But Were We Ever Meant To Be?
And though they could feel it then, It's not how they want to end.
Wooyoung tidak sekali pun menyesali pertemuannya dengan Jongho. Tanpa ragu, ketika Jongho menoreh tanya, lelaki Jung itu menjawab dengan mantap. Semua yang terjadi di kehidupan lalu, biarlah berlalu. Setidaknya mereka baik-baik saja, berpisah ketika mereka tahu memang sudah tiba saatnya.
Mereka memang sudah mempersiapkannya, tidak ada yang mereka tunggu selain perpisahan. Lambat atau cepat, kepastian akan kenyataan jika mereka tak lagi di jalan yang sama itu selalu ada. Baik Wooyoung dan Jongho, keduanya terlalu naif, terlalu memaksakan sesuatu yang memang tak perlu terjadi.
Mereka tahu konsekuensinya.
“To hold back each other's true fate is not of our nature. Let's be mature.“
Ketika Jongho mengecupnya terakhir kali dan tinggalkan tempat mereka tinggal bersama, hanya rasa ikhlas yang mendampinginya. Wooyoung tak pernah tahu, begitu besar dampak kehidupan seorang Choi Jongho baginya.
Benar, semua terasa sulit untuk melepaskan sesuatu yang erat dalam genggam. Hanya saja, Wooyoung tahu, hubungan mereka bukanlah sesuatu yang wajar di lingkungan. Yang lambat laun akan membahayakan kehidupan keduanya. Dan semua itu, bukan tempat mereka berdua untuk memaksakan dunia untuk mengubah takdir mereka.
“Jaga dirimu baik-baik.” Senyum simpul saja terasa begitu berat saat Jongho menarik kopernya keluar.
And this is the part. Where our whole lives collide.
Jongho tidak pernah menyangka dirinya memilih menjadi penyanyi solo sebagai karirnya untuk memfokuskan diri selepas Wooyoung dari kehidupannya. Melupakan Wooyoung adalah tugas yang paling sulit di dunia, tapi ia percaya, melupakan bukanlah jalan. Benar, kenangan tentang lelaki berambut ungu pudar itu biarlah tetap ada di sudut hatinya. Biarkan sosok itu ada di sana, menghangatkan dirinya, di kala kejamnya dunia.
Hidup bukankah memang selalu seperti itu? Ia menyemangati dirinya sendiri ketika pekerjaan menjadi publik figur bukanlah yang diidamkannya. Teringat bagaimana Wooyoung yang berdiri di sebelahnya, melompat-lompat kecil dengan bangga, “Pacarku adalah penyanyi dan gitaris yang hebat. Kau suatu saat pasti bisa jadi penyanyi terkenal.”
Benar.
Jongho lah yang mengabulkan kata-kata yang terdengar seperti doa itu, walau acapkali, doa itu tak indahkannya.
Maybe you weren't made for me nor I for you. But I'd be damn lying, if I think that that's true.
Jongho duduk terdiam di kedai makanan kesukaannya di pinggir kota, yang telah lama tak disinggahinya. Teringat, tempat itu masih sama seperti pertama kali ia mengajak Wooyoung berkencan. Mengajaknya makan siang dengan ramen hangat di dinginnya bulan Desember kala itu. Rasa yang kini dicicipinya pun tak jauh beda.
Sepi, pikirnya.
Memang tak banyak orang berlalulalang di dinginnya musim gugur. Dirinya tak pernah menyangka pula, ia menghabiskan waktu ulang tahunnya seorang diri. Biarlah, ia mengenang sedikit masa mudanya, masa-masa ketika ia menghabiskan waktu dengan orang yang lagi-lagi mangkir di kepalanya.
Bel kecil di atas pintu masuk menarik atensinya yang tengah menyeduh teh hangatnya. Gerakannya terhenti, ketika ia mengenali sosok yang baru saja datang. Pakaian yang serba kelabu, rambutnya gelap yang kian memudar, wajah yang jelas tak akan bisa ia lupakan.
Jung Wooyoung ada di sana, bersama seorang remaja yang Jongho perkiraan mungkin buah hatinya.
Keduanya saling menatap dan waktu seakan berhenti barang sesekon saja. Sebelum akhirnya, keduanya hanya memberi senyum tipis penuh arti.
Nobody's winning. In this tale of past and future love.
Ini jelas bukanlah sebuah perlombaan perihal siapa yang paling cepat melupakan satu sama lain. Jongho dan Wooyoung tidak pernah mencobanya atau memikirkannya. Ini bukan perihal siapakah yang sukses di kehidupan mereka, bukan siapa yang merebut cita-cita mereka paling cepat.
Bukan.
Karena mereka berdua tahu, ketika jalan keduanya berubah, tak lagi sevisi pula semisi, maka apapun destinasi mereka pun sudah bukan urusan satu sama lain. Yang mereka tahu, apapun jalan yang ditempuh sekarang, mereka saling ingat, jika ada satu sama lain di awal permulaannya. Itu lebih dari sekadar cukup bagi keduanya.
Tak ada dendam, tak ada lagi rasa meminta untuk lebih, berdoa pada Tuhan untuk memutar kembali takdir mereka. Bukan berarti mereka tidak ingin melawan dunia bersama, mereka tahu, dunia mereka sudahlah tak sejalan sejak awal. Merekalah yang menginginkan jalan penuh duri untuk ditelusuri.
Itu semua konsekuensi dan mereka sudah tahu jua siap.
Percakapan di atas meja ketika keduanya di usia hampir setengah abad itu hanyalah sebuah canda tawa, berbagi kisah bagaimana mereka menjalani hidup. Tak ada yang disombongkan, hanya raungan betapa dunia memang selalu tak adil, tapi selalu ada jalan.
“Kau ingat pertanyaanmu mungkin dua dekade lalu?” Wooyoung bertanya, ujung bibirnya tertarik tanpa sendu. Jelas kebahagiaan di antara keduanyalah yang dapat terasa.
Jongho menangguk pelan, memainkan gelasnya.
“Aku tidak pernah menyesali semua jalan yang pernah kulalui bersamamu, bahkan sampai detik ini.”