all i need to hear
PAIR: Park Sunghoon/Lee Heeseung SONG: The 1975 – All I Need To Hear TAGS: Post break-up Sunghoon, lowercase type, no beta read
dengan langkah yang tertatih-tatih, sunghoon kembali ke kamar apartemennya yang dingin dan sunyi. kamar itu seharusnya dihuni oleh dua orang─sepasang kekasih. yang nyatanya, hanya tersisa dia seorang diri di sana.
park sunghoon membuka pintu kamar apartemennya dengan sedikit harap ada seseorang di sana, menyambutnya dengan hangat seperti hari-hari biasa. semenjak dirinya putus dengan mantan kekasihnya sebulan lalu, sunghoon masih belum dapat menerima kenyataan; lelaki bernama lee heeseung itu pergi dari hidupnya dengan kemungkinan tak akan kembali.
dirogohnya saku jaket untuk mengambil telepon cerdasnya, si pemarga park itu mengirimkan pesan kepada teman-temannya. aku mengadakan pesta di tempatku begitulah bunyi pesannya. harap-harap pesta yang diadakannya bisa mengusir apapun yang menggangu pikirannya.
kenapa sulit untuk kirim pesan?
sunghoon kembali tatap layar teleponnya, masih terpampang fotonya dan sang mantan kekasih, tersenyum dengan pemandangan sungai han ketika musim semi sebagai latar belakangnya. dia ingin kembali ke masa-masa itu.
apakah ada harap?
ketika teman-teman sunghoon datang meramaikan kamar apartemennya dengan alkohol, musik kencang, dan segala topik, sunghoon tetap dapat berfokus pada apa yang mereka katakan. alkohol tak mempan, musik kesukaannya pun tak didengarkannya baik-baik, dan segala candaan pun tak terdengar lucu baginya.
sunghoon pamit untuk mengambil air dingin di kulkas, namun yang ia lakukan hanyalah duduk bersandar pada meja tengah dapur; dia memandang sayu teman-temannya di ruang tengah dari dapur.
apakah lebih baik begini? dia bertanya pada dirinya sendiri, bahkan tidak tahu apa yang ia harus lakukan lagi untuk melupakan sosok yang telah meninggalkannya satu bulan lalu.
putus itu tidak pernah jadi opsi bagi sunghoon. berani bersumpah jika ia mencintai heeseung sampai ke liang lahadnya, tapi realita berkata lain. masih teringat-ingat bagaimana bertengkar hebat malam itu, musim dingin di kota seoul dengan salju masih dengan lembut perlahan turun.
“i'm fucking hate you, park sunghoon.“ “i wish i never met you in the first place.”
kata-kata heeseung itu berputar bagai kaset rusak di kepalanya. genggamannya pada gelasnya kian mengeras, sepertinya ia bisa menangis kapan saja jika terus-terusan mengingat memori itu.
cemburumu itu penyakit, sunghoon menyumpahi diri sendiri memang menjadi pilihan sunghoon setelah putus. tak ada hari di mana ia tak menyalahkan sisi pencemburunya dan sebagaimana ia terlalu vokal soal itu.
sunghoon duduk di kursi meja belajarnya saat kembali sendirian di kamar apartemennya. hanya ada cahaya lampu dari laptop yang menyala di atas meja untuk meneranginya. kedua tangan bersiaga di atas papan ketik laptop kesayangannya untuk mengetik sesuatu ke dalam badan e-mail
“hi, heeseung.” dia bernarasi sendiri, coba-coba cari kata yang tepat sebagai pembuka.
“bagaimana kabarmu?” sambil berbicara, sunghoon juga sambil mengetiknya dengan perlahan.
“sudah sebulan ya? kamu baik-baikkah tanpa aku? i hope you do, i know you always do.” ada rasa tercekat dalam dadanya ketika menumpahkan semua itu ke badan e-mail.
sunghoon tahu, heeseung dengan atau tanpanya tak akan bedanya. lelaki yang satu itu selalu punya caranya sendiri untuk membahagiakan diri, tetapi tidak dengan sunghoon. ia tak pernah menyesali bagaimana menjadikan heeseung sebagai orang yang ia percaya bertahun-tahun, menjadikan heeseung nomor panggilan daruratnya, segala-gala tentang heeseung. maka ketika heeseung hilang dalam hidupnya, hampa melanda.
“hari ini aku mengadakan pesta lagi di tempat kita.”
apakah pantas dirinya masih menyebutnya tempat bersama?
“tapi tidak ada satupun yang membuatku senang.” jaeyun juga sunoo sudah coba hibur dia, mengajaknya untuk bertemu orang lain. tidak lupa dengan jebakan kencan buta yang dibuat oleh jongseong.
semua itu tidak menyenangkan.
“bukan aku tidak menghargai usaha mereka menghiburku,” katanya, “tapi yang kubutuhkan bukan itu.”
“yang kubutuhkan itu kamu, lee heeseung.” disengajakan tebal ketika ia menaruh nama mantan kekasihnya itu.
“lee heeseung,” panggilnya, mungkin hanya angin yang mendengarkannya, tapi ia tak peduli.
“please, tell me you love me.” “i don't care if you're insincere.” “but you know, that's the only i need.”
sunghoon memandangi layarnya kembali, lalu segera menutup surat yang telah diketiknya; memasukan surat itu kembali ke dalam draft tak terkirimnya. ada ratusan, mungkin ribuan, surat tak terkirim itu. yang pasti satu pintanya, ia hanya ingin mendengar heeseung berkata lelaki itu mencintainya. walaupun itu tidak mungkin, tidak tulus, sunghoon akan mengabaikan semua itu.
sunghoon terdiam lagi-lagi di tengah hening malam.
please, tell me you love me, heeseung.