Cintaku Bertepuk Harap yang Tak Ada.
Part of random-drabble. SeongJoong, one-sided love!SH. Side MinJoong, MinJoong in relationship.
Kau di mana? Masih di studio?
Sebuah tanya ia berikan pada Hongjoong via pesan singkat. Seonghwa menghela napas ketika mendapati di ruang tidurnya, tidak ada sang sahabat yang merangkap sebagai teman sekamarnya. Sedangkan, penghuni apartemen lain mungkin sudah tertidur.
Masih lama?
Ia menambah satu balon lagi dalam ruang obrolan mereka. Belum mendapatkan balasan, dibaca pun tidak. Resah membuat Seonghwa bolak-balik dari ruang tamu, kembali ke kamar mereka.
Aku jemput.
Dengan begitu, Seonghwa memakai jaketnya dan meluncur pergi. Apartemen mereka dengan studio kerja Hongjoong tidaklah jauh, mungkin beda beberapa blok. Jalanan sudah mulai sepi, ya, apa yang diharapkan dari pukul satu dini hari? Keramaian? Konvoi?
Semilir sejuk angin malam yang menembus tulangnya itu, tak dihiraukannya. Demi Hongjoong, seseorang yang ia sukai semenjak mereka pertama kali bertemu. Sudah tiga tahun, hebat juga, hebat juga Seonghwa menahannya selama ini.
Begitu sesampainya di gedung tinggi dengan cat kelabu yang sudah memudar, ia kembali memeriksa kembali gawai pintarnya. Jawab belum ia temukan. Tungkai dengan semangat ia bawa ke arah ruang studio Hongjoong yang sangat-sangat ia hapal letaknya di mana.
Di lantai dua, ruang paling ujung.
Pintunya terbuka, sebab ada lampu yang menyelip dari sela-sela. Si pemuda Park itu dapat melihatnya dari tangga yang sedang dinaikinya. Tanpa mengetuk, seperti biasanya, ia membuka pintu studio.
“Hong─” Baru saja ia sempat memanggil, sudah disuguhi orang yang ia agung-agungkan itu mencium pria lain.
“Eh─sorry.” Seonghwa buru-buru keluar dari ruangan Hongjoong dan mematung di sebelah pintu yang masih terbuka.
Seonghwa tidak tahu siapa pria itu, rambut merah dan jangkung. Tak terpikirkan satu nama pun dalam benak. Menit berikutnya, Hongjoong keluar dan menutup pintunya. Berdiri dengan Seonghwa dalam hening.
“Sorry ... “ ucap Hongjoong, ” ... lu harus lihat itu.”
“Eh, kenapa jadi kamu yang minta maaf?” Terbata-bata Seonghwa membalas ucapan Hongoong.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Hongjoong yang kini mengambil posisi di depan Seonghwa, mencoba melihat air muka sahabatnya yang satu itu.
“Ah─” Seonghwa mencari kata-kata, “Aku khawatir, soalnya kamu gak balas chat-ku. Jadi niatnya mau jemput.”
Kakinya kerap menghentakkan kecil lantai yang dipijaknya, kedua tangannya dimasukkan dalam saku jaketnya. Seonghwa memasang senyum palsu, seolah semua baik-baik saja kepada Hongjoong. Hanya saja, lelaki itu hanya dapat mengusap lehernya dengan ragu.
“Oh, maaf soal itu. Santai kok, aku ditemani Mingi.”
“Mingi siapa?” Seonghwa dengan cepat memberi tanya, sebab tak tahan terbenam dalam asumsinya.
“Hehe, dia pacarku.” Jawaban dari Hongjoong, membuat senyum Seonghwa luntur sedetik, sebelum akhirnya Seonghwa kembali tersenyum.
“Oalah, kalau gitu maaf ganggu. Aku balik deh kalau gitu, gak enak ganggu.” Dipaksakannya ia tertawa. Hongjoong hanya mengangguk tanggapi Seonghwa.
“Dadah, hati-hati di jalan.” Hongjoong melambaikan tangan pada sosok Seonghwa yang sudah melangkah menjauh.
Seonghwa mengacungkan jempolnya, tanpa berbalik. Tak ingin melihat ekspresi yang diberikan Hongjoong.
“Seonghwa!” Tapi gagal, karena Hongjoong kerap memanggilnya, membuathnya harus berbalik badan.
“Maaf.” Tak ada senyum yang hadir dalam roman pemuda yang lebih muda darinya beberapa tahun, Seonghwa menggelengkan kepala dan melambaikan tangannya.
“Soal yang tadi? Sudah santai saja, balik gih pacaran.”
“Bukan!” Seonghwa mengernyit, “Intinya, aku minta maaf.”
Tidak tahu maksud maaf yang diberikan Hongjoong kala itu. Seonghwa tidak mempertanyakan lebih lanjut, hanya seulas senyum saja yang diberikannya dan kembali lanjutkan langkah untuk kembali ke apartemennya.
P. S. Jangan lupa sambil dengarkan lagu ini, C.H.R.I.S.Y.E.
Kau kehidupanku, meski kau tak tau ada aku di hidupmu. Yang kumau kau untukku, meskipun kau tak rindu.