CAHYA : MEMUTAR WAKTU
Cahya tidak pernah tahu, takdir apa yang bisa membuatnya bertemu dengan Ganesha setelah masa sekolah menengah atasnya. Yang ia tahu dari grup kelas dan angkatan, Ganesha tidak melanjutkan kuliahnya. Lebih tepatnya, setelah gagal SNMPTN dan juga SBMPTN, Ganesha tidak menginginkan gelar setelahnya. Cahya berpikir, mungkin lelaki Purusha itu terlalu banyak uang─mengakibatkan ia bisa berleha-leha, toh, perusahaan yang dimiliki orang tuanya bisa saja jatuh kepadanya kapan saja.
Cahya terlalu banyak berasumsi. Itulah yang menyebabkannya ia juga membenci Ganesha selama tiga tahun penuh dan kembali lagi harus bertemu di lingkar pertemanan yang sama. Ganesha berada di antara anak kampusnya, seolah ia memang akrab dengan siapa saja. Padahal jika ia jujur, Ganesha tidak begitu banyak teman semasa SMA-nya, orang hampir selalu lupakan presensi lelaki yang tidak kalah tinggi dengannya. Ganesha selalu terlihat sibuk dengan ponselnya, kadang kalau bolos pun, tak ada satu orang pun yang tahu kemana ia pergi. Ke kamar mandi? Tidak. Tempat anak-anak bersembunyi untuk merokok? Tidak juga. UKS? Apalagi.
Ganesha meninggalkan banyak misteri bagi Cahya, sayangnya, hal itu tertutup oleh perasaan tidak sukanya. Ia tidak pernah sedendam ini pada orang, baru kali ini ia selalu memiliki keinginan untuk mengatakan hal buruk kepada orang lain.
Cahya merebahkan diri setelah dapati sebuah pesan dari Ganesha untuk menanyakan dirinya yang telah sampai di kosan atau belum. Berakhir bertengkar lagi, walau Ganesha akhirnya menutup dengan ucapan selamat malam yang nampak dingin.
Bandung, 2014.
Cahya berumur 15 tahun, tingginya sudah menyentuh 178 sentimeter. Masuk ke jenjang sekolah menengah atas dengan jalur prestasi, membuat orang berasumsi bahwa ia adalah atlet basket. Padahal kenyataannya ia merupakan atlet renang kebanggaan sekolah menengah pertamanya.
Sebenarnya ia memutuskan untuk pensiun dari dunia olahraga, tapi demi untuk masuk sekolah idamannya, ia masih terus berusaha. Begitulah, ia menjadi siswa MIPA-2 di salah satu sekolah negeri dan mengikuti segala tetek bengek masa orientasi.
Ya dan di situ pula, ia pertama kali mengenali Ganesha yang tidak kalah tinggi. Cahya memiliki kesan Ganesha adalah orang yang sangat keren. Hampir teman seangkatannya sepertinya menyukai pesona si bungsu Purusha yang tidak goyah atas sindiran senior di masa orientasi.
Ganesha hampir menentang ucapan tak masuk akal senior, tanpa takut. Seperti kejadian ketika salah satu teman sekelasnya disuruh untuk merobek hasil kerja yang lain, Ganesha lah yang ada di sana.
“Menurut Aa dan Teteh, apakah kegiatan seperti ini masuk akal?” tanya Ganesha, setelah diberi izin untuk berbicara. Nadanya terlalu datar, seolah ia bertanya hal kecil tak menyinggung, “Apakah menurut kalian memberi tekanan mental seperti itu bagus? Kalian suka melihat orang lain tertekan?”
Masih teringat oleh Cahya, sang senior lelaki menjawab dengan lantang dan tegas, tapi hal itu tidak membuat Ganesha bergidik ngeri di tempat, “Tidak, kalau kalian nanti sudah belajar di kelas, akan lebih banyak lagi hal yang tidak terduga. Apalagi dunia kerja, kalau bos kalian menyuruh seperti ini, kalian mau gimana?”
“Lawan.” Ganesha membalas, “Hidup itu pilihan, 'A. Dunia kerja memang keras, tapi yang kami hadapi itu kerasnya dunia pendidikan, bukan dunia kerja. Masih ada rentang waktu untuk kami terus tumbuh, kalau kalian saja tidak memberi ruang, bagaimana kami bisa bergerak?”
