'Cause I lost myself, when I lost you

Langit tak tampilkan bintang di cerahnya malam. Musim panas menyerang, membuat seorang Kim Hongjoong berbetah diri di studio mininya. Bersandar sofa satu-satunya dalam ruangan, Hongjoong berulang kali mencoba untuk tertidur.

Deadline telah tiba, tapi dalam otaknya tak pernah sedikit pun terputar musik yang telah dibuatnya. Melainkan kata-katanyalah yang masih terngiang dengan jelas, bagai kaset rusak yang tak punya tombol untuk berhenti.

“Maafkan aku, Hongjoong.”

Lelaki itu berkata malam itu, dalam hangatnya ruangan yang mereka tinggali berdua. Di luar sana salju turun dengan cantiknya, tapi tak sirna sudah ketika lelaki itu menangis dalam di hadapannya dengan tas yang mengait pada dua bahu tegapnya.

“Aku harus pergi.”

Saat itu Hongjoong hanya dapat bergeming, kedua tangan mengepal di sampingnya. DDalam benak, ia berharap dapat menahannya untuk pergi. Hanya saja, kata harus membuatnya ragu dalam pilihannya.

Listen, baby.

Ketika lelaki itu memiliki keinginan untuk pergi, masih sempatnya untuk memanggil dirinya dengan panggilan yang paling ia sayangi. Semua terasa sesak, memuakkan.

“Kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Lalu? Jika kita sudah melakukan yang terbaik, lantas mengapa kau harus pergi?

Hongjoong masih bertanya-tanya, di manakah letak salahnya? Apakah salah jika Hongjoong hanyalah sebuah produser lagu miskin yang hidup dalam bilik kesederhanaan?

Not that I don't love you.“ “I always do.

Jika memang kau mencintaku, lalu letak salahnya di mana?

Hongjoong bangkit dari posisinya, berpindah pada kursi di depan komputernya. Memperhatikan deretan bar musik yang Hongjoong dedikasikan kepadanya.

Hanya kepadanya

But, I just ... “ “ ... I love him too.

Saat itu Hongjoong hanya memperhatikan punggungnya yang kian menjauh. Tak berkata apa-apa, hanya air mata yang tak terbendung membasahi mata dan jua pipi. Tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki itu sehingga Hongjong harus mengikhlaskannya.

Mereka telah usai.

Menghela napas, tak ingin lagi ia menangisi pemuda yang telah membalikkan tubuh kepadanya. Acuh, tak memedulikan dirinya yang telah hilang bersamaan dengannya. Hongjoong jelas tak membencinya, sebuah kesimpulan mengapa ia membuatkan lagu untuknya.

Hongjoong mencoba memperhatikan semua sosial media yang dimilikinya, melihat-lihat kehidupan yang disebut bahagia.

Kehidupan yang diinginkan lelaki itu.

Kehidupan dengan lelaki mapan, kehidupan yang tak mempedulikan esok hari. Sesuatu yang Hongjoong tak bisa raih, perjalanannya masih panjang untuk mencapai kata sukses. Namun, jika memang kehidupan Hongjoong seperti kekasih baru lelaki itu ... apakah ia akan tetap bahagia?

Hongjoong berpindah ke kotak pesan elektroniknya, sebuah pesan muncul di posisi paling atas dengan namanya tertera pada bagian pengirim pesan.

From : Mingi Song (mingisong@xxxx.co.kr) To : You Subject : Wedding Invitation Message Hi, Hongjoong. Bagaimana kabarmu? Maafkan, jika aku tidak lagi mengabarimu. Sulit rasanya, sudah berapa bulan kita tidak bertemu? Mungkin setengah tahunkah? Aku ingin mengabarimu, jika aku akan menikah bulan depan. Calonku adalah Jeong Yunho, mungkin kau mengenalnya ketika kita sama-sama kuliah.

Joong. Maafkan aku jika aku pernah meninggalkanmu. Aku tahu aku mencintamu, selalu, tapi perasaanku padamu tidak sama seperti perasaanku pada Yunho. Aku minta maaf, jika tidak banyak berbicara. Aku berterima kasih kamu tidak menahanku untuk pergi. Aku bersyukur.

Joong. Maafkan aku jika tidak memahamimu. Tapi, mungkin kita bisa membicarakan ini kalau ada waktu.

Aku menunggu balasanmu. attached file

Napasnya tertahan, dadanya terasa sakit setelah selesai membacanya. Gemetar hebat kedua tangannya di atas papan ketik. Menarik napas, sebelum mengeluarkannya berulang kali. Menggunakan punggung tangan untuk mengusap tangisannya.

Apakah aku harus membalas ini?

From : You To : Mingi Song (mingisong@xxxx.co.kr) Subject : Re-Wedding Invitation Message Mingi, terima kasih sudah menghubungiku. Aku akan datang. Terima kasih telah mengundangku, aku berterima kasih karena kamu masih mengingatku.

Hanya saja biarkan aku membicarakan ini. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan saat itu. Apakah ada yang kurang dariku? Aku kerap bertanya, jika ada, tolong katakan. Aku tidak akan pernah marah, kalau saja kau membicarakannya baik-baik denganku. Aku tahu, aku kurang dari segala sisi, tapi ... bukankah aku tahu sesuatu. Kau membiarkan aku tenggelam dalam tanya hingga saat ini.

Bukan aku tidak merelakanmu pergi. Mengingatkan saja, kita ini sudah dewasa, Mingi. Kita menjalin hubungan semenjak kita SMA. Bukanlah waktu yang lama untuk melupakan sebuah hubungan yang terjalin selama itu. Mingi, pernahkah aku marah ketika kita masih remaja, saat masih labil dan penuh kenaifan? Pernahkah aku menyalahkan semua yang terjadi kepada kita padamu?

Mingi, jika memang pertemuan kita memang untuk membicarakan ini. Aku akan menyetujuinya. Hubungi aku jika kau senggang.

Hongjoong segera mengirimkan pesan itu, tanpa melihat apakah ada kesalahan dalam pengetikan ...

... dan malam itu Mingi menelponnya.