa lu ngatur urusan gua pacaran sama siapa? Nadine tuh anak baik-baik. Gua aja baru kenal lu kurang dari setahun. Ya ngapain gua harus percaya sama lu?”</p>

<p>Wajah Ganesha beri sesuatu yang Cahya tidak mengerti, seolah menyerah untuk melanjutkan debatnya. Hanya kemudian, lelaki itu beri tawa─terbahak, hingga lupa banyak pasang mata yang memperhatikan kedua jangkung yang nampak sengit beranggar lidah.</p>

<p>Bisik terdengar, <em>Ganesha kenapa lagi?</em></p>

<p>Orang-orang dapat memperhatikan air muka Cahya sangatlah tidak baik saat ituㅡsangat jelas. Menahan amarah, tangan terkepal sudah, keringat basahi leher belakangnya, dan bibir terulum rapat.</p>

<p>Ganesha membenarkan posisi duduknya kembali menghadap depan, menusuk pandang pada papan tulis kaca kotor yang kosong. Tangan kiri digunakan untuk menopang dagu, jemari mengetuk permukaan bibirnya. Seolah berpikir dan Cahya kepalang berprasangka buruk, menantikan apa lagi yang keluar dari bibir kawan sebangkunya.</p>

<p>“Gak jadi deh ... ” Ganesha menjeda, gelengkan kepala.</p>

<p>“Apaan gak usah nanggung-nanggung.” Geram sudahlah Cahya, ia tidak suka pernyataan menggantung dan memilih baku hantam benar terjadi.</p>

<p>“Ayolah, Cahya, apa perlu gua sebut Nadine itu simpanan─”</p>

<p><strong>BRAK.</strong></p>

<p>Cahya menarik kerah kemeja Ganesha, keduanya berdiri di antara kawan-kawan yang tengah duduk, teralihkan dari kertas dan rumitnya rumus Fisika.</p>

<p>“Ucapin sekali lagi, Nesh!”</p>

<p>“Santai,” ucap Ganesha, menepis tangan yang mengerat dan mengerutkan kemejanya (walau pakaiannya memang sudah melanggar aturan sekolah dari awal).</p>

<p>“Apa perlu gua umumin ke satu sekolahan juga?” Seringai muncul pada roman Ganesha, memang peran teman yang jahat sangat dinikmati si wira yang satu ini─masih tenang menghadapi lawannya, dibandingkan Cahya yang sudah mengepul, kepanasan dengar ucapan Ganesha yang seharusnya bisa saja ia tidak indahkan.</p>

<p>Turunkan tangan dan mengembalikannya ke kedua sisinya, Cahya hanya menunduk dan menarik napas panjang-panjang─Ia harus mencari cara, apa pun itu untuk menutup mulut Ganesha.</p>

<p>Ganesha menepuk pundak kanan sang pemuda Chitrabhanu berkali-kali, tidak memberikan ketenangan hanya menambah beban tak nampak pada Cahya. Ia berbisik, “Cinta memang buta, tapi jangan sampai membuat diri lu goblok lah.”</p>

<p>Sebelum Cahya bisa melayangkan tinju, Ganesha sudah mengaitkan tas hitamnya di pundak. Tangan yang satu ia gunakan untuk menggenggam LKS-nya, mengumpulkan di meja guru dan bergegas pergi. Padahal bel sekolah saja belum sama sekali berbunyi.</p>

<p>Cahya mengerjap, tak dapat memproses banyak hal. Ia hampir merobek LKS-nya sendiri menjadi dua, sebelum akhirnya ia juga menyusul Ganesha bertepatan dengan bel sekolah yang berbunyi.</p>

<p>───────── Bersambung.</p>

<hr/>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kultusan.writeas.com/cahya-memutar-waktu</guid>
      <pubDate>Wed, 30 Dec 2020 16:18:42 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>