Ucapan Ganesha membuat yang lain terkesima, tak terkecuali untuk Cahya. Ucapan Ganesha ini seperti orang yang rajin keluar-masuk mesjid, mendengarkan dakwah. Terlalu rumit untuk dimengerti, tapi itulah dia ... berdebat tanpa henti, hingga waktu istirahat menjemput dan dirinya jadi bahan omongan di keesokan harinya.
Oh, Ganesha yang lawan senior ya? Gebuk aja, bego, paling juga ciut. Gila, Ganesha keren banget. Dia yang Bapaknya punya perusahaan itu bukan sih? Anak orang kaya bebas ya?
Banyak sekali celoteh orang sana sini. Sosok Ganesha itu tuai banyak misteri, kepribadiannya mudah ditebak satu sisi, tapi di lain waktu bisa sangat sulit. Seperti, tetiba ia bolos pelajar Fisika, tahu-tahu ulangannya sempurna. Atau seperti menjadi contekan anak-anak untuk seluruh LKS Biologi, tapi ia juga yang dapat B di rapor.
Ada hal-hal aneh lainnya, di semester ganjil kelas 10 semua mulus. Cahya merasa dirinya tidak dekat dengan sosok Ganesha yang asyik di kursi belakang dengan laptopnya, stik PS ada di tangan. Bersama teman-teman yang sama gilanya soal permainan di sana. Sedangkan Cahya adalah yang hobinya nongkrong di kantin atau lebih suka kegiatan fisik dengan bermain bola di lapangan tengah sekolah.
Keduanya memang jarang bersinggungan selain tugas sekolah yang menyebabkan mereka harus sekelompok.
Tidak ketika jarak itu menipis.
Mereka berdua menjadi teman sebangku di semester genap di kelas 10.
Semuanya itu lancar. Cahya sebisa mungkin berperilaku baik, sama seperti teman-temannya yang lain. Ganesha sesekali mengajaknya berbicara, normal, semua normal. Hingga hari kejadian itu datang.
Kelas boleh sedang kosong, tapi tidak dibiarkan oleh guru-guru yang tengah rapat terkesang lowong. Diberikannya LKS Fisika bejibun yang direspon dengan gerutu dan keluh kesah anak-anak kelas MIPA 2. Ganesha menyelesaikannya dengan cepat, entah mengapa.
“Kamu mau lihat?” Masih teringat Cahya, Ganesha menyandar pada bangkunya sambil menggeser LKS miliknya ke arah Cahya yang masih memutar-mutar rumus.
“Ini benar semua?” canda Cahya menerima apa yang disodorkan padanya, netranya tak melirik Ganesha yang mengangkat bahu. Sibuk melihat dan menyalin jawaban, walau memang si putra Chitrabhanu itu tak yakin pada jawaban Ganesha.
Hening sempat terjadi, sebelum Ganesha sedikit berucap, “Lu ... “
Cahya menengok sebentar, sebelum melanjutkan kegiatannya. Ia hanya memberikan gestur pada Ganesha jika ia mendengar dan meminta lelaki yang satu itu untuk lanjutkan pembicaraannya.
” ... pacarnya Nadine bukan sih?”
Oh.
Cahya mengangguk menjawab pertanyaan Ganesha.
Nadine adalah kekasihnya semenjak bangku SMP. Gadis itu penghuni kelas IPS, berbeda dengan ia yang anak Ilmu Alam. Nadine ... ya, lalu ada hubungan apa dengan Ganesha?
“Kenapa?” Tanpa hentikan gerakan pulpen yang ada dalam genggaman, Cahya beri tanya sebab ia penasaran. Ada apa gerangan Ganesha bertanya, sempat terpikir Ganesha menyukai sosok Nadine─siapa yang tidak suka dengan gadis itu? Cantik dan pintar, semua orang iri dan mengutuki Cahya karena ia mengencani Nadine.
“Gak apa, tapi ... ” Ganesha menggigit dinding dalam mulutnya, seperti sedang mencari kata yang tepat untuk melanjutkan ucapannya, “ ... tapi, gua saranin lu mending putus.”
Akhirnya, Cahya menyerah tidak memberikan atensi pada Ganesha. Ia menaruh pulpennya di atas meja dengan sedikit keras, menyebabkan bunyi yang sempat jadikan atensi yang lain.
“Maksudnya? Lu suka sama Nadine?”
Ganesha sempat terdiam, pertanyaan Cahya buat Ganesha tertawa hampir kehabisan napas, “Gua? Nadine? Bercanda saja lu.”
“Terus? Terus apa-apaan lu tetiba nyuruh gua putus?” Kalau LKS Fisika di hadapannya tidak berharga untuk nilainya, sudah ia acak-acak. Ah, tabiat Cahya yang mudah marah jika itu mengusiknya─sangat.
“Lu pacar Nadine, lu harusnya tahu apa yang dia lakuin, bukan?” Ganesha bertanya tanpa maksud buruk, hanya saja Cahya tidak suka bagaimana Ganesha memandang Nadine seolah kekasihnya melakukan sesuatu yang buruk.
Tapi dalam hati ... Cahya tahu apa yang dimaksud Ganesha.
“Enggak, gua gak tahu.” Tangannya mengepal kuat dia atas meja.
“Gua kasih tahu ya ... ” Ganesha mengubah posisi duduknya, hingga satu kaki berada di atas kursi yang didudukinya, postur tubuhnya diarahkan ke arah Cahya yang hanya memutar kepalanya, “ ... lu tahu, tapi berhenti denial.”
“Kenapa lu ngatur urusan gua pacaran sama siapa? Nadine tuh anak baik-baik. Gua aja baru kenal lu kurang dari setahun. Ya ngapain gua harus percaya sama lu?”
Wajah Ganesha beri sesuatu yang Cahya tidak mengerti, seolah menyerah untuk melanjutkan debatnya. Hanya kemudian, lelaki itu beri tawa─terbahak, hingga lupa banyak pasang mata yang memperhatikan kedua jangkung yang nampak sengit beranggar lidah.
Bisik terdengar, Ganesha kenapa lagi?
Orang-orang dapat memperhatikan air muka Cahya sangatlah tidak baik saat ituㅡsangat jelas. Menahan amarah, tangan terkepal sudah, keringat basahi leher belakangnya, dan bibir terulum rapat.
Ganesha membenarkan posisi duduknya kembali menghadap depan, menusuk pandang pada papan tulis kaca kotor yang kosong. Tangan kiri digunakan untuk menopang dagu, jemari mengetuk permukaan bibirnya. Seolah berpikir dan Cahya kepalang berprasangka buruk, menantikan apa lagi yang keluar dari bibir kawan sebangkunya.
“Gak jadi deh ... ” Ganesha menjeda, gelengkan kepala.
“Apaan gak usah nanggung-nanggung.” Geram sudahlah Cahya, ia tidak suka pernyataan menggantung dan memilih baku hantam benar terjadi.
“Ayolah, Cahya, apa perlu gua sebut Nadine itu simpanan─”
BRAK.
Cahya menarik kerah kemeja Ganesha, keduanya berdiri di antara kawan-kawan yang tengah duduk, teralihkan dari kertas dan rumitnya rumus Fisika.
“Ucapin sekali lagi, Nesh!”
“Santai,” ucap Ganesha, menepis tangan yang mengerat dan mengerutkan kemejanya (walau pakaiannya memang sudah melanggar aturan sekolah dari awal).
“Apa perlu gua umumin ke satu sekolahan juga?” Seringai muncul pada roman Ganesha, memang peran teman yang jahat sangat dinikmati si wira yang satu ini─masih tenang menghadapi lawannya, dibandingkan Cahya yang sudah mengepul, kepanasan dengar ucapan Ganesha yang seharusnya bisa saja ia tidak indahkan.
Turunkan tangan dan mengembalikannya ke kedua sisinya, Cahya hanya menunduk dan menarik napas panjang-panjang─Ia harus mencari cara, apa pun itu untuk menutup mulut Ganesha.
Ganesha menepuk pundak kanan sang pemuda Chitrabhanu berkali-kali, tidak memberikan ketenangan hanya menambah beban tak nampak pada Cahya. Ia berbisik, “Cinta memang buta, tapi jangan sampai membuat diri lu goblok lah.”
Sebelum Cahya bisa melayangkan tinju, Ganesha sudah mengaitkan tas hitamnya di pundak. Tangan yang satu ia gunakan untuk menggenggam LKS-nya, mengumpulkan di meja guru dan bergegas pergi. Padahal bel sekolah saja belum sama sekali berbunyi.
Cahya mengerjap, tak dapat memproses banyak hal. Ia hampir merobek LKS-nya sendiri menjadi dua, sebelum akhirnya ia juga menyusul Ganesha bertepatan dengan bel sekolah yang berbunyi.
───────── Bersambung